Gabriel.
your friends will know you better.
in the fist minute you meet than your.
acquaintances will know you in a thousand years.
- Richard Bach, Illusions.
***
"ngeliatin dia lagi?"Aku meletakkan pensil dan mengernyit ke arah Rio. malas berbohong karena apa pun bohong yang ku upayakan, dia pasti akan tahu juga. itulah tidak enaknya berteman dengan seseorang sejak kecil. dia sudah hafal tingkah lakumu luar dalam.
"bro, lo pasti lagi jatuh cinta." Rio kembali berkomentar, kali ini turut memperhatikan si dia yang sedang membaca dari kejauhan.
Yang dimaksud dia oleh Rio adalah seorang gadis bernama Shilla. tinggi, berkulit putih, cantik dan pintar.
Pertama kali bertemu dengannya adalah saat orientasi SMP beberapa bulan lalu. sepasang murid laki-laki dan perempuan dengan nilai tertinggi di panggil untuk maju ke podium pada hari pertama orientasi. saat itu, namaku dan Shilla dis ebut. seperti biasa, nilai ku hampir sempurna, dengan nilai Shilla satu point di bawah ku.
Ketika kami diperkenalkan, aku menjabat tangannya yang dingin dengan tegas dan menyebutkan nama lengkap, seperti yang sering kulakukan.Jabatan gadis itu tidak sekuat aku, dan ia menyebut namanya dengan singkat. Shilla. begitu saja tanpa embel-embel. Namanya sesederhana orangnya, dengan potongan rambut hitam yang mencapai setengah punggung serta kacamata berbingkai hitam tampak begitu membuatnya semakin sempurna di mata ku.
Kami menjadi teman sebangku. pada minggu-minggu pertama, kami hampir tidak pernah bicara. Kata-kata yang kami tukar hanya -Pagi.. pr kamu udah selesai?- atau kalimat basa-basi lainnya. selebihnya kami hanya diselimuti ketenangan dalam diam dan sepi.
Hingga suatu hari, tanpa sengaja dia membawa buku tulis ku karena sampul depannya sama. sampul hitam bercorak polkadot putih yang kami beli di koperasi sekolah. semalaman suntuk aku membongkar isi tas ku untuk menemukan buku tugas ku dan hampir pasrah menerima amukan Pak Dave, guru mata pelajaran sejarah, yang paling tidak suka murid-murid tidak mengerjakan tugas. namun, keeseokan paginya, Shilla dengan muka merah karena merasa bersalah, mengembalikan buku tersebut sambil meminta maaf.
" maaf .. buku kamu gak sengaja aku bawa .."
dan, dia tersenyum. Senyumnya yang sangat manis.
Mungkin itu jatuh cinta pada pandangan pertama. mungkin itu hanya perasaansuka, atau bahkan nafsu. yang jelas, ada sesuatu yang berbeda sejak saat itu. Sesuatu yang mulai mengaduk-aduk mangkuk hati ku.
***
Rio, dia memberi tahu ku dia sedang jatuh cinta dengan Ify, sahabat Shilla. Ify cukup populer di Gemanita Junior High School. Cantik, kulait putih dengan rambut lurus yang tergerai sampai punggung, dan behel manis yang terpasang di giginya.
"Belum ada perkembangan sama Shilla?" tanya Rio, sebelah tangannya memutar-mutar sebentuk kaleng minuman.
Aku menggeleng. Aku dan Shilla memang sesekali mengobrol, namun tidak pernah ada sesuatu yang istimewa di dalam obrolan kami. sesuatu yang menyinggung ke arah... hati.
"nanti keburu di samber si sipit lho!"
Ah si sipit itu lagi, Alvin. teman Shilla yang selalu pulang bersamanya. mereka sangat dekat.
Pacarankah? hmm sepertinya tidak. mudah-mudahan sih tidak.
" lo sama Ify gimana? sukses, hampir sukses, atau gagal?" tanyaku sambil mengambil makanan dari saku kemeja seragam ku.
Dia nyengir, "gue bakal nembak dia senin depan. gimana kalo lo ikutan juga?"
"nembak Ify juga? dih, gila lo. gue sukanya sama Shilla. bukan sama Ify!"
Rio menoyor kepalaku, "bukan gitu maksud gue bego. maksud gue lo ikutan nembak Shilla .."
Aku diam. memikirkan matang-matang tawarannya. kalau di terima sih gak papa, but, if she said "no" ? mau di taro dimana coba muka ini. Dasar memang namanya sahabat sejak kecil, tahu saja dia apa yang ada di pikiran ku.
"ga usah mikirin ditolak apa diterima. yang penting coba dulu. lo gak cape nyembunyiin perasaan itu terus-terusan? ada kalanya perasaan itu harus di ungkapkan bro, sebelum terlambat .."
Aku berpikir .. lagi. hmm oke, rayuan diterima!
"kalo lo di tolak paling dia ngejauh doang sama lo, tinggal cari cewek lain deh .. gampang kan!" ucap Rio asal.
Aku melongo, lalu dengan spontan melempar bungkus makanan yang sudah kosong di tangan ku ke hadapannya, "ngomong yang bener! ucapan itu doa. lo ngomong yang baik-baik kek. malah ngomong kaya gitu." omel ku.
Rio terkekeh, "namanya juga perkiraan Yel, gak ada yang gak mungkin tau .. mending lo mikirin sekarang kan, jadi nanti gak kaget pas dia ngejauhin lo, daripada mikirnya nanti. keburu basi!" sambungnya lagi dengan tangan kanannya yang membentuk huruf V oleh telunjuk dan jari tengahnya.
"sekali lagi ngomong kaya gitu .. gue hajar lo Yo!" ancam ku.
Dia tertawa terbahak-bahal, "eh kalo gue di tolak sama Ify, gue bakal lari 10 kali puteran di lapangan nanti .. tapi karena gue yakin Ify nerima gue sih, gue gak takut sama tantangan gue hahaha .."
aku memandangnya jengah. ya tuhan pede banget ini anak. lihat saja nanti kalau di tolak. baru tahu rasa! makan tuh 10 kali puteran. hahaha. "kalau gue yang di tolak?" tanya ku.
"lo yang lari sambil teriak SHILLA I LOVE YOUUUUU! buahahahaha!" tawanya meledak tepat saat sebuah cubitan roti kecil masuk ke dalam mulutnya.
" uhukk .. uhukk .. sial .. uhukk .. lo yel .. kampret!" ucapnya setelah menghabiskan setengah gelas air minum di hadapannya.
"makanya jangan konyol, udah lah kalo Shilla nolak gue, gue bakal potong rambut jadi botak .."
***
bersambung






1 komentar:
aaaaa banyak typo :-(
ngetiknya buru-buru takut pada buyar semua -_-
Posting Komentar