Mario.
“ eh ada Ify.. cantik aja Fy hari ini .. makannya apa sih?” sapa ku.
Gadis itu mendongak, wajahnya merah padam karena panas dan bersimbah keringat, membuatnya kelihatan makin manis saja.
“ gombal,” sahutnya, tetap dengan senyumannya.
Perkenalkan, ini adalah –calon-pacar-gue-, namanya Alyssa Saufika Umari. Cakep, matanya sendu, pipinya tirus, berbehel, tinggi, putih, rambutnya anggun, dan senyumnya lucu. Anak kelas ku, nggak suka pelajaran yang ribet-ribet hitungannya, paling suka kelas olahraga dan musik karena dia senang bermain piano. Ikut tim basket hanya karena gue ada di sana. Hehehe. Oke kalau yang ini gue gak tahu persis sih, tapi kalo feeling gue bener, berarti dia juga suka sama gue. Yes!
“makan bareng yuk Fy .. gue traktir deh ..” ajakku.
Dia terdiam, “sorry Yo, gak bisa .. hari ini aku makan bareng sama Riko,” jawabnya.
Kemarin, bareng Kiki, dan anak-anak OSIS. Hari ini bareng Riko. Kadang kalau gak nanya dari jauh-jauh hari, seringnya gak kebagian jadwal makan siang sama dia. Dasar emang cewek eksis.
“ yah masa gak bisa Fy ..”
“maaf ya, anda sedang kurang beruntung! Ahaha ..” ucapnya tertawa.
“jadi.. kapan dong makan siang sama gue?”
Dia mengerucutkan bibir, sibuk berpikir, membalik-balik jadwal tak tertulis di kepala, “kapan-kapan deh .. “ akhirnya dia memberikan jawaban diplomatis, yang bikin gue langsung ingin mencubit pipinya dengan gemas.
Kadang-kadang gue juga merasa, kalau gak buru-buru ini cewek pasti duluan kesamber orang. Makanya, gue harus cepat menyusun acara penembakan yang jitu buat Ify.
Dia suka main piano.
Dia suka warna Biru.
Dia suka bunga.
Aha, gue jadi dapet ide buat nembak Ify hari senin nanti.
***
Alyssa.
I hate Monday!
Hari senin selalu melelahkan. Pagi-pagi saat semua orang masih menguap dan bersembunyi di balik selimut untuk lima menit saja tidur lagi, kami harus mengikuti upacara bendera dan bermandikan cahaya pukul tujuh pagi yang menyengat. Itu diikuti pelajaran PKn yang super-duper membosankan, lalu sorenya ada ekstrakurikuler yang menguras tenaga.
Hari ini pun tanpa kecuali. Memasang tampang bete di senin pagi sudah jadi trademark ku, yang selalu diledek Shilla, sahabat ku sebagai muka ‘awas cewek galak!’.
Setelah upacara berakhir, aku segera bergegas ke locker untuk mengambil buku PKn yang berat saking tebalnya. Aku dan teman sekelasku, Rio, harus berbagi locker karena sekolahan kami kekurangan fasilitas. Itu artinya harus berbagi dengan cowok paling populer di sekolah walau harus rela sesekali mencium aroma tak sedap kaus bekas minggu lalu yang lupa di bawanya pulang.
Yang kadang-kadang bikin kesal adalah membanjirnya amplop pink berisi surat cinta yang sepertinya habis-habisan di semprot parfum. Atau kado warna-warni berbagai bentuk.
Sejak pertama kali masuk sekolah ini dan melihatnya melompat dan melemparkan bola dalam jarak jauh -masuk dengan cantik, pula!-, aku sudah mengaguminya, bukan, bukan hanya sekedar kagum, tapi suka. Ya, aku menyukainya.
Walau dia selalu cuek meninggalkan sepatu kotor di locker.
Walau dia selalu mengabaikan hadiah-hadiah dari para penggemar nya itu
Dan sering dengan asal, mengejek hadiah-hadiah yang ditujukan untukku.
Sejujurnya aku tak peduli dengan semua itu. Karena hanya dengan itu, aku dapat melihat senyum dan tawanya, senang mendapat kesempatan untuk saling meledek walau hanya sebentar. Menikmati debaran yang mendadak tak beraturan ketika berada di dekatnya. Namun, aku hanya bisa menyukainya dalam diam. Tanpa berani mengungkapkannya, hanya karena takut.. ia menjauh.
Pagi ini, locker kosong saat ku buka. Hanya ada beberapa bunga lili yang masih segar, dengan kelopak putih sehalus beledu. Harumnya samar. Tidak ada benda lain selain bunga itu.
Dengan malas, aku melangkah gontai ke kelas, melewati lapangan tempat Rio bermain basket dengan teman-temannya, tanpa memedulikan bel yang sebentar lagi akan berbunyi.
“hei .. ada apa di locker hari ini?” tanyanya menghampiriku.
Aku mencibir. Sengaja dia mau meledekku, menunjukkan dia menang karena ada bunga untuknya. Aku terus berjalan tanpa menoleh. Dia menjatuhkan bola basketnya.
“Fy, jutek banget sih, gue nanya di cuekin.”
“ fans kamu ngasih bunga lagi tuh.” Aku menjawab malas, enggan mengakui bahwa dalam hati ada cemburu merayap.
“siapa?” Rio mengernyit.
Aku menatapnya dengan cemberut, “ya mana aku tau, emang nya aku pendata bunga apa!”
Tiba-tiba dia tertawa, begitu lepas hingga aku bingung. Dengan sebelah tangan dia mencubit pipiku, membuat ku merengut semakin dalam walau diam-diam menyukai sentuhannya. “ya ampun Ify .. yang bener dong kalo terima bunga ..” ucapnya.
Aku masih memandangnya dengan bertanya-tanya, sampai dia menarik pergelangan tanganku ke arah barisan locker, “tuh, liat!” dia menunjuk buket bunga itu. “ ambil kartunya, baca yang bener ..” perintahnya.
Ku turuti perintahnya, lalu membaca huruf-huruf yang ditulis dalam tulisan cakar ayam, khas tulisan cowok.
Kamu memang bukan bidadari atau pun makhluk indah lainnya. Tapi kamu adalah Ify yang membuat ku jatuh cinta. Alyssa Saufika, mau jadi pacar ku?
Wajah ku spontan memerah. Perasaan ku teraduk-aduk dengan cepat, antara senang dan malu. Deburan-deburan ombak berkeliaran dengan riang di hati ku. Membawa sedikit warna merah jambu di dalam ombaknya. Warna cinta.
Bunga itu untukku .. bunga itu untukku .. Eh barusan, Rio minta aku jadi pacarnya?
But two can always play that game. Maka aku pun berpaling padanya, memberikan pandangan paling tegas saat aku.. menantangnya, “masukin bola sepuluj kali berturut-turut ke dalam ring, aku bakal jawab iya.”
Rio ingin ini menjadi sebuah permainan bukan? Maka, aku bertekad melanjutkan permainan ini, untuk kami berdua.
Dia tampak yakin, itu jelas terlihat dalam seringainya yang balas menantangku. “oke .. relationship di depan mataaaa!..” teriak Rio jahil.
Rio berjalan kembali ke tengah lapangan, mengambil bola pertama dan melemparkannya ke arah keranjang basket. Masuk. Aku tersenyum tipis, memang sudah seharusnya seperti itu kan. Tidak ada yang perlu di takutkan. Karena aku yakin, dia akan melakukannya dengan baik untukku.
Kedua kali, masuk dengan mudahnya.
Ketiga, keempat, dan kelima kali kembali lolos, seakan dia sama sekali tak berusaha apapun untuk mencetak angka.
Keenam, bola mengitari rangka keranjang sebelum masuk. Terdengar sayup-sayup tepuk tangan murid yang menonton.
Ke tujuh, masuk. Rio tampak sangat bangga dengan semuanya. Semua bola yang ia masukkan ke dalam ring.
Ke delapan, masuk. Aku nggak kaget. Hal ini memang biasa. Dia kan jagoan tim basket sekolah kami. Namun, sepuluh tembakan masuk berturut-turut juga didukung oleh keberuntungan dan sedikit harapan.
Kesembilan, masuk. Bel berbunyi. Murid-murid bergegas ke kelas, meninggalkan lapangan yang kini hanya ada kami berdua.
Kesepuluh. Rio melirikku sebelum melempar bola terakhirnya. Aku tersenyum, baru sadarr aku aku benar-benar ingin dia berhasil. Aku tak mau munafik, kalau aku.. benar-benar ingin memilikinya.
Bola terakhir menggelinding di sekitar ring keranjang. Sepertinya lama sekali, hingga lolos masuk ke ring dan memantul beberapa kali di atas semen sampai akhirnya menggelinding jauh. Rio tersenyum menang. “jawabannya iya, kan?” untuk sesaat, terlihat sekelebat kekhawatiran di matanya. Takut-takut aku menarik kembali omongan ku.
Aku tertawa, menarik kerah kemeja seragamnya dan mendekatkannya ke wajah ku, hingga berjarak sekitar 10 cm. “masuk atau gagal, sebenarnya jawabannya tetap iya.”
***
bersambung ..






1 komentar:
aaaa typo nya masih banyak lagi:-(
Posting Komentar