RSS

Cinta dan Prahara -6

                Ashilla.

                Sudah lima hari aku belum bertemu Gabriel. Gabriel bilang dia terlalu sibuk memimpin rapat-rapat OSIS menjelang hari H pensi yang akan dirayakan minggu ini. Selain itu, dia juga sibuk latihan untuk lomba debat antar provinsi.

                Aku pasrah.

                Untungnya hari ini Gabriel punya waktu luang setengah hari penuh khusus untukku. Sepulang sekolah, kami berdua duduk di teras rumahku. Gabriel masih dalam setelan putih abu-abunya yang bersih dan badge osis melekat di bagian saku.

                Aku duduk di kursi rotan. Setengah membaca majalah di pangkuan ku, setengah memandangi Gabriel yang tenggelam dalam bacaan ilmiahnya.

                Pacaran dengan Gabriel seperti berteman dengan ketua kelas yang perhatiannya lebih tercurah pada urusan sekolah. Sebenarnya, Gabriel punya banyak teman, tetapi sikapnya yang serius cenderung dingin hampir sama parahnya dengan sifatku.

                Aku bosan. Terus diam dalam keheningan ini. Dia membaca. Aku membaca. Dan kami membaca. Hei tak adakah kegiatan lain dalam hubungan kami selain membaca? Ku ulangi ya, aku BOSAN.

                “Shilla..” suara Gabriel yang berat, memecah keheningan.

                “mmm..” aku menyahut sambil tetap membolak-balik halaman majalah edisi terbaru.

                “ada ice cream gak? Bikin minuman yuk.”

                Aku mendongak dan menangkap pandangan Gabriel yang tengah tersenyum. Aku balas senyumannya, “yuk.”

                Kami berjalan ke dapur. Gabriel menyiapkan gelas, sementara aku menyiapkan bahan-bahannya. Kami memasak dalam hening.

                Kalau boleh jujur, aku ingin sedikit percakapan di tengah aktifitas yang seharusnya punnya potensi untuk menjadi momen romantis ini walau hanya membuat minuman dingin sederhana. Aku tahu, Gabriel bukan tipe orang seperti itu, dan tidak ada gunanya berharap terlalu banyak.

                Setelah beberapa menit yang terasa sangat lambat, akhirnya Gabriel angkat bicara, “kemarin sabtu waktu ke café kamu dijemput sama Rio?”

                “iya, bukannya waktu itu dia udah bilang sama kamu?”

                Gabriel mengangguk. “gak bosen sama Rio?”

                Aku terkekeh, waktu pertama kali kenalan aku tidak memedulikan Rio dan larut dalam game ponsel sampai setengah jam, dan baru bicara setelah game over karena aku malas mengulang permainan itu lagi. Tapi entah kenapa, kemarin.. berbeda. Siapa sangka Rio adalah teman bicara yang cukup menyenangkan?

                “nggak kok, malah kita ngobrol banyak. Ternyata aku bisa juga gobrol seru sama orang lain selain kamu, Ify sama Alvin..”

                Gabriel tersenyum tipis, “kata Rio. Kamu orangnya lucu.”

                Aku terlongo, “Rio bilang gitu?”

                “yaaa, ucapan sebenernya sih cewek lo keren juga, Gab. Masa dia suka linkin park, dia suka komik fighter jadul, dan yang gue tau, dia sama sekali gak aneh kaya yang orang-orang bilang.” Gabriel meniru gaya biacara Rio dengan ekspresi yang dibuat-buat.

                Aku tergelak sekarang sambil meminum minumanku, “padahal kan sebenernya-“

                “hus.”

                Gabriel paling tidak suka kalau aku merasa seperti itu. Entah terbawa angin apa, Gabriel meraih kepalaku dan merengkuhnya dalam pelukan di dadanya. Katanya, “jangan ngerendahin diri, kamu bukan apa yang orang lain bilang. Kamu adalah kamu.”

                Aku terhenyak, lalu mengangguk ceria. Aku mencium sedikit kekhawatiran, dan rasa protektif yang sering kali ditunjukkannya. “aku tau kok..”

                Dia melepas pelukannya. Gabriel beranjak keluar dengan gelas di tangannya, ingin meneruskan membaca. Sebelum melangkah pergi, ia berbalik dan berkata, pelan, namun jelas, “maaf aku gak bisa romantis. Tapi, aku sayang kamu..”

                Kali ini, aku hanya membalasnya dengan senyuman.

                ***

                Mario.

                … if you love enough, you’ll be a lot. –Toni amas.

                Belakangan ini, gue ngerasa makin sering bohong sama Ify. Bukan bohong besar kayak selingkuh di belakangnya, atau bohong di hari ulang tahunnya kalau gue sakit dan gak bisa dateng. Justru kebohongan kecil yang muncul, dan ironisnya, bohong itu jadi kayak gulali yang menghilang di ujung lidah begitu di isap. Sekali sebut, lalu dilupakan. Dan kebohongan lainnya mengikuti.

                Seperti malam sebelumnya misalnya, ketika gue ngejemput Ify dari tempat Les Piano, begitu masuk dia langsung bilang tanpa mengendus, “abis ngopi di mobil ya?”

                Gue emang suka minum kopi, lagi. Dan Ify benci itu. Sementara gue, gue benci kenapa gak di perbolehin lari ke kopi setiap kali butuh ketenangan.

                Namun, lagi-lagi gue memilih untuk berbohong. “tadi Patton numpang pulang, terus dia minum kopi.” Begitu mudahnya gue menyediakan alibi palsu dan begitu mudahnya Ify percaya.

                Tadi pagi dia sempat bertanya di sekolah sambil gue menyalin PR math dari Gabriel yang super pelit, “nanti malem kita jadi kan? Ke partynya Acha?”

                Gue tertegun, bener-bener lupa. Dan, nggak sebodoh itu gue keceplosan bilang lupa karena Ify bisa ngambek. Sebenernya bisa aja gue bilang iya, langsung pulang ganti baju setelah jam terakhir, dan langsung jemput Ify. Tapi sumpah, hari ini gue males kemana-mana.

                Setiap ify ngajak gue ke distro gue ikut. Ify mau nonton di bioskop, gue juga ikut. Temen-temen dia mau ngadain party pun gue juga ikut. Namun, entah kenapa gue mulai bosan sama semua itu.

                Tau gak malam ini gue mau ngapain? Gue Cuma pengen dudul dengan gitar di tangan gue, semaleman main gitar, atau main game online sampe subuh kalo gak ketauan Bunda. Pengen nongkrong di atas genteng sambil bawa makanan yang banyak, atau pengen nonton film-film sewaan sambil makan snack berbungkus-bungkus. Sendirian.

                Gue pengen sendirian.

                Masalahnya gue tau, kalo gue minta timeout itu. Ify akan salah paham dan nganggep gue ninggalin dia. Dia pasti langsung berpikiran buruk dan aneh-aneh. Lalu bertanya “apa yang Salah Adit?” dan sejujurnya, nggak ada yang salah sama sekali. Gue Cuma pengen sendiri. Itu aja.

                “sorry Fy, aku lupa. Hari ini ada Oma mau dateng ke rumah.” Untuk meredakan sedikit amarahnya yang akan meletup, gue bilang lagi, “minggu depan deh, kita ke dufan. Oke?”

                Akhirnya, Ify merelakan gue untuk “kedatangan Oma”, plus rayuan-rayuan dan kata sayang. Untuk hari ini gue bernafas lega.

                Kenapa sih harus bohong? Kenapa gak jujur aja. Apa gak takut dia tau? Suara hati gue bertanya.

                Gue sayang Ify, sayang. Sampai nggak mau ngeliat dia sedih. Sayang, sampai merasa harus berbohong, supaya nggak ada ppihak yang terluka. Dan gak bisa menjelaskan bahwa rasa sepi dan kosong yang tiba-tiba muncul ke hidup gue, nggak bisa hilang gitu aja hanya dengan lima jam berwisata. Bahkan, belum bisa terisi dengan kehadiran Ify sekali pun.

                Mungkin gue lagi stress. Ha! Sejak kapan Mario Stevano bisa stress?

                Dan gue masih bisa mengucapkan kebohongan-kebohongan kecil yang selanjutnya. Menunggu sampai bibir gue mampu merangkai kebohongan besar yang akan datang.

               

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar