Percayalah, dia selalu ada.
Walaupun tak kau sadari.
***
Istirahat. Kantin Carales sudah penuh sesak oleh murid-murid kelas 10, 11, dan 12 sekolahan itu.
Shilla terlihat mencari-cari bangku kosong bersama temannya, Sivia. Lalu dari kejauhan dilihatnya sebuah tangan melambai-lambai ke arahnya, Alvin-si pemilik tangan itu-.
Tanpa pikir panjang, Sivia menarik tangan Shilla menuju Alvin.
“vi jangan buru-buru kenapa!”
“iya iya maaf, gue udah keburu laper nih..”
“Ya udah lo mau pesen apa? Gue pesenin.. lo tempatin tempat gue aja di mejanya si Alvin sama kunyuk..”
Sivia mengangguk,”mie ayam aja Shil sama jus jeruk.. Thanks Shillaaa..”
Shilla tersenyum lalu berjalan menuju salah satu counter makanan langganannya. Tak sampai 10 menit, dua mangkuk mie ayam dan dua gelas jus jeruk sudah berada di tangannya. Shilla menarik selembar uang berwarna biru dari dalam kantong kemejanya yang sedikit tertutup rompi ungu.
Setelah uang kembalian diterimanya. Shilla dengan cepat membawa dua porsi makanan itu tanpa melihat-lihat lagi keadaan di sekitarnya.
PRANG.
Shilla terdiam. Baru saja wajahnya mendongak.
“AAAA !! SHILLA LO KURANG AJAR BANGET SIH NUMPAHIN MINUMAN KE BAJU GUE!! INI ITU BAJU MAHAAAAL!”
Shilla menahan tawanya . melihat sosok kakak kelas ceweknya yang konon terkenal galak, judes dan sok senior itu tak sengaja terkena tumpahan makanan Shilla. “haha, maaf maaf gue gak sengaja kak.” Ucap Shilla santai.
Semua mata di kantin memandangnya. Mereka, tak ada yang berani dan mau berurusan dengan Angel –nama kakak kelas itu-. Dan Shilla? Dengan bodohnya malah menantang macan yang sedang mencari makan. Semuanya nampak sibuk mencari posisi yang enak untuk menonton laga pertandingan Shilla VS Angel yang sepertinya akan berlangsung lama. Termasuk Rio, Alvin, dan Sivia yang terlihat cemas.. kecuali Rio.
“Yo, Vin bantuin Shilla dong, aduh itu anak cari ribut mulu deh di sekolah..” keluh Sivia khawatir sambil menepuk jidatnya.
Alvin baru saja beranjak untuk menolong Shilla, saat tangan Rio menahannya, “biarin aja.. dia bisa sendiri. Gue tau dia.. kita tonton aja. “ ucap Rio santai sambil melanjutkan menyesap minumannya.
Kembali ke Shilla VS Angel.
Angel melotot, “HEH SONGONG! Enak aja lo minta maaf doang, gamau tau pokoknya lo harus jadi pembantu gue selama seminggu. Gak peduli lo anak pendonor yayasan apa bukan. Lo udah bikin baju gue kotor dan lo harus tanggung jawab!!”
Shilla mendesis, “sss.. kak yang bener aja, kalo disuruh nyuci itu baju sih okelah no problem, lah ini? Jadi pembantu.. ogah amat!”
“ elo itu.. masih kelas satu! Gak usah belagu, sok, dan songong mentang-mentang anak pendonor yayasan! Lo disini tetep adek kelas! Yang masih harus nurutin perintah kakak kelas!” bentak Angel penuh senioritas.
“dan lo, gak boleh nolak itu!” sambung Zahra, kawan Angel yang berada di sampingnya.
“gue gak belagu, sok dan songong kok. Gue Cuma ngelakuin apa hak gue aja kok Kak.. oh iya, gue rasa.. gue gak bisa nurutin lo deh kak.. perintah lo ngaco abis sih, “
Angel dan Zahra saling pandang, lalu dengan kecepatan sedetik kemudian Angel mendorong Shilla hingga terjatuh di sebelah gelas minumannya yang masih berisi setengah gelas. “loh kok gue didorong sih? Salah gue apa?” tanya Shilla sok polos. Kakak kelas ini harus dikasih pelajaran, biar gak sok senior. Batin Shilla.
Angel berjongkok di depan Shilla, “ lo masih mau nanya salah lo apa? Salah lo? Banyak!!”
“banyakan mana sama kakak?”
Angel melotot, tangannya bergerak mengambil gelas di samping Shilla , hendak menyiramnya, saat sebuah tangan mencegahnya, “jangan keterlaluan Kak..” ucap seseorang bersuara baritone.
Shilla melihat sosok orang yang membelanya dari siraman-jus-jeruk itu. Rio. Hei? Tidak salah? Pemuda itu membelanya. Bukankah seharusnya ia senang? Karena Shilla hampir saja dijatuhkan oleh kakak kelasnya. Kesambet setan apa pemuda ini?
Angel menoleh, melihat Rio. Sosok pemuda yang sudah diidam-idamkannya sejak lama. Namun Angel bersikap profesional, dia melepaskan tangan Rio dengan kasar. “gak usah belain dia Yo!”
Rio melirik sinis ke arah Angel dan Zahra. Lalu menarik Shilla agar berdiri, “ayo..” tarik Rio menjauhi kantin itu. Tanpa peduli dengan puluhan mata yang syok melihat Rio menolong Shilla.
Cinta itu tak terduga. Namun tau, kapan harus datang, dan kapan harus pergi.






0 komentar:
Posting Komentar