Tak sadar kalau itu putih..
Terpakukan oleh selimut hitam..
Hanya dapat menanti..
Kapan putih itu terganti dengan warna merah jambu..
***
“ Ashilla.. 63. Alvin.. 72. Dea.. 72. Mario..100. Bla…bla…bla…”
Shilla tersenyum pasrah mendengar nilai ulangan harian Mathnya hari ini. Selalu. Dan pasti. Nilainya di bawah standar. Dia tersenyum kecut saat mengingat si kunyuk mendapat nilai sempurna.. seperti biasa. Rivalnya. Saingannya. Dan juga.. teman sebangkunya.
“100.. 63.. 100.. 63.. 100 dikurang 63 itu 37.. gila! Makin menang aja gue.. ckck” sindir Rio sambil melirik sekilas ke arah Shilla.
Shilla mendelik. Tangannya terkepal. Guru mathnya sudah keluar. Semua pandangan mata teman-temannya kini mengarah kepada Rio dan Shilla yang berada di deret paling belakang. Menunggu aksi apa yang akan dikeluarkan mereka berdua hari ini. Hal rutin. Setiap hasil ulangan dibagikan. Ada saja ulah mereka berdua yang membuat heboh kelas. “sekali mancing api. Selamanya bakal terbakar.” Ucap Shilla suatu ketika ditanya temannya perihal keributannya dengan Rio.
“ gak usah ngelirik-lirik deh. Naksir? Iri?” sinis Rio.
Shilla melongo, lalu sedetik kemudian berpura-pura membuang ludahnya ke lantai, “cuih.. pengen banget ditaksir sama gue sih. Sorry, gak level gue sama orang sombong kayak lo..”
“kalo iri sama naksir sama gue bilang aja, gue maklum kok. Emang banyak yang kaya gitu ke gue..” narsis Rio.
BUK. sebuah pukulan dari buku matematika setebal 178 halaman tepat mendarat di puncak kepala Rio yang membuatnya mengaduh kesakitan. Shilla tertawa licik.
Rio mengambil buku math itu, lalu membuangnya ke arah belakang punggungnya, “lo ngasih gue buku?gak perlu..gue udah pinter.” Ucap Rio.
Shilla melotot. Gila bener ini anak. Sombongnya udah tingkat ujian nasional. Mario Stevano. Rivalnya sejak SMP yang entah kenapa selalu satu kelas dengannya. Membuat kedua manusia ini yang notabene berotak encer saling menganggap lawannya sebagai rival. Tidak ada yang heran kalau di kantin, lapangan, kelas atau tempat umum lainnya terjadi keributan saat ada mereka berdua. Monyet dan kunyuk. Julukan dari masing-masing rival.
Tak sadarkah mereka? Sesering mereka bertengkar. Sesering itu pula mereka saling membutuhkan.
“ sombong lo! Berasa otak lo udah dewa banget sih.. heran gue nyokap lo ngidam apaan pas hamil, sampe punya anak kayak gini.. sarap!”
BUK. kali ini gantian buku math Rio yang terlempar ke wajah Shilla. Muka Shilla merah padam. Emosinya semakin membara saat melihat Rio mentertawai dirinya. “heh kunyuk! Brutal banget sih lo jadi orang! Gue cewek woy! Kriminal lo jadi orang, cemen. Pengecut. Beraninya main benda sama cewek!
Rio bangkit. Berdiri menghadap Shilla yang kini juga sudah dengan posisi yang sama dengan Rio. Teman-temannya mendesah. Mulai menduga-duga apa yang akan terjadi berikutnya.
“eh Bas, Day beli minuman sama makanan sono! Udah nyampe klimaks nih. Tinggal liat siapa yang kalah!” teriak salah seorang anak dari sudut depan kelas yang langsung mendapat tatapan –lo-minta-ditabok- dari Rio dan Shilla.
Shilla memfokuskan kembali emosinya. Menatap Rio yang juga sedang menatapnya dingin.
“ elo yang pengecut! Lo duluan yang main benda. Gue gak bakal kaya gitu kalo bukan lo duluan yang mulai nyet” omel Rio sambil berkacak pinggang.
“ elo liat dong! Lo lagi berargumen sama siapa. Sama cewek, bodoh! Pantes aja sampe sekarang lo masih jomblo.. lo aja brutal gitu. Mana ada yang mau deketin lo!”
Rio tersenyum miring, lalu mengambil kaca Shilla yang berada di atas mejanya, lalu melemparkannya kepada Shilla, “ngaca gih.. lo ngatain gue jomblo. Lo sendiri? Kayak laku aja..” ejek Rio.
Shilla mengambil kaca itu. “ gue single. Gak kayak lo jomblo. Nasib. Kalo gue mau gue juga bisa nyari pacar sekarang. Tapi sayangnya gue gak mau!”
“ gak mau apa gak laku? He? Mana ada yang mau deketin cewek rese, kayak lo!”
Shilla mendelik, menatap Rio semakin tajam. Teman-temannya semakin serius menonton perang dunia tak terhitung tersebut. Melupakan waktu istirahat karena bagi mereka lebih seru menonton acara ini dibandingkan jajan di kantin. Toh nanti juga saat bel masuk, mereka akan istirahat. Karena permintaan Shilla dan Rio yang notabenenya adalah penyumbang dana terbesar di sekolah ini meminta waktu istirahat tambahan dengan alasan yang logis tentu saja.
Shilla diam. Satu detik kemudian tersenyum licik, “ bodo amat gue rese.. yang penting gue belom pernah di gampar sama pacar sendiri!” ucapnya telak. Senjata andalan. Aib Rio.
Skak mat. Rio diam. Shilla tersenyum penuh kemenangan.
Shilla lalu menatap Rio dengan senyum sinis. Senyum Shilla yang Rio tidak suka. Senyum merendahkan. Shilla lalu melakukan ritualnya. Ritual jika memenangkan argumen dengan Rio. Menepuk tangannya sekali, mengacungkan ibu jarinya ke bawah, lalu menjulurkan lidahnya ke arah Rio, dan berkata, “ you looser!” lalu pergi berlalu meninggalkan Rio.
Engkau membencinya? Jangan pernah katakan itu. Karena yang terjadi justru sebaliknya. Engkau menyukainya.
***






0 komentar:
Posting Komentar