Kenapa cinta itu rumit?
Kenapa cinta tak pernah terpisah dari prahara?
Apa cinta dan prahara itu berkerabat?
Hingga tak bisa terpisahkan?
***
Shilla menatap benda di hadapannya lekat-lekat. Benda milik pemuda berseragam putih-ungu yang menampilkan cengiran khas di sampingnya. Jazz hitam berplat nomor B 210 M itu bertengger dengan anggun di depan Shilla.
“kok bisa?”
Rio tertawa, “bisa laaaah. Biar lo gak ketakutan jatoh lagi..” ucap Rio disambut delikan mata Shilla.
“ sialan.. itu juga kan gara-gara lo!”
Tanpa menjawab, Rio bergegas membuka pintu mobil sebelah kiri, lalu didorongnya Shilla masuk ke dalam mobil itu. Rio bergerak memutari mobil menuju pintu pengemudi. Dinyalakannya mesin mobil, dengan radio terputar di dalamnya. Dan keheningan itu pun tercipta.
***
Dua pasang langkah kaki itu tertahan ketika melihat kerumunan murid Carales yang memenuhi papan madding. Tanpa meminta persetujuan Rio, Shilla berlari meninggalkannya. Menyusul dan ikut menghambur ke dalam kerumunan yang bermayoritas teman seangkatannya itu. Sedangkan Rio? Hanya memandangnya -calon gadis- nya dengan penuh tawa. Menyadari bahwa gadis itu masih seperti anak-anak. Tak mau kalah kalau ada berita heboh di sekolah.
Shilla. Gadis berponi melintang ke kanan dengan potongan rambut berlayer atas itu tengah membelalakkan matanya ketika membaca tulisan yang terpampang besar di tengah papan madding. Dengan tulisan berwarna merah berupa, “OMG!! Kunyuk dan Monyet! Shilla-Rio jadian!”.
Semua murid seangkatan bahkan kakak kelas mereka mengenal Rio-Shilla. Dua orang murid, yang pada saat MOS sudah dilirik oleh kakak kelas dan teman seangkatannya karena wajahnya yang diatas standar. Dua orang yang sudah dikenal karena sama-sama jago bermain music. Dua orang yang dikenal karena selalu heboh dan membuat keributan jika salah satu dari mereka memancing emosi. Dua orang yang kadang rukun kadang rebut. Dan dua orang yang menjuarai dua bidang olimpiade yang berbeda. Membuat mereka semakin bernama di Carales High School.
Semua murid seangkatan bahkan kakak kelas yang berada di sekitar Shilla menoleh ke arahnya. Menatapnya sambil menahan tawa, bahkan ada beberapa yang langsung memberikan ucapan selamat dan longlast kepada Shilla yang hanya bisa menatap dan berdiri dengan bingung.
“shilla!! Elo jadian sama Rio? Kok gak bilang siiiiih!” Ucap Sivia sambil menepuk pundak Shilla.
Shilla melotot, “ENGGAAAAAAKK!!” teriaknya sambil berlari ke kelas dan memukul meja Rio yang tengah membaca buku Seni Musik itu dengan kencang.
BRAK!!
Rio terlonjak. Mendapati gadis berambut panjang itu tengah menatapnya seolah-olah hendak menelannya dengan penuh amarah. Dilihatnya sekelilingnya. Semua mata mengarah ke arahnya dan Shilla. Bahkan dari jendela pun, banyak yang mengintip ke dalam kelasnya. Ada apa ini?
“kenapa sih?” Tanya Rio polos, membuat gadis dihadapannya makin ingin menyakar mukanya dengan sekali raukan tangannya.
Shilla menggeram dengan gemas, “KUNYUK!!! Gue makin pengen ngejambak muka lo tau gak! Gossip kita tuh udah kesebar satu sekolah, nah elo? Masih duduk santai kayak gini sedangkan gue daritadi diluar sibuk klarifikasi gossip kita. Wah, minta dihajar lo nyuk.”
“apaan sih gue gak ngerti. Gossip apaan?”
Dikeluarkan kertas yang tadi sempat dirobeknya, lalu dibentangkan jelas-jelas di depan muka Rio. Membuat pemuda itu terdiam sebentar, lalu sedetik kemudian tertawa dengan kencang. Dan langsung dihadiahi pukulan di kepala Rio, dari gulungan kertas yang dibuat Shilla. Rio menatap Shilla dengan tajam. Lalu menarik tangan berkulit putih itu ke depan kelasnya, dengan murid-murid yang sudah mulai berkerumun di sekelilingnya.
“WOI KUMPUL BENTAR DONG!” teriak Rio sambil tetap mencengkeram lengan Shilla. Entah kenapa perasaan Shilla tidak enak, tatapan mata Rio langsung berubah tajam, dan rahangnya langsung menegas, persis seperti keadaan saat Rio…. Marah.
“ada apaan Yo?” Tanya Septian.
“siapa yang bikin gossip di madding tentang gue sama Shilla?”
Hening. Tak ada satupun yang menjawab. Sedetik kemudian, muncullah bisik-bisik saling menyalahkan.
“ gue gamau tau. Pokoknya gossip itu harus hilang! Gue gak suka ada gossip kayak gitu. Apa lagi digosipin sama dia. “ ucap Rio sambil menunjuk Shilla yang berdiri di sampingnya dengan telunjuknya.
Shilla diam. Hatinya gelisah, melihat Rio menatapnya sinis seperti itu. Rio yang penuh dengan marah. Dan sorot matanya. Sorot mata kecewa.
“ awas aja lo pada. Sampe gue liat ada gossip kayak gitu lagi.” Sambung Rio lagi sambil pergi keluar dari kerumunan. Meninggalkan sisa-sisa kabar burung tadi semakin bertambah makin dibicarakan.
“rio…” desis Shilla pelan, dengan buntalan kertas yang digenggamnya erat-erat.
***
Cinta itu seperti menyukai lagu dangdut.
Terlalu malu untuk mengakuinya.
***
Angin malam berhembus dengan lembut. Menerpa setiap helai rambut pemuda itu dengan sekali tiupan. Membuat rambutnya berkibaran layaknya daun yang tertiup angin.
Gitar di tangannya terus menerus mendendangkan irama yang tak karuan. Sama seperti pemiliknya. Yang perasaannya juga tengah tak karuan.
Jika aku harus bermimpi.
Untuk memilikimu.
Jangan pernah sadarkan aku.
Dari mimpi indahku.
Jika aku harus bermimpi.
Tuk dapat memandangmu.
Jangan pernah bangunkan aku.
Dari lelap mimpiku.
Hanya dihatimu lah tempat terindah..
Tuk ku semayamkan seluruh jiwaku..
Ku temukan cinta terindah darimu..
Meski takkan pernah tuk kau sadari..
~ Samsons. Jika Ku Harus Bermimpi.
Rio membanting gitar di tangannya ke atas kasur. Hingga bunyi gedebum memenuhi ruangan yang tadinya hanya diiringi suara dentingan gitar tersebut. Mata Rio tercuri oleh sebuah titik berwarna di atas meja belajarnya. Sebuah lembar foto yang terbingkai indah oleh sebuah figura berwarna biru. Foto yang memuat dirinya dengan Shilla. Shilla dikuncir dua dengan kedua tangan yang terlipat di dadanya, lalu sambil memanyunkan bibirnya dia melirik Rio yang tengah tertawa sambil mencubit kedua pipi tembemnya.
“ciya..”
PRANG!
Rio membanting figura itu dengan kencang ke atas lantai dinginnya. Matanya memerah, menahan emosinya yang hampir meledak-ledak. Harapan palsu! Kalau tak suka, bilang saja. Tak usah memberinya harapan yang malah membuatnya hancur, batin Rio.
Tok.tok.tok.
“riooo! Apa yang pecah yo?” suara perempuan dewasa terdengar dari luar pintu kamar sembari mengetuki pintu kamar Rio.
Rio melirik ke arah pintunya. Dan seperti kesetanan, dia langsung mendorong pecahan figura itu ke bawah kolong kasurnya. Tanpa memedulikan pecahan kaca yang berhamburan kemana-mana. “bentar maaah..” teriaknya, lalu menghampiri dan membuka pintu kamarnya. Didapatinya Amanda, sedang berdiri dengan memandang curiga Rio. Rio terkekeh, lalu menunjuk ke kamar sebelahnya, “Papa kali mah.. “ elak Rio.
Amanda mengeryit, dengan dua tangan yang tersimpang di sisi kanan dan kirinya. “Rio..” geram Amanda pelan.
Rio panik. Kalau sampai Mamanya tahu figura itu pecah, pasti Mamanya akan menginterogasinya macam-macam. Yang ujung-ujungnya, bakal ikut campur di masalahnya. Mamanya terlalu menyayangi Rio.
“gaktau mah. Gak ada yang pecah di kamar Rio.. bener deh.”
Diabaikannya ucapan Rio. Lalu dimasukinya kamar berwallpaper tata surya itu dengan paksa, saat Rio mencoba mengahalanginya. Di lihatnya kilauan benda yang berada di lantai. Kaca.
“ ini apa?” Tanya Amanda mengacungkan pecahan kaca itu ke hadapan Rio.
Rio menggaruk-garuk kepalanya. Tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Amanda.
Amanda lalu duduk di pinggir kasur Rio. Dan mendapati, sandal rumahnya seperti menginjak sesuatu yang keras. diliriknya, dan dilihatnya ujung figura tersembul dari bawah kolong kasurnya.
“mampus…” desis Rio pelan.
Amanda menatap figura di tangannya dengan bingung. “pecah sendiri apa dipecahin?” Tanya Amanda.
Tuh kan. Rio mengambil tempat di samping Mamanya.
“pecah sendiri.” Dusta Rio.
“kenapa bisa?”
“jatoh.”
“dijatohin?”
“mamaaaa…”
***
Langit malam menyelimuti keheningan. Menambah kesan malam menjadi semakin temaram. Lampu-lampu rumah sudah bersinar sejak sore tadi. Seperti bintang yang tergantung di setiap halaman rumah. Bintang yang selalu bersama langit. Tapi tidak dengan bintang yang satu ini.
Shilla memandang jendela itu dari dalam kamarnya. Biasanya. Sebelum ia tidur, selalu ada yang bermain gitar di seberang sana. Menyenandungkan lagu yang berbeda setiap harinya. Tapi kini, sudah pukul 23.15 wib. Terakhir Shilla melihat jam dindingnya itu. Senandung gitar itu tadi sempat terdengar sesaat, menyanyikan lagu dari Samsons. Tapi… suara itu terdengar sangat jauh. Berarti, dia memainkannya di dalam kamar. Bukan di balkon seperti biasanya.
Hilang. Satu bintang milik Shilla hilang lagi. Setelah Ibunya. Kini Rio yang sudah menghilang dari sisinya. Mencoba menjauh. Dan menghilang darinya.
Ditatapnya selembar karton yang melekat di dinding kamar Shilla. Karton berwarna putih yang bertuliskan janji Rio dan Shilla, dulu.
“Adit: Ciya itu lucu. Adit suka sama Ciya.” Tulisan Rio yang tertera di karton putih itu. “Ciya: Adit mah iseng, Ciya gak suka sama Adit. Tapi Ciya sayang sama Adit.” Tulisan lain milik Shilla di bawah tulisan Rio.
Led merah. Shilla meraih ponselnya. Dan menemukan lambang blackberry messengernya tertimpa warna merah.
Mario S. Haling: maaf Shil.
Ashilla Zahrantiara: buat?
Mario S. Haling: buat hal yg udah bikin lo malu kaya tadi.
Ashilla Zahrantiara: oh itu. Forget it.
Mario S. Haling: soal emm prasaan gw. Lupain aja y. anggp aja gw g pnh ngmg gtu. J
Shilla diam. Ditatapnya layar ponselnya berkali-kali. Masih tetap sama. Masih tetap kalimat Rio yang menyuruhnya melupakan kalimat di malam itu. Shilla bukannya tidak menyukai Rio. Siapa sih yang tidak suka dengan Rio? Tak ada kan? Shilla pun begitu. Dia hanya malu. Gengsi. Kalau status Rio-Shilla yang tadinya rival tiba-tiba berubah menjadi pacar.
Bukan hanya itu juga, Shilla juga malu. Takut. Kalau Rio suka padanya hanya karena belas kasihan. Karena Shilla.. anak broken home.
Ditutupnya aplikasi itu. Tanpa berniat membalas bbm Rio yang terakhir. Daripada galau, lebih baik buka twitter aja deh, pikirnya.
Ditontonnya timeline ubersocialnya dimana ia hanya memfollow orang-orang yang dikenalnya saja. Ada beberapa teman kelasnya yang sedang online malam itu. Yang tak pernah absen setiap malamnya. Shilla mengetik sebuah kalimat di atas ponsel berkeyboard tipe qwerty tersebut, lalu mentweetnya.
Cinta itu rumit. Seperti matematika. Tapi selalu ada jawabannya.
Lalu dengan iseng, Shilla meretweet beberapa tweet temannya.
Pia apaan sih pi ¬_¬ RT @siviaazzh: 3C- cipia celalu cyediiiih~
*dapet veritas* *bakar* RT @gabrieldamanik: tunggu veritas. Bakal ada foto gue *O* jgn terpukau yak.
Tubuh Shilla tiba-tiba mengejang. Saat melihat sebuah tweet yang seperti jarum. Menusuk hatinya.
@riostevadit: @RaissaArif iya haha besok brgktnya brg aku aja cha, aku bawa mobil deh :)
Heh. Apa-apaan itu? Siapa Raissa Arif? Bisa-bisanya Rio menggunakan aku-kamu saat berbicara dengannya. Oh please, jangan cemburu Shil.
Shilla mengecek mentionnya. Lalu mendapati 4 buah mention yang salah satunya dari Rio.
@gabrielstev: Tau deh yg galauin @riostevadit haha RT @AshillaZ: Cinta itu rumit. Seperti matematika. Tapi selalu ada jawabannya.
@siviaazzh: Cipia cedang galawhh RT @AshillaZ: Pia apaan sih pi ¬_¬ RT @siviaazzh: 3C- cipia celalu cyediiiih~
@oik_ramadlani10: @AshillaZ shilla, ngerjain fisika kpn? Patton mintanya hri minggu. Tggl elo sm rio bsa g?
@riostevadit: emg apa jawabannya? Angka jg? RT @AshillaZ: Cinta itu rumit. Seperti matematika. Tapi selalu ada jawabannya.
Tak berniat. Sunggguh. Tak ada satupun niat Shilla untuk membalas mention dari teman-temannya itu. Sekalipun itu Rio.
Shilla mengambil jalan pintas. Mematikan ponselnya. Berbaring di tempat tidur. Menarik sellimutnya. Dan memejamkan matanya hingga terbawa ke alam mimpi.
***






0 komentar:
Posting Komentar