RSS

Shashiyo in love


Shanin masih terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh cowok yang tengah berdiri dihadapannya. Membuat mereka berdua menjadi sepasang objek yang membuat pandangan sekeliling mereka tertuju padanya. Shanindya Naurashalika, atau biasa dipanggil Shanin. Begitu biasanya orang-orang memanggilnya. Cewek ini memiliki paras yg sangat cantik, dengan rambutnya yang tergerai panjang dan indah, kulitnya yang putih merona, dan sifatnya yang sangat periang mampu membuat playboy sekolahnya bertekuk lutut mengharapkan balasan cintanya kepada Shanin.
                Mario Stevano Aditya Haling, yang biasa dipanggil Rio. Playboy sekolah yang ketenarannya sudah tidak bisa diragukan lagi. Setiap cewek cantik di sekolah dipacarinya. Termasuk Kakak Shanin sendiri, Shilla. Tak lama ia berpacaran dengan Shilla karena hubungan mereka kandas begitu saja saat Shilla melihat Rio jalan dengan cewek lain.
                Rio membuyarkan lamunan Shanin, “ Shan.. come on please, terima gue. Gue beneran sayang sama loe. Gue janji kalo loe berubah, gue gak bakal nyelingkuhin loe lagi. Ayo lah, hati gue udah terpaut banget sama loe Shan. “ rayu Rio sambil menggenggam kedua tangan Shanin.
                Shanin risih, ia pun segera melepaskan genggaman tangan Rio,  “ gue gak bisa jawab sekarang Kak, gue butuh waktu.” Jawab Shanin sambil memalingkan pandangannya ke arah Shilla yang berada di dalam kerumunan teman-temannya.
                Rio tercengang, “ buset, baru kali ini gue nembak cewek enggak langsung diterima. Ckck tapi gapapa lah Shan, loe nyuruh gue nunggu selama seabad pun pasti bakal gue tungguin. Itu juga kalo gue belom diambil nyawanya. Hehe” ucap Rio sambil beranjak dari duduknya dihadapan Shanin tadi.
                Shanin hanya mengibaskan tangannya dan beranjak pergi meninggalkan Rio, “ gak usah gombal Kak. Gue ke kelas dulu.” Sinis Shanin berlalu pergi meninggalkan Rio yang ditertawakan oleh Alvin.
                “ hahaha, harga diri loe turun tuh, mana? Katanya nembak Shanin langsung diterimaaa? “ tagih Alvin pada janji Rio kemarin.
                Rio menggeram kesal, “ sialan loe, liat aja. Gue pasti bisa ngedapetin dia. Seorang Rio gak mungkin ditolak cewek.” Ucap Rio sambil menepuk dadanya dan tersenyum narsis.

                                                                                                ***
                Sepulang sekolah dirumah Shanin, ia terduduk melamun di pinggir kasurnya, fikirannya melayang kemana-mana. Sebagian fikirannya masih tergantung dengan kejadian siang tadi. Kejadian dimana yang sangat tidak pernah ia bayangkan. Lamunannya itu pun hampir tidak menyadarkan nya bahwa Shilla sudah berada di dalam kamarnya dan duduk disampingnya.
                “ Shan, gue mau ngomong sama loe.” Ucap Shilla.
                Shanin terlonjak kaget melihat Shilla sudah berada di sampingnya, “ Shilla? Sejak kapan loe ada dikamar gue?” tanya Shanin kaget.
                Shilla melihat Shanin dengan sinis, “ sejak loe ngelamun mikirin kejadiann siang tadi mungkin.” Jawab Shilla.
                Shanin tercengang, “ Shill.. loe marah sama gue?” tanya Shanin pelan mencoba menahan emosi Shilla agar tidak meledak, ia tau bahwa sampai saat ini Shilla masih menyukai Rio dan amat sangat sayang kepada Rio.
                Shilla tertawa pelan, “ gue gak marah sama loe, kalo gue marah sama loe gue gak bakal mungkin minta bantuan sama loe.” Jawab Shilla sambil merangkul pundak Shanin.
                Shanin mengeryitkan dahinya, “ bantuan? Bantuan apa Shil?” tanya Shanin.
                “ loe tau kan kalo gue masih sayang sama dia?” tanya Shilla balik yang dijawab Shanin dengan anggukan, “ loe juga tau kan betapa hancurnya gue dulu pas dia nyelingkuhin gue?” lagi lagi Shanin menjawab dengan anggukan.
                “ sekarang gue mau minta tolong sama loe. Buat Rio hancur kaya gue dulu! Gue mohon Shan.” Pinta Shilla.
                Shanin terkejut mendengar permintaan Shilla tersebut, ia memang membenci sosok Rio yang dulu pernah membuat Shilla hancur, yang pernah membuat Shilla lemah selama beberapa waktu. Tetapi ia masih punya hati, ia tidak tega melakukan itu terhadap Rio. Apalagi ketika tadi ia melihat ketulusan dimata Rio.
                “ shan, please. Bantu gue. Loe sayang kan Shan sama gue? Loe mau kan bikin gue seneng?” pinta Shilla sekali lagi seraya meremas pundak Shanin.
                Shanin mengangguk pasrah, ia amat sangat menyayangi Shilla, “ gue harus ngelakuin apa Shil?” tanya Shanin pelan.
                Shilla tersenyum, “ gak parah-parah banget kok. Gue Cuma minta loe terima cinta dia tadi, dan loe bikin dia sayang dan jatuh Cinta sama loe, dan setelah dia beneran sayang sama loe. Loe cari pacar lagi dan langsung putusin dia. Hmm tepatnya sih gue pengennya loe ketauan selingkuh dulu di depan dia.” Jelas Shilla yang sudah merancang rencana ini sejak disekolah tadi.
                Shanin kaget mendengar apa yang harus ia lakukan untuk membantu Shilla, tak terbayangkan olehnya kalau ia harus menghancurkan Rio sekejam itu. Selama ini Rio selalu bersikap baik pada nya, ya itu karena dia selalu bersikap baik pada semua cewek. Tapi tetap saja ia tidak tega, Shanin ingin menolak permintaan Shilla, namun tiba-tiba Shanin teringat akan apa yang sudah Rio lakukan kepada kakaknya. Shanin pun meminta agar rencana nya tersebut diubah.
                “ gak pake selingkuh bisa gak Shil? Gue gak mau ngelakuin hal kaya gitu.” Tawar Shanin.
                Shilla pun terlihat berfikir sebentar, “ oke, no problem. Tapi loe tetep harus bikin dia bener-bener sayang sama loe dan di saat perasaan dia ke loe bener-bener besar loe harus segera putusin dia.” Tegas Shilla sekali lagi sambil beranjak keluar kamar Shanin.
                “ iya Shil.” Balas Shanin.

                                                                                                ***
                Keesokan harinya Shanin  sepulang sekolah Shanin mengajak Rio ke café biasa tempat ia dan Shilla berkumpul bersama teman-temannya. Suasana Café itu tampak begitu lengang, hanya ada beberapa orang dengan buku di tangan dan saling mengobrol. Saat-saat ramai memang biasanya pada sore hari menjelang malam, terlebih jika esoknya hari libur.
                Shanin dan Rio mengambil sudut favorit Shanin, disamping tirai air. Saat kami meletakkan tubuh kami di sofa empuk, sebuah lagu instrumental yang tak ku kenali berganti dengan petikan gitar Romanca D’amor. Kami seakan mencium bau laut yang terdengar dari dalam background musicnya.
                Setelah  Shanin memilih menu Ice Chappuccino dan Rio memilih segelas softdrink sebagai tiket untuk duduk disini, Rio menatap Shanin lembut.
                “ gimana jawabannya?” tanya Rio langsung.
                Shanin menghela nafas panjang, “ gue terima loe Kak. “ jawab Shanin pasrah.
                Rio yang mendengar jawaban Shanin pun langsung terlonjak riang, “ yeesss makasih cantik ud..”
                “tapi loe janji gak bakal ngecewain gue, gak bakal selingkuh, dan satu lagi!” potong Shanin saat Rio sedang terlonjak riang.
                “ apa?”
                “ tobat jadi PLAYBOY!!” tegas Shanin sambil memberikan penekanan di kata-katanya.
                Rio tertawa terbahak-bahak dan kemudian menggenggam tangan Shanin, “ gue janji Shan, gue gak bakal kecewain loe, gue gak bakal selingkuh, dan gue bakal tobat jadi playboy.” Janji Rio sambil mengecup jemari Shanin yang berada didalam genggaman tangannya.
                Deg.. Jantung Shanin berdebar tak karuan melihat perlakuan Rio kepadanya. Perasaan Shanin amat riang mendengar apa yang dijanjikan Rio tadi.
                “ makasih Kak.. gue harap loe jadi yang terbaik buat gue.” Ucap Shanin tersenyum manis kepada Rio.
                Rio pun terpaku melihat senyum Shanin, manis banget ini cewek,gumam Rio dalam hati. “ iya Shan gue janji, perasaan gue ke loe kali ini beda dengan perasaan gue ke mantan-mantan gue dulu, gue gak tau apa gue mulai ngerasain asli apa yang namanya jatuh cinta. Gue beneran sayang Shan sama loe. “ ucap Rio kembali yang membuat jantung Shanin semakin berdebar-debar tak karuan.
                Shanin pun hanya membalas ucapan Rio dengan senyuman. Akhirnya kini mereka menikmati menu yang mereka pesan, hari itu mereka habiskan dengan tawa dan canda yang menyelimuti kebahagiaan mereka. Mereka pergi nonton ke bioskop, belanja buku ke toko buku, dan membeli sedikit makanan untuk di rumah mereka masing-masing.
Jam pun akhirnya sudah menunjukkan pukul 5 sore, kini  mereka sudah berada di depan rumah Shanin. Shanin pun mengucapkan terimakasih atas perhatian Rio kepadanya hari ini. Baru saja Shanin ingin beranjak keluar dari mobil Rio tangannya sudah tercekat oleh genggaman tangan Rio.
Shanin menatap Rio dengan pandangan heran, “ kenapa?” tanya Shanin.
Rio menggeleng, “ gue gak mau kehilangan loe Shan, gue sayang sama loe.” Ucap Rio kembali mengecup tangan Shanin.
Entah untuk yang keberapa kalinya hari ini jantungnya berdebar-debar melihat sikap dan tingkah laku Rio yang amat membuatnya melayang. Ya, Shanin akui Shanin mulai menyukai Rio, ternyata Rio tidak terlalu buruk, bahkan Shanin sempat berfikiran kalau Rio sempurna, tetapi hanya sifat playboynya itu saja yang merusak segala sifatnya. Tanpa sadar Shanin melupakan apa tujuan utamanya menerima cinta Rio. Dirinya sudah membumbung terlalu tinggi hari ini. Melupakan segala macam perjanjiannya dengan Shilla.
“ gue juga gak mau kehilangan loe Kak, gue sayang sama loe. “ ucap Shanin, “ gue duluan ya Kak, makasih buat hari ini.” Sambung Shanin sambil membuka pintu mobil Rio dan berjalan riang masuk ke dalam rumah.
Saat membuka pintu rumahnya dan memasuki ruang tamu,
“ loe gak ngelupain rencana kita kan?” todong Shilla dengan pertanyaannya saat ia melihat Shanin memasuki ruang tamu.
Shanin terdiam, ia lupa akan tujuan awalnya, ia terlalu bahagia hari ini,” enggak dong Shil, gue gak bakal lupa dan gak bakal ngecewain loe.” Jawab Shanin sambil duduk disamping Shilla, menaruh belanjaannya dan mengeluarkan berbagai macam makanan dan minuman di atas meja tamu.

                                                                                ***
Sudah 3 bulan Rio dan Shanin menjalani hubungan mereka, waktu yang cukup lama untuk Rio. Karena biasanya setiap kali dia pacaran dengan cewek, waktu paling lama hanya 2 minggu dan paling sebentar hanya 1 jam. Rio merasakan rasa sayang yang amat besar kepada Shanin, ia sangat menyayangi Shanin, bahkan ia pun tidak pernah melirik cewek lain selama berpacaran dengan Shanin. Hatinya sudah  terlalu bergantung kepada Shanin. Dia tidak mau Shanin pergi meninggalkannya.
Tak jauh beda dengan keadaan Shanin, benih-benih cinta mulai bersemi di dalam hatinya. Ia merasa nyaman berada di samping Rio. Dia juga mulai percaya bahwa Rio sangat menyayanginya. Rio berubah demi Shanin, begitu teman-temannya bercerita kepada Shanin. Mereka kagum kepada Shanin yang bisa membuat Rio berubah tidak menjadi playboy lagi. Tapi hati Shanin perih setiap kali mengingat rencananya dengan Shilla. Ia tidak mau kehilangan Rio. Waktu selama 3 bulan itu mampu menumbuhkan rasa sayang Shanin kepada Rio.

                                                                                ***
Sore itu Shanin dan Shilla tengah makan bersama diruang makan, orang tua mereka belum pulang kerja, dan di rumah itu hanya ada mereka berdua dan pembantu mereka. Selama makan Shanin selalu merasa dirinya ditatap tajam oleh Shilla, hal itu membuat Shanin menjadi diam dan tak banyak bicara selama mereka makan.
“ gue mau loe berdua putus hari ini.” Ucap Shilla tiba-tiba membuat Shanin tersedak mendengarnya.
“ uhukk..uhukk..” Shanin pun segera mengambil gelasnya, menuang air kedalamnya dan meminumnya, “ gue harus putus hari ini?” tanya shanin sekali lagi.
Shilla mengangguk penuh semangat, “ iya, abis makan ini, loe telfon Rio dan ajak dia ketemuan ditaman, nanti gue bakal ngikutin loe berdua buat mastiin kalo loe beneran putus.” Jawab Shilla membuat Shanin tercengang mendengarnya.
Gue gak mau putus Shil, gue sayang Rio, gue cinta sama dia, gumam Shanin dalam hati, “ harus sekarang Shil?”
Shilla menatap Shanin curiga,” iya. Kenapa? Jangan bilang kalo selama ini dia udah berhasil bikin loe jatuh cinta dan sayang sama dia?” tanya Shilla menyelesaikan makannya.
Shanin tergugup mendengar pertanyaan Shilla, “ gak kak, udah ya gue mau telfon Rio dulu.” Elak Shanin sambil pergi meninggalkan Shilla yang masih terdiam di meja makan.
“ gimana kalo Shanin mulai suka sama Rio, 3 bulan itu waktu yang bener-bener cukup buat numbuhin rasa sayang seseorang, gimana kalo rencana gue ini ngebikin Shanin sakit hati? Apalagi selama Shanin pacaran sama Rio dia selalu keliatan ceria dan seneng, tapi gue gak mau ngeliat Rio bahagia, gue mau dia ngerasain hal yang sama dengan apa yang udah dia lakuin ke gue dulu. Gue gak mau ngeliat Shanin sakit.” Gumam Shilla sambil mengaduk-ngaduk minuman di dalam gealsnya dengan sebuah sendok ditangannya.
“ gue harus ngegagalin rencana ini. Gue gak boleh egois. Gue juga harus mikirin perasaan Shanin, mungkin emang dia yang pantes buat Rio.” Ujar Shilla sambil membanting sendoknya ke atas meja dan segera berlari kekamarnya mengambil kunci mobil dan segera pergi ke taman, menyusul Shanin yang kemungkinan sudah berada disana.

                                                                                ***
Shanin dan Rio berpegangan tangan menyusuri jalan kecil di taman itu, Rio pun membelikan Shanin sebuah ice cream kesukaan Shanin. Mereka kini duduk di bangku taman yang berada di situ. Ice cream Shanin sudah habis, alhasil ia pun kini hanya dapat memandangi Rio menikmati ice creamnya.
“ kenapa? Mau lagi?” tanya Rio sambil menyongsorkan segelas ice  creamnya ke arah Shanin.
Bentar lagi loe gak bakal jadi milik gue kak, gue bakal kehilangan loe, maafin gue kak gue gak bisa nepatin janji gue yang gak bakal ngecewain loe, maafin gue, gue sayang loe kak, batin Shanin dalam hati.
“ hei, kok bengong. Ini..ice creamnya mau lagi?” tanya Rio membuyarkan lamunan Shanin.
“ enggak Kak, kak gue mau ngomong sesuatu sama loe.” Ucap Shanin agak ragu.
Rio pun menghentikan suapan ice nya dan menatap Shanin penuh kasih sayang, “ apa ? ngomong aja.” Ucap Rio.
Shanin terlihat ragu saat ingin berbicara kepada Rio, namun akhirnya kata-kata itu dapat keluar juga dari mulutnya, “ gue mau kita putus kak..” lirih Shanin yang membuat ice cream ditangan Rio terlepas dari pegangannya.
Rio terkejut, dan mengangkat wajah Shanin mentapnya, “ jangan bercanda Shan, gue gak suka bercanda loe. Bilang sama gue loe bercanda! Bilang Shan.” Tegas Rio sambil  memegang pundak Shanin ke arahnya dan menatap Shanin tajam. Hati Rio kini tak karuan mendengar penuturan Shanin tersebut.
“ gue gak bercanda Kak, gue mau kita putus, gue gak sayang sama loe. Maafin gue kak” ucap Shanin yang tanpa sadar mulai menangis dihadapan Rio.
Rio menggeleng kencang, “ gak gue tau loe boong, gue tau loe sayang sama gue. Liat mat ague Shan! Liat mata gue!” ucap Rio sambil memegang wajah Shanin menatapnya, Shanin berusaha kerasa tidak menatap mata Rio, karena ia takut Rio mengetahui kebohongan akan alasannya meminta putus Rio.
Ucapan Rio perlahan semakin lembut,” loe gak bisa boong sama gue Shan, gue tau loe mutusin gue karena ada alasan lain, dan sekarang loe jelasin ke gue, apa alasan itu? Kenapa loe sampe tega mutusin gue?” tanya Rio lembut menahan emosinya yg ia tahan ketika melihat gadis yang sangat amat ia sayangi menangis dihadapannya.
“ dia gak bakal mutusin loe!” tiba tiba terdengar suara dari belakang mereka yang membuat Shanin dan Rio terkejut melihatnya.
“ Shilla.” Ucap Rio dan Shanin serempak.
Shilla pun berjalan menghampiri Shanin dan memeluknya,” maafin gue Shan.. maafin udah nyiksa loe dan ngebuat loe ngorbanin perasaan loe itu, maafin gue. Gue kakak yang bodoh Shan, gue gak pantes loe sayangin. Gue bodoh, gue mohon jangan putusin Rio Shan. Gue tau loe sayang sama dia. Batalin rencana kita.” Pinta Shilla sambil menangis di dalam pelukan Shanin.
Shanin terkejut mendengarnya,” enggak kak, gue gak mau jadi orang yang ingkar janji. Gue sayang sama loe Kak, dan gue gak mau ngeliat hati loe sakit.”
“ bodoh! Justru loe yang bakalan sakit kalo loe mutusin dia, sekarang cepetan tarik omongan loe tadi. Atau gue gak bakal segan-segan ngebenci loe!’ ancam Shilla yang membuat Shanin tersenyum mendengarnya.
Rio yang masih kaget dengan keadaan itu pun hanya dapat diam dan memperhatikan, “ ada apaan sih ini? Shan..Shill.. kalian kenapa? Rencana apa yang kalian lakukan?” tanya Rio menatap ke arah Shanin dan Shilla bergantian.
Shanin tersenyum ke arah Rio, “ nanti gue jelasin ke loe Kak, sekarang gue mau narik omongan gue tadi. Apa masih bisa?” tanya Shanin dengan tampang memelas ke arah Rio.
Rio terhenyak sesaat, dan tak lama terciptalah setitik senyuman di bibir Rio, “ kalau loe beneran sayang sama gue, kenapa enggak?” ucap Rio membuat Shanin dan Shilla tersenyum mendengarnya.
Mereka pun berjalan beriringan pulang ke rumah Shanin, Rio menggenggam erat tangan Shanin dan Shilla merangkul erat pundak Shanin. Shilla akhirnya sadar bahwa masa lalu yang pahit hanya akan membawa kesengsaraan jika terus ia ingat dan tidak ia lupakan. Shanin pun sadar bahwa hatinya sudah tercipta hanya untuk Rio, ia berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan Rio, ia sudah tidak menjadi playboy sekolah lagi, karena sudah ada Shanin yang menguasai hatinya. Mereka tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian lucu mereka dulu, mereka bertekad melupakan semua kenangan pahit mereka dan berusaha menjadi sosok Shanin, Rio dan Shilla untuk menjadi yang lebih baik lagi.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar