RSS

Love, and Problem Between Us -10-

Apa aku salah? Berharap lebih padamu?
Apa aku salah? Menduga kau juga mencintaiku?

***

“waaaah itu mah udah lewat dari tadi neng. Udah jauuuh.”

                “APA?!!!!”

                “kenapa neng?”

                Shilla panik lalu menerobos kerumunan didalam Bus itu menuju pintu. Tiba-tiba Shilla menepuk jidatnya. Mengambil selembar uang lima ribuan dari dalam sakunya dan berbalik menyerahkan uang itu ke arah kernet tadi. Lalu menyuruhnya menghentikan Bus.

                Diedarkannya pandangan matanya. Mengelilingi daerah tempatnya berdiri. ‘sama sekali gatau..’ gumamnya.

                Shilla berjalan dengan lemas. Ditentengnya tas ransel birunya dengan letih. Dilihatnya sebuah Café yang diduganya lumayan nyaman. Dilangkahkannya kakinya menuju tempat itu. Shilla mengambil posisi di sudut café. Dengan memesan sebuah strawberry juice sebagai tiket nya duduk disitu.

                Dilihatnya sekelilingnya. Tak disangkanya ia akan nyasar di tempat yang belum pernah dilihatnya itu. Tiba-tiba pandangan matanya berhenti di satu titik, tiga titik tepatnya. Tiga titik yang merupakan sebuah keluarga yang tengah berjalan bersama sambil menggandeng anaknya yang berada di tengah. Keluarga itu terlihat sangat bahagia. Iri sekali Shilla melihatnya. ‘coba keluarga gue masih utuh..’ batin Shilla sambil meminum minuman pesanannya.

                Drrt..drrtt..

                Shilla meraih ponselnya. Dilihatnya 1 new message dari ‘Kunyuk Rio’.
                Tawanya pecah melihat nama itu. Jujur, baru kali ini dia sadar nama itu amat sangat buruk di ponselnya. Dibukanya pesan itu masih dengan tawa dibibirnya.

                Lo dimana nyet?kaga pulang2.

                Dibalasnya pesan singkat itu dengan cepat. ‘bodoh banget sih ini orang. Udah tau gue gak tau jalan. Ditinggal. Pulang sendiri. So pasti nyasar lah.’ Omel Shilla.

                Café.

                Dikirimnya pesan itu ke pengirim yang tadi. Sedetik kemudian. Dilihatnya lagi ponselnya. Di gulirkannya trackpad ponselnya menuju sebuah aplikasi bernama Uber Social. Dibukanya aplikasi tersebut. Dan diperhatikannya Timeline twitternya dengan tenang. Tiba-tiba ada satu tweet yang menarik perhatiannya.

                @riostevadit: elo dimana deh-_- gak pulang2.

                Shilla tertawa. Tak dibayangkannya sosok pemuda itu tengah mengomel-ngomel sendiri dirumahnya. Cemas karena Shilla tidak pulang-pulang. Shilla tertawa kecil.

                Di café! Gue nyasar grgr lo ninggalin gue! RT @riostevadit: elo dimana deh-_- gak pulang2.

                Selesai meretweet tweet pemuda itu. Shilla menutup aplikasinya dan melihat lagi ada 1 message dan 1 BBM. Dipilihnya untuk membuka BBM terlebih dahulu.

                Sivia Azizah : heh lo dimana? Kunyuk lo panik tuh nyariin lo g plg2.
                Ashilla Zahrantiara : gue di café,nyasar.
                Sivia Azizah : café mn?rio mau nyusul lo.
                Ashilla Zahrantiara : café olala. Lo sm Rio?
                Sivia Azizah : dia kerumah gue td. Nyariin lo.cie;p
                Ashilla Zahrantiara : bzzzzt -_-

                Perasaan Shilla tak karuan setelah membaca sedikit percakapannya dengan Sivia. Apa tadi dia bilang? Rio panik? Bahkan sampai ke rumah Sivia hanya untuk mencari Shilla? Ow ow ow, jangan bilang kalau… ‘aaah apa sih! Gak boleh ngarep gak boleh!’

                Dilihatnya ponselnya. 1 calling ‘Kunyuk Rio’

                “ hallo” jawab Shilla setelah mengangkat telefon dari Rio.

                “ lo dimana?”

                “café olala..”

                “ha? Itu kan jauh banget! Kok bisa nyampe sana sih?

                “gue nyasar tau! Mending lo jemput gue deh. Ini juga nyasar gara-gara lo!”

                “bawel lo. Iya-iya gue jemput. Tunggu disana! Jangan kemana-mana. Ngilang gue tampol lo.”

                Klik. Belum sempat Shilla membalas ucapan Rio. Percakapan itu sudah ditutup oleh Rio. Shilla senyum-senyum sendiri sambil menatap layar handphonenya.

                “ shilla?”

                ***

                “ shilla?”

                Shilla menoleh. dan dilihatnya sosok Kak Riko tengah berdiri memandangnya. “ka..kak riko.. kakak nga..ngapain disini?” tanya Shilla gugup.

                “ aku boleh duduk sini?” tanyanya.

                “eh..emm.. boleh kok..”
                Riko lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Shilla. “kok bisa disini? Sendiri pula.. biasanya sama Rio..”

                Shilla menggeleng. “aku nyasar kak..” jawab Shilla menahan perasaannya yang mulai tak karuan. ‘tolong jangan sekarang..jantung plis sekali aja kerja sama sama gue’

                Riko diam. “kok bisa? Bukannya kamu kalo pulang selalu sama Rio?”

                “lagi berantem..”

                Dia tertawa. Ah tawanya sungguh amat Shilla rindukan. Tapi sayang, semuanya memang tinggal kenangan.

                “ berantemnya separah apa? Bukannya kalian tiap hari berantem terus ya?”

                Shilla memandangnya. Sungguh ingin sekali Shilla membencinya. Membenci  sosok yang baru semalam menyuruhnya melupakannya. “penting buat kakak? Enggak kan?” sinis Shilla.

                Riko memandang Shilla. Apakah gadis ini benar-benar sudah membencinya? Melupakannya? Atau bahkan hanya berpura-pura saja? “Shil ? ka.. kamu?”

                Shilla tertawa kecil, “kakak sendiri kan yang nyuruh aku ngelupain kakak.. aah udah lah kita ganti topic haha, gimana kabar kakak? Sama.. kak ify?” tanya Shilla sambil meminum minumannya.

                Riko tersenyum, “baik.. kamu sendiri? Gimana sama Rio? Haha..” ledeknya.

                “kaaa! Aku ga pacaran sama diaa..”

                “siapa yang bilang kalian pacaran? Aku Cuma tanya.. kamu gimana sama Rio? Udah akur apa belum?”

                Shilla menutup mulutnya. Lagi. Setelah kejadian serupa yang dialaminya dengan gabriel. “hah, tau deh ah..”

                Riko tertawa. “ooh ngambek nih ceritanya?”

                “enggak sih wleeek!”

                “hahaha.. jelek ah kamu..”

                “kakaaaaak!”

                ***

                Taukah kau?
                Aku cemburu.
                Sadarkah kau?
                Aku menyukaimu.

                ***
               
                Tubuh Rio mengejang seketika. Melihat dua sosok itu tengah bercanda dalam satu meja yang sama. Saling tertawa. Bahkan tak jarang sosok pemuda disana mengelus puncak rambut gadis dihadapannya. Tak sadarkah gadis itu? Bahwa tadi baru saja ia menangisi pemuda itu?

                Tangan Rio terkepal. Langkahnya sudah berjalan 2 langkah ketika dirasakannya hatinya mencelos lebih dalam. ‘elo bukan siapa-siapa.. elo gak punya hak buat cemburu’ batin Rio miris. Rio melangkah mundur. Ya, sudah ada Riko di dekatnya. Shilla pasti akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.

                Rio berjalan berbalik arah. Menuju sepedanya. Sepeda yang selama ini selalu membawanya dengan Shilla bersama. Dengan tatapan miris. Tatapan keletihan mengayuh sepeda cukup jauh. Dan harus kembali dengan hasil nihil yang menyakitkan.

                ***

                Shilla mengerjapkan matanya berkali-kali. Melihat ke luar café ke sebuah sosok yang sudah sangat dihafalnya. Sosok itu diam. Memandang ke arah Shilla dan Riko. Lalu berbalik arah dan berjalan menjauhi Café itu.

                Hati Shilla tiba-tiba saja bergejolak. ‘kenapa dia?

                “kak.. bentar ya aku mau keluar dulu..” izin Shilla yang dijawab anggukan oleh Riko.

                Shilla berlari keluar café. Mengejar sosok pemuda berkaus putih dan bercelana jeans tersebut. “Rio!” teriak Shilla.

                Rio berhenti. “mau apa?” tanya Rio tanpa menoleh ke arah Shilla.

                “kenapa? Kenapa lo gak samperin gue?”

                Rio tertawa remeh, “buat apa? Udah ada dia kan disana? Buat apa gue nyamperin lo.. toh lo juga lebih bahagia sama dia daripada sama gue.”

                “lo pulang sama dia aja..” sambung Rio lagi.

Shilla diam. Menunduk ke bawah. Menatap jalanan itu lekat-lekat. “gue gak mau pulang kalo bukan sama lo..” jawab Shilla pelan.

“apa?” tanya Rio sambil berbalik menatap Shilla. Menatap gadis yang sedang menunduk menatap jalanan yang berwarna abu-abu. “lo tadi bilang apa?” tanya Rio lagi. Sorak-sorai hatinya kini semakin bergemuruh. Bukan, bukan Rio tak mendengar ucapan Shilla. Rio hanya ingin meyakinkan bahwa pendengarannya tadi tidak salah. Gadis itu memilihnya! Memilihnya dibandingkan memilih Riko. Aaa ternyata ini memang hari terindah untuk Rio.

“gue bilang gue gak mau pulang kalo gak sama lo!”

Rio tersenyum. Membuat hati Shilla sedikit lega dan tenang melihat senyuman itu. Senyuman terindah Rio. Yang jarang sekali diciptakannya di sekolah. Kecuali, untuk orang-orang tertentu. “tapi tunggu dulu.. gue mau bayar minuman gue yang tadi..” ucap Shilla.

“ya udah. Buruan sana. Cepet. Lama gue tinggal.”

“iya iya..” sahut Shilla sambil berlari kembali memasuki café Olala.

Di dalam café..

Riko tersenyum saat Shilla kembali menghampirinya. “dijemput pengawal ya?” tanya Riko bercanda.

Shilla mendengus, “iya.. kak aku duluan ya.. oiya, aku titip uang nya nih buat bayar pesenan aku.. thanks kak.. bye!” ucap Shilla sambil menaruh selembar lima puluh ribuan di atas meja.

Shilla berlari keluar Café lagi. Kedua kalinya. Dan dilihatnya pemuda bertubuh tinggi itu sedang bersandar pada sebuah dinding rumah makan yang berada di samping Café tadi. Menunggu Shilla, disamping sepeda berjalunya.

“ udah?” tanya Rio saat menyadari gadis itu sudah berada di sampingnya.

Dijawabnya pertanyaan Rio dengan anggukan. Rio lalu mengambil sepedanya dan menaikinya. “buruan..” ucap Rio yang di balas Shilla dengan acungan jempol. Lalu menaiki sepeda Rio dan berdiri di jalu sepeda itu. Baru saja Rio ingin mengayuh sepedanya, terdengar suara Shilla kembali muncul.

“nyuk..”

“apa? Plin plan banget lo kadang-kadang manggil Rio kad-“

“makasih yaa!” potong Shilla.

Rio diam. Lalu menoleh ke arah belakangnya. Ke arah Shilla yang sedang memegang pundaknya dengan wajah penuh senyum. Dibalasnya senyum Shilla dengan senyuman pula. Lalu mulailah dia mengayuh sepeda itu. Mengantar Shilla pulang. Kembali kerumahnya.

***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar