RSS

Cinta dan Prahara -4

                Ashilla.
                “ Shillaaaaaaa!”

                Aku sudah tau siapa yang meneriakkan namaku dengan begitu noraknya. Berikutnya sepasang tangan putih hampir mencekikku dari belakang.

                “Apinnn…” aku mencoba melepaskan diri dari serangan mendadak itu, setengah kesal karena tangannya penuh bercak bekas makanan dan hampir mengotori seragam ku.

                Alvin yang biasa aku panggil Apin adalah teman ku sejak SD. Kami pindah ke SMP, lalu SMU yang sama sehingga hubungan kami sangat dekat, bahkan bisa dibilang seperti saudara. Alvin itu manusia yang ehm menurutku menarik. Dengan tubuh tinggi putih, berwajah oriental, tampan, humoris, baik, pintar, dan seorang kapten futsal, dia selalu saja menarik perhatian gadis disekitarnya. Ohiya dia teman yang baik juga, namun sayang, dia belum pernah merasakan pacaran, karena belum pernah ada satupun orang yang dia suka. Kombinasi yang seimbang, keindahan sekaligus menyedihkan, memang.

                Tiba-tiba Alvin melepaskan tangannya dan bersiul-siul, berubah menjadi penjahat cinta kelas teri. Perubahan sikap ini dapat disebabkan dua alasan, 1. Cewek cantik datang atau 2. Gabriel yang datang.

                Kali ini Gabriel yang datang menghampiri kamu karena Alvin langsung menjauh. Dia memang tidak suka dengan Gabriel, walau aku dan Gabriel sudah berpacaran lebih dari dua tahun lamanya. Dan rasa tak suka itu bukan berlandaskan alasan Gabriel mempunyai sesuatu yang lebih dari Alvin, juga bukan karena Gabriel adalah ketua kelas, ketua osis, dan murid dengan predikat nilai terbaik setiap tahunnya. Menurut Alvin, Gabriel bukan orang yang tepat untukku.

                Ya ya ya, Jomblo yang mudah jatuh cinta itu berani bilang begitu pada ku.

                Udah hampir lumutan kali lo pacaran sama Gabriel. Gue sih gak bakal heran kalo lo tiba-tiba berubah jadi android berkepala dingin kayak dia, begitu kata Alvin setiap aku cerita tentang Gabriel.

                Seperti biasa, Alvin malas-malasan menyapa Gabriel dan yang disapa tidak terlalu menanggapinya, justru berbalik menatapku.

                “ Shil, aku ada rapat mendadak sama anak-anak Osis. Mungkin agak telat, sampai sore, soalnya mau ngomongin acara Pensi akhir tahun.”

                “nggak apa-apa, aku tunggu sampai selesai.” Aku melirik Alvin, yang tentunya siap menemani dengan dua gelas ice blended cappucino dan cake bananas, sogokan maut yang tak pernah ditolaknya.

                “oke.” Dengan jawaban singkat itu, Gabriel berbalik menuju ruang Osis.

                Alvin melirik kesal kearah ku, “kok lo tahan sih sama dia?”

                Topik yang sama lagi, “tambah cake mini satu ya Vin?” tawar ku untuk membungkamnya.

                “gue nggak ngerti kenapa lo pacaran sama dia. Masih banyak cowok lain yang lebih baik dari dia, lebih cakep, lebih hangat, lebih baik.. lo tau gak sih ada di deket dia bikin lo berubah?” Alvin masih melancarkan opininya yang tak diminta. “lo tuh butuh seseorang yang bikin lo ketawa, seseorang yang melengkapi lo. Bukan kutu buku yang jadwal pacarannya di perpus!”

                Biasanya aku selalu menjawab, dia orang yang baik Vin… sebagai pertahanan satu-satunya. Gabriel memang bukan cowok romantis sedunia. Kata-kata paling manis yang diucapkannya mungkin hanya “kamu udah makan?” atau “udah malam, kamu jangan pulang terlalu malam. Night” dan yang namanya kosakata gombal tidak pernah ada di kamusnya, tapi bersamanya.. membuatku merasa aman.

                Dan rasa aman itu adalah segalanya bagiku.

                “tambah pop ice mocca ya Vin?” ujar ku kalem, supaya Alvin cepat diam. Hari ini, aku sedang tidak ingin berdebat.

                “dan 1 waffle yaa!” Alvin menawar dengan lincah, membuatku tertawa.

                “ya udah tapi minumnya air putih.”

Sambil tertawa, Alvin menggamit lenganku, siap ditraktir di kantin.

“Ify mana?” Alvin membuka mulutnya kembali setelah sebelumnya tersumpal dengan waffle permintaannya.

Ify adalah sahabatku, yang belakangan ini menjadi objek cinta Alvin. Ify itu.. bagaimana mendeskripsikannya? Pokoknya Alvin tergila-gila dengan sosok yang riang, tak kenal malu, percaya diri, dan pintar bergaul itu. Selain Alvin , masih banyak yang ingin jadi pacarnya.

“Ify udah taken, masih aja lo berminat.”ungkapku ringan.

Alvin tertawa kecil, “Rio? Payboy cap kabel kaya gitu? Ify  itu pantesnya dapet cowok kaya gue Shil. Walau sipit, yang penting tulus sayang sama dia.”

Seperti aku dan Gabriel, hubungan Rio dan Ify sudah berjalan sejak awal kelas satu, berlanjut terus walau dengan acara putus sambung yang dramatis, mereka selalu balikan lagi dan kembali menjadi couple tersweet. Kalau aku bilang, mereka justru pasangan paling top di sekolah, yang cowoknya atlet basket yang paling banyak dapat teriakan murid-murid perempuan yang datang ke pertandingan basket, yang ceweknya disukai guru-guru dan merupakan pianis berbakat yang sering memenangi ebrbagai lomba. Mereka juga paling sweet, paling gila, paling heboh versi buku tahunan kami. Picture perfect pokoknya.

“mungkin lo Cuma iri sama Rio dan Ify.” Aku menanggapi, “karena mereka berdua… terlalu cocok.”

Alvin mendelik sewot, “lo sama Gabriel juga sama aja. Semua orang menganggap lo berdua dewa-dewi sekolah. Yang satu juara umum, yang satu ketua osis.”

“tapi, gue ngerasa biasa-biasa aja ah.” Berbeda dengan Ify dan Rio, Gabriel dan aku lebih suka tetap di bawah radar. Berpacaran dalam kadar yang wajar, seperti dua orang teman yang sudah lama mengenal.

Alvin melahap sisa waffle keduanya “pernah gak sih lo berharap punya cinta yang lain? Yang meledak-ledak, yang bikin kaki lo lemes, yang bikin jantung lo serasa mau  copot tiap ketemu dia..””

“menurut lo, Ify sama Rio bahagia gak Vin?” pertanyaan itu tercetus begitu saja.

“semua orang berpikir mereka bahagia kan? Tapi gatau deh, kan apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan apa yang ada didalamnya.” Alvin melirikku sekilas, “kenapa ?”

“karena…” aku menggantungkan kalimat ku.

Alvin menyeruput air putihnya dengan berisik, lalu menimpali dengan santai, “karena lo pengen kaya mereka?”

Telak.

***

Alyssa.

Life is wonderful.

Bener gak?

Tapi pertanyaan itu cukup tepat, kok. Hidup itu indah, apalagi masa-masa sekarang ini, saat banyak banget kegiatan sekolah yang menyenangkan, kecuali peer tentu saja, seperti kelas piano, aktifitas osis, ekskul, klub basket. Hanya ada satu syarat agar bisa populer di sekolah, Eksis.

Eksis lah yang membuatku punya banyak lingkar pertemanan dari berbagai lingkup. Akrab dengan para kakak dan adik kelas serta guru. Dan itu juga yang membuat ku bertemu dengan Rio, dua tahun lalu.

“hei..”

Rio tiba-tiba datang dan menghempaskan seluruh bawaannya ke atas meja. Mengacak-acak puncak kepalaku, dan meneguk habis isi kaleng sodaku. Dia bau keringat dan matahari, bau yang ku sukai.

“Hai Dit..” Adit, panggilan dari orang-orang yang disayanginya.

“lagi nulis apa?” ia menyampirkan sebelah tangannya di bajuku dan melongok untuk melihat tulisan yang sedang kukerjakan. Kalau sedang menunggunya selesai latihan, biasanya aku menulis beberapa partitur lagi sambil ngemil di kantin bersama Shilla. Sayangnya Shilla harus pulang lebih cepat untuk membantu Papanya di toko.

“lagu buat kamu.”

Buku partitur laguku penuh dengan coretan partitur lagu. Favorit ku adalah sebuah arransemen lagu yang ku beri judul “pelangi.” Lagu itu akan ku mainkan di hadapannya, bulan depan. Saat dia ulang tahun.

“ oh yaudah, pulang yuk” ajaknya menarik pelan lenganku.

Aku mengangguk, “sekalian mampir ke KFC ya?”

Ekspresi Rio berubah cerah saat mendengar nama tempat makan favoritnya tersebut. Kami bergegas merapikan bawaan dan berjalan keluar gerbang sekolah, dia merangkulku.

Life is indeed wonderful.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar