tak mau ada orang lain yang menggantikannya.
Karena dia, hanya ingin dia yang ada di sisinya.
***
Bel sudah lima belas menit yang lalu berdering. Namun baik Shilla, dan Sivia masih tetap bergeming di bangkunya. Begitu pun Rio. Harus ikut pula tenggelam di dalam keheningan ini. Namun, kelihatan sekali mereka sedang gelisah. Kecuali Rio tentu saja.
“ lo berdua kenapa sih? Lebay amat jadi cewek. Ngegalaaaaau, mulu.” Keki Rio sambil menggantung kaki kanannya ke atas meja. Dan mengokohkan tangannya ke senderan bangkunya.
Sivi tetap diam. Berbeda dengan Shilla. Dia melotot ke arah Rio. Namun sedetik kemudian matanya terpejam kembali. Dan membuka dengan pelan. “pulang yuk Nyuk..” ucap Shilla sambil bangkit berdiri, baru saja ingin melangkah. Tangan Sivia mencegatnya. “kenapa?” tanya Shilla.
Rio menatap Shilla dan Sivia bergantian. Cewek itu kenapa selalu mellow sih hidupnya? Kalo gak galau, nangis, ngegosip. Labil banget hidupnya. Batinnya sambil memasukkan jemarinya ke dalam saku celana ungu kotak-kotaknya.
“gue gak mau keluar sekolah sekarang..” ucap Sivia lirih.
Shilla bengong, tak mengerti maksud Sivia. “lo mau keluar sekolah emangnya? Kapan? Kok lo gak bilang sih sama gue Vi?”
PLETAK. AW.
Rio menjitak kepala Shilla. “bego, bukan gitu maksud dia.” Ralat Rio.
Shilla menatap Rio kesal. Mainnya jitakan mulu sih ini anak. Lama-lama kepalanya bisa abstrak kalau tiap hari kena jitakan terus. Oke, kembali ke Sivia.
“trus kenapa Siv?”
Sivia menggeleng. “temenin gue dulu disini.. sampe dia pergi. Gue gak mau ngeliat dia.” Jawab Sivia.
“dia siapa?”
Sivia mendongak. Lalu menggeleng pelan dengan tangannya yang masih memutar-mutar ponselnya di atas meja. Sivia masih enggan kalau diharuskan jujur kepada Shilla. Takut. Takut kalau Shilla membeberkan semuanya ke teman-temannya . walaupun Sivia percaya Shilla tidak comel.
Shilla hanya mengangguk. “yaudah gue temenin.. nanti kapan-kapan cerita ya sama gue.” Ucap Shilla.
***
Rio bosan. Melihat pemandangan mellow yang sedari tadi diciptakan dua gadis berambut panjang ini. Mereka gak sadar apa ada cowok disini? Enak banget mellow-mellow gitu.
Tanpa sadar Shilla dan Sivia. Rio sudah berjalan keluar kelasnya. Melihat betapa luas sekolahnya itu. Lalu pandangan matanya terpaku ke satu titik di depan gerbang sekolah. Alvin dan Aren. Sedang mengobrol dengan santai disana. Dengan Aren yang malu-malu saat tangan Alvin bergerak mengacak-acak puncak kepalanya.
“ sipit.. sipit..dasar playboy.” Decak Rio.
Rio lalu berjalan dan duduk di bangku depan kelasnya. Mengeluarkan sebuah komik fighternya. Hingga Tiba-tiba dia teringat oleh ucapan Sivia tadi. Gue gak mau ngeliat dia. Dia? Dia siapa? Di sini udah gak ada siapa-siapa lagi kok. Hanya Rio, Shilla, Sivia, Aren, dan…. Alvin.
Rio tersenyum jahil. Ooh, jadi gitu. Gumamnya pelan lalu kembali menoleh ke arah Gerbang sekolah yang sudah kosong. Tak nampak sosok Alvin dan Aren disana. Dengan ceria, Rio kembali ke dalam kelas. Menemuin Shilla, dan Sivia.
Di dalam kelas.
“udah pulang tuh Vi..” ucap Rio dari pintu kelas yang sontak membuat dua gadis cantik di dalamnya menengok ke arahnya.
Sivia menatap Rio heran. “elo.. tau?”
Rio mengangguk, “udah gak ada. Dia udah pulang tadi. Sekarang kita yang pulang yaa.” Pinta Rio ke arah Shilla dan Sivia.
Shilla menggeleng, “gak sebelum Sivia ngasih tau gue siapa ‘dia’ tadi.”
“gak mau.” Tolak Sivia.
“dih, Rio aja tau masa gue gak dikasih tau sih Vi..”
“Rio kan nyari tau sendiri, bukan gue yang ngasih tau.”
Shilla mendesah pelan. Lebih memilih mengalah saja, “yaudah ayok pulang. Elo dijemput kan Vi?” tanya Shilla.
Sivia mengangguk. Lalu mereka bertiga berjalan beriringan keluar kelas. Shilla dan Sivia berjalan menuju ke gerbang. Sementara Rio, menuju tempat parkiran sepeda. Mengambil sepeda nya. Yang setiap hari harus ditaiki oleh Shilla dan Rio. Dari rumah hingga sekolah, dan dari sekolah hingga ke rumah. Belum lagi kalau Shilla mengajak ke tempat lain dulu. Kaki Rio gempor duluan gara-gara kebanyakan mengayuh sepeda. Tapi biarlah, toh itu juga membuat Rio senang.
***
Masa lalu itu kembali. Walaupun sepersekian persen. Yang pasti masa lalu itu kembali.
Saat aku dan kamu. Masih saling mengejek tanpa ada perasaan aneh itu.
Kayuhan Rio semakin kencang saat melewati kios minuman yang menampilkan berbagai macam minuman dingin menggoda di dalam kulkas, yang terpajang di depannya. Shilla tersentak, memegang pundak Rio dengan kencang. Agar dia tidak terlepas dari injakannya di jalu sepeda Rio.
Shilla merutuk, sudah berkali-kali Shilla meminta agar jalu itu diganti saja dengan jok. Agar Shilla bisa duduk dengan tenang saat Rio mengayuh sepedanya. Daripada memakai jalu ini, berdiri dengan hanya memegang pundak Rio saja, membuatnya terancam beberapa bahaya yang ada di depan mata.
1.Shilla terjatuh saat Rio mengayuh sepedanya dengan spontan, hingga membuat Shilla hampir terjerembab ke belakang. 2. Tubuh Shilla terloncat saat Rio ngebut di setiap poldur dilewatinya. 3. Tubuh Shilla oleng, kalau dibelokan Rio mengayuh sepedanya dengan kuat.
Namun memang dasar si kunyuk pesek emang gila. Dia malah menolak mentah-mentah saat Shilla mengajukan permintaannya itu. “kalau jalunya diganti jok. Nanti sepeda gue dikira sepeda cewek. Tau!” ucapnya saat permintaan itu terucap.
Kalau bukan karena permintaan kedua orang tua Shilla dan Rio yang mengharuskan mereka berangkat sekolah bersama. Shilla juga tak akan mau berangkat dengan orang gila kayuhan ini. Taruhannya nyawa brooo!
“RIO!! Bawa sepedanya pelan-pelan kek.” Omel Shilla.
Rio menjawab dengan nafas tersengal-sengal, “hoss..hoss..hoss.. berisik! Gue lagi ngindarin lewat kios minuman tadi tau!”
“lah emang kenapa?”
“gue aus, kalo gue beli minuman disana, gue gak bakal bisa minum lagi dirumah lo. gue kangen jus alpuket bikinan lo..” jawab Rio membuat Shilla diam.
Tanpa sadar dadanya berdegup cepat saat Rio bilang dia kangen dengan jus alpukat buatannya. Entah sudah berapa lama Shilla tidak membuat minuman itu. Seingatnya, terakhir, saat Rio main kerumahnya kelas 2 smp. Tepatnya, 2 setengah tahun lalu. Saat Rio masih berani masuk ke dalam rumahnya dengan cuek dan bodo-amat. Setelah itu, Shilla malas sekali membuat minuman, apapun itu.
***
Shilla membuka pintu rumahnya. Dan berjalan masuk ke dalam, melempar tasnya di sofa ruang tamu. Begitu pun Rio. Dia langsung berlari ke dapur rumah Shilla dan membuka kulkasnya. Rio rindu rumah ini. Rindu saat ia bermain dan bertengkar dengan Shilla di dalamnya.
Selesai mengambil minum, Rio melihat-lihat dan meneliti setiap sudut rumah Shilla. Gak ada yang berubah, semua masih sama kaya dulu. Sekarang. Mereka berdua berkumpul lagi. Walau dalam keadaan berbeda dengan yang dulu.
“kunyuuuuk! Lo jadi berenang?” tanya Shilla sambil merebut gelas Rio dan meminumnya.
Rio mengangkat bahu, “gak tau. Gue gak bawa baju ganti.”
“elah lu Yo.. rumah setempongan aja. Tinggal ngambil.”
Rio tertawa, “oiya hahaha yaudah gue ambil baju dulu deh.” Ucap Rio sambil berjalan keluar rumah Shilla, meninggalkan Shilla yang kini tengah tersenyum kecil.
***
Sahabat kecil. Bukan hanya kenangan. Tapi sebuah ingatan yang harus tersimpan di dalam hati.






0 komentar:
Posting Komentar