RSS

Love,and Problem Between Us -13

                Peristiwa kecil bisa menjadi sebuah kenangan terbesar.
                Kenangan bagi sebuah cinta sederhana.
                Cinta yang tak pernah terungkap.
                Cinta diam-diam.

                ***

Sivia berdiri di bawah pos satpam di gerbang sekolahnya. Menyesali kenapa ia begitu bodoh untuk lupa membawa payung di musim hujan begini. Tapi bukannya tadi payung itu sudah dimasukkan ke dalam tas ya?

Carales sudah mulai sepi. Sivia gemetar. Menatap langit di atasnya yang seolah memberi pertanda tidak ingin berhenti.

                Dikeluarkannya ponsel dari dalam sakunya yang tersimpan di balik rompi ungunya. Mati. Bodoh! Di saat kayak gini kenapa ponselnya bisa mati sih. Sedetik kemudian Sivia menepuk jidatnya. Baru ingat semalam dia mendengarkan lagu full dari mp3 ponselnya hingga pagi. Menyisakan satu bar saja baterei itu. Dimasukkannya kembali ponselnya. Dan kembali ke aktifitas sebelumnya. Memandang langit. Seolah memohon agar hujan berhenti sebentar saja. Sampai ia tiba di rumahnya.

                Tiba-tiba sebuah payung tersodor ke arahnya. Sivia menoleh ke arah pemuda itu. Yang tengah menyodorkan payung yang seperti ia kenal ke arahnya. Sivia tertawa kecil, melihat seorang lelaki membawa payung berwarna biru. Seperti banci saja, pikir Sivia. Seperti dapat membaca pikiran Sivia, pemuda itu segera ambil bicara.

                “ payung elo. Tadi ketinggalan di perpustakaan.”

                Sivia ternganga. Bukannya ia tidak membawa payung? Eh tapi payung itu seperti miliknya. Jadi perasaan aku membawa payung tadi itu benar ya, gumam Sivia.

                “nih. Gue duluan ya. “ ucap pemuda itu. Berlari meninggalkannya. Menerobos hujan.

                Sivia diam. Memandang payung di dalam genggamannya. Merasakan hal yang belum pernah dirasakannya. Love at first sight.

                ***

                Lagi. Sivia berdiri lagi di tempat yang sama seperti 8 bulan lalu. Seperti peristiwa payung itu. Hatinya menduga-duga, akankah pemuda itu mendatanginya lagi? Walau bukan untuk mengantar payung yang sama sekali tidak tertinggal di perpustakaan maupun dikelas.

                “via!”

                Sivia menoleh, dan mendapati Shilla. Sahabatnya tengah berlari menerobos hujan deras, dan berdiri di sampingnya dalam keadaan basah kuyup. Untung saja kemeja putih yang basah itu tertutup rompi ungu seragam sekolahnya. Hingga tak menampilkan dalamannya yang tercetak di balik kemeja putih yang sudah basah itu.

                “numpang ya Vi payungnya..” pinta Shilla dalam suara yang bergetar. Mungkin efek kedinginan setelah terserbu derasan air hujan yang turun saat itu.

                Permintaan Shilla itu hanya dijawab anggukan oleh Sivia. Dibukanya payung biru itu, dan diterobosnya hujan berdua dengan Shilla. Sekali lagi, Sivia menoleh ke pos itu. Nihil. Tak ada dia. Iyalah Vi, siapa dia coba pake nyamperin kamu ke pos. waktu itu kan dia nganterin payung makanya dia nyamperin kamu. Sekarang? Oh no, please Via, jangan berharap lebih.

                ***

                Sosok itu tengah mengeluarkan kunci mobilnya. Membuka pintu mobil sisi kanannya. Memasukinya, dan dengan perlahan mengeluarkan kendaraannya mengeluari bagasinya dan melaju dengan kencang meninggalkan tiupan angin dari mobilnya.

                Gadis di samping rumah pemuda itu mendesah pelan. Menyadari bahwa pemuda itu benar-benar marah padanya. Bahkan berangkat sekolah pun meninggalkannya. Hal yang tak pernah dilakukannya sekalipun. Meninggalkan Shilla. Oh iya, Shilla ingat. Pemuda itu kan harus menjemput si Raissa-Arif-Arif itu.

                Dengan perasaan yang kacau. Shilla mencari kunci rumah di dalam tasnya. Papanya tidak pulang semalaman. Lebih memilih menginap di kantor dan menyelesaikan pekerjan-pekerjaannya dibandingkan tinggal di rumah menemani Shilla yang sudah seperti frankeinstein di rumah itu. Sepi. Sendiri.

                Tin….tin….

                Bunyi klakson kendaraan membuat Shilla sempat terlonjak kaget. Namun membiarkannya, lebih memilih menyibukkan diri mencari kunci rumahnya yang entah berada di bagian mana tasnya saat ini.

                “ehm..”

                Shilla menoleh.

                “Gabriel? Ngapain lo disini?”

                Gabriel. Sosok itu tersenyum dengan manis. Yaa meskipun lebih manis senyuman Rio sih.

                “ mau jemput lo Tuan Putri .. “ jawab Gabriel dengan manis.

                Hah? Apa? Shilla gak salah denger nih.

                “ yah elah yel, gak usah bercanda deh .. udah minggir ah, gue mau jalan .. “

                Baru saja Shilla melangkahkan kakinya, tangan Gabriel telah menahannya, “ eits, emang tau jalan?” sindir Gabriel.

                Shilla memanyunkan bibirnya. “tau lah .. “

                Gabriel mengangguk-angguk. Lalu terlihat berfikir keras sambil mengangkat sebelah alisnya. “kalo gitu.. emang lo tau kendaraannya? “

                Sial. Itu dia masalah utamanya. Shilla gatau harus naik angkutan apa ke sekolah. Tau sih tau, Cuma kalau kelewatan kaya waktu itu gimana?

                “gak tau kan? Ya udah ikut gue aja  .. nyampe ke sekolah kok tenang aja..”

                “ bener ya?”

                Dia mengangguk dan tersenyum, sambil menarik tangan Shilla menuju motornya.

                “pegangan..” ucap Gabriel.

                Dengan sedikit perasaan ragu, Shilla mengaitkan kedua tangannya di pinggang Gabriel. Dan untuk pertama kalinya.. dia berangkat sekolah dengan orang lain. Selain Rio.

                ***

                Rio bersandar di badan mobilnya sambil memutar-mutar ponsel di tangannya. Dia gelisah. Tak rela juga sebenarnya Rio menyuruh Gabriel menjemput Shilla di rumahnya. Tapi mau bagaimana lagi? Gak mungkin Rio ngebiarin Shilla berangkat sekolah sendiri. Yang ada bukannya sampai ke sekolah malah bertualang sendirian dia di jalanan.

                “yo.. ayo berangkat sekarang..” ucap seorang gadis yang sudah berada di sampingnya.

                Rio menoleh, lalu tanpa menjawab pertanyaan gadis itu ia pergi ke tempat pengemudi, tanpa membukakan pintu untuk Raissa –gadis-tadi-.

                Mobil itu melaju dengan perlahan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar