Ashilla
Life is a box of chocolate, you never know what youre gonna get.
-Forrest Gump-
Kata orang, cokelat adalah simbol cinta. Dimulai dari sejarah ditemukannya cokelat pada zaman peradaban suku Maya dan Aztec, cokelat lalu di jadikan komoditas berharga. Awalnya, minuman yang dibuat dari cokelat hanya dapat dikonsumsi oleh keluarga kerajaan, hingga akhirnya seiring waktu, cokelat mulai dinikmati oleh rakyat jelata. Dan, sekarang ini, cokelat menjadi tanda cinta, seperti pada hari Valentine dan White day.
Semua itu kubaca dari sebuah buku berjudul Chocolate. Aku sering membacanya di balik buku pelajaran, kalau guru di depan kelas sedang membahas materi yang sama sekali membosankan. Pernah sekali, teman sebangku ku, Gabriel, memergokiku. Saat itu, di tengah kelas yang hening. Hanya terdengar ocehan Pak Duta menjelaskan rumus phytagoras untuk bahan ujian minggu depan. Sesekali, terasa embusan angin yang meniup lembaran bukuku yang terbuka sia-sia di halaman delapan puluh. Dan, aku sadar seseorang sedang memperhatikanku.
Tidak lama kemudian, dia mencoret-coret sesuatu di secarik kertas dan mendorongnya ke arah ku.
Lagi baca apa?
Aku mendongak. Gabriel sedang menatap lurus-lurus ke depan sehingga aku tidak dapat melihat ekspresinya. Aku menulis sederet kecil jawaban, lalu mengembalikan kertas itu ke arahnya.
Buku tentang cokelat
Dia membalasnya dengan kilat. Kamu suka cokelat Shil?
Ada sesuatu mengenai Gabriel yang terasa dingin saat pertama kali melihatnya. Namun, entah mengapa terkadang aku justru menangkap momen-momen saat dia tampak hangat. Momen ini adalah salah satunya.
Suka, satu jawaban dari pertanyaannya. Kami bertukar catatan ‘chatting’ kami sampai jam pelajaran berakhir, dan aku meminjamkan buku Chocolate itu kepadanya.
***
Hari ini pun pelajaran berlangsung sangat membosankan. Aku terbiasa membaca bab yang akan di pelajari sehari sebelumnya sehingga kadang apa yang diajarkan di kelas terasa sama. Aku begitu larut dalam bacaan ku sampai tak sadar bel sudah berbunyi, dan murid-murid lain keluar untuk makan siang.
Entah sudah berapa lama aku tenggelam dalam bacaan ku hingga akhirnya aku mengangkat wajah dan baru menyadari sedari tadi Gabriel hanya duduk diam disamping ku.
“eh Gab, kamu gak makan?” tanya ku.
Kemudian, dia menyodorkan sekotak cokelat ke meja ku. Sambil tersenyum dan membenarkan posisi kacamatanya.
“cokelat?”
***
Gabriel.
Hari ini hari senin, hari saat aku akan meminta jawaban Shilla akan perasaan ku. Mungkin aku harus mencukur botak rambut ku. Mungkin, aku akan tertawa bahagia dan menang. Tidak ada yang tahu, dan ketidak pastian membuatku sedikit ragu. Aku tidak menyukai segala sesuatu yang tidak pasti.
Kemarin, semalaman aku berkutat di dapur, membuat serangkaian cokelat berbagai rasa dan bentuk. Aku akui, menyatakan perasaan dalam rangkaian pernyataan cinta adalah bukan bakatku. Mengungkapkan satu kalimat aku suka kamu saja terasa begitu sulit. Tetapi, untuk menunjukkan perasaan ku kepada Shilla, kurasa barisan cokelat ini cukup untuk menyampaikan semuanya.
Entah apa rasanya cokelat buatanku. Bentuknya saja abstrak, sama sekali tidak meyakinkan. Namun, aku memantapkan hati untuk melanjutkan rencana ini. Tidak ada kata mundur dan menyerah tanpa memulai.
Lima menit, sepuluh menit, dia masih berkutik dengan bukunya. Akhirnya Shilla mendongak, mungkin terganggu dengan angin yang mengacaukan halaman bacaannya.
“eh Gab, kamu gak makan?” tanyanya.
Aku menggeleng, tanpa kata-kata mengeluarkan kotak kecil berisi cokelat-cokelat yang ku buat semalam, dan menyodorkan benda itu kepadanya.
Dia memandang ku heran, “cokelat?”
Cokelat itu bentuknya tidak beraturan. Ada yang berbentuk hati tapi seperti segitiga, ada yang ebrbentuk bundar tapi seperti oval, ada yang berbentuk persegi tapi seperti jajargenjang, bahkan ada yang ku buat menyerupai huruf S, akhirnya malah lebih terlihat seperti ular tak berkepala.
Shilla menelitinya satu persatu, lalu meraih sebentk coklat berbentuk bintang yang ujungnya terkena sendok saat aku membuatnya semalam.
Aku memandang Shilla, tiba-tiba jantungku berdegup lebih kencang dari biasa. Mungkin kalau jantung ini hanya tertempel oleh lem di rangka tulang ku, jantung ini sudah berlarian keluar dari tempatnya saking cepatnya berdegup.
“kamu buat ini sendiri?” Shilla bertanya sambil terus mengunyah. “ada hujan apaan Gab?”
“hmm, rasanya gimana?” aku mengabaikan pertanyaannya, meraih cokelat berlumur kacang. Cokelat gepeng yang terlalu tipis, rasanya aneh, karena kebanyakan kacang daripada cokelatnya.
Shilla tersenyum kecil, “mau jawaban jujur apa bohong?” candanya, lalu meraih sekeping lagi.
Heran. Penampilan cokelatnya saja meragukan. Apalagi rasanya. Tapi kenapa gadis ini malah memakannya terus-terusan?
“jujur aja deh ..”
Aku melirik jam. Sebentar lagi waktu istirahat akan habis. Waktuku sudah tak banyak, habis untuk mengobrol tentang cokelat dan embel-embel pembicaraan lainnya. Aku pun berkata tanpa berpikir lagi, “Shilla .. aku suka kamu .. kamu?”
Hening.
Aku salah bicara. Timingnya kurang pas kan. Aah Gabriel bodoh kau! Siap-siap saja besok masuk sekolah dengan kepala plontos ala Pak Ogah, umpat ku dalam hati.
Shilla kelihatan bingung. Kaget lebih tepatnya.
Terasa lama sekali hingga akhirnya dia angkat bicara, “cokelatnya hambar. Tapi, aku tau kamu buatnya tulus karena pake cinta, makanya rasanya jadi manis. Mungkin hanya orang yang punya perasaan yang sama yang bisa ngerasain manisnya cokelat itu ..” lalu, dia tersenyum dan memasukkan sekeping cokelat lagi ke dalam mulutnya.
Puh, aku melongo. Dia .. benar-benar membalasnya? Ini serius kan? Bukan mimpi?
***
Rio sudah menunggu di lapangan sepulang sekolah dengan ransel di punggungnya. Dia tersenyum lebar ketika melihatku. Sebelum sempat dia menyombongkan diri, ku tepuk pundaknya sekali.
“ mungkin hanya orang yang punya perasaan yang sama yang bisa ngerasain manisnya cokelat itu ..” ucap ku mengutip kalimat Shilla tadi.
Rio melongo, lalu sedetik kemudian mengeluarkan senyuman khasnya. Senyuman bahagia. “cieeeee! Berarti lo gak jadi botak dong!” ejeknya.
Aku tertawa, memukul lengan kanannya, “gak akan pernah ada Gabriel yang botak Yo, haha..”
***
Author.
Mereka bahagia. Tenggelam dalam buaian kasih dan asmara. Melupakan sejenak sedikit beban dan resiko yang ada. Tanpa tau apa yang akan mendatangi mereka. Antara Cinta dan Prahara.
***
bersambung ..






0 komentar:
Posting Komentar