Pagi yang cerah. Seperti biasanya. Rio sudah berada di meja ruang makan. Duduk manis dengan selembar roti berselai cokelat di hadapannya. Duduk bersama dengan keluarganya. Tiba-tiba dia teringat gadis yang berada di samping rumahnya. Shilla.. bagaimana sarapan dia sekarang ini ya?
“ berangkat bareng Shilla lagi yo?” tanya Aditya –papanya- yang sedang membaca koran.
Rio mengangguk. Lalu mulai memakan rotinya.
Amanda –mamanya- menuangkan susu putih ke dalam gelas minumannya. “mama sama Papa bingung Yo.. kamu ini.. sebenarnya pacaran gak sih sama dia?”
Uhuk. Rio tersedak mendengar pertanyaan Amanda. Dengan sigap diambil susu putihnya dan diteguknya hingga menyisakan setengah gelas susu putih. Rio tertawa, mencoba bersikap biasa saja. ‘kenapa nanyain ginian sih.. ngeledek banget..’ batinnya.
“enggak kok.. kita gak pacaran..” jawab Rio.
Amanda tersenyum. “tapi kamu suka sama dia?”
Rio melotot, lalu menggeleng cepat. “enggak.. mama apaan sih pagi-pagi bahas beginian. Mending bahas sayuran tuh, make up..” balas Rio.
Drrt..drrt.. ponsel di saku celana Rio bergetar. Menandakan ada satu pesan masuk. Rio mengambil ponsel berlayar sentuh itu. Lalu disentuhnya layarnya hingga menampilkan sebuah pesan dari orang yang membuatnya tak bisa tidur semalaman, hanya karena teringat senyumannya saat pulang dari Café.
mau mkan smpe jm brp?ha?telat nih!-_-
Rio tersenyum. Lalu dibalasnya dengan cepat pesan singkat itu. Segera dimakannya roti selainya, lalu diminumnya susu putihnya sampai habis tak bersisa. Diraihnya tas yang tersampir di kursi yang didudukinya. Lalu berpamitan kepada Aditya dan Amanda.
***
“ elo sih kelamaan makan.. telat kan kita. Mana pelajaran pertama si pak dudut pula. Dijemur deh..” keluh Shilla sambil terus hormat kepada tiang bendera dihadapannya.
Ya. Mereka terlambat. Hingga 15 menit sesudah bel mereka baru sampai di gerbang sekolah. Kecelakaan lalu lintas tadi pagi mengakibatkan kemacetan yang sangat panjang. Bahkan sepeda Rio, yang dipikirnya dapat dengan mudah melewati itu, ternyata juga terjebak dalam kemacetan itu.
Bahkan sampai di pintu gerbang, mereka belum dapat langsung masuk kelas. Perlu seribu jurus dulu untuk meluluhkan hati Pak Widyo. Satpam sekolah. Untung saja Rio menemukan ide lebih tadi. Menyogok Pak Widyo dengan uang 50ribu. Hasil patungan dengan Shilla. Dan taraaa.. pintu gerbang pun terbuka dan mereka langsung berlari ke kelas, dibukanya pintu kelas 10C.. dengan Pak Duta yang langsung menyambut mereka.
Dan disinilah mereka sekarang. Di depan tiang bendera. Hukuman hormat tiang bendera sampai pelajaran Pak Duta selesai.
Tak henti-hentinya Shilla mengomeli Rio dari tadi. Menyalahkannya gara-gara makan terlalu lama. Dan mengayuh sepedanya terlalu lambat.
“lo kenapa ga bawa motor aja sih nyuk.. kan bisa lebih cepet..”
Rio mendelik, “kalo lo mau beliin bensinnya sih no problem.”
Shilla memanyunkan bibirnya. “pelit!”
Keheningan di antara mereka terjadi sekitar 10 menit. Tak ada satu pun dari mereka yang mencoba membuka percakapan. Hingga tiba-tiba saja dilihatnya Riko dan Ify tengah berjalan bertautan tangan di lorong sekolah, yang berada tepat di belakang tiang bendera. Shilla menyenggol tangan Rio, lalu mengangkat dagunya menunjuk ke dua sosok tadi. Rio menyipitkan matanya, mencoba melihat dengan jelas siapa mereka. Sedetik kemudian dahinya mengernyit, lalu memandang sosok gadis disampingnya yang tengah tersenyum.
“lo gak cemburu?” tanya Rio.
Shilla menggeleng, “cemburu pasti.. tapi rasanya, gak sebesar yang kemarin..” jawab Shilla.
Rio tersenyum. Entah kenapa perasaan di hatinya senang mendengar pengakuan Shilla akan mantannya tersebut. Apa ini tanda. Bahwa Shilla, sudah mau membuka hatinya. Untuk pemuda lain? Dalam waktu sesingkat ini?
Bel pergantian jam berbunyi. Shilla menurunkan tangannya. Lalu membungkuk dengan bertumpu pada tangan dilututnya. Peluh menetes dengan deras di sekujur wajahnya. Lain lagi dengan Rio, tak ada sama sekali keringat di wajahnya. Bahkan, wajah letih pun sama sekali tak terlihat disana. Malah wajah senang yang terpancar dari pemuda itu.
Shilla menepuk pundak Rio, “nyuk..kantin yuk..” ajak Shilla.
Rio melotot. Lalu menoyor kepala Shilla. “bego! Ini belom istirahat tau.. lo mau kita kena hukum lagi? Hah?”
Shilla terkekeh, “kali aja lo mau nyuk hehe..”
“sarap!” balas Rio langsung meninggalkan Shilla.
Shilla berlari mengejar Rio hingga sampai ke kelas. Dilihatnya kelas 10C dari luar terlihat sepi. Dia mengernyitkan dahinya. Heran. Gak biasanya kelas dia sepi seperti ini. Apalagi saat pergantian jam. Terlebih sekarang adalah jam Bu Ira. Sejarah. Biasanya kelas mereka sudah berkeliaran dari kelas perkelas. Mencari pinjaman buku cetak sejarah. Yang tak pernah mereka bawa karena alasan ‘Berat’.
Shilla membuka pintu kelas. Di lihatnya semua teman-temannya tampak berkerumun, serius mencatat sesuatu di meja Patton dan Bastian. Hanya Rio saja yang terlihat santai, di mejanya.
Dihampirinya meja Bastian, ditepuknya pundak pemuda bertubuh mungil tersebut. “eh babas, pada nyatet apaan sih?”
Bastian menoleh ke arah Shilla. Memandangnya lama. “nyatet contekan shillooooong! Nanti ada ulangan Bu Iraaaa!! 50 soal Shill.. Pilihan Ganda semua. Tapi kata anak sebelah soalnya susah-susah!!” jawab Bastian kembali melanjutkan mencatat contekannya di sebuah kertas kecil.
Shilla menarik Bastian keluar dari kerumunan. Lalu melotot menatap Bastian. “APA?ULANGAN?!! WAAAAA GUE BELOM BELAJAR!!” teriak Shilla heboh sambil mengguncang-guncangkan tubuh Bastian yang kecil.
“shil…udah..lepas..badan gue kecil ntar tambah kecil lo goyangin gitu..” ucap Bastian dengan suara bergetar.
Shilla melepas pegangannya dari tubuh Bastian, “hehe sorry sorry..”
“udah lo nyatet aja nih contekan.. lumayan. Gak usah mikir.” Ucap Agni.
“tau Shil, 50 soal Shil masalahnya, 50 soal!! Sesuatu banget gak Shill..” sambung Ray.
“alhamdulillah yah Ray.. mending lo bagi gue kertas buat nyatet contekannya..” balas Shilla.
Ray dan yang lain tertawa. Tak menyangka, gadis sepintar Shilla kali ini lebih memilih menyimpan contekan dari pada harus berpikir. Ray lalu menyobek selembar kertas dan membaginya ke Shilla. Lalu diperiksanya tempat pensilnya dan dilemparnya sebuah pulpen ke arah Shilla. “thanks..” ucap Shilla, dibalas acungan jempol oleh Ray.
Sambil mencatat kunci jawaban yang entah muncul darimana. Shilla melirik sekilas ke arah Rio. Pemuda itu tengah membaca buku sejarah dengan earphone yang tergantung di telinganya. Shilla berdecak kagum. Disaat dadakan seperti ini dia masih memaksa belajar? Padahal teman-teman lainnya lebih memilih contekan dibanding belajar. Anak pintar memang beda ya..
Shilla tersenyum sendiri melihat sikap Rio. Tanpa disadari, teman-temannya sudah memperhatikannya sejak tadi.
“ehm..” dehem Agni mengagetkan Shilla.
“sial lo Ag! Ngagetin aja tau gak..” omel Shilla.
“ngeliatin siapa sih Shil? Rio yaaa? Cieee kunyuk dan monyet jatuh cinta nih! Hahaha..” ledek Sion disambut tawa riuh teman-temannya.
“ HAHAHA lucu ya lucu.. daripada ngetawain gue, mending lo ketawain noh contekan lo yang kosong!” omel Shilla –lagi- sambil menunjuk kertas Sion yang semula sudah penuh contekan kini berubah menjadi terisi setengah contekan.
Sion melihat kertas contekannya. Melotot. Dan mendelik ke arah Shilla. “SHILLAAAAA!!” Lalu melempar sebuah tipe-x hingga mengenai kepala Shilla. Satu kelas tertawa dibuatnya. Hingga tiba-tiba masuklah Bu Ira berwajah garang, dengan setumpuk kertas ulangan ditangannya.
“ duduk.. keluarkan kertas selembar! Kita ulangan!”
***
Cinta itu seperti kamu. Walau terkadang mengesalkan. Tapi rasa nyaman itu ada.
Malam itu. Shilla dan Rio tengah duduk dan bermain ayunan gantung di halaman belakang rumah Shilla. Rio, entah kenapa akhir-akhir ini selalu senang jika harus menemani gadis ini. Apa dia jatuh cinta?
“ Shil..”
“hmm..”
“menurut lo jatuh cinta itu apa enak gak?” tanya Rio membuat Shilla tertawa.
Shilla mendorong Rio hingga ayunan gantungnya bergoyang. “haha..emang kenapa? Lagi jatuh cinta lo?” tanya balik Shilla.
Hening. Dalam waktu seketika mukanya memerah. Untung saja itu malam hari kalau tidak wajahnya sudah kelihatan seperti kepiting rebus. Rio menggerakkan kepalanya menyerupai bantal. Sudah 1 jam dia duduk di ayunan gantung bersama gadis ini. Dan selama itu pula dia terus menerus menetralisir perasaannya yang tiba-tiba saja bergemuruh saat menatap gadis disampingnya.
Dipandangnya Rio. Dilihatnya pemuda itu tengah terpejam, dan tersenyum. Dilihatnya lekat-lekat pemuda itu. Lekuk wajahnya sungguh rupawan. Yang kadang tersamarkan oleh senyum angkuhnya. Kenapa dia baru sadar bahwa pemuda itu begitu tampan? Pantas saja selama ini teman-teman Shilla selalu heboh melihat Rio.
“ elo pernah jatuh cinta gak sih Yo?” cetus Shilla sambil tetap memandang wajah Rio. Saat ini yang Shilla ingin hanya memandang wajahnya, menikmati lekuk rupawan pemuda itu. Seolah ada yang memaksanya memandang Rio.
Rio diam. Lalu tiba-tiba tersenyum sambil tertawa. “pernah lah.. ini gue lagi jatuh cinta..” jawab Rio membuat Shilla melotot dan merubah posisi berbaringnya menjadi duduk.
“serius lo?” tanya Shilla tidak percaya. Dipikirnya pemuda ini tidak akan pernah jatuh cinta. tertarik dengan cewek saja kelihatannya enggak, bagaimana mau jatuh cinta?
Rio mengangguk meyakinkan hatinya. “iya gue serius.. biasa aja kali nyet. Kesannya gue anti banget sama cewek tau, sampe lo syok gitu..” dumel Rio.
“hehe bercanda Mariooo..”
“ cinta itu kayak apa sih Shil?”
Shilla mendelik, “kok lo nanya gue sih? Berasa dewa cinta banget deh gue..”
Rio tertawa lalu menggerakkan tangannya mengacak-acak puncak kepala Shilla. “terus lo dewa apa? Yang ada di otak lo kan cinta-cintaan doang..”
Shilla mendengus dan mengabaikan ucapan Rio. Dibaringkannya lagi tubuhnya disamping Rio. “cinta itu kaya bunga mawar.. indah tapi kalo salah sentuh, bakal nyakitin..” ucap Shilla membuat Rio tersenyum.
“ cinta juga kaya kopi.. kalaupun pahit, tapi bikin tenang..”
“ kalo lo suka sama orang, ungkapin. Jangan disembunyiin. Cinta yang dipendem bakalan bawa kita lebih cepet buat sakit hati..” ucap Shilla –lagi-.
“ kok bisa?” Tanya Rio polos.
Shilla menoyor kepala Rio, “yabisalah dodol.. lo bakal ngerasa gak dihargain sama sikap dia. Dan itu bakal bikin lo sakit hati..”
Rio membulatkan mulutnya tanda mengerti.
“kalo menurut lo, cinta itu apa?” tanya Shilla.
Rio terdiam. Mengerutkan keningnya tanda ia sedang berfikir, “apa ya? Hmm.. menurut gue.. cinta itu.... kaya elo. Walaupun ngeselin, tapi selalu bikin hati gue nyaman.”
***






3 komentar:
INI PART FAVOURITE GUE \=D/
cocok bgt lu jdi pnulis da
kren bgt
amin O:) makasih maan
Posting Komentar