RSS

Love, and Problem, Between Us -2

                Semakin kamu menganggapnya tak ada.
                Semakin pula dia selalu ada di dekatmu.
                Karena hatinya.
                Tak ada yang menduga.

                ***
               
Keesokan harinya. Pagi hari.

Shilla duduk diam di bangkunya. Sambil menikmati sepotong sandwich keju buatannya tadi pagi. Di tangan kirinya tergenggam buku catatan Biologi, dengan Bab mengenai Protista yang terpampang di depan Shilla. Sedangkan, tangan kanannya menggenggam sandwich yang kini sudah mencapai gigitan ke empat.

Hari ini hari selasa. Jadwal pelajaran kelasnya hari ini adalah Biologi, Bahasa Indonesia , Musik, Math, dan pendidikan Agama. Hari ini ada pelajaran biologi. Itu artinya hari ini juga ada ulangan Bab 3 mengenai Bakteri. Bab 3 setebal 19 halaman itu sudah Shilla baca sebanyak 3x. namun tetap juga belum tercerna semua oleh otaknya.

Dia semakin resah, terlebih saat melihat jam yang kini sudah menunjuk pukul 07.45. tinggal 15 menit lagi menuju Biologi Test.

BRAK.

Shilla terlonjak. Sandwich di tangannya jatuh ke atas rok ungu kotak-kotaknya. Mulut Shilla komat-kamit tak karuan karena kaget. Shilla menoleh ke bangku di sampingnya. Lalu menatap jengkel ke arah pemuda berjulukan kunyuk itu.

“Woy! Bisa santai gak sih!” omel Shilla.

Rio tersenyum miring. Senyum pujian kaum hawa Carales High School, “bisa. Tapi gue gak mau.” Jawabnya singkat. Lalu mengeluarkan alat-alat tulisnya ke atas meja. Dan mengeluarkan sebuah ipod berwarna biru dan memasangnya di telinga. “lo? Lagi belajar?” tanya Rio konyol.

“gak. Lagi ngepel.”

“naluri pembantu.. ck”

Shilla menoyor kepala Rio, “songong lo nyuk! Ya lagi belajarlah.. udah jelas-jelas dari tadi gue megang buku. Trus gue baca. Untuk ukuran orang ehm.. pinter kaya lo. Pertanyaan lo termasuk konyol..”

“ oh jadi lo belajar. Gue kira lagi ngeliatin foto-foto Bakteri trus lo cari yang keren yang mana trus lo pilih, jadiin pacar deh. Kan lo gak laku.” Ejek Rio lagi.

Teman-temannya menarik nafas. Mengurut dada. Dan memandang mereka berdua jengkel. Habis ini ada ulangan Biologi hey. Tak sadar kah pertengkaran mereka membuat ribut kelas yang tadinya hening.  Tinggal 10 menit lagi. Hingga terdengar suara Alvin yang mulai angkat bicara.

“eh lo berdua kalo mau berantem di luar deh.. gue lagi belajar nih,” ucap Alvin yang langsung diiyakan oleh teman-temannya.

Rio dan Shilla saling memandang, “keluar lo!” teriak mereka berbarengan. Sangat keras. Sambil menunjuk ke arah pintu kelas.

Bastian. Salah seorang murid kelas 10C menutup telinganya dan berteriak jengkel,”maaaaa usir Rio sama Shilla maaaaaa!! Satu hari ajaaaaa!!” teriaknya.

Shilla mengambil penghapus abu-abunya lalu menimpuknya ke arah Bastian, “eh bocil..enak aja lo ngusir-ngusir gue, mending lo usir dia aja noh!” ucap Shilla sambil menunjuk Rio.

“STOOOPPPP!!!” teriak Zevana dari samping meja Shilla dan Rio. “sekali lagi lo berdua ngomong, jangan salahin kita kalo semua sepatu nempel di muka lo!” ancam Zevana yang langsung membuat Rio dan Shilla mengkerut. Tatapan matanya itu lho. Serem.

Sedetik kemudian mereka kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. Dengan beberapa buku catatan di tangan. Menunggu waktu ulangan tiba…

***

Tanpa sadar, dia memperhatikanmu. Dan tanpa sadar kau mulai menyukainya. Dua rasa tak terduga. Cinta di antara benci.

Dua nomor lagi Rio selesai. Matanya membaca dengan teliti dua soal terakhir tersebut. Saat matanya tak sengaja menangkap suatu kegiatan yang menurutnya aneh untuk seorang Shilla. Gadis itu terlihat gelisah. Seperti bingung ingin mengerjakan apa.

“psstt..psstt..” desis Rio membuat Shilla menoleh dan menatapnya seolah berbicara –apaan-sih-gila-lo.

“mau nomer berapa?” tanya Rio membuat Shilla heran.

Shilla menggeleng lalu memfokuskan kembali ke soal di depannya. Yang hampir 75%nya belum terisi. Gila ini soal. Dari catatan Cuma keluar dikit. Ngambil soal dari mana sih ini guru. Gila aja, nyiksa otak murid banget, omel Shilla dalam hati.

Dia menoleh ke arah Rio, yang duduk di sampingnya. Dilihatnya pemuda itu sudah bersender di bangkunya dan kertas ulangannya sudah tertutup rapi. Tanda ia sudah selesai. Hah?udah selesai?10 menit udah selesai ngerjain 30 soal yang bikin otak kebakar ini? Gila!

Rio melirik sekilas, didapatinya dia sedang menunjuk-nunjuk option jawaban di kertas ulangannya. Rio melihat sedikit dengan ekor matanya. 7. Apa?  7? Sudah 10 menit dan dia baru ngerjain 7 nomer?

Disenggolnya sedikit tangan Shilla, yang langsung merubah sikap gadis itu menjadi ganas. Seperti ingin menerkam siapapun yang berani mengusiknya. Tak tega juga Rio melihatnya. Waktu tinggal 20 menit lagi, dan dia.. masih harus mengerjakan 23 soal lagi.

“ butuh nomer berapa? Buruan! Mumpung gue baik..”

Shilla melengos, “gak usah..”

Rio mendengus. Ditawarin yang enak malah nerima yang susah. Dasar sok, batinnya. “yaudah..” ucap Rio singkat.

15 menit berlalu. Tinggal 5 menit lagi sisa waktunya. Dan Shilla.. masih harus mengerjakan 11 nomor lagi yang tersisa. Shilla gelisah. Berulang kali menatap teman-temannya yang sebagian sudah selesai mengerjakan lembar soalnya. Gimana nih, kalo belom selesai.. trus nanti remed lagi. Bisa diketawain sama si kunyuk. Eh tadi dia tumben ya mau bantu gue? Tanya Shilla dalam hati. Ah bodo amat, pikirnya.

Shilla mendesah, tinggal tiga menit. Dan ia sama sekali tidak mengetahui isi dari 9 soal terakhir. Shilla menelan ludah. Kayanya terpaksa nih.. Cuma buat ngindarin remed doang. Terpaksa..terpaksa..terpaksa.. ulang Shilla beberapa kali dalam pikirannya.

“Yo..” panggil Shilla pelan.

Rio menengok. “he?”

Shilla meringis lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “bagi jawaban dong..plissss!” pinta Shilla dengan usaha tampang semelas mungkin.

Rio tertawa. “katanya gak mau?” ledeknya.

Shilla jengkel. Tahan emosi Shil. Satu kali ini aja lo baik sama dia, dengan alasan. Satu kali tahan Shil, prolognya sendiri. “gak jadi,gue butuh banget plis yo aduh nyawa gue nih!”

Rio semakin bersemangat meledekinya. 3 menit lagi. Haha. Tunggu sampai satu menit deh baru dikasih tau. Pikir Rio.

“emang mau berapa?”

Shilla memperlihatkan ke sembilan jarinya ke arah Rio di bawah meja. Membuat Rio sedikit terperanjat. Lalu menatapnya seolah bertanya –sembilan-nomer-gak-salah-?

Shilla memukul kecil tangan Rio. “Buruan!”

Rio tersadar lalu melihat ke arah jam dindingnya. Tepat 1 menit lagi, “eh iyaiya.. nomer berapa aja?”

Semua berjalan biasa. Normal. Tapi tidak dengan perasaan itu. Apakah kamu? Membutuhkannya?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar