SHILLA P.O.V
“ Halo teman-teman nama Saya Ashilla Zahrantiara, panggil aja Shilla, mohon bantuannya selama saya sekolah disini ya. terimakasih.” Ucapku memperkenalkan diri di depan kelas.
Ya, hari ini adalah hari pertamaku bersekolah di Melodi Junior High School. Aku pindah ke sekoah ini mengikuti permintaan Papaku yang berpindah tugas ke Bandung ini. Tapi kenapa Papa memilihkan sekolah ini untukku? Anak-anak kelas ini sungguh pendiam. Beda sekali dengan teman-temanku di Jakarta dulu. Aaah, aku kangen Jakarta. Padahal aku baru 4 hari berada di sini.
“ silakan kamu duduk di baris ke tiga itu ya, di depan cowok itu.” Ucap Bu Gita sambil menunjuk seorang cowok yang tengah menyenandungkan lagu dengan pelan.
Aku pun berjalan ke arah yang dimaksud Bu Gita, sebuah bangku yang berada di samping gadis cantik berambut panjang yang tersenyum kepada ku saat aku menaruh tasku di sampingnya, “ Hai..” sapaku manis.
“ Hai juga, gue Ify.” Ucapnya menyebutkan namanya.
“ gue Shilla..” balasku.
Hari itu berjalan dengan lancar sampai istirahat tiba, beberapa pelajaran bisa ku ikuti dengan baik. Meskipun aku belum mendapatkan buku cetak dan itu artinya Shilla harus merelakan bukunya berdua denganku. Namun sepertinya dia tidak keberatan, dan itu cukup membuatku lega karena itu artinya aku tidak merepotkannya.
Bel istirahat telah berbunyi, aku menghadap kebelakang dan memasukkan buku-bukuku ke dalam tasku, sampai ketika pandangan ku tertuju pada cowok yang sedari tadi aku memasuki kelas ini tetap diam sambil bersenandung kecil mengikuti lagu yang terputar dari mp3 playernya.
Dia melirikku dengan mata yang mampu melelehkan hati siapa saja. Ya Tuhan, matanya indah sekali. Tapi tunggu, kenapa dia melirikku sangat tajam sekali, tatapan matanya itu seperti sangat membenciku. Apa salahku? Kenapa dia melihatku seperti itu. Ah lebih baik aku keluar saja, daripada terus-terusan bersama dengan tatapan mata nya yang mengerikan itu.
“ keluar lo!” bentak cowok tersebut membuatku terkejut.
Aku berlari kecil keluar kelas dan terdiam saat berada di depan kelas, “gila! Itu cowok siapa coba berani ngusir-ngusir gue, dikira ini sekolah punya dia apa! Aduh gue juga bodoh banget sih, kenapa gue gak ikut Ify tadi, gue kan gak tau kantinnya dimana.” Umpatku dalam hati.
“ Shilla !,” teriak seseorang memanggilku, aku menoleh ke arah pemilik suara tersebut, “ sorry ya gue ninggalin lo, lo udah lama diluar? Di dalem tadi pas istirahat lo sama siapa? “ tanya Ify beruntun tanpa ada koma di dalam pertanyaannya.
“ di kantin aja ya Ify, gue laper nih. Hehe “ pintaku sambil mengelus-ngelus perutku memberinya isyarat bahwa para rakyat di dalam perutku ini perlu di beri asupan makanan.
Ify tertawa dan mengajakku turun ke kantin yang berada di samping sekolah, “ ya udah yok.”
Keren! Itulah kata pertama yang terucap dari bibirku saat aku memasuki wilayah kantin sekolah ini. Ini sih bukan kantin sekolah, tapi Restoran, larat ku dalam hati melihat suasana kantin. Bangku dan meja tertata rapi dengan para siswa siswi yang sudah mendudukinya, counter makanan pun tersebar di sekeliling kantin itu. Dari mulai makanan yang sangat merakyat sekali seperti somay, soto, dan bakso, hingga makanan yang biasa berada di restoran-restoran ternama di Jakarta.
Ify membuyarkan ketakjubanku, “ eh kita makan disana aja yuk!” ajak Ify sambil menarik tanganku dan membawaku ke meja yang berada di samping jendela karena hanya meja itulah yang kosong.
“ lo mau pesen apa? Biar gue pesenin sekalian,“ tanya Ify yang mulai beranjak dari tempat duduknya.
“gue hmm.. jus aja deh, gue udah gak laper,” jawabku yang memang tidak berbohong.
Ify tersenyum dan mengangguk, tak lama kemudian ia sudah kembali membawa dua gelas kaca yang berisi pesananku dan Ify. Ify pun mulai menyeruput minumannya, begitu juga denganku.
“ jadi tadi lo mau nanya apa Fy?” tanyaku teringat pertanyaannya tadi yang belum sempat ku jawab.
“ oh iya lupa, lo tadi pas istirahat di dalem kelas? Sama siapa?”
Aku mengernyitkan dahiku mendengar pertanyaannya, “ sama cowok yang dibelakang kita, yang tatapannya kaya udah mau makan gue mentah-mentah, pake ngusir-ngusir gue lagi, dikira ini sekolah punya dia apa?” omelku mengingat kejadian tadi.
“ Rio maksud lo? Sekolah ini emang punya dia kali Fy, ralat! Maksudnya punya orang tuanya, hmm ralat lagi, maksudnya sekolah ini dibangun berkat bantuan dana orang tua dia beberapa tahun lalu.” Jelas Ify membuat ku tersedak.
“ uhukk uhukk.. “ aku meminum minumanku, “ lo beneran?” tanya ku tak percaya.
“ oke sekarang gue jelasin jadi gini..”
Ify menceritakan awal mula sekolah ini. sebenarnya sekolah ini sudah lama ada, namun sekitar 5 tahun yang lalu sekolah ini mengalami masalah dengan keuangannya dan hampir saja sekolah atau tepatnya yayasan ini ditutup. Namun berkat bantuan orang tua Rio yang notabenenya adalah seorang pengusaha yang memiliki perusahaan dimana-mana bahkan sampai di luar negeri pun ada, sekolah ini tidak jadi ditutup.
Dan sebagai balasan, atau tepatnya ucapan terimakasih sekolah ini kepada keluarga Rio, Rio dibebaskan dari biaya apapun disekolah ini dan bebas melakukan apa saja asalkan dia tidak keterlaluan dan melanggar peraturan sekolah. Ya menurutku percuma saja dia dibebaskan dari biaya apapun di sekolah ini, toh uang keluarganya juga tidak akan pernah habis bukan? Oke kembali ke cerita Shilla.
Mario Stevano Haling, dia adalah cowok yang tadi sempat mengusirku itu, menurut penjelasan Ify ada banyak hal yang membuat Rio disegani oleh guru-guru. Otak Rio sangat cerdas, bahkan termat cerdas, ia sudah berkali-kali mendapatkan medali emas dan juara dalam berbagai macam olimpiade dan lomba music atau festival music yang diikutinya. Banyak orang yang heran melihat kepintaran Rio, padahal jelas-jelas dia tidak pernah memperhatikan guru, kerjaannya di kelas itu hanya duduk, bercanda dengan Ray teman sebangkunya dan mendengarkan lagu dari mp3 playernya.
Dan yang membuatku terkejut adalah saat Ify memberi tahuku bahwa Rio adalah idola sekolah, banya cewek-cewek yang dengan terang-terangan menyatakan perasaanya kepadanya, namun hanya dibalas dengan tatapan dinginnya seperti yang ia lakukan padaku tadi.
“ udah ngerti?” tanya Ify setelah menjelaskan sedikit masa lalu sekolah ini yang ku jawab dengan anggukan.
Tepat setelah anggukan ku tadi, bel tanda istirahat berbunyi, kami segera kembali ke kelas dan medapati kelas sudah ramai, ada yang main lempar-lemparan kertas, ada yang berlari-larian, dan sekelompok cowok yang duduk di pojok belakang kelas bahkan menggebuk-gebuk meja yang mereka anggap sebagai gendang sambil menyanyikan berbagai macam lagu. Haha, ternyata kelas ini tidak seburuk yang aku kira.
“ eh daud, gak ada guru lagi?” tanya seseorang dengan cemas yang ku ketahui bernama Sivia sambil bertanya ke arah ketua kelas kami, Daud yang baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu.
Daud mengangguk dan berjalan ke arah papan tulis lalu memukul-mukulkan penghapus papan tulis ke papan tulis tersebut, membuat keramaian yang itu langsung berubah menjadi hening. Teman-temanku pun seperti di-freeze dan semuanya menoleh ke arah Daud.
“ wooi temen-temen hari ini Pak Duta gak masuk, dan sebagai gantinya kita dapet tugas kelompok dari Pak Duta, katanya kita disuruh bikin makalah tentang aliran musik yang ada di Bab 2, trus kelompoknya itu maksimal 4 orang dan kelompoknya dibagi menurut tempat duduk.” Jelas Daud yang membuat kelas kami langsung heboh mengetahui cara pembagian kelompok tersebut.
“ ah jangan tempat duduk dong! Bebas aja kenapa ud.” Protes seseorang bernama Zevana.
“ jangan Ud bener, menurut tempat duduk aja, jadi kan gue bisa satu kelompok sama Sivia.” Ucap Dayat yang disambut sorakan dari teman-temannya.
“ tapi lo gak bakal sekelompok sama Sivia tuh, tempat lo ada di baris ke lima, jadi lo kelompoknya sama baris ke lima juga yang ada disamping lo, nah yang lainnya, baris 1 sama 2 sekelompok, baris 3 sama 4 juga sekelompok, gitu kata Pak Duta., oh iya 1 lagi, kalo ada yang nolak, katanya disuruh nemuin Pak Duta di rumahnya!” ancam Daud dan kembali ke tempat duduknya.
Teman-temanku menelan ludahnya mencoba menahan dirinya agar tidak protes dan berhadapan dengan guru yang terkenal dengan hukuman mautnya itu,.
“ eh Shalli..” panggil seseorang yang duduk di belakang Ify.
Aku menoleh dan menatapnya heran, “ lo manggil gue? “ tanyaku sambil melirik sedikit ke arah Rio yang duduk disampingnya.
“ nama dia Shilla, bukan Shalli..” ralat Ify sambil mengeluarkan buku cetaknya dari dalam tas dan membantingnya secara halus di meja Ray.
“ eh iya sorry, gue salah denger berarti.. “ ucapnya meminta maaf.
“ iya gak papa kok, “ ucap ku.
“ sekarang kita bagi tugas ya, kan tugas nya dikumpulin besok, jadi mau gak mau hari ini juga pulang sekolah kita harus kerja kelompok, siapa yang mau rumahnya dijadiin markas kita hari ini?” tanya Ify, “ di rumah gue gak bisa, soalnya ada persiapan buat pesta perusahaan Mami,” ucap Ify.
Kami terdiam, Ify menatap Ray, “ ooh enggak enggak jangan, hari ini ada Ozy dirumah, yang ada ntar kita malah dijadiin pembantu dan kerjaan kita di recokin sama adek gue itu.” Tolak Ray.
Ify dan Ray pun menoleh ke arahku, “hah? Jangan dirumah gue, kalian kan tau gue baru pindah, jadi rumah gue masih berantakan dan barang-barang nya belum rapi, “ tolakku.
Ify pun kembali menatap Ray, “ lo yang urus yah?” pinta Ify.
Ray pun mengangguk, “ oke ntar pulang sekolah kalian jangan pulang dulu aja ya, trus sekarang gimana pembagian tugasnya?” tanya Ray.
“ oke jadi gini, pertama yang cari bahan gue ya, nanti yang ngerangkum dan nyari penting-pentingnya aja elo Ray, Ify yang bikin kerangka makalahnya, dan emm, Rio yang ngetik makalahnya, “ perintah Ify.
Rio saat itu memang masih mendengarkan lagu, tapi matanya tetap memperhatikan intruksi dari Ify,” kalo gue gak mau?” tolak Rio sambil memakan sebungkus Chitato yang berada dari genggaman tangannya.
Gila, nih cowok gak ada tanggung jawabnya banget sih, mentang-mentang anak donator terbesar sikapnya jadi semena-mena kaya gini, umpatku dalam hati.
Ify menghela nafas, “ huuuff, Shil lo bisa kan sekalian ketikin dan diprint?” pinta Ify berharap Shilla tidak menolaknya.
“ gue mau ngerjain, tapi gak ada nama dia di dalam tugas kita.” Ucapku santai.
Rio menatapku tajam dan ku balas juga dengan tatapan sinis, “ apa? Gak terima? Kalo gak terima ya lo harus kerja juga dong, enak aja lo diem duduk santai kaya gitu dapet nilai sama dengan kita yang ngerjain tugas itu mati-matian.” Omelku membuat anak-anak sekelas menatap ku tercengang.
“ gila si Shilla berani banget ngomel-ngomel sama Rio. Cari mati banget.” Ucap seseorang yang sempat terdengar di telingaku.
Rio bangkit keluar dari tempat duduknya, dan berjalan ke tempat dudukku, dia mengubah pandangan ku menjadi menghadapnya, dia yang berdiri membungkukkan badannya ke arahku dengan menopang tangannya di meja dan bangkuku.
“ gak ada yang boleh nolak perintah gue disini!” bisiknnya di telingaku.
Aku tercengang, “ peraturan apaan itu? Gak masuk akal! Lo kan sama kaya kita, sama-sama murid, jadi gak ada peraturan konyol kaya gitu dikelas sini.” Balasku.
Rio menarik tubuhnya dari hadapanku, “ lo gak punya hak buat nolak perintah gue!” ucapnya lagi tajam.
“ bodo, pokoknya kalo lo gak mau ikut kerja! Gue gak bakal naro nama lo di tugas itu, dan dengan sangat amat berbahagia, gue bakal bilang ke Pak Duta kalo lo, Mario Stevano Haling bukan salah satu dari anggota kelompok gue!” bentak Ify dengan berani di depan muka Rio.
Rio melotot ke arahku, membuatku nyaliku sedikit citu, namun aku teringat kembali dengan sifat dia yang sombong dan membuat nyaliku meninggi lagi.
“ lo siapa sih?” tanya Rio menatapku heran.
“ elo tuh ya, udah jelek, sombong, sok, judes, ternyata juga budek ya, gue kan tadi udah bilang nama gue ASHILLA ZAHRANTIARA, and you can call me SHILLA !” ucapku telak membuatnya diam.
“ oh.” Jawabnya singkat dan beranjak keluar kelas tak lupa membawa mp3 nya dan sebuah gitar.
Aku tercengang melihat reaksinya, “ dasar gila! “ makiku membuatnya menoleh dan menatapku dengan sinis.
Ray dan Ify mencoba menenangkan emosi ku, Ify pun menyuruh Ray mencari buku berjudul History Of Musical World di perpustakaan. Aku pun berniat untuk ikut dengan Ray, meninggalkan Ify yang tenggelam dalam pekerjaannya tepat nya pekerjaan kelompok kami. Tidak apa-apa bukan aku meninggalkannya saat ini? Toh aku juga sudah mendapatkan bagian pekerjaan ku nanti, batinku dalam hati sambil menyusul Ray.
Rio P.O.V
Aku berjalan dengan gitar berada di dalam genggamanku, ku langkahkan kakiku menuju sebuah gedung yang berada terpisah dengan gedung sekolah. Gedung Musikal, begitu biasa sekolah ku menyebutnya. Haah, aku sudah tidak tahan sekolah di sini, mereka terlalu membebaskan ku. Sekolah macam apa ini? Apa karena Papa adalah donator terbesar sekolah ini lalu mereka memberikan kebebasan padaku? Alah, alasan konyol.
Kini aku sudah berada tepat di depan gedung itu. Cklek! Kriit, derit bunyi pintu itu terdengar saat aku mulai membuka pintu gedung itu. Aku berjalan menuju sebuah grand piano putih yang dulu adalah milikku, aku raba perlahan puncak grand piano itu. Merasakan masa lalu yang mulai merayapi sebagian fikiranku.
Mama.. wajah itu muncul di dalam fikiran ku saat aku duduk di kursi di depan grand piano tersebut, aku taruh gitar ku disampingku. Aku rindu Mama, Mama dimana? Kenapa Mama tidak bilang padaku kalau ia akan pergi meninggalkan ku.
Masa lalu itu kembali masuk ke dalam fikiran ku, dimana terlihat aku, Mama, dan Papa yang tertawa terbahak-bahak saat bermain di dalam arena Perang Bintang di Dufan, tawa ku sangat lepas sekali saat itu, suatu kenangan yang terjadi kira-kira 8 tahun yang lalu, saat aku berumur 6 tahun.
Ting..ting..ting.. ku tekan beberapa tuts piano yang berada di hadapan ku itu. Dulu setiap hari, aku dan Mama selalu menyempatkan berlatih piano dengan grand piano putih ini dirumah, sebelum Mama pergi dan Grand Piano ini disumbangkan ke sekolah ini.
Ku buka album biru..
Penuh debu dan using..
Ku pandangi semua gambar diri..
Kecil bersih belum ternoda..
Fikir ku pun melayang..
Dahulu penuh kasih..
Teringat semua cerita orang..
Tentang riwayatku..
Aku rindu Mama, pulang lah Ma. Aku tidak membutuhkan materi dari Papa, aku butuh kasih sayang, aku rindu peluk mama, aku rindu kecupan mama di pipi dan keningku, aku rindu suara Mama, Aku rindu segala yang ada di dalam diri Mama. Aku rindu masa kecil ku Ma, rindu saat kita bermain bersama, saat aku menemani Mama memasak, dan saat aku tertawa melihat wajah Mama yang penuh terigu saat ku oleskan terigu putih itu di wajah Mama. Bayangan itu kembali muncul, bayangan Mama yang memarahi ku dan mengucapkan Mama Sayang Rio.
Kata mereka diriku..
Selalu dimanja..
Kata mereka diriku..
Selalu ditimang..
Nada-nada yang indah..
selalu terurai darinya..
tangisan nakal dari bibirku..
takkan jadi deritanya..
Aaah aku tidak kuat menyanyikan lagu ini sampai habis, bisa-bisa gedung ini bisa jadi menghasilkan pabrik air mata nanti. Sudah lah, aku kan sudah pernah berjanji dulu kalau aku tidak akan bermain piano lagi. Aku harus mengubur semua kenangan itu. Biarlah kenangan Mario dan Mama tersimpan di dalam hati ku, semuanya sudah terlambat. Aku tidak akan pernah bisa lagi mencegah kepergian Mama.
Tiba-tiba telinga tajam ku mendengar isakan tangis dari arah pintu masuk. Ada seseorang di sana, aku bangkit dari dudukku dan mendekati suara tangisan itu. Ku buka pintu yang tertutup sedikit, ku tengok ke arah kanan luar pintu tersebut,
“ elo lagi.” Ucap ku saat melihat siapa yang ada disana.
Shilla P.O.V
Aku tengah berjalan bersama Ray menuju perpustakaan, sesampainya disana mereka mengisi buku tamu dulu atau tepatnya buku pengunjung. Kami pun berpencar di dalam perpustakaan. Ray mencari buku yang dimaksud Ify, sedangkan aku? Aku hanya berkeliling saja melihat-lihat suasana perpustakaan ini.
Buku-buku berbaris rapi di dalam rak buku yang tertutup kaca. Heran, itulah perasaan ku saat ini. Baru pertama kalinya aku melihat perpustakaan yang bukun-bukunya berada di dalam lemari kaca. Benar-benar sekolah yang hebat. Lebih hebat dari sekolah ku yang dijakarta dulu.
Tiba-tiba aku ingin buang air kecil, aku pun mencari Ray di dalam perpustakaan itu. Ku temukan ia tengah menaiki tangga untuk melihat buku-buku yang berada di bagian rak atas.
“ Ray! “ panggilku sambil melihat Ray yang ada di atas sana.
Ray menengok ke bawah, “ apa?” tanyanya.
“ gue mau ke WC, WC nya ada dimana?” tanyaku.
“ lu keluar perpus belok ke kiri, jalan aja terus nanti ada Gedung Musikal, nah di samping gedung musikal itu udah WC. “ jelas Ray sambil melanjutkan kembali pekerjaannya.
Aku pun mengikuti penjelasan Ray tadi, Belok kiri, jalan terus. Aku berjalan terus sambil melihat-lihat ruangan di samping kiriku. Sampai ketika ku dengar ada alunan piano yang sangat menyentuh, dengan suara penyanyinya yang mengalun sangat merdu , lembut dan amat sangat menyentuh siapapun yang mendengarnya.
Aku melihat papan yang berada di atas pintu ruangan itu, “ Gedung Musikal” gumamku pelan.
Rasa penasaran itu mulai memaksaku untuk masuk ke dalam sana, kini tangan ku sudah memegang gagang pintu ruangan itu. Ku buka perlahan tanpa menimbulkan bunyi apapun. Ku tengok kan kepalaku ke dalam ruangan itu. Rio.. ya laki-laki yang tadi sempat membentaknya dan bertengkar dengannya kini tengah diam membisu di depan sebuah grand piano putih di dalam gedung musikal.
Secara perlahan Rio memainkan piano tersebut dengan baik, dan menyanyikannya dengan sangat merdu bahkan suaranya amat sangat merdu untuk di dengar. Suara itu seperti mencurahkan bagaimana perasaan nya saat itu. Suara kerinduan seorang pemuda terhadap ibundanya.
Shilla terenyuh mendengar nyanyian itu, tanpa sadar air matanya mulai menetes mengingat Mamanya. Shilla pun menangis terisak selama lagu itu disenandungkan.
Tangisannya terhenti saat pintu di sampingnya terbuka, “ lo lagi.” Ucap pemuda itu.
“ eh sorry, gue gak sengaja lewat sini. Sorry sorry, “ ucap ku ingin berlalu namun langkahku tertahan oleh Rio yang menggenggam tanganku.
Rio mengangkat wajahku, “ elo nangis? Cengeng!” ucapnya sambil menghapus air mata di wajahku dengan jemarinya, “ gue gak punya sapu tangan ataupun tisu,jadi gue ngelakuin ini terpaksa. Karena gue paling gak bisa ngeliat cewek nangis.” Jelasnya sambil masuk kembali ke dalam gedung itu meninggalkanku yang masih diam melihat sikapnya.
“ cowok aneh, tadi galak, sekarang baek.” Ucap ku sambil berlalu.
Sepulang sekolah..
“ Fy, jadinya gimana? Kita kerja kelompok di rumah siapa?” tanya ku pada Ify yang tengah memasukkan buku-bukunya.
Ify mengangkat bahunya, “ gak tau, tanya Ray deh coba.” Saran Ify sambil menunjuk Ray dengan dagunya yang tengah mengobrol dengan Olivia di belakang.
Aku pun mengangguk dan menghampiri Ray, “ eh kerja kelompok di rumah lo aja yaa? Gapapa deh di gangguin adek lo, dari pada kita gak ngumpulin.” Pinta ku.
“ aah jangan dirumah gue, adek gue tuh rusuhnya udah stadium akhir. Yang ada ntar lo malah spot jantung lagi dikerjain ama dia.” Tolak Ray –lagi-.
“ ayo lah, kita mau kerja kelompok dimana lagi?” rayuku.
Ray menoleh ke arah Rio yang masih membenarkan senar gitarnya, “ Yo, dirumah lo bisa?” tanya Ray.
Rio melihat ke arah Ray, “ lo lupa ya? gue kan bukan kelompok lo.” Ucap Rio sambil tersenyum lega melihat gitarnya sudah benar.
“ hah? Lo keluar dari kelompok gue?” tanya Ray tercengang.
“ tanya aja sama dia” ucap Rio sambil menunjukku,” udah ah gue pulang duluan.” sambungnya lagi berlalu keluar kelas.
“ shilaaaa, kejar Rio. Bilang kalo lo gak jadi ngeluarin dia! Ayo lah, demi kelompok kita Shil.” Rayu Ify yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.
“ iya Shil, ayo buruan sana!” ucap Ray.
Author P.O.V
Rio berjalan melewat lapangan dengan tatapan takut teman-temannya, di parkiran ia bertemu dengan Alvin. Sahabatnya saat mereka di kelas VII.
“ Alvin !” panggil Rio.
Alvin yang ingin membuka pintu mobilnya pun tertahan dengan panggilan Rio, “ eh elo Yo, udah lama gak ngobrol bareng. Mau pulang?” tanya Alvin menutup kembali pintu mobilnya yang tadi sudah terbuka sedikit.
“ iya, gue mau pulang.” Jawab Rio singkat.
Masih sama kaya dulu, batin Alvin dalam hati, “ gue denger-denger tadi ada anak baru dikelas lo? Katanya cantik?” tanya Alvin sambil bersender di badan mobilnya.
“ cantik? Gak sama sekali, “ jawab Rio sinis.
Alvin tertawa, “ waah, ada apaan nih dengan Tuan Mario? Kayanya ada perang ya tadi.” Duga Alvin.
“ dia berani ngelawan gue, ya jelas lah gue marah.” Jawab Rio sambil membuka handphonenya yang daari tadi terus bergetar.
Alvin terpaku, “ gila, berani banget tuh cewek, yang mana sih orangnya? Gue penasaran, gue denger-denger dari anak-anak, dia cantik, juga pinter.” Ucap Alvin.
“ pinter?”
“ iya, kenapa? Takut kesaing? Tenang aja lagi, otak lo tuh gue akuin udah level paling tinggi, gak mungkin ada yang dengan gampang ngalahin lo.”
“ hmm, iya juga,”
“ RIOOOO!” teriak seseorang dari arah belakang mereka.
Rio dan Alvin menoleh ke arah pemilik suara tersebut, “ gila cakep banget.” Gumam Alvin saat melihat Shilla di hadapan mereka.
Shilla nampak terengah-engah dengan keringat bercucuran di wajah putihnya, “ heh! Lo! Balik ke kelompok Ify, lo gak jadi dikeluarin.” Ucap Shilla dengan setengah terpaksa.
The Crucial Of Love -1
Label:
The Crucial Of Love
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar