Di dalam hati ini
Hanya satu nama
Yang ada di tulus hati
Ku ingini
3 bulan lalu.
Sepi terus menghantam. Tiada bulan. Tiada bintang. Hanya suara hewan malam yang terus menemani. Langit tampak gelap, namun lebih terkesan kelabu.
“ aku serius .. aku suka kamu ..”
Hanya lima kata. Tidak, ini bukan gurauan atau hanya sekedar kelakar. Ini kesungguhan, Keseriusan. Tak tahukah dia pemuda itu terlalu gugup, terlalu takut mengungkapkan semuanya. Semua perasaan yang selama 1 setengah tahun terakhir bersemayam dengan kuat di relung hatinya.
Gadis itu. Masih diam. Tersenyum memandang lurus ke sudut matanya melihat. Langit yang gelap. Langit yang hitam. Tanpa ada sedikit pun titik kecil cahaya bertengger di sana. Tak bisakah dia merasakan apa yang dirasakan pemuda di sampingnya?
“ tapi .. kita beda,” ucap Shilla, -nama gadis itu-. Dia bergerak. Perlahan. Menarik kedua kaki jenjangnya ke depan dadanya, dan memeluknya dengan erat. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Menahan perih kenyataan yang harus ia hadapi.
Keyakinan. Kenapa berbeda? Kenapa tak ada satu keyakinan saja di bumi ini. Agar tak ada kenyataan seperih ini. Agar semua berjalan dengan sempurna.
“ aku gak peduli, yang aku tau.. aku suka kamu. Hanya itu.”
Pemuda itu menggerakkan tangannya, menghampiri jemari Shilla dan menggenggamnya dengan erat. Seperti tak mau kehilangan. Kehilangan sedetik pun kesempatan untuk bersamanya, atau bahkan.. memilikinya.
Shilla menoleh, “kamu tau? Aku bodoh..” ucapnya.
Rio –pemuda itu- mengernyit, menatap Shilla seakan bertanya –kenapa-.
“ aku bodoh .. karena aku juga mempunyai perasaan itu.”
Hening. Semuanya terdiam. Bahkan suara hewan malam pun lenyap seketika. Tergantikan dengan suara desahan angin yang bertiup lembut, selembut cinta mereka. Malam itu.
***
Kesetiaan yang indah
Takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu
Peri cintaku
Sekarang.
Percaya. Kunci mati dari sebuah kesetiaan. Karena, sebesar apapun cinta yang kau punya, tak akan pernah menghasilkan setia tanpa ada percaya di dalamnya. Kamu percaya dia, dan Dia percaya kamu. Itulah Cinta.
Rahasia itu. Rahasia besar itu. Terus tersembunyi, tanpa tau kapan akan terungkap, terbongkar dengan sengaja atau tidak sengaja. Hubungan itu bertahan cukup lama. Karena cinta. Kenapa kenyataan ini tak seperti yang diharapkan. Dan kenapa.. kenapa kenyataan ini terlalu menyesakkan bila teringat.
Akankah terus berjalan seperti ini? Berjalan tanpa adanya persetujuan. Berjalan dengan keyakinan berbeda.
Siang itu. Langit cerah. Berhiaskan awan-awan putih yang terhampar indah di atap alam. Semilir angin mendesah pelan. Tak kencang. Agar setiap raga bisa menikmatinya dengan tenang.
Duk.. Duk.. Duk.. bunyi pantulan bola basket terdengar dari taman kecil di suatu kompleks perumahan. Rio, dengan teratur memainkan bola basketnya. Sendiri. Tanpa Shilla menemaninya. Les piano dadakan, izinnya tadi. Mau tak mau Rio harus mengizinkannya, karena kalau tidak.. muka manyun lah yang akan dia lihat saat itu juga. Alhasil, tinggallah Rio sendiri siang ini.
Dengan lincah namun santai, bola itu terlihat hidup di tangan Rio. Memantul dengan nyawa, kata Shilla suatu hari. Entah apa maksud ucapannya, Rio sendiri pun tak mengerti.
Rio melempar dari garis three point. Dan.. masuk. Seperti biasanya.
“ keren..”
Bukan dia, pikir Rio saat mendengar suara itu. Bukan Shilla.
Langkah gadis itu terus berlanjut hingga terhenti di samping sosok tegap Rio. Sosok yang sering di daulat sebagai pemimpin upacara hari senin dan sesekali menjadi 1 dari 3 pasukan pengibar bendera. Gadis itu merogoh sakunya, mengeluarkan sehelai sapu tangan biru.
Jemari gadis itu menggerakkan dagu Rio agar memandangnya. Dengan kasar Rio menepisnya.
“mau ngapain sih!” bentaknya kecil.
Gadis itu tertawa kecil dan tidak memedulikan bentakan Rio barusan, dia berjinjit dan mengelap keringat di dahi Rio yang posturnya lebih tinggi dari nya.
Rio terkesiap. Dan sekali lagi, menepis –dengan kasar- tangan itu hingga sapu tangan itu terlempar -sedikit- jauh. Rio menatap tajam gadis itu, -Natasya- nama gadis bermata sipit itu. Gadis yang sejak satu bulan lalu muncul kembali ke dalam kehidupannya. Sosok sahabat kecil Rio. Yang terus menerus bertandang kerumahnya akhir-akhir ini. Bercengkrama dengan Bundanya. Mengambil jalur lebih dulu, sebelum Shilla memasuki jalur itu.
“ kenapa gak bisa kaya dulu?”
Rio tersenyum miring, “ dulu. Sekarang. Beda. Dulu sahabat. Sekarang temen. “ jawab Rio sinis.
“ itu persepsi Rio, persepsi Tasya beda.”
“ maksudnya?”
Gadis itu tersenyum -miris-, “Rio sama Tasya sekarang, seperti musuh. “
Rio tertawa sinis, “ haha, itu tau? Kenapa baru sadar?”
“ buat Tasya, gapapa sekarang kaya gini. Asalkan masa depannya sama Rio. “
Rio membelalak, dengan sedikit cemoohan kecil dia berlalu meninggalkan Natasya yang kini berjalan mengikutinya. Rio berhenti di bawah pohon, tempat Shilla biasa menunggunya kalau ia bermain basket. Dengan cepat diraihnya tas ransel hitam berlogo bintang. Lalu membalikkan badannya, dan kaget saat lagi-lagi gadis itu yang dilihatnya.
“ Bunda Manda udah cerita kan sama Rio?” tanyanya menatap dalam sosok pujaannya, yang dulu.. pernah membuatnya jatuh. Jatuh cinta.
Rio menggeleng.
Natasya menghela nafas, “jadi Bunda belum cerita kalo Rio sama Tasya itu di jodohin..” lirihnya kecil.
Rio membelalakkan matanya –lagi- dan sedetik kemudian mencoba bersikap tenang. Hei, sudah berapa kali gadis di depannya ini membuatnya terkesiap, terkejut, terbelalak dan segala jenis respon kekagetan lainnya. “gak usah berkhayal tinggi-tinggi deh, jatuhnya sakit.”
Sedikit kalimat, namun menyesakkan. Itulah Rio. Setiap kalimat yang terucap darinya selalu mengandung makna. Dua makna berupa sinis dan manis. Tergantung kepada siapa dia berbicara.
Natasya terdiam, lalu sedetik kemudian memancarkan kembali senyumnya, “ Bunda Rio udah tau semuanya. Semua tentang Rio. Dan juga… tentang Shilla.” Ucapnya sedikit penekanan saat menyebutkan sebuah nama yang sangat krusial bagi Rio.
Emosi Rio terpancing mendengar penuturan singkat Natasya. Darahnya mendidih saat nalurinya berkata Natasya lah yang membeberkan semua rahasia itu. Rahasia yang tersimpan rapat-rapat selama 3 bulan terakhir. Rio membeku, tangannya mengepal keras. Tak terbayang bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Shilla.
Entah karena angin apa, Kepalan tangannya semakin lama semakin mengendur. Pikirannya berkata, apa yang dilakukan Natasya itu ada benarnya. Semuanya memang harus segera terungkap. Karena jika tidak, hanya akan ada prahara menemaninya. “ aku hargain usaha kamu misahin aku sama Shilla. Tapi percuma, rasa sayang aku ke dia terlalu besar. Gak akan pudar, sekaras apapun usaha kamu melenyapkannya.. karena.. hanya ada dia. Disini.”
Tak ada yang tau. Bahwa seseorang tengah memperhatikan mereka dalam sembunyi. Sepasang mata itu tersenyum mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulut pemudanya. “makasih..” sedikit kelegaan terselip di dalam ucapan kecilnya.
***
Benteng begitu tinggi
Sulit untuk ku gapai
Shilla benar-benar menatap Rio tak percaya. Kesambet setan jenis apa pemudanya kali ini. Hingga terlontar begitu saja ide bodoh itu dari bibirnya.
“ aku mau ketemu Mama kamu pokoknya! Papa kamu udah aku temuin tadi pagi, dan dia ngizinin kok..” ucap Rio santai.
“ hah? Papa ngizinin? Kok bisa?” tanya Shilla bingung. Papanya sudah meninggal 3 tahun lalu. Jadi.. bagaimana bisa?
Rio tertawa lalu mencubit pipi gadisnya dengan gemas, “hiiiiih, bikin gemes aja sih! Jadi gini yaa alay, tad- awww!“ tiba-tiba Rio menjerit, sebuah cubitan mendarat di pinggangnya. “apaan sih nyubit-nyubit, sakit tau..”
Sebuah tawa sederhana. Tawa riang. Tercipta setelah ketegangan yang sebelumnya terjadi., “haha, lagian pake ngatain alay! Kamu tuh yang alay. Foto aja masih nyium telunjuk, apaan tuh hiiii alay woo alay!” dusta Shilla.
Maaf. Shilla tak mau Rio kembali berkhayal. Berkhayal akan izin dari Papanya. Hanya menyakitkan jika berkhayal seperti itu, apalagi kenyataan itu malah menohok perasaannya dengan tajam. Menimbulkan sesak yang semakin dalam. Ia hanya mau semua berjalan apa adanya. Bukan, bukan ia tak mau memperjuangkan hubungannya dengan Rio. Tapi hatinya menyuruhnya untuk mundur. Karena, benteng itu.. terlalu tinggi untuk dilewati. Benteng itu, terlalu sulit untuk di gapai.
“ mana fotonya? Mana foto aku nyium telunjuk? “ tagih Rio. “kalo ga ada kamu aku cium yaa!” sambungnya lagi.
Shilla terkekeh, menampilkan cengiran khasnya yang Rio suka. Mana bisa dia ngasih lihat foto itu. Rio berpose seperti itu saja tak pernah dia lihat, apalagi fotonya.
“ gak ada kan? Ayo buruan sini kamu!”
“he? Mau ngapain?”
Rio tersenyum jahil, “mau nyium kamu lah! Sini! Mau dimana? Jidat? Pipi? Tangan? Apa mau di…sini? “ tanya Rio jahil sambil menunjuk bibirnya yang langsung disambut toyoran dari Shilla.
Rio tersenyum. Inikah yang namanya cinta? Yang orang bilang indah. Padahal aslinya tak lebih baik dari menyakitkan. Ingin rasanya dia berteriak dengan kencang. Berteriak bahwa ia mencintai Shilla. Berteriak bahwa tak boleh ada orang lain yang mengganggu hubungannya. Agar orang lain tau, bahwa gadis ini… sangat berarti untuknya.
Salahkah ia? Mempertahankan cinta yang seharusnya tak mungkin terjadi.
***
“tinggalkan dia!! Mama tidak mau dengar lagi kalau kamu masih berhubungan dengannya!”
“tinggalkan dia atau Mama akan memindahkan mu ke Paris!”
“kalian itu beda!! Dia tidak pantas untuk kamu!!”
“ Natasya yang terbaik untuk kamu. Bukan dia.”
“ Maaf. Mama hanya tidak mau, sesuatu yang sejak dulu lurus, tiba-tiba berkelok hanya karena dia.”
“ temui dia besok. Bilang kamu akan bertunangan dengan Natasya. Dan lupakan dia.”
Semua kalimat itu terus berputar dengan cepat di dalam memori ingatan Rio. Membuat hatinya merasa pedih. Menatap kepahitan yang siap menyambutnya esok. Tuhan, tolong beritahu aku, Apa aku.. telah salah jatuh cinta? Kalau jawabannya iya. kenapa kau membuatku jatuh cinta dan menyayanginya? Kalau hanya untuk aku lupakan. Kenapa kau membuatku mengenalnya? Kalau nanti akan terabaikan. Dan kenapa..kenapa kau juga buat dia menyayangi ku? Jika tidak ada satu di antara kami, sesal Rio.
Drrtt..drrtt..
1 new message. Ashilla=))
Rio tersenyum. Entah kenapa hatinya terasa lega hanya melihat namanya saja. Sebegitu krusialkah pengaruh nama itu untuknya?
Dengan sigap pesan singkat itu sudah terpampang dengan jelas di layar kaca ponsel milik Rio.
From: Ashilla=))
Semua’a salah Yo. Harus’a gak pernah ada kita. Gak pernah ada Rio-Shilla. Seharus’a yg ada hanya aku. Kamu. Bkn kita. Dan harus’a hanya ada, Rio. Tnpa Shilla. dan Shilla tnpa Rio. Harus’a kita sadar,kita itu beda. Tapi knp kita memaksanya? Tolong jawab aku Yo.. apa aku.. telah salah jatuh cinta ?
Dada Rio sesak membaca pesan singkat dari gadis itu. Pertanyaan yang sama. Prahara cinta.
Perih. Tak menyangka yang menyadarkan bahwa semua ini adalah kesalahan adalah gadisnya sendiri. Bukan dirinya. Bukan hatinya. Kenapa harus Shilla? kenapa harus dia dan bukan dirinya.
To: Ashilla=))
Ga ada yg salah =) ini takdir. Semuanya emg udah harus kaya gini.
***
Rio. Nama itu sudah tercetak permanent di otakku. Haruskah aku menyudahi semua ini?
“mama tau kamu menyayanginya.. tapi bisakah kalian lihat, benteng itu terlalu tinggi. Berat resikonya kalau kalian paksa menembusnya. “
Kalimat itu. Secara tidak langsung, Mamanya menyuruh Shilla melepaskan semuanya.
Berat. Pasti. Sakit. Banget. Hancur. Tak berbentuk. Perih. Sangat. Kamu harus terlupa Yo, atau aku akan merasakan lebih dari itu nanti. Kamu gak boleh tinggal lebih lama di hati ini. Akan semakin banyak yang harus kita tanggung jika ini terus berlanjut.
***
Aku untuk kamu
Kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin
Iman kita yang berbeda
Tuhan memang Satu
Kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi
Meski cinta takkan bisa pergi
Desember, Jakarta.
Lapangan Basket.
Hening. Tak akan ada yang pernah tau bagaimana bentuk hati yang hancur. Rasa itu masih akan tetap sama. Entah sampai kapan. Tapi semua adalah kehendaknya. apapun yang terjadi adalah yang terbaik untuk aku, kamu dan mereka.
Menikmati detik terakhir mereka saling memiliki. Ya, keputusan itu sudah bulat. Semua harus berakhir. Harus merelakan. Agar tak ada yang semakin terluka. Cukuplah sampai sini saja luka itu.
Mata mereka saling bertumbukan. Meresapi sorot mata teduh menenangkan yang kemungkinan tak akan pernah terasa lagi. Tangan mereka saling tertaut. Seolah tak ingin melepaskan begitu saja harta berharga mereka. Desah nafas itu masih dapat terasa. Harum parfumnya masih tetap sama. Semua akan tetap sama. Hanya satu yang berubah. Dia sudah bukan miliknya.
“ sampai kapan kita mau tatap-tatapan kayak gini Yo?”
Rio tersenyum miring. Senyum yang sangat Shilla suka. Membuat pemuda itu terlihat begitu menawan, “kalau boleh, sampai mati. ”
“ aku.. masih gak nyangka.. hehe, kita bener-bener udah gak punya ikatan apa-apa lagi.”
“ untuk kapanpun. Takkan ada kenangan dari kamu yang akan terlupa. Semua tersimpan rapat-rapat di tempat khusus. Di sini..” jawab pemuda itu, tulus. Sembari menuntun tangan Shilla ke arah dadanya. Menyentuh benda yang tak pernah bisa tersentuh tangan. Hati.
“Rio..terimakasih untuk semuanya.. semua selesai. Takkan ada lagi yang membuatmu sakit, takkan ada lagi sesuatu yang harus di perjuangkan. Terimakasih sudah pernah ada. Aku tak tau kalau ada cinta sesakit ini. Aku kira, semua cinta itu indah. Tanpa masalah. Tanpa prahara.“ tutur Shilla, menegakkan wajahnya, lalu mendongakkan wajahnya. Tersadar akan ada aliran air mata di wajahnya, membuatnya berfikir irasional. Mendongakkan wajah, menampung air mata, dan takkan ada air mata mengalir.
Rio menyadari hal itu. Menyadari gadis itu akan menangis. Inilah yang dilakukannya jika ingin menangis. Mendongakkan wajah, menahan air mata, dan takkan ada setetespun air mata. Rio selalu melarangnya menangis. Karena baginya, tangisan adalah lambang putus asa. Padahal ia tau. Seseorang harus melepaskan tangisan agar emosinya terlepas. Tapi tidak untuk Shilla. gadis itu sudah terlalu sering menangis. Menangisi hal yang sudah pergi.
Dengan lembut Rio merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, “menangislah.. “ ucap Rio. Singkat.
Rio memeluk gadis itu erat. Teramat erat. Baru menyadari betapa kejamnya takdir, mempertemukan ia dengan orang berharga yang secara paksa harus ia lupakan.
“ kalau kamu kangen aku. Kamu berdoa. Bilang sama Tuhan kalau kamu kangen aku. Tuhan kita sama. aku yakin dia akan menyampaikan doa kamu itu ke aku..” ucap Rio.
“ aku sayang kamu ..”
“ sampai kapanpun..”
Shilla mengangguk dalam tangis. Meratap dalam sesal. Dan merapah dalam takdir. Dengan sadar menarik tubuhnya dari pelukan Rio. Dan sekarang, manik matanya memandang sosok itu lagi. Sosok tampan yang tengah berbalut kemeja biru pemberiannya.
“kenapa dilepas? Kamu gak mau aku peluk?” tanya Rio miris. Menyakitkan mendengar pertanyaannya.
Shilla menggeleng, “pergi..” usir Shilla halus.
Rio terpaku. Tubuhnya serasa dihujani godam-godam berat yang membuat asanya tadi harus terkubur dalam-dalam. Sempat sedikit Rio berharap bahwa ada sedikit harapan untuk melanjutkan hubungan mereka. Sedikit saja, walaupun Rio tau itu tak mungkin.
“kenapa?”
“ pergi dari hadapan aku. Semakin lama kamu berdiri di situ. Semakin banyak aku berharap lebih dari mu!” usir Shilla.
Rio mengerti. Karena itu juga terjadi padanya. Rio melangkah mundur. Tangannya terangkat ingin membelai puncak kepala gadis itu untuk terakhir kali. Namun hatinya melarangnya. Jangan membuatnya berharap lebih. Atau itu akan semakin membuatnya jatuh. “maaf. Aku harus pergi. Walaupun cinta ini, terus bertahan disini.”
Selesai. Semuanya benar-benar selesai.
Sekarang hanya ada Shilla. tanpa Rio.
Dan Rio. Tanpa Shilla.
***
Perbedaan. Bersatu untuk saling melengkapi. Bersatu untuk saling menyempurnakan. Tapi apa jadinya jika perbedaan itu tidak untuk melengkapi dan menyempurnakan. Perpisahan. Itulah yang seharusnya terjadi. Tak ada kesalahan karena semua adalah yang terbaik. Sebodoh apapun hal yang terjadi, terbaik tersimpan di dalamnya. Tanpa harus terlihat. Tanpa harus terwujud. Karena yang terbaik itu, juga bisa terasakan. Karena cinta semua indah. Dan sesak. Tapi itulah cinta. Selalu mengajarkan pengalaman terbaik. Agar tidak terulang.. untuk kedua kalinya. – Herda Habibah. Perbedaan Mengantarkan Makna.






0 komentar:
Posting Komentar