***
Rio bersandar di badan mobilnya sambil
memutar-mutar ponsel di tangannya. Dia gelisah. Tak rela juga sebenarnya Rio
menyuruh Gabriel menjemput Shilla di rumahnya. Tapi mau bagaimana lagi? Gak
mungkin Rio ngebiarin Shilla berangkat sekolah sendiri. Yang ada bukannya
sampai ke sekolah malah bertualang sendirian dia di jalanan.
“yo..
ayo berangkat sekarang..” ucap seorang gadis yang sudah berada di sampingnya.
Rio
menoleh, lalu tanpa menjawab pertanyaan gadis itu ia pergi ke tempat pengemudi,
tanpa membukakan pintu untuk Raissa –gadis-tadi-.
Mobil
itu melaju dengan perlahan. Mengikuti alur lintas kota yang pagi ini dipadati
para pengguna lalu lintas. Rio melirik gadis di sebelahnya sekilas, yang tengah
menyandar pada jendela mobil di sisinya. Memandang hampa keluar.
“
sorry ya.. gue udah bikin lo masuk ke permainan ini.” Ucap Rio memecahkan
keheningan.
Raissa
mengangkat kepalanya, dan tersenyum menandakan –tidak-apa-apa-kok-yo.
Rio
mengangguk, “makasih yaa.. by the way mau gue anter sampe mana?”
“sampe
depan sekolah yaaa yo hehe .. “
“oke
.. “
***
Shilla menatap sosok itu dari balik bukunya. Alibi remaja
masa kini. Berpura-pura membaca buku di tangannya, sedangkan matanya mengarah
ke arah lain. Sosok itu memasuki kelas dengan dingin. Apalagi kala melihat ke
arah Shilla yang juga tak sengaja bertumbukan mata dengannya.
BRAK. Rio membanting
backpacknya dengan kasar, tanpa menoleh ataupun menyapa –sebenarnya-mengejek-
Shilla pagi itu.
Teman-temannya menghela nafas melihat
Shilla dan Rio yang saling berdiam diri itu. Sudah 7 hari. Semenjak peristiwa
–gue-bukan-pacar-lo-aku-shilla. Saat ulangan biologi minggu lalu dibagikan
kemarin pun tak ada ribut-ribut seperti biasanya yang saling beradu nilai.
Sebangku. Tapi tak saling sapa.
Bersebelahan. Namun tak saling tegur. Itulah mereka saat ini.
Guru-guru pun juga ikut heran melihat
dua murid kebanggaannya yang biasanya saling berebut untuk maju ke depan kelas,
menjawab pertanyaan, sampai berdebat itu kini sudah tidak terlihat lagi di
kelas.
Contohnya. Saat Frau Genny meminta
satu orang ke depan untuk membacakan cerita dalam bahasa jerman. Hal yang umum
di kelas adalah, Rio dan Shilla saling beradu cepat tunjuk tangan. Yang
biasanya di akhiri dengan suit karena tak ada satu pun yang mau mengalah. Kini
malah Frau Genny yang harus menunjuk salah satu dari mereka karena tak ada yang
mau tunjuk tangan.
Sivia pun ikutan gerah. Melihat dua
sohibnya itu sudah seperti dua gunung es yang ada di kutub utara. Dari luar
keliatan berjauhan. Tetapi hati mereka, yang ada di dalamnya. Ternyata saling
dekat. Bahkan sangat besar.
“shil.. tolong pinjemin gunting dong
ke Rio .. “ ucap Patton yang duduk di sebelah kanan Shilla. Sambil menunjuk ke
arah Rio yang duduk di samping Shilla.
Shilla yang sedang membaca novel
menoleh ke arah Patton dan menggidikkan bahunya jijik seolah disuruh mengambil
gunting di dalem tumpukan sampah basah. “males .. pinjem aja sendiri .. “ ketus
Shilla. Yang memang akhir-akhir ini lebih sensitif jika mendengar nama “Rio”
disebut di dekatnya.
Tiba-tiba sebuah gunting hitam
terlempar ke atas meja Shilla. Siapa lagi yang melakukan itu kalau bukan Rio.
Si pemilik-gunting-hitam itu. “ tuh .. “
“ makasih Yo .. “ balas Patton sambil melirik
sedikit ke arah Shilla yang langsung membalasnya dengan tatapan sangar
apa-lo-liat-liat-?-.
***
Bel istirahat berbunyi. Satu persatu
siswa kelas XI-IPA-2 sudah pergi ke kantin. Sivia pun sudah keluar duluan ke
koperasi. Izinnya pada shilla tadi, mau beli Pulpen katanya. Kini tinggallah
Shilla dan Rio berdua di kelas.
Menyadari suasana yang agak berbeda hawanya, Shilla
beranjak dari bangkunya saat sebuah tangan memaksanya untuk duduk kembali. Rio.
Shilla menatap Rio risih dengan tatapan apaan-sih.
“gue .. emm .. gue kangen sama lo .. “ ucap Rio
sambil menunduk menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Malu.
Gengsi. Senang. Lega. Semuanya jadi satu. Membuatnya sedikit mual mengingat 3
patah kata yang keluar dari mulutnya barusan. Seolah-olah ada mesin penggiling
yang mencampur semua perasaannya saat itu.
“ hah? .. “
“ maaf. jangan marah sama gue lagi .. jangan
diemin gue lagi .. bosen gue diem-dieman sama lo berasa duduk sendiri. Gaada
yang bisa di ajak debat lagi. “
“ hmm .. “
Pluk. Rio menimpuk kepala Shilla
dengan penghapus karet di tangannya. “sinting lo,ga respect banget sih sama
omongan gue. Tau ah. Males baikan sama lo! Nyesel gua minta maaf sama lo. “
ketus Rio sambil mendorong kasar mejanya dan berjalan ke arah pintu kelasnya.
“RIO!” panggil Shilla. Namun diabaikan
oleh Rio. “Gue juga kangen sama lo tau gak!” ucap Shilla akhirnya menatap
punggung Rio yang menghentikan langkahnya itu dengan pasrah. Bodo deh, kepalang
sudah terlanjur terucap. Biarin aja malu malu deh, memang itu kenyataannya,
desis Shilla dalam hati.
Shilla menggigit bibirnya sambil
meremas-remas rok kotak-kotak ungunya. Rio berbalik dan menghampirinya. Menyentuh
dagu shilla yang menunduk dan mengangkat dagu indah itu, “serius lo kangen sama
gue? Jangan boong. Bosen gue diphp-in terus.”
“ serius. Kalo gak percaya sih ya
udah.. “ ucap Shilla ngeloyor pergi.
“ eeeeeeh jangan marah dong.. “ susul
Rio. “ kan Cuma bercandaaaa .. “
Shilla melihat Rio yang berjalan di
sampingnya, turut menemani langkahnya. “ siapa yang marah? Gue laper tau mau
makan .. “
“ kampret .. gue kira lo marah. “
“ takut banget gue marah? Takut jauh
dari gue ya? Hahahaha .. “
“ HAH? Kagak lah .. “
“ alah jangan boong. Matahari aja tau
kalo elo pengen selalu ada di deket gue. Haha .. “ ucap Shilla sambil menduduki
salah satu bangku dan meja yang masih kosong di kantin.
“terserah lo ah .. “ pasrah Rio ikut
duduk di hadapan Shilla. “tapi matahari gatau kan? Seberapa besar rasa sayang gue
ke elo .. “
***






0 komentar:
Posting Komentar