RSS

I'll Go Wherever You Go

Aku hanya dapat berdiri dari kejauhan, berdiri di balik sebuah tembok coklat di sebuah gedung sekolah ternama, aku berdiri, menatap sesosok lelaki yang tengah tertawa ketika menatap sebuah selembar kertas yang tertempel di Mading Puisi. Rizky Satria Adriansyah, itulah nama yang setiap hari ku sebut di dalam kehidupanku. Sudah lebih dari dua setengah tahun aku menyukainya. Setiap minggu ku buat puisi yang tak pernah habis tentang dirinya, seperti hari ini ku kirimkan puisi yang ku buat tentang dirinya ke ekskul madding,tentu saja tanpa identitas namaku. Aku tidak pernah bermaksud merebut hatinya, aku hanya ingin ia tau bahwa aku sangat menyayanginya.
            Saat ini, aku hanya dapat menunduk, menatap dia dalam kehampaan hati. Puisi yang kubuat untuknya kali ini sungguh tak ia baca, padahal sudah jelas namanya tercantum di dalam puisi tersebut. Namun ia hanya melirik sekilas dan kembali ke dalam kesibukannya dengan teman-temannya.
            “ eh San , bengong aja lu.. Ngeliatin apaan sih ? Rizky lagi ? “ tanya Ghea yang kini sudah berada di sampingku. Aku pun hanya dapat menoleh dan tersenyum kepadanya,
            “ iya hehe kan gue cinta mati sama dia. Eh Abis ini Bu Nindy gak ada kan ? mumpung jam terakhir, gue ke perpus ya Ghe. “ ijinku padanya sambil berlalu pergi meninggalkannya yang kini sudah di temani Ihsan.
Aku pun berjalan menyusuri lorong sekolah, menuju ke perpustakaan. Disana aku ingin mencari sebuah buku puisi yang berjudul Rindukan Dirimu yang ditulis oleh Stevano Adriansyah seorang penyair muda yang tak lain adalah anak dari  teman Papanya, dialah inspirasiku menjadi seorang penyair. Ku lihat buku tersebut berada di atas rak buku yang paling atas, ku coba menggapai buku itu, namun gagal. “ duh kok gak ada orang sih ? mana bukunya paling atas lagi. “ gumamku dalam hati. Aku pun mencoba lagi berkali-kali, sampai ketika ku lihat sebuah tangan yang ku rasa pemiliknya cukup tinggi mengambilkanku buku tersebut.
“ nih, makanya kalo gak nyampe tuh bilang. “ ucap orang tersebut sambil menyerahkan sebuah buku bersampul plastic kepadaku.
“ eh i..iya.. makasih ya “ jawabku gugup ketika ku tahu siapa yang membantuku. Rizky, tak pernah ku sangka kalau aku dapat berbicara dengannya saat ini. Inilah perbincangan pertamaku dengannya.
Namun itu hanya sementara, kini aku kembali duduk sendiri di tempat itu, ku teruskan membaca buku puisi tersebut, aku teringat puisi yang kemarin ku buat untuk Rizky,

Pertama ku sentuh warnamu
Saat hati ini gersang, penuh dengan debu..
Kau buat aku tertunduk kembali
Merenung dan menatap jauh ke dalam mata indahmu..
Sungguh aku tenggelam dan hanyut dalam lautan cinta
Jujur, dari lubuk hatiku..
Aku sayang kamu,
Aku cinta kamu,
Dan akan slalu rindu padamu
Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada padamu.
            Bagi orang lain mungkin puisi itu sederhana, namun bagiku itu adalah sebuah puisi yang melukiskan perasaanku kepadanya. Aku hanya tersenyum ketika ku ingat puisi tersebut, namun tiba-tiba…
            Tess ..
            Menetes setitik darah yang keluar dari lubang hidungku, ku raba hidungku dengan jemariku, lalu ku lihat jemariku yang kini sudah berlumuran darah, aku pingsan tepat saat ku dengar Ghea memanggil namaku. Aku hanya dapat mendengar sebuah kata “ Rumah Sakit “ terngiang di telingaku.
            Gelap.. semuanya gelap. Aku tidak dapat melihat apa-apa setelah ku buka mataku. Oh tuhan, apa yang terjadi padaku ? apakah tak kau izinkan aku untuk melihat keindahan dunia ini dan melihat Rizky lagi.
            “ Ghe..Ghea.. “ ku panggil sahabatku itu dengan rabaan tanganku di udara.
            “ iya San, Shany sabar yaa, Shany harus kuat. Shany gak boleh putus asa. Ada Ghea sama Ihsan yang bakal selalu nemenin Shany. “ sahut Ghea dengan isakan tangisnya sambil menggenggam tanganku.
            Aku teringat ketika aku kerumah sakit 8 bulan yang lalu, Aku di vonis oleh dokter menderita penyakit kanker Otak yang tak mungkin bertahan lama.
            Sementara itu…
            “ eh ky, tumben si penulis puisi buat lu itu udah gak nerbitin karyanya ? kemana tuh orang ? padahal puisinya bagus bagus banget lho,” tanya Angga kepada Rizky saat mereka berjalan di lorong kelas.
            “ tau dah. “ jawab Rizky singkat.
            Angga pun hanya menggeleng, dan menangkap bola yang ketika itu juga terlempar kearah dirinya. Ia pun melirik Rizky, “ mau main ?” tantang Angga.
            Rizky menolak, “ gak ah. Gue lagi gak nafsu main basket.” Jawab Rizky lesu sambil berjalan meninggalkan Angga.
            Angga melempar kembali bola basket tadi ke lapangan, dan menyusul Rizky yang kini sudah berada di depannya. “ Ky.. Ky.. lu kenapa sih ? lemes amat ? kangen ya sama penulis lo itu ? hahaha “ ejek Angga yang tengah menyejajarkan langkahnya dengan Rizky.
            Rizky hanya dapat tertawa, “ hahaha. Gak tau dah, gue ngerasa kangen aja sama semua puisi bikinan dia. “ jawab Rizky sambil duduk di bangkunya ketika mereka sudah tiba di dalam kelas.
            “ udah gue duga haha, eh Ky kira-kira S.A yang nulis puisi itu siapa ya ? menurut lu siapa Ky ?” tanya Angga sembari minum .
            Rizky termenung sesaat, “ hmm.. Salsa Anugrah maybe ?” tanya Rizky mengerutkan dahinya.
            “ Salsa ? gak ah gak mungkin ! gila lu. Cewek cheers gitu mana bisa bikin puisi ! kalo Samira Alghea gimana ? si Ghea lho. “ jawab Angga sambil mengingatkan Rizky pada teman sekelasnya tersebut.
            Rizky memberikan toyoran langsung di kepala Angga, “ ngaco lu stress ! itu pacarnya Ihsan. Gila mau digebukin gue ama anak buahnya Ihsan. Ckck “ ucap Rizky ketika ingat bahwa Ghea adalah Pacarnya Ihsan, seorang anak dari donatur terbesar di sekolah mereka.
            Angga pun hanya terkekeh kekeh, “ haha. Abisnya siapa dong ?”
            “…”
            “ Ky.. siapa ?”
            “ Shany ” gumam Rizky pelan.
            “ hah ? Shany ? kok bisa ? cewek pendiem kaya gitu. “
            Rizky langsung melempar sebuah buku ke arah Angga, “ dih bego ! justru karena dia pendiem dodol. Setau gue, orang yang suka bikin puisi tuh rata-rata orangnya pendiem. Lagian kemaren juga gue ngeliat dia di perpus lagi baca buku Puisi.”
            “ Nahh brarti itu dia si Shany yg nyamar jadi S.A , eh tapi bentar deh S.A apaan S-nya kan Shany, nah A nya apaan ?” Tanya Angga.
            Mereka diam sejenak.
            “ ASHANNY !” teriak mereka berdua serempak.
                                                                                    ***
            Sementara di tempat lain, di sebuah Rumah Sakit ternama di daerah Bandung tepatnya di kamar 309, Aku terbaring lemas dengan dunia gelapku yg baru. Aku malu masuk sekolah, aku tidak berani pergi sekolah. Aku malu dengan keadaanku yang buta seperti ini, aku takut dihina, aku takut dicaci. Aku takut Rizky semakin membenciku. Dan aku tidak mau itu terjadi. Kini biarlah aku sendiri memendam rasa sayangku untuknya. Aku yakin lama-lama dia akan tahu bahwa aku sangat menyayanginya.
            “ Mama… “ panggilku lirih.
            “ iya sayang, ada apa? Mama disini.” Jawab Mama lembut sambil mengelus rambutku.
            “ kapan Shany bisa ngeliat lagi mah, Shany gak mau buta, Shany pengen bisa liat dunia lagi. Kapan Shany sembuh mah? “  tanyaku di sela isak tangisku.
            Aku dapat merasakan kalau Mama juga tengah menangis dengan keadaanku ini, “ Shany, kamu bakal bisa ngeliat lagi kok, Shany gak boleh nyerah ya, walaupun untuk saat ini kamu belum bisa melihat dengan mata kamu, tapi kamu bisa melihat dengan hati kamu. Kamu masih bisa merasakan dunia dengan hati kamu Shany. Kamu gak boleh nyerah ya ? kamu bakal sembuh sayang, Mama sama Papa janji akan berusaha nyembuhin kamu dari penyakit ini. “ jawab Mama sambil memelukku yg tengah diam-diam menbersihkan darah yang mengalir dari hidungku.
                                                                                    ***
            Keesokan harinya di Ruang Redaksi Mading sekolah,
            “ ayo dong Vin, kasi tau kita siapa yg suka nulis puisi buat Rizky, kita Cuma pengen tau orangnya aja kok. “ rayu Angga kepada Vina, Editor Mading yg tugasnya mengumpulkan hasil karya para Siswa.
            “ tau Vin, ayo dong kasi tau nama nya doang elah, penting nih. “ bantu Rizky sambil mengikuti kemana pun Vina pergi.
            Vina yg dari tadi bergerak kesana-kemari pun akhirnya duduk di meja redaksi, “ buat apaan sih?  Yg penting kan kalian bisa baca puisinya kemarin-kemarin. “ jawab Vina jutek.
            Angga yg sudah habis kesabarannya pun mulai mengeluarkan jurus rayuan terakhirnya, “ Vin.. hiks.. ayo dong Vin, ka.. kasih tau, kita.. kita cuma pengen minta dia bikin puisi lagi. Kita kangen sama puisi dia. Hiks, ayo dong Vin, tega banget lo sama orang cakep kaya kita gini. “ ucap Angga sambil pura-pura menangis. Rizky yg melihatnya pun terpaksa menahan tawa melihat usaha temannya kali ini.
            Vina yg mendengarnya pun diam, menarik bangkunya ke depan, menegakkan duduknya, dan menghela nafas panjang sebelum memberitahukan keputusannya, “ oke, gue kasih tau. Tapi kalo dia nanya kalian tau identitasnya dari mana jgn bilang tau dari gue. Bilang aja kalian ngelacak sendiri,” ucap Vina sambil menyerahkan selembar kertas berisi data diri si “S.A” tersebut.
            “ sip deh Vin, thank you ya Vinaaaa. Bye”    
            Setelah mendapatkan data tersebut kami berdua segera pergi menuju CafĂ© favorit kami di salah satu jalan Dago di Bandung,
            “ Tuh kan bener ini tuh si Shany ! nih namanya Ashanny Mentari. Gila gak nyangka gue tuh anak puisinya keren-keren banget ! “ ucap Rizky heboh ketika melihat data diri Shany.
            Angga yg melihat tingkah laku Rizky yg aneh pun terpaku, “ Ky, lo kok jadi heboh gitu sih. Mending kita ke Ghea aja, kita cari tau alesan si Shany bikin-bikin puisi buat lo. Biar lebih lengkap daripada kita asal-asal nebak mulu. " saran Angga.
            “ iya dah, cabut sekarang aja yok. Gue pengen nih masalah cepet selesai. “
            Akhirnya motor kami segera kami lajukan di jalan raya menuju ke rumah Ghea sore itu juga, untungnya besok libur. Jadi hari ini kami bisa pergi sampai malam karena tidak takut besok telat sekolah.
                                                                                    ***
            “ ini rumahnya Ghea ?” Tanya Angga kepada Rizky saat berada di depan sebuah rumah.
            Rizky mengangkat bahunya,” katanya sih gitu.”
            Angga hanya dapat menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju rumah tersebut.
            Tok..Tok.,.Tok..
            Mereka mengetuk pitu rumah Ghea, berharap Ghea ada di dalam rumah nya. Dan tepat sekali, yg keluar Ghea. Ghea yg melihat siapa yg bertamu ke rumahnya pun terpaku.
            “ Rizky ? Angga ? ngapain kalian kemari ?”
            Rizky menyenggol lengan Angga menyuruh temannya menjelaskan perihal kedatangannya, “ ehm.. jadi gini Ghe, si Rizky itu mulai ngerasa kangen sama semua puisi yg sering ditempel di madding buat dia. Jadi…”
            “ stop stop stop, trus kalo kalian kangen sama isi madding itu, ngapain kalian datang kemari ?” sambung Ghea menghentikan pembicaraan Angga yang belum selesai itu.
            Rizky akhirnya mulai angkat bicara, “ udah deh Ghe, lo gak usah pura-pura gak tau siapa yg nulis puisi itu. Kita berdua tau yg nulis puisi itu tuh si Shany. Kita berdua udah nyari tau kesana kemari tentang penulis puisi itu. Jadi lo gak bisa boong sama kita.” Ucap Rizky sambil berlalu menuju motornya menahan emosinya ketika merasakan kalau Ghea ingin menutupi keberadaan Shany.
            “ dan tambahan lagi Ghe, si Rizky itu kayanya mulai ngerasa sayang sama Shany. Makanya dia rela malem-malem gini keluar nyari info tentang Shany ke lo. Selama Shany gak muncul di sekolah, tiada hari deh si Rizky tanpa ngomongin dia. Gue aja sampe bosen. Haha ya udah deh, gue Cuma pengen bilang gitu aja. “ jelas Angga.
            Ucapan Angga tentang perasaan Rizky pun mulai mencengkeram hatinya, Apa harus gue bawa Rizky nemuin Shany. Tapi apa Rizky masih bisa terima dengan keadaan Shany sekarang ini. Ya tuhan, bantu aku kali ini saja. Gumam Ghea dalam hati. Dan secara tidak sadar dia memanggil Rizky yg sudah menaiki motornya.
            “ Rizky !! tunggu.. gue bakal ngejelasin semua tentang Shany !” teriak Ghea dari teras rumahnya.
            Rizky dan Angga yg mendengar teriakan tersebut pun hanya dapat tersenyum dan mulai menghampiri Ghea yg menyuruh mereka duduk dulu.
            “ gue bakal ceritain semuanya sama kalian. Khususnya buat lo Ky, “ ucap Ghea dengan mata tajam ke arah Rizky.
Rizky pun mengerutkan keningnya lalu mengangguk saat mendengar ucapan Ghea sebelumnya. Akhirnya Ghea pun menceritakan semuanya kepada Rizky dan Angga kalau Sebenarnya Shany itu menyukai Rizky bahkan menyayanginya, dan perasaan itu sudah dipendam oleh Shany sekitar tiga tahun, pada awal mereka masuk ke SMA tersebut. Dan 8 bulan yg lalu Shany mendapat vonis dari dokter bahwa ia mengidap penyakit Kanker Otak stadium akhir yg menurut dokter nyawanya sudah tidak akan lagi dalam beberapa hari ini.
                                                                        ***
            Pagi hari berikutnya Rizky sudah menginjakkan kaki di depan pintu ruangan Shany, dan ia baru menyadari bahwa tidak ada orang lain di daerah tersebut selain dirinya. Rizky mulai membuka pintu ruangan tersebut dan melihat sesosok gadis terbaring lemah di ranjangnya. Shany koma, itu informasi terakhir yg ia dapatkan dari Ghea.
            Rizky duduk di kursi di samping ranjang Shany, ia mulai menggenggam tanganku, mencium jemariku, dan mengelus rambut ku dengan lembut.
            “ Shan, maafin gue yah kalo gue baru bisa jenguk lo sekarang. Gue udah nyari tau kesana kemari dan baru dapet informasi tentang lo kemarin. Shan gue kangen sama semua puisi bikinan lo, gue juga kangen lo Shan.” Ucap Rizky sambil melihat ke arah mesin pemantau detak jantung yg berada di sampingnya untuk mengetahui kehidupan ku.
            “ gue pengen jujur shan sama lo, walaupun gue gak yakin lo denger ucapan gue apa enggak. Gue sayang sama lo, gue mulai ngerasain itu pas gue baca puisi-puisi karya lo itu, dan sejak itu gue selalu merhatiin lo di kelas, gue sayang sama lo. Haha mungkin lo gak yakin kali ya kalo gue suka sama lo Cuma karena puisi. “ ucap Rizky sambil menghapus air mata yg mulai mengalir di pipinya.
            Rizky kembali menggenggam jemariku dengan erat, “ tapi gue bener-bener sayang sama lo Shan, gue khawatir pas tau lo gak masuk sekolah, gue takut lo kenapa-kenapa. Eh ternyata lo malah nginep disini. Haha oiya satu lagi, tau gak semenjak gue suka sama lo gue jadi seneng baca buku sastra Shan, gue paling suka itu buku Romeo dan Juliet soalnya cinta mereka itu abadi sampai akhir hidup mereka, gue juga berharap kisah mereka itu juga terjadi sama kita. Bakal abadi. “ sambung Rizky kembali menahan air matanya dan menangis di dalam tundukannya.
            “ Shan , Cuma satu kata saat ini yg pengen gue ungkapin sama lo, Gue Sayang sama lo Shan. And I’ll go wherever you go Shany “ ucap Rizky.
            Rizky terkejut ketika selesai berbicara dia melihat mesin pemantau detak jantung ku memperlihatkan garis lurus. Rizky spontan menggoyang-goyangkan tubuh ku mencoba membangunkanku masih dengan air mata yg mengalir deras di wajahnya. Namun aku tidak dapat bereaksi apa-apa karena memang aku sudah berada di alam yg berbeda dengannya. Maafin aku Ky, aku harus pergi. Makasih karena akhirnya aku bisa pergi dengan mudah ninggalin kalian. Makasih atas balasan rasa sayang kamu ke aku ky. Aku juga sayang banget sama kamu. Akhirnya aku bisa nepatin janji aku yg bakal sayang sama kamu sampai aku menutup mata. Terimakasih ky.
            Rizky yg sadar bahwa aku telah tiada pun mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung jaketnya. Pisau, ya dia mengeluarkan benda itu dan melekatkannya di pergelangan tangannya dan menggoreskan pisau tersebut ditangannya.
            “ I’ll go wherever you go Shany,” ucapnya terakhir kali sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di samping Shany.
            Keesokan harinya…
            Kami berdua berpegangan tangan dan melihat proses pemakaman kami dari kejauhan, kami dimakamkan bersebelahan. Terimakasih Tuhan, akhirnya kami dapat menyatu walaupun bukan di dunia nyata, tapi aku dapat menepati janjiku bahwa aku akan mencintai Rizky sampai mati, dan Rizky juga dapat menepati janjinya bahwa ia akan mengikuti ku kemanapun ku pergi walaupun harus pergi dari dunia ini.
Akhirnya kisah kami telah selesai, dan kami telah menemukan kebahagiaan kami yg sebenarnya. Kebahagiaan Cinta yg abadi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar