RSS

Love, and Problem Between Us -7-

                Masalah. Tak akan pernah lepas dari kehidupan manusia. Tinggal mencari cara saja untuk menyelesaikannya. Karena.. ada cinta yang membantunya.

                ***

                Shilla menjejakkan kaki di depan koridor sekolahnya. Terpampang senyum lebar di wajahnya. Cengiran khas Shilla yang dulu. Shilla sudah berjanji, pada dirinya sendiri dan juga Rio. Tak akan ada tangis, tak akan ada sesal. Karena semua. Sudah berjalan sesuai rencananya.

                ‘gue gak boleh nampilin gue lagi sedih. Gak boleh. Shilla itu bisa.’ Batin Shilla menyemangati dirinya sendiri.

                Pletak!

                Rio menoyor kepala Shilla. “sampe kapan lo mau diri disitu nyet? masuk ayok..” ajak Rio menarik tangan Shilla dengan kasar, seolah-olah Shilla adalah sekantong plastik penuh belanjaan yang harus ditarik karena terkejar waktu.

                “Rio!!” ucap Shilla membuat langkah mereka berhenti.

                Rio menoleh ke belakangnya, mengerutkan keningnya saat memandang Shilla.

                “gue gak bakal jadi Shilla yang cengeng! Pasti.. gak bakal..” ucap Shilla semangat. Sambil mengepalkan sebelah tangannya yang menganggur ke arah Rio.

                Rio tersenyum lega,  tapi sedetik kemudian menatap Shilla sinis, “oh. Terus gue harus bilang waow gitu? Gak penting amat sih, udah buruan masuk kelas. Gue belom ngerjain peer nih..”

                “lo belom ngerjain peer? Kenapa bisa?”

                Rio menatap Shilla geram, “gara-gara ngibur lo semaleman.. gue keburu ngantuk. Tidur. Lupa ngerjain peer.” Jawab Rio ketus.

                “yaaah, maaf deh maaf. Lagian gue kan gak minta lo ngibur gue nyuk.”

                “trus lo mau jadi apaan kalo gak gue hibur semalem? Jadi zombie galau? Trus pagi-pagi jadi panda galau? Hah?”

                Shilla menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Mencoba menahan tawanya. Geli sendiri dia mendengar ucapan rival sekaligus sahabatnya yang satu ini.

                “ aneh lo. Ketawa-ketawa aja. Gak usah ditahan-tahan. Makin jelek muka lo tau gak.” Ucap Rio langsung berlari meninggalkan Shilla yang sudah bersiap dengan botol minum ditangannya yang mengarah ke arah Rio.

                Shilla tertawa kecil. Menatap punggung Rio yang lambat laun menghilang dari pandangan matanya. Shilla tersenyum. Semakin meyakinkan dirinya bahwa dia tidak akan mengingkari janjinya semalam pada pemuda berwajah manis itu. “gue janji.. gak akan nangis lagi. Apalagi didepan lo. Gak bakal.” Gumamnya.

                “ngomong sama siapa Shil?” tanya Zevana yang tiba-tiba berada di sampingnya.

                “ha? Eh enggak enggak. Haha. Udah ah, abaikan. Ke kelas yuk Zev..”

                “oh. Ayok deh.”

                ***

                BRAK!!

                “udah berapa kali gue bilang! Jangan deket-deket sama dia! Dia itu punya gue!”
               
                Gadis yang dibentaknya hanya tertawa kecil. “oh ya? Sejak kapan? Dia gak pernah cerita sama gue..”

                “ oke bukan punya. Tapi hampir punya. Lo nyari masalah mulu sih sama gue! Kemarin lo numpahin jus ke baju gue. Sekarang? Ngerebut dia dari gue! Besok apa? Nyuri duit sama harta gue?”

                Gadis itu mengepal kuat tangannya. Menarik nafas selama 2 detik. Lalu membuangnya dengan pelan. Dan pergi meninggalkan ruangan itu. Saat tiba di pintu, ia sempatkan menoleh sebentar ke arah 3 gadis yang baru saja memaki-makinya. “gue lupa. Mending apus aja deh khayalan lo dapetin dia. Dia respect sama lo aja enggak.. ” ucapnya sinis.

                ***

                Rio menatap kembali layar komputer di hadapannya. Menggerakkan mousenya mengikuti keinginan matanya memandang. Saat ini, ia tengah memilah-milih beberapa karya tulis yang akan dimuat di Veritas –majalah sekolahnya-. Waktu terbit Veritas sudah sangat dekat. Namun Rio baru mengerjakan semua bagian tugasnya hari ini, di saat beberapa temannya sudah selesai dan beberapa teman lainnya menunggu kerjanya selesai untuk dilanjutkan ke proses editing.

                “ yo.. lo kemana aja sih? Gak pernah ngumpul lagi.. kerja aja baru hari ini. Padahal tugas udah dikasih seminggu yang lalu loh yo sama Bu Ratih.” Ucap Gabriel, teman se-clubnya yang sudah berada di sampingnya. Dengan sekantung photato cips ditangannya.

                Rio menoleh, melihat siapa yang mengajaknya berbicara, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya, “ada urusan.. penting. Kaga bisa ditinggal.” Jawabnya tanpa menoleh ke arah Gabriel. “ah elah, ini naskah gak ada yang bagus sih!” makinya geram. Kesal sudah lima belas menit membaca kira-kira hampir 30an naskah yang dikirim oleh beberapa siswa-siswi Calesa High School.

                “urusan pentingnya tentang si ‘monyet’ lo itu?” tanya Gabriel sedikit tertawa.

                Rio mendengus, “ apaan sih lo? Ya bukan lah..” elak Rio.

                “ ah bener? Gosipnya udah nyebar lho.. keluarganya Shilla ancur, Shilla sedih. Dan elo terus nemenin dia akhir-akhir ini. Uuuuw so sweet..” ledek Gabriel.

                Rio melirik Gabriel tajam, “temen itu harus saling ngehibur kalo ada yang rapuh. Biar dia kuat.”

                Gabriel diam. “serah lo deh..” ucap Gabriel akhirnya lebih memilih untuk mengalah. Berdebat dengan Rio, tak akan pernah selesai. Skill nya itu lho. Udah kelas bulu banget.

                Rio memilih melanjutkan pekerjaannya. Dia mengambil waktu istirahat pertama kali ini. Agar istirahat kedua nanti yang perutnya sudah dipastikan kosong bisa dapat ia isi tanpa harus terbebani Veritas.

                10 menit kemudian..

                “ selesaaaaaai!” teriak Rio membuat teman-teman se-club nya yang berada di dalam satu ruangan terlonjak kaget yang berakibat Satu persatu barang terlempar ke arah Rio.

                “aw aw aw, gila lo pada.. sakit tau. Brutal banget sih anak Veritas.” Keluh Rio.

                “ lo sih berisik banget. Liat nih! Cover gue jadi ancur kan gara-gara teriakan lo..” ucapnya sambil menunjuk ke layar komputer dimana terdapat desain cover Veritas yang hampir setengah jadi itu tercoreng sedikit gara-gara kekagetan pendesainnya.

                Rio menoleh ke arah layar komputer Cakka. “hehe, maap cak.. kebiasaan.” Balasnya sambil membentuk jarinya menyerupai huruf V.

                Brak! Pintu terbuka dan terbanting kencang saat sosok Daud terlihat di ambang pintu tersebut.
               
                “hosh..hosh..hosh.. Ri.. Rio.. ujar Daud terpotong dengan nafasnya yang terengah-engah.

                Rio mengernyit. “apa? Kenapa? “

                Rizky bergerak menghampiri Daud. Lalu menepuk punggungnya pelan-pelan. “elo kenapa? Rio kenapa? Tenang ud tenang..”

                “shi..shilla..shilla pingsan..” jawab Daud yang spontan membuat mata Rio melotot kaget.

                ***

                shi..shilla..shilla pingsan..” jawab Daud yang spontan membuat mata Rio melotot kaget.

                “ Apa?!! Pingsan? Dimana? Kenapa bisa? Emang dia lagi ngapain? “ tanya Rio bertubi-tubi sambil memakai sepatunya dengan terburu-buru. –FYI. Ruang Veritas itu lesehan-

                Daud menggerakkan tangannya menunjuk ke arah kanannya. “u..uks yo..”

                Tepat. Sepatu Rio sudah terpasang. Tanpa babibu banyak lagi, pemuda bernama lengkap Mario Haling itu segera berlari menuju UKS. Entah kenapa saat ini ruang berdinding putih itu terasa begitu lebih jauh dari biasanya. Entah sudah berapa siswa Calesa yang ditabraknya. Kini Rio sudah berada di depan ruangan itu. Dicengkeramnya gagang pintu dengan kencang. Lalu dibukanya dengan perlahan.

                Dilihatnya sesosok gadis berseragam ungu muda dengan rok ungu tua kotak-kotak sedang terduduk lemas di pinggir ranjang. Diajaknya matanya berkeliling ruangan itu. Sepi. Tak ada orang. Kemana petugas UKS nya?

                “kunyuk.. udah bel masuk ya?” tanya Shilla pelan dan lirih. Dengan segelas teh hangat di tangannya.

                Rio berjalan menghampiri Shilla. Lalu berdiri di hadapannya. “udah. Kenapa bisa?”

                “Elo gak masuk kelas?” tanya Shilla mengalihkan pembicaraan.

                Rio menggeleng, “males. Gue tanya. Kenapa lo bisa kayak gini.”

                Shilla menunduk. Diam. Tak berani mengangkat wajahnya ataupun mengeluarkan suaranya. Hanya desahan nafasnya yang terdengar. Sekuat tenaga ia menahan agar tak ada satu pun air keluar dari mata indahnya. Dia tak mau mengingkari janjinya. Untuk tidak menangis di hadapan pemuda ini. Akhirnya, ia lebih memilih menggelengkan kepalanya.

                Rio mengernyit. Menggerakkan jari telunjuknya menyentuh dagu Shilla lalu mengangkatnya. Ditatapnya wajah gadis berkulit putih itu. “ lo itu gak punya bakat bohong. Kebohongan apapun yang lo usahain ke gue, bakal selalu kebongkar. Udah, sekarang cerita. Lo kenapa?”

                “mereka.. mereka udah jadian Yo..”

                ***

               

               

                

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar