RSS

Cinta dan Prahara -5

                Mario.

                I had never spoken to her, except
                For a few casual words. And yet her
                Name was like a summon to all my foolish blood
                -james joyce

                Gue berdiri dengan sebelah tangan menggenggam ponsel, berusaha melawan statik yang sedari tadi bikin sambungan telepon putus-putus. Suara Shilla terdengar agak jauh, putus-putus karena sinyalnya nggak bagus, dan agak kesal.

                “ Gabriel bilang dia nyusul,” ulangnya untuk ketiga kalo.
                “dia..”

                “HAH?” gue juga mengulangi kata itu lagi, untuk kesekian kalinya, :gue nggak denger,”

                Ku dengar di ujung sana Shilla mendesah, mungkin frustasi dengan sinyal yang buruk. Kami semua tahu dia cenderung gak sabaran. “gabriel gak bisa jemput gue, Rio. Gue juga nggak bisa ke sana karna mobi dibawa bokap.”

                “oooh,” akhirnya gue mengangguk-angguk mengerti, Gabriel sepertinya belum pulang dari bimbingan belajar mingguannya. Ini anak emang rada gila belajar. Bukan, bukan rada gila lagi. Tapi emang udah gila. Hari libur aja masih ada les. Gak bisa kebayang apa kabarnya otak gue kalo kaya dia.

                “ Ify juga masih di les piano. Dia bilang bakal nyusul sendiri.” Lanjut gue.

                Shila terdiam. Gue bingung gimana caranya mengisi kekosongan itu. Sebenernya, gue sama Shilla gak deket. Gue kenal dia sejak dia pacaran sama Gabriel, dan temenan sama Ify. Jadi, interaksi di antara kami nggak lebih dari senyum dan sapa aja.

                “ gue jemput deh ya?” usul itu mengejutkan Shilla. Yang nggak langsung menjawab. Yakin mau stuck sama kutu buku itu selama beberapa jam? Itu adalah pertanyaan pertama yang muncul di kepala gue sesaat setelah gue menawarkan diri. “menunggu gak jauh lebih baik daripada bengong sendirian.” Ujar gue, “kita nunggu Ify sama Gabriel di café aja, gimana?”

                Gue kira dia bakal bilang nggak. Sedikit bagian dari diri gue bahkan berharap dia menolak, tetapi dia justru bilang, “oke. Gue tunggu ya.”

                Telepon ditutup.

                Gue pun meluncur ke sana. Melihat Shilla menunggu terkantuk-kantuk dengan kostum simplenya. Jeans panjang dan kaus putih bercardigan hitam dengan mp3 player di pangkuan. Gue membunyikan klakson sekali, membuat dia menyipit dengan ekspresi kaget, lalu bergegas masuk mobil.

                “kita cabut duluan nih? Gak apa-apa sama Gabriel dan Ify?” tanyanya begitu mulai menyetir mobil ke luar kompleks perumahannya.

                “lo punya usul yang lebih baik daripada duduk nunggu dan nepokin nyamuk?” sahut gue. “main monopoli mungkin?” kami semua tahu Shilla paling gak bisa main monopoli. Dengan rekor nilainya di sekolah, kadang gue masih susah percaya dia selalu kalah kalau main board game.

                “ hahaha dasar.”

                “ Gabriel lebih gampang nyusul daripada balik buat jemput lo, dan Ify pasti seneng kita nggak ngaret kayak biasanya.” Akhirnya, gue memberikan jawaban lain. Pernyataan logis yang tak bertele-tele sepertinya dapat lebih mudah diterima oleh Shilla.

                Dia tak berkata apa-apa lagi setelahnya.

                Jalan ke arah Café macet lumayan parah, mungkin karena malam minggu. Untuk mengisi kekosongan yang mulai terasa aneh, gue memasukkan sekeping CD Green Day koleksi lama ke CD Player. Gue jarang dapet kesempatan untuk muter CD itu karena Ify selalu mengeluh bahwa musik sejenis itu bikin dia sakit kepala. Namun, hari ini, pilihan musik itu jadi otoritas pemilik mobil. Gue sempat ngelirik Shilla, mau tahu apa dia akan berkomentar dengan pilihan gue.

                “wah, Minority.” Tiba-tiba dia nyeletuk begitu single favorit gue bermain,”udah lama nggak denger lagu ini.”

                “suka?”

                “suka.” Jawabnya simple. “pencerahan pada dunia musik.”

                “lagu green day mana yang lo suka?” iseng tercetus pertanyaan itu sekaligus mengetes. Kadang, orang sering menyukai sesuatu, tetapi nggak benar-benar menyukainya.

                “lebih suka lagu-lagu awalnya, tahun sembilan puluhan. Kayak album Kerplunk dan Dookie. “

                Hm. Im impressed. “terus, suka band apa lagi?”

                Dia mengangkat bahu. “blink 182, Aerosmith. Linkin park. Banyak.”

                Gue terperangah. Nggak banyak cewek yang suka lagu punk yang keras dan lebih banyak suara orang teriak bersama tabuhan drum dan petikan gitar listrik. Cewek-cewek yang gue kenal lebih suka lagu top forties dan balad mendayu-dayu. Gue pun bilang begitu kepada Shilla.

                “semua orang punya apresiasi musik yang berbeda. Bukan berarti genre itu jelek atau sebaliknya. Namanya juga selera.” Jawabnya.

                Gue mengangguk. “keren juga filosofi lo.” Dia tersenyum, menerima pujian itu.

                Kami melewati jalan tol dan untungnya nggak macet. Gue memarkir mobil di depan café dan kami masuk ke tempat yang sudah ramai itu. “hei,” gue menepuk pundak salah seorang pelayan yang sudah kami kenal di sana, dan langsung menuju ke meja kami di pojokan, tempat bebas keramaian yang paling pas untuk melihat live music di lantai bawah. Gue sempet menengok ke belakang. Mencari-cari sosok Shilla yang entah terdampar di mana, mungkin terdorong kerumunan pengunjung. Akhirnya, gue ngeliat dia, tersisih di tepi dan gak bisa lewat. Tanpa banyak pikir, gue sambar tangannya dna menariknya ke tempat kami.

                “gila, rame banget ya.” Kata gue.

                “iya.”

                Gue melepas tangannya yang masih gue pegang. Gila, kenapa ya hari ini gue canggung banget di depan Shilla?

                “Shil.” Akhirnya aku gak tahan dan mencolek lengannya dengan telunjuk, membuatnya tersentak.”ngomong dong, apa lo kalo lagi sama Gabriel juga diem-dieman gini?”

                Dia gak menjawab, tetapi balas bertanya, “ngomong apa?”

                “apa aja deh. Asal jangan tentang pelajaran. Udah cukup Gabriel ngomongin begituan.”

                Shilla nyengir. “lalu?”

                “cita-cita kek, hidup kek. Apa aja deh.”

                Dia terlihat berpikir sejenak, tangannya sibuk memelintir kertas menu di pangkuannya. “hidup ya? Kata orang, hidup itu kaya roda. Kadang kita ada di atas, kadang juga ada di bawah.”

                “kata forrest gump, hidup itu kaya sekotak coklat, entah rasa apa yang bakal kita dapetin.” Gue menimpali.

                Shilla manggut-manggut setuju. “mungkin bener juga.”

                “menurut gue, hidup itu kayak judi bola Shil.”

                “judi bola?”

                “heeh, karena lo gak akan tau kapan menang atau kalah. Waktu sebuah permainan sedang berjalan dengan sangat baik, di detik terakhir bisa aja pihak lawan yang nyetak gol, dan kita kalah. Padahal udah yakin bakal menang.”

                Shilla tertawa. “boleh juga,” pujinya. “hidup juga kayak cuaca, hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. Tapi lo gak akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya. Kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, sebuah bentuk keseimbangan.”

                “pahit dan manis?” gue menggoda. ‘Kok jadi kopi?”

                “yeee yang mulai maenan filosofi siapa?”

                Gue terkekeh. “oke oke gue serius, jadi lo percaya kalo hidup itu adil?”

                Shilla mengangguk mantap. “menurut gue, nggak ada orang yang bisa seratus persen bahagia, nggak ada juga yang seratus persen sedih. Hidup itu kan penuh emosi. Makanya dalam satu periode waktu kita bisa ngerasain berbagai emosi berbaur jadi satu. Karena itu, kita jadi seimbang.”

                “misalnya… sedih, kecewa, hmm juga seneng.?” Timpal gue memberi contoh.

                “bingung marah lega.”

                “kesal kaget sedih.”

                “senang merasa bersalah bingung marah.” Shilla tersenyum sambil menyeruput jusa jeruknya. “adil, tapi aneh. Adit.”

                Gue tercenung. Cuma orang terdekat gue yang biasa manggil gue Adit.

                Dan entah bagaimana persisnya, emosi yang gue rasakan saat itu adalah gabungan sekian banyak perasaan yang menciptakan keseimbangan dalam diri gue sendiri. Senang dan lega karena telah mengatasi kecanggungan di antara kami, kaget, bingung dan satu lagi… suka.

                

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar