Aku tak ingin cemburu. Tapi.. hati ini berkata lain.
***
Shilla memasukkan semua bukunya ke dalam tasnya. Bel pulang sudah berbunyi. Namun kelas masih ramai. Terlebih, saat gerombolan Alvin masuk ke dalam kelas 10C. Sivia yang duduk di depan Shilla menoleh ke arah Rio. Yang dibalas senyuman oleh Rio. ‘hei, apa-apaan mereka. Pake senyum-senyum segala.’ Keluh Shilla dalam hati.
Alvin berdiri di depan kelas. Siswa kelas 10A itu terlihat tengah mencari-cari sesuatu. Matanya berhenti saat melihat Aren. “Aren!”
Aren yang sedang memainkan ponselnya, berhenti. Menoleh ke arah suara yang memanggilnya. “iya?”
Alvin berjalan menghampiri Aren yang terduduk di bangkunya. Dikeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari sakunya. Entah kenapa tiba-tiba Shilla merasa ada seseorang yang mencengkeram tangannya dengan kuat. Shilla melihat ke arah tangannya, ‘Sivia?’
“bawa Sivia keluar..” bisik Rio di telinga ku.
Aku terhenyak. Dan menatap Rio bingung. Namun tatapan mata Rio seakan memaksaku untuk segera membawa gadis bermata indah itu segera keluar kelas. Tanpa banyak tanya lagi, kuturuti perintah pemuda itu. Kami berada di luar kelas tepat saat terdengar seruan ramai dari dalam kelas.
“cieeeee!! Peje ya vin besok!!”
“aaaa so sweet!”
“kalian langgeng yaaa!”
“ aren alvin kalian sweet banget sumpah!”
Kami terdiam. “shil..” Sivia menatapku. Dan ku tatap balik matanya. Sepertinya, aku sudah mengetahui semuanya. Semua yang Rio dan Sivia sembunyikan sejak kemarin. Sejak pulang sekolah yang lalu. Gadis ini, gadis berkulit putih ini menyukai Alvin. Ya, tak salah lagi. Dua bola mata gadis itu memerah, lalu dengan cepat ia berlari meninggalkan Shilla.
“mana Sivia?” tanya seseorang bersuara baritone yang sudah berada di samping Shilla.
Shilla tak menoleh. Sudah tau siapa pemilik suara itu. Pasti pemuda itu. Pemuda bernama lengkap Mario Haling. “gatau.” Jawab Shilla singkat. Entah kenapa, tiba-tiba saja moodnya menurun drastis saat pemuda itu menyebut nama Sivia.
“ lo gimana sih?! Temen lo itu lagi kacau. Kenapa lo tinggal?!”
“bukan gue yang ninggalin dia! Tapi dia yang ninggalin gue!”
“kenapa gak lo cegah? Bisa kan seharusnya lo cegah atau perlu lo ikutin?! Otak lo ditaro mana sih!”
Shilla melotot. ‘hei, bisa-bisanya pemuda ini membentaknya sekencang itu hanya karena masalah sepele seperti ini’
“sorry.. “ ucap pemuda itu lagi.
Shilla menggeram. Lalu pergi meninggalkan pemuda itu dan menghiraukan teriakannya memanggil namanya.
***
Shilla berkeliling sekolah. Sudah 15 menit dia mencari-cari gadis yang rahasianya baru dia ketahui itu. Dan selama itu pula Shilla belum menemukan sosok berambut panjang tersebut. ‘via mana sih.. dia lari kemana..’ tanya Shilla dalam hati.
Tiba-tiba dirinya mendengar suara seperti isakan tangis seseorang. Di samping taman. Ya benar disamping taman. Shilla mengendap-ngendap, dan bersembunyi dibalik tembok yang berada persis di samping taman. Dan diintipnya lagi sosok orang yang tengah menangis itu. ‘mereka..?”
“udah udah jangan nangis..“ ucap seorang pemuda yang berusaha menenangkan sosok lainnya.
“tapi gue sayang banget sama dia!”
“lo beneran sayang sama dia?”
Sosok lain itu mengangguk yakin. Pemuda itu meraih kedua pipi sosok lain itu. Lalu mengangkatnya menatap wajahnya. “pertahanin cinta lo. Jangan lepas itu. “
Sosok lain itu semakin menghebatkan tangisannya. Dan dengan sigap, pemuda itu merengkuh sosok dihadapannya. Membawanya ke dalam pelukannya. Pelukan yang baru beberapa hari yang lalu Shilla rasakan.
Sesak. Nafas Shilla tercekat seketika melihat dua sosok yang saling dekat itu. Shilla mengepal kencang tangannya. Ingin rasanya Shilla berteriak memisahkan mereka. Dan merauk kedua wajah itu, mengatakan bahwa ia cemburu. Bahwa ia tak suka ada gadis lain berada di dalam rengkuhannya selain Shilla. Eh? Apa tadi? Cemburu? Shilla cemburu? Dirinya cemburu?
***
‘apaan sih, gue gak cemburu.. gak ada yang cemburu.. gue gak cemburu..’ batin Shilla meyakinkan hatinya. Tapi.. tetap saja rasa sesak itu mengerumuni hatinya. Seolah ada monster di dalam dirinya yang ingin keluar dan menghancurkan dua sosok itu agar tak ada sesak lagi menerpanya.
“ waduh, ada yang cemburu nih..”
Shilla menoleh. lalu membekap mulut orang itu dengan kencang.
Orang itu meronta-ronta dan membentuk tangannya menyerupai simbol perdamaian. Peace.
Shilla melepaskan bekapannya. Lalu memelototi orang itu. Gabriel. Teman se-club Rio di Veritas. Tertawa kecil melihat sikap salah tingkah Shilla di hadapannya.
“apa lo cengar-cengir?”
Gabriel menggeleng. “kaga elah Shil, lucu aja liat lo lagi cemburu gitu.”
Shilla tercengang. Lalu menoyor kepala gabriel dan pergi meninggalkannya. Tak mau kehilangan kesempatan meledeki Shilla, gabriel berlari menyusulnya. “jujur aja kali Shil kalo cemburu mah.. Perasaan itu jangan disembunyiin. Nanti bikin sakit.”
Shilla diam. Lalu merubah arahnya hingga berhadapan dengan Gabriel. “GUE GAK CEMBURU!” elaknya.
“semakin lo nyangkal.. semakin gue percaya elo lagi cemburu. Hehe “ ucap Gabriel polos.
“ denger ya Gabriel Stevent Damanik manik manik baju.. gue gak cemburu. Dan gak akan pernah cemburu sama Rio!”
“emang gue bilang lo cemburu sama Rio, Shil? Kayaknya enggak deh..”
Shilla menutup mulutnya. ‘mampus gue!’ rutuk Shilla dalam hati.
“yahaaaaay!! Bener kan dugaan gue! Lo itu beneran cemburu sama Rio. Gue gak bilang namanya yaa, lo sendiri yang ngasih tanda ke gue barusan.”
Shilla menarik tangan Gabriel menjauh dari tempat tadi. “iya iya gue cemburu! Tuh! Puas?”
Gabriel menggeleng, “belom puas sama sekali sebelum lo sama dia jadian! Haha..”
“ha? Eh gila lo! Gak. Gue gak mau jadian sama dia! Gak mau!”
“gamau jadian sama siapa nyet?” tanya seseorang tiba-tiba dari arah belakangnya. “emang ada yang suka sama lo?” sambung suara itu lagi.
Shilla menoleh. dua sosok itu lagi. Emosinya terbakar. Ia lalu mendelik tajam. “apaan sih lo, udah kayak tiang listrik aja nyamber-nyamber.”
“lah gue nanya baik-baik ya, lo kok jawabnya nyolot sih!”
“lah emang bener kan! Lo ngapain nyamber-nyamber omongan orang. Lo kan gatau itu privacy apa bukan.”
“tapi gak usah nyolot dong. Lo kan bisa jawab baik-baik.”
“gak bisa kalo buat lo!”
“monyet lo dasar!”
“elo kunyuk!”
“elo jelek!”
“elo lebih jelek!”
“elo sangat jelek!”
“elo apalagi! Jelek banget!”
“kurang ajar lo!”
***
Shilla berdiri di depan gerbang sekolahnya. Matanya terus berkeliaran meneliti setiap angkutan umum yang lewat. Melihat tulisan jurusan yang berada di kaca angkutan umum tersebut. ‘sialan, gara-gara berantem sama Rio tadi. Gue jadi pulang sendiri kan. Pake ninggalin gue lagi tuh orang. Kunyuk banget emang.’
Sebuah bis bertuliskan daerah rumahnya lewat. Tanpa banyak pikir lagi Shilla memberhentikan bis tersebut. Lalu naik ke dalamnya. Penuh dan Bau. Itulah pendapat pertama Shilla saat masuk ke dalam Bus tersebut.
Mata gadis itu mengedar kesana kemari mencari kursi yang hampir tidak ada yang kosong sama sekali. Dengan terpaksa, gadis itu berdiri dengan hanya bertumpu pada punggung kursi disampingnya. Peluh menetesi tiap sudut wajahnya. Wajah bersih tanpa keringatnya kini berubah menjadi wajah kotor dengan keringat dimana-mana.
Shilla memperhatikan jalanan dari kaca dengan penuh semangat. Jujur, baru pertama kali ini ia pulang sendiri. Selama ini, selalu ada Rio yang pulang bersamanya. Sebenarnya, ada sedikit rasa takut kali ini, takut kesasar. Apalagi, Shilla sama-sekali tidak tahu jalan.
Pikiran Shilla tiba-tiba melayang ke peristiwa siang tadi. Saat dirinya baru mengetahui rahasia Sivia. Dan saat dirinya baru menyadari perasaan itu. Perasaan berbeda. Saat melihat sosok Rio dan… sivia. Apa Shilla jatuh cinta? Tapi kenapa baru sekarang? Padahal sudah jelas ia mengenal sosok itu sejak lama.
Berbagai pertanyaan lain seputar perasaannya terus berkecambuk dalam pikirannya. Memaksanya untuk segera mencari tahu jawabannya atau pertanyaan lain akan muncul sebelum pertanyaannya terjawab.
“aw!” kaki Shilla terinjak oleh orang yang berada di dekatnya.
“maaf mbak maaf.. gak sengaja.. “ ucap orang itu meminta maaf.
Shilla mengangguk mengerti. “iya gapapa deh..” di dalam bus penuh sesak seperti ini wajar saja kalau ada kejadian kaki terinjak seperti tadi. Toh, mereka pasti tak bisa melihat dengan jelas keadaan lantai bus tempat mereka berdiri. Hingga dengan asal mereka main injak saja lantai tersebut.
Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan. ‘he? Ini dimana? Kok daerahnya gak pernah gue liat ya? Mampus.. jangan-jangan…’
“ bang bang.. Galery Hill udah lewat belum?”
“ galery hill? Yang kompleks gede itu?”
Shilla mengangguk.
“waaaah itu mah udah lewat dari tadi neng. Udah jauuuh.”
“APA?!!!!”
***






0 komentar:
Posting Komentar