Apapun yang terjadi.
Aku usaha, ada untukmu.
***
Shilla mendengus pelan. Memasuki kamar luasnya yang bercatkan biru laut. Teringat peristiwa semalam. Saat kedua orang tuanya bertengkar hebat dan Shilla hanya bisa duduk meringkuk di pojok kamarnya. Duduk penuh ketakutan akan sesuatu yang tak ingin dia dapatkan. Duduk dengan isakan tangis yang berusaha ditenangkan oleh bibi (read-pembantu) nya.
Dipandangnya foto dia, ayah, dan bundanya yang tengah tertawa di disneyland hongkong. Saat shilla berumur 7 tahun. Masa-masa yang amat dirindukannya.
Diangkatnya bingkai foto itu, ditatapnya sejenak, dan diletakkan kembali dengan posisi berbeda. Posisi tertutup. Hampir berakhir.. semuanya hampir selesai. Kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Shilla tak bisa lagi menyatukan mereka.
Air mata itu mulai bergulir secara perlahan dari liang air mata Shilla. Shilla terpejam. Tangannya mengepal keras menggenggam tepi meja nya. Isakan tangisnya terdengar tertahan. Dadanya terasa sesak. Perasaannya kecewa. Shilla butuh tempat untuk bercerita. Bukan hanya kepada Bibi. Tapi kepada sahabatnya. Tapi…siapa?
***
Menangislah.. kalau itu membuat mu lega. Tapi jangan lupa tersenyum sesudahnya.
Shilla membanting pintu rumahnya berlari dengan kencang ke rumah berdinding kayu dan bergaya klasik yang berada tepat di samping rumah Shilla. Shilla tak mengerti, siapa dan apa yang membuat Shilla memilih tempat itu untuk pengaduannya. Yang Shilla tau, Shilla butuh dia..
Diketuknya pintu itu dengan cepat. Masih dengan buliran air mata yang setia menghias sudut wajah cantiknya. Rambutnya berantakan tak karuan. Poninya tak tertata. bahkan kunciran rambutnya tadi sudah terlepas entah kemana. Meninggalkan untaian rambut panjang yang menutupi sebagian wajah Shilla.
Cklek.
Pintu kayu berkaca itu terbuka. Rio kini berada tepat di hadapannya. Menatap Shilla bingung. Jelas.. sudah sekian lama Shilla tak berkunjung ke rumahnya. Kini, malam-malam, dia malah bertandang ke rumahnya.. bonus tangisan pula.
“elo.. kenapa?” tanya Rio.
Shilla mengangkat wajahnya menatap Rio. Sedetik kemudian langsung menghambur ke dalam pelukan Rio. Pelukan seseorang yang dulu selalu ada disampingnya.
Rio diam. Bingung. Namun, tangannya masih bisa membalas pelukan itu. Mengelus pelan puncak rambut Shilla dan menuntunnya masuk ke dalam rumahnya. Ke ruang tamu.
Dilepaskannya pelukan Shilla tadi. Disuruhnya menunggu sebentar. Sembari Rio mengambil minum untuk membuat Shilla tenang. Sesudahnya.. disuruhnya Shilla mengatur nafas, dan menceritakan semuanya dengan pelan-pelan.
“gue takut yo..” lirih Shilla terisak, memeluk kedua kaki jenjangnya yang sudah terangkat ke atas sofa.
Rio mengusap puncak kepala Shilla, “ takut kenapa?”
“takut semuanya berubah.. gue takut keluarga gue jadi ga beraturan, gue takut perhatian mama sama Papa ilang.. gue takut temen-temen ngejauhin gue gara-gara gue anak broken home.. gue takut kehilangan semuanya Yo..termasuk.. kehilangan.. elo..” jawab Shilla pelan di ujung kalimatnya.
Rio menurunkan tangannya, mengacak-acak rambutnya dengan salah tingkah. Kaget mendengar saat Shilla mengatakan takut kehilangan dirinya. Hatinya tak karuan. Semuanya campur aduk. Senang, ragu, sedih, bercampur menjadi satu perasaan yang tak terasa.
Shilla tertawa, menoyor kepala Rio, “gak usah geer deh.. gue Cuma takut kehilangan temen berantem doang.” Ralat Shilla.
Rio ternganga. Lalu tertawa kecil membalas candaan Shilla. “tau elah gue, yaudah lah.. lo gak usah takut. Apapun yang terjadi, gue usahain.. gue tetep ada buat lo..” jawab Rio.
Shilla tersenyum. Dan dibalas senyum pula oleh Rio. Senyum miring, yang menawan.
“jangan nangis lagi ya Nyet..kalo lo nangis, jangan lupa senyum selesai nangisnya..”
***
Bintang pun pasti tertawa jika melihat keadaan ku yang sedang hancur.
Malam tiba. Shilla sadar, Hari ini hari paling hancur untuk hidupnya. hari yang membuat pertahanannya selama ini runtuh. Hari dimana kedua orang tuanya bercerai. hari dimana penentuan hak asuh atas Shilla turun.
Shilla terbungkam. Air matanya terus menetes. Menatap rumah mewah di hadapannya. rumah mewah yang sedari dia lahir telah menemaninya dalam sepi.
Apa salahnya? Apa salah Shilla? Hingga Tuhan tega memisahkan kedua orang tuanya. Hingga Tuhan tega membuat keluarganya tidak utuh seperti dulu. Shilla memejamkan matanya. Air matanya mengalir semakin kencang. Namun.. bibirnya menciptakan senyum. Sedetik kemudian ia tertawa kecil.
Kejadian hari ini cukup membuat jiwanya tergoncang hebat. Goncangan meruntuhkan. Ia yakin, siapapun yang melihatnya kali ini. Akan tertawa. Tertawa melihat seorang gadis menangis dan tertawa di depan rumahnya seperti orang frustasi. bahkan shilla yakin, jangankan orang, bintang pun pasti akan tertawa melihat keadaan dirinya.
***
Rio terdiam. Matanya masih menatap lurus ke satu titik pandangnya, tangannya mencengkeram kain jendelanya dengan kuat. Tak tahan ia melihat gadis itu menangis, bahkan kadang tertawa di halaman depan rumahnya. Berdiri lemah, sambil terus menatap teras rumahnya dengan hampa.
Perlahan. Rio menutup jendela itu.
Dalam waktu singkat Rio sudah berada di pagar rumah Shilla. Gadis itu masih berdiri dengan lemah. Rio menatap punggungnya yang sedari tadi bergerak seirama dengan isakan tangisnya. Sungguh, hatinya terasa pilu mendengar isakan tangis itu. Betapa egoisnya orang tua Shilla, tidak memikirkan resiko dari apa yang mereka lakukan tadi siang.
Dihelanya nafas dengan panjang. lalu diarahkannya langkah kakinya menghampiri gadis berkaus biru itu. Dilihatnya gadis yang sedang berada disampingnya. Tak bergeming. Namun Rio masih bisa melihat kilauan benda putih di pipi Shilla. Kilauan air mata.
Digerakkannya tangan kirinya, mencari jemari Shilla. Lalu digenggamnya dengan erat. Shilla agak tersentak mendapat perlakuan seperti itu. Namun seperti ada yang memaksanya untuk tetap bertahan. Entah kenapa, ada rasa kenyamanan saat jemari kedua insan itu saling terpaut.
Shilla menoleh ke arah Rio yang juga sedang menatapnya. Rio tersenyum saat mengetahui, gadis itu sudah menyadari kehadirannya.
“ nangis aja. Bahu sama tangan gue siap buat elo.”
Shilla tersenyum.
***






0 komentar:
Posting Komentar