Sivia tersenyum-senyum geli, “ sinis banget sih, aku Cuma mau tau kabar calon tunangan aku doang kok, emang salah ya?” tanya gadis itu.
“keluar dari kamar gue!” usirku.
“ gak mau.. gue mau tetep disini..” paksanya.
“keluar atau..” ucapku sambil mengambil cutter dari dalam kotak alat tulisku. “lo mau ini?!!” sambung ku lagi sambil memperlihatkan ujung cutter yang tajam itu ke arah gadis centil itu.
Dia bergidik ngeri dan segera berlari keluar kamar setelah sebelumnya berteriak “sayang” kepada ku yang malah gantian membuat ku bergidik ngeri.
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu itu membuyarkan segala macam pikiran ku. Kalau sampai cewek pengganggu itu yang datang lagi. Aku gak akan segan-segan buat ngelakuin kekerasan kali ini sama dia. Biar kapok sekalian.
“ masuk” jawab ku dingin.
“ Tuan Rio.. ada yang mau ketemu sama Tuan di bawah..” ucap seseorang yang tak lain adalah pembantu ku.
Aku menoleh ke arahnya, “ siapa? Cewek cowok? Kalo sivia gue gak mau nemuin dia.” Ucap ku telak.
Pembantu ku itu senyam-senyum sendiri, “ bukan kok Tuan, Tuan kalo ngeliat tamu yang satu ini tuan pasti bakal seneng deh, dia tamu spesial loh Tuan.. bibi aja kaget ngeliatnya tadi..” balas pembantu ku itu lagi sambil menutup mulutnya menahan senyum.
“ siapa sih?” tanya ku penasaran lalu beranjak keluar kamar.
“ tuan siapin mental yah..” saran pembantu ku itu membuat ku melotot.
Berani banget nih pembantu nasehatin majikannya, gumam ku lalu berjalan menuruni tangga dan melihat sesosok wanita yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
“ lo siapa?” tanya ku bingung melihat rupa wanita itu dari belakang.
Perempuan berkulit sawo matang yang saat itu memakai baju bahu terbuka membalikkan badannya yang secara otomatis langsung melihat ke arah ku. Nafas ku tercekat saat melihat wajah itu di depan ku saat ini. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini, resah ku.
“ MARIOOOO STEVANO MY DARLIIING ! “ teriaknya histeris dan langsung berlari memelukku sampai membuat nafas ku sesak.
Aku meronta-ronta mencoba melepaskan pelukan itu, “ Zevaaaa stoop udah udah lepas, gue gak bisa nafas!” ucap ku melepaskan pelukan gadis itu –zevana-.
Gadis bernama Zevana itu adalah sepupu ku. Seorang gadis berambut panjang dan memiliki kulit berwarna sawo matang itu menatap ku dengan genit. Sifat yang dari dulu tidak pernah bisa ia rubah. Ya bisa dibilang sih dia adalah sepupu ku yang paling ku sayang. Aku sangat dekat dengannya. Semua masalah ku selalu aku coba ceritakan dengannya, berharap dapat menemukan saran yang baik untuk masalah ku itu.
Tapi ada satu hal yang tidak ku sukai dari gadis ini. dia terlalu ingin ikut campur dengan urusan ku, dan oh iya satu lagi yang terlupakan. Sepupu ku ini amat sangat sungguh centil. Selalu bersikap sok-kenal-sok-dekat dengan orang yang baru di kenalnya.
“ duduk..” ucap ku menyuruhnya duduk.
Zevana pun mengikuti perintah ku dan duduk di sofa mewah di depan ku, dia tersenyum-senyum aneh saat melihat ku, “ elo tambah ganteng Mar.. hihi” ucapnya genit sambil mengerlingkan matanya padaku -,-“
Aku bergidik ngeri dan menatapnya jengkel saat mendengar dia memanggil ku dengan sebutan ‘Mar’, “ elo ngeyel banget sih, dibilang jangan panggil gue Mar.. nama gue itu RIO Er-I-O R-I-O !” tergas ku sambil duduk dan melipat kedua tangan ku di depan dada.
“ iya sepupu ku Mar.. Rio.. haha” ledek Zevana ketika melihat ku sudah memasang tampang kesal, “ ngomong-ngomong gue gak dikasih minum nih?” sindir Zevana yang sedari kedatangannya tadi belum menerima suguhan hidangan apa pun dari ku.
“ kayanya enggak deh, emang penting yah?” ledekku balik.
Entah kenapa semua sikap sinis, angkuh dan sifat dingin ku kepada semua orang selalu berubah 180 derajat setiap kali bertemu dengan sepupuku yang super bawel ini, semua sikap burukku itu selalu tergantikan dengan sikap menyenangkan yang selama ini selalu tersembunyikan oleh sikap angkuh ku.
“ yaelaaah Maaarr, gue aus nih, lo gak ngerasain penderitaan gue banget sih.. gue tersiksa nih pulang dari airport tadi, lo tau gak, gue itu tadi hampir kecopetan! Untungnya aja ada bapak-bapak baik yang langsung mergokin itu pencopetnya, coba kalo enggak? Aduh gak kebayang deh gue ke rumah lo ini naik apaan, gila aja gak mungkin kan gue jalan dari airport yang segit..”
“ STOOOOOPP !” potong ku mendengar cerocosan Zeva yang kemungkinan akan terus berlanjut kalau tidak ku hentikan saat ini juga.
Zeva merengut saat aku menghentikan pembicaraannya, “ kok distop sih Mar? gue kan masih mau cerita banyaaaakk sama lo.” Sungut Zeva.
“ dari pada cerita gak jelas kaya tadi, mendingan lo ceritain gue deh kenapa lo bisa ada di sini.” Tanya ku.
Zeva tersenyum jahil, “ ambilin gue minum dulu baru gue ceritain!” perintahnya.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku melihat kelakuan ajaib sepupu ku ini, “ Biiii, ambilin minum buat Zevaaa..” teriakku memenuhi ruangan itu.
“ jangaaaan biiii, jangan diambiliiiin..” teriak Zeva tidak mau kalah membuat ku tercengang heran.
“ katanya lo mau minum, giliran babu gue udah mau ngambilin lo nya malah ngelarang, bego banget sih lo Zev.” Umpat ku.
Zeva kembali menampilkan tawa jahilnya itu, “ gue kan minta nya elo yang ngambilin minum gue!” tunjuknya padaku, “ bukan pembantu lo!” sambungnya lagi menunjuk ke arah dapur rumah istana ku.
Aku menggeram kesal, “ dih gak sudi gue, bodo ah lo mau keausan kek, mati tenggorokan lo kering kek, ampe lo mati dehidrasi gak peduli gue.”
Zevana merungut kesal, “ Kakak lo mana sih? Bosen gue ngobrol sama lo, emosi jiwa raga lahir dan batin, mending gue ngobrol sama Kakak lo, udah baik, ramah, murah senyum, ganteng, gak nyolot pula, dan sayang sama sepupu cantiknya yang satu ini, gak kaya LO !” omel Zeva kembali meluncurkan senjata andalannya cerocosannya yang membuat ku harus terpaksa menulikan telinga ku.
“ siapa juga sih yang mau ngobrol sama lo? Sepupu jelek!”
“ jelekan elo ya Mar..”
“ berani banget lo manggil gue Mar!”
“ berani lah ngapain takut!”
“ harus takut dong sama gue!”
“dih elo kan sepupu gue, ngapain takut, kecuali gue pambantu lo!”
“ makanya lo jadi pembantu gue!”
“ogah amat! Mending gue jadi pembantunya justin bieber!”
“ntar lo nyesel!”
“sorry ye Mar, gue gak bakal nyesel. “ ucap Zeva sambil pergi ke dapur mengambil minumnya.
Aku mendesah pelan dan tertawa kecil saat menyadari keributan kecil di antara aku dan Zeva barusan. Sepupu ku yang satu itu lagi-lagi sukses menciptakan setitik senyuman dan tawa di ujung bibir angkuh ku. Sebuah senyuman yang jarang ku tampilkan di dalam rumah ini.
“ Mar.. telfon Riko dong suruh pulang, gue kangen sama Rikorikorikori..” ucap Zeva –lagi- dengan sikap centilnya setelah kembali dari dapur dengan sekaleng minuman soda di tangannya.
Aku mengambil remote TV yang berada di meja tamu, “ males.. yang butuh siapa? Elo kan? Ya udah elo aja yang telfon!” sinis ku.
Riko lagi Riko lagi. Kenapa manusia yang satu itu selalu menggantikan posisiku sih. Semua kebahagiaan aku selalu di renggut olehnya. Tidak pernah membiarkan aku menikmati setengguk pun rasa bahagia tanpa ada dirinya.
“ yah elo mah Mar.. jahat banget, ya udah deh biar gue yang telfon.. mana hape lo?” tanya nya sambil meminta benda mungil yang sedari tadi tersimpan rapi di saku celana ku.
“ ya pake hape lo lah, gak modal amat sih.”
Zevana merungut kesal entah untuk yang keberapa kalinya. Ia pun mengeluarkan benda kotak dari dalam tas mungilnya, dan menggerakkan jarinya mencari sebuah nama di daftar phone booknya. Dan langsung menggerakkan benda itu ke samping telinganya.
“ haloooo Rikorikorikori ku sayaaaang, pulang doooong, gue kangen nih sama lo, bête gue dari tadi Cuma sendirian sama cecunguk gila ini..” ucap Zevana saat seseorang di seberang sana sudah mengangkat telefonnya.
Aku membelalakkan mata ku arah nya saat mendengar dia menyebutku dengan kata ‘cecunguk gila’. Zevana hanya terkekeh saat melihat ku menatap nya tajam.
“ iyaa ini Zevana sepupu mu yang paling cantik dan ngangenin..” sambung Zevana dengan tingkat kepedeannya yang sudah taraf akut membuat ku menatap nya menahan tawa.
“ hah? Lagi jalan sama cewek? Yaaah masa elo tega sih Ko sama gue, ayo dong pulaaang, sekalian deh ajak cewek lo itu, gue mau liat cantikan mana sama guee.” Ucap Zevana membuat ku mengernyit heran.
Riko jalan sama perempuan? Sama siapa lagi? Kenapa kali ini perasaan ku gak enak. Apa dia jalan sama Shilla? mau-maunya cewek itu jalan sama playboy kuadrat seperti Riko. Aah percuma Rio, kamu itu bukan siapa-siapa Shilla, sesal ku dalam hati.
“ yess, Riko pulang cepet!” sahut Zevana sambil memasukkan kembali hape nya ke dalam kantong mungil di salah satu sisi tas nya.
Aku menatap nya, “ sama ceweknya?” tanya ku lirih.
Zevana menggeleng, “ katanya Riko ceweknya itu mau pulang aja, dia takut kemaleman, kasian di rumah nya gak ada orang, lagian dia orang baru disini. Takut nyasar katanya.” Jelas Zevana lalu merebut remote TV yang tergenggam di tangan ku dan memutar-mutar channelnya mencari saluran TV yang menarik.
Rumah yang kosong? Orang baru? Gak salah lagi, itu pasti Shilla. gejolak aneh itu muncul lagi di dalam tubuh ku. Gejolak yang membuat ku ingin langsung memaki-maki Riko saat dia sampai di rumah, dan mengancamnya untuk tidak mendekati gadis nya lagi. Namun gejolak itu tertahan saat Rio menyadari posisinya dan siapa dirinya saat ini, Aaah come back Shilla, kembali ke gue, teriakku dalam hati sambil mengacak-acak rambut belakangku.
“ elo kenapa Mar?” tanya Zevana yang heran melihat sikap aneh ku.
Aku tersadar dari bayangan ku, “ eh.. enggak gak apa-apa.” Jawab ku bohong.
Shilla harus bisa kembali ke kehidupan Mario, apa pun bakal aku lakuin buat ngerebut dia dari Riko. Meskipun itu tandanya aku harus menjadikan Riko Anggara Haling sebagai RIVAL dari Mario Stevano Haling !






0 komentar:
Posting Komentar