RSS

Love, and Problem Between Us -8-

Tuhan.. Apabila diizinkan. Ingin aku menentang semuanya. Menentang takdir yang ku berikan. Aku tak ingin ini. Tak ingin siksa. Aku.. hanya ingin bahagia.

***

“mereka.. mereka udah jadian Yo..” jawab Shilla pelan, seiring dengan genggamannya di gelas kaca yang semakin kencang. Berusaha menahan emosi yang luar biasa tengah mengembang dihatinya.

Rio terdiam. Sosok pemuda itu terpaku. Mengepal tangannya kuat-kuat. ‘beraninya…’ dihelanya nafas dalam-dalam. Mencoba tenang. Menghadapi gadis yang tengah rapuh ini.

“ hmm.. terus lo mau apa sekarang?”

“ gak tau.. gue masih sakit. Apa dia udah lupa Yo sama gue? Apa dia gak inget sama sekali sama gue? Kenapa yo! Kenapa cobaan gak pernah berenti ngedatengin gue.. Tuhan jahat yo! Gue benci hidup gue!gue benci!!” teriak Shilla tak karuan. Frustasi akan cobaan berturut-turut yang masuk ke dalam kehidupannya.

Rio duduk di samping Shilla. Menghela nafas dalam-dalam. Membiarkan gadis disampingnya mengeluarkan semua bebannya. Melepaskan segala emosinya. Kelelahannya selama ini.

“ gue gak tau yo.. gue salah apa. Apa kesalahan gue yang paling besar. Gue gak tau. Kenapa Tuhan tega sih ngasih kehidupan kayak gini ke gue.. “

Shilla merogoh sakunya. Mengambil sehelai tissue dan menghapus sebagian air matanya yang masih mengalir di pipinya.

“ kalo diizinin.. gue pengen marah sama Tuhan Yo.. gue pengen marah sama dia karena ngasih gue kaya gini.. ngancurin keluarga gue. Ngerebut orang yang gue sayang. Bahkan mungkin.. bentar lagi dia ngambil satu persatu orang yang gue sayang kali ya..”

“ Tuhan gak tau kali ya. Sekuat-kuatnya hati gue, pasti runtuh juga. “

“ Gue kangen Kak Riko Yo..”

Bum! Hati Rio mencelos seketika mendengar penuturan terakhir Shilla itu. Dadanya sesak. Seolah-olah ada ribuan batu besar yang menimpanya dan menyesakkan hatinya. Entah kenapa suasana ruangan itu tiba-tiba terasa panas. “ gue tau kok..” singkat. Hanya itu balasan Rio.

***

Tak ada yang bisa terlupa. Sekalipun kau yang menyuruh ku.

Istirahat kedua.

Rio berjalan di samping Shilla yang masih pucat. Entah kenapa dia merasa, gadis ini benar-benar butuh hiburan. Butuh refreshing. Untuk sekadar melupakan sesaat kepenatan di fikirannya. Sejenak Rio berfikir apa yang akan dilakukannya untuk menghibur gadis disampingnya. Hingga tanpa sadar mereka sudah berada di kantin Calesa.

Rio duduk berhadapan dengan Shilla.

“ Shillaaaa! Lo gapapa kan? Gila ya tau gak sih lo, gue daritadi tuh mikirin lo tau!” teriak Sivia yang langsung mengambil tempat duduk di samping Shilla.

Shilla tersenyum tipis, “gapapa kok.. eh kelas gimana tadi gak ada gue? Sepi ya? Haha..” ucapnya mencoba bercanda. Namun nihil. Joke nya kali ini terasa garing. Banget malahan.

Rio menatap miris gadis berkuncir satu dihadapannya. ‘mana Shilla yang dulu..’ batinnya dalam hati.

Sivia tertawa. “ ngaco lo Shil!” sesaat pandangannya beralih ke arah Rio. “eh ada kunyuk.. lo kemana tadi Yo?” tanya Sivia.

“ uks.”

“ Oh.. eh Shil, mau makan apa? Gue pesenin deh?”

“apa yaa? Emm nasi goreng aja deh.. sama Orange Juice.. “

“ gue juga dong vi, sama kaya Shilla. Makasih Viaa!”

Sivia tersenyum, mengacungkan jempolnya lalu bangkit keluar dari tempat duduknya dan berjalan dengan riang ke sebuah counter makanan di Calesa Canteen.

“ eh nyuk.. thanks ya tadi udah mau nemenin gue..” ucap Shilla saat kembali berdua lagi dengan Rio.

Rio mengangguk. “no problem..”

Shilla tersenyum, lalu mengeluarkan benda mungil dari saku roknya. Di pandangnya benda itu. Ada 1 message yang belum dibukanya dari semalam. Entah kenapa, tak ada niatan sama sekali dari dalam diri Shilla untuk sekadar hanya membuka pesan itu. Terlebih setelah melihat nama pengirimnya. Shilla hanya tak ingin berharap lebih.

Gadis itu tersenyum kecut. Lalu dengan terpaksa ia membuka message tersebut yang entah kenapa membuat perasaannya berdebar tak karuan.

Maaf. Kita ga mungkin satu. Di hati aku hanya ada Ify. Tolong, lupakan aku!

Rasa perih itu kembali muncul. Satu pesan dari Riko yang membuat hatinya kembali merasakan perih. Sakit. 2 tahun ia menanti Riko. Menunggunya, yang sudah berjanji akan bersama Shilla suatu saat nanti. Menantinya yang terus menerus menabur harap untuk Shilla. Dan kini, semua penantiannya harus terbalaskan oleh 2 kali perih yang amat sangat dalam waktu kurang dari 24 jam.

Matanya memanas. Dengan cepat dimasukkannya kembali ponselnya ke dalam saku roknya. Dilihatnya Rio, pemuda itu tengah berkutik dengan ponselnya. ‘gak.. gak boleh nangis. Mana Shilla yang dulu. Yang selalu rame, ceria. Gue gaboleh kaya gini. Terus rapuh. Gaboleh!’ batin Shilla sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Rio menatapnya dengan heran. “nyet?” panggilnya. Tak ada respon. “nyet woi!!” teriak Rio di depan wajah Shilla.

Shilla membuka matanya. “ha?apa?”

Rio berdecak kesal, “sarap lo.. kaya orang gila tau gak barusan.”

“ ha? Serius?”

“iya. Eh salah deh, bukan kayak lagi, kan lo emang udah gila ya..”

“ RIOOOOOOOO!!!”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar