RSS

Love and Problem, Beetween Us -4

                Aku percaya. Cinta itu akan muncul di antara kita. Walau aku tak tahu. Kapan akan muncul. -@herdapong
               
                ***
               
Rio melirik sinis ke arah Angel dan Zahra. Lalu menarik Shilla agar berdiri, “ayo..” tarik Rio menjauhi kantin itu. Tanpa peduli dengan puluhan mata yang syok melihat Rio menolong Shilla.

                Sepanjang jalan, Shilla terus menerus diam. Tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Entah kenapa ia lebih memilih diam daripada berbicara untuk kali ini.

                Rio berhenti, lalu menyuruhnya duduk bangku panjang, di depan kelasnya. Shilla menuruti perintah Rio. Lalu menatap wajah Rio yang juga sedang menatapnya. Sedetik kemudian, Shilla memalingkan mukanya dan berusaha menahan tawa hingga membuatnya terlihat aneh.

                “ngapain lo ketawa?” selidik Rio.

                Shilla menggeleng cepat sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

                Rio meraih tempat di samping Shilla. Ikut duduk berdampingan dengan Shilla. “lo udah ditolongin bukannya makasih malah ngetawain gue, gak tau di untung banget. Kalo bukan kar-“

                “terimakasih Mario yang keceeee! Gue lagi males debat hari ini, gue lagi stress mikirin nilai biologi gue. Oke, jadi jangan debat dulu. Libur.” Potong Shilla.

                Rio menoleh ke arah Shilla, lalu sedetik kemudian tertawa  cekikikan. “kenapa?” tanya Shilla.

                “gak bakal remed kok Shil, kan tadi nyontek sama gue..” pede Rio langsung mendapat toyoran dari Shilla.

                Shilla tertawa. Hampir lupa dengan masalahnya yang membuat dia tak konsentrasi hingga gagal saat ulangan biologi tadi. Masalah yang berat. Yang belum juga di ceritakannya kepada siapapun. Termasuk Sivia. Sahabatnya. Bahkan, sepertinya, Sivia juga tidak menyadari kalau dia sedang memiliki masalah. Ah biarlah, Sivia juga kan punya urusan sendiri, toh masalah ini juga gak harus diumbar ke siapa-siapa, biarlah tetap terjaga, pikir Shilla.

                Rio menepuk pundak Shilla, “lagi ada masalah ya?” tanya Rio.

                Dia hanya ada kamu. Dan tanpa sadar, kamu juga ada dia. Percaya atau tidak. Kalian saling membutuhkan.

                Shilla terhenyak. Darimana Rio tahu? Apa akhir-akhir ini Rio menyelidikinya? Tapi rumah Rio kan di sebelah rumahnya, wajar kan kalau Rio tahu? Tapi.. kalau dia tahu gara-gara rumahnya bersebelahan, berarti masalah itu udah… tersebar dong di sekitar rumahnya. “enggak kok..” bohong Shilla.

                “ gue udah kenal lo dari SMP, kita juga tetanggaan, gue tau lo.. kalo lo gagal pas ulangan, berarti lo lagi ada masalah..” jawabnya.

                Shilla menunduk, tangannya menarik-narik ujung rok ungunya dengan cemas, gak boleh ada yang tau, gak boleh ada yang tau. Shilla takut, kalau ada yang mengetahui masalah nya itu, mereka akan menjauhinya. Shilla gak mau itu terjadi, semuanya sudah berjalan sempurna. Dan semuanya gak boleh hancur, harus tetap seperti ini, atau akan berubah menjadi buruk.

                “ pulang sekolah nanti gue ke rumah lo yaa, gue kangen juga berenang di tempat lo.. “ pinta Rio.

                Ya, dulu, saat kelas 5 SD. Saat mereka masih polos. Saat Rio baru pindah rumah ke samping rumah Shilla. Saat mereka belum satu sekolah. Mereka sangat akrab, sahabat kecil. Bukan sahabat juga sih, buktinya.. mereka lebih banyak bertengkar dari pada akurnya. Dan saat mereka seperti itulah, Rio sering dititipkan Mamanya ke rumah Shilla. Yang pada ujungnya menjadi “kolam renang sewaan” untuk Rio.

                Di rumah Shilla yang mewah. Tepatnya di belakang rumahnya, ada kolam renang besar. Dan dulu, Rio sering numpang berenang di situ, saat Mamanya menitipkannya. Dan saat Rio berenang, Shilla yang tidak bisa berenang dari pinggiran hanya bisa menatapnya penuh iri. Dasar memang Rio yang jahil, dia dengan sengaja mengajak Shilla berenang di tepian kolam. Shilla yang masih sedikit bodoh –penurut- ikut saja dengan apa perintah Rio.

                Alhasil, Shilla yang tidak bisa berenang, dan Rio yang kurus dan sok mengajari Shilla berenang padahal dia belum terlalu jago, malah membuat Shilla tenggelam di pinggir kolam. Dan sejak saat itu Rio tidak di izinkan lagi berenang oleh Mamanya, padahal Mama Shilla masih mengizinkannya.

                Dan entah sudah berapa lama Rio tidak main ke rumah itu. Sejak SMP tentu saja. Sekarang pun, kalau ke rumah Shilla juga hanya bermain di teras rumahnya. Tidak seperti dulu, saat Rio menganggap.. rumah Shilla adalah rumahnya juga.

                “ kangen berenangnya, apa kangen bikin gue tenggelem?” ledek Shilla mengingat peristiwa beberapa tahun silam itu.

                Rio tertawa, “kangen dua-duanya sih haha.. eh iya Shil, nanti sekalian yaa, lo cerita aja masalah lo ke gue.. siapa tau aja gue bisa bantu. “ ucap Rio sambil bangkit berdiri.

                Shilla mengangguk tanpa ragu, biarlah Rio tahu, toh mereka berteman bukan Cuma satu-dua tahun, tapi sudah 6 tahun. Bahkan, sebelum Shilla mengenal Sivia.

                Rio tersenyum lebar dengan matanya yang seakan seperti menghilang. Senyum manisnya yang membuat cewek-cewek di sekolahnya membeku terpesona. Rio jarang sekali tersenyum seperti itu, kecuali kepada orang-orang terdekatnya. Dan Shilla.. entah sudah berapa ratus kali mendapatkan senyuman itu.

                Rio mendekat ke arah Shilla. Lalu menepuk-nepuk puncak kepala Shilla dengan lembut. “gue ke kantin lagi ya…. Ciya.” Lalu berlari meninggalkan Shilla yang diam, mendengar Rio memanggil nya lagi dengan panggilan kecilnya.

                “ Adit…” ucap Shilla pelan, diakhiri dengan senyuman.

                ***
                Jangan pendam masalahmu. Jangan kumpulkan emosimu. Karena ketika sudah mencapai puncaknya, mereka akan meledak dengan dahsyat. Lebih baik.. keluarkan, walaupun secara bertahap.

               
                

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar