RSS

The Crucial Of Love -10


                ***

                Akhirnya pejuang itu menemukan senjatanya. Senjata yang selama ini ia cari. Senjata yang selama ini ia butuhkan untuk kehidupannya. Senjata yang hanya satu di dunia ini. senjata yang tidak boleh dimiliki orang lain dan hanya boleh dimiliki oleh pejuang itu, begitu fikir pejuang yang satu itu.

                Namun pejuang itu teramat bodoh, dengan gampang nya dia menghilangkan senjata yang sudah hampir berada di dalam genggamannya. Membiarkan senjata itu pergi, mencari pemiliknya yang baru, meninggalkan pemilik lama nya yang belum sah itu.

                Sementara Pejuang itu tengah menyusun rencana dan berusaha merebut kembali senjata yang selama ini ia cari. Senjata itu telah menemukan pemiliknya yang baru. Pemilik yang belum benar-benar memilikinya. tapi agaknya ada satu hal yang membuatnya merasakan suasana yang berbeda dengan pemilik –tidaksah- nya yang baru itu. 

                ***

      Riko P.O.V

                Aku tengah menikmati makanan yang terhidang di depan ku sambil menatapi wajah indah yang berada di hadapan ku itu saat bunyi dering telefon genggam ku menghancurkan suasana hening yang tercipta saat itu. Aku berusaha membiarkan telefon genggam itu sampai si penelpon bosan dan jenuh sendiri. Tapi tidak dengan Shilla. Ya, gadis di depan ku itu berlawanan fikiran dengan ku. Ia malah menyuruh ku mengangkat dan menjawab telefon yang menurut ku pasti tidak penting itu.

                “ tuh kan bener Shil, nama penelfonnya aja gak penting,gak usah di angkat yaa?” rayu ku agar Shilla membiarkan ku mengacuhkan telefon itu.

                Shilla menggeleng tegas, “ angkat Kak Rikooo, siapa tau aja itu penting.” Tolak Shilla tegas.

                Aku menghela nafas pelan, dan mulai menjawab telefon itu dengan setengah terpaksa. Kalau bukan karena Shilla sudah ku lempar kau ke tong sampah sana, mengganggu kesenangan orang saja!, maki ku dalam hati.

                Aku langsung menjauhkan telefon itu dari telingaku saat terdengar sambutan histeris dari seberang sana. Gila, siapa sih yang telefon? Histeris banget, untuk telinga ku bukan telinga oplosan, kalau telinga ku telinga oplosan gak kebayang deh jadinya denger teriakan histeris kaya gini.

                “ maaf siapa ya?... Zevana?.. aduh ntar deh yaa, gue lagi jalan sama temen cewek gue nih, ntar juga gue pulang kok.. ha? Ya udah lo berdua aja sama cecurut itu, dia jinak kok.. iya iya gue pulang sekarang!” ucap ku menutup telefon itu lalu mendengus kesal.

                Shilla menatap ku heran, “ siapa Kak yang telfon? Pacar Kakak yah? Aduh Kak maaf aku gak tau kalo kakak punya pacar maaf ya kaak,” ucap Shilla dengan tampang bersalah nya yang menggemaskan.

                “ aku gak punya pacar kok Shil, baru kemarin putus. Jadi tenang aja, itu tadi sepupu aku yang dari amerika telfon, aku disuruh pulang buat nemenin dia. “ ucap ku sambil buru-buru menghabiskan makanan yang masih tersisa di hadapan ku.

                Aku menoleh lagi ke arah Shilla, “ makannya cepetan yah, aku takut kena murka sepupuku itu kalo kelamaan.” Ucap ku lagi membuat nya menimbulkan sepercik tawa hangat yang lagi-lagi menimbulkan debaran halus di jantung ku.

                “ iya kak, ada juga Kakak yang harusnya makan cepet-cepet, tuh liat makanan Kakak masih banyak.” Ucap nya sambil menunjuk berbagai piring di atas meja yang masih terisikan makanan, memaksa si pemesannya untuk menghabiskan makanan itu.

                Aku menelan ludah, “ buset! Banyak banget ya.. mana kuat aku abisin makanan segini banyak.” Keluh ku sambil menggaruk-garuk kepala ku yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.

                “ udah lah biarin aja, kita pulang sekarang aja Shil, “ ucap ku lagi yang tanpa sadar menarik tangan Shilla sampai di depan mobil.

                Shilla terdiam saat mobil mewah ku itu sudah di depan mata. Aku memasukkan anak kunci ku ke dalam lubang kunci mobil dan membuka mobil itu. Saat tersadar Shilla masih berdiri di belakang ku dan belum juga masuk ke pintu penumpang di samping kiri sisi mobilku.

                Aku menatap nya heran, “ kok diem? Ayo masuk, “ ucap ku menyuruhnya masuk ke mobil.

                “ hmm, “ Shilla melirik ke arah tangannya yang masih berada di dalam genggaman tangan ku, yang ternyata belum ku lepas kan sedari tadi.

                Aku terlonjak kaget dan buru-buru melepaskan genggaman tangan ku itu, “ sorry Shil, gak sengaja, sorry ya..” ucap ku meminta maaf setelah menarik tangan ku.

                Shilla tersenyum manis dan mengangguk riang, lalu berjalan ke sisi lain mobil ku itu. Aku pun mengikuti jejak nya masuk ke dalam mobil dan mulai menjalan kan mobil ku itu. Merayap pelan membelah jalan yang sudah mulai ramai.

                Gadis di samping ku ini harus benar-benar ku miliki! Semuanya terasa berbeda dengannya. Tidak ada sikap centil seperti saat aku bersama dengan Nova. Tidak ada lagi kata-kata menggoda seperti saat aku bersama dengan Agni. Dan sikap-sikap ajaib lainnya yang terus membuat ku risih. Semuanya tidak ku temukan saat berada di samping Shilla! dan itu membuat ku nyaman. Sangat merasa nyaman.

                Tapi ada sesuatu yang selalu menahan ku mengucapkan rasa yang tengah menimpaku ini. menahan ku agar tidak mengucapkan itu terburu-buru. Sesuatu yang membuat ku merasa bersalah entah kepada siapa. lagi pula bagaimana hubungan gadis disampingnya ini dengan pacar pura-puranya? Apa mereka bener sudah tidak ada hubungan apa-apa?

                “ Stop Kak, turunin aku disini aja.” Ujar Shilla menghentikan laju mobil ku di depan perumahan Kencana.

                Aku mengangguk dan keluar dari mobil. Berjalan ke pintu dimana Shilla tersimpan di dalamnya, membuka pintu itu dan menyuruhnya keluar secara hati-hati.

                “ ga dianter sampai depan rumah?” tanya ku.

                Shilla menggeleng yakin, “ gak usah Kak, lagian rumah ku gak jauh kok dari gerbang komplek ini. aku duluan ya Kak! Kerjaan udah nunggu aku di rumah, bye Kak Riko. Makasih ya kak buat hari ini.” ucap nya melambaikan tangan lalu berlari kecil menyusuri jalanan berlapis aspal itu.

                Menghilang seketika dalam pandangan ku. Menyisakan harum parfumnya yang masih dapat tercium di dalam mobil ku. Wangi parfum yang sedari tadi mengganggu fikiran ku. Membuat wajah gadis itu tak pernah menghilang dari otakku. Meskipun raganya sudah tidak berada di samping ku lagi.

                ***


Pintu gerbang ku pun sudah terbuka, dan mobil ku sudah terparkir dengan rapi di depan rumah ku yang megah. Aku berjalan menaiki tangga yang berundak-undak untuk mencapai pintu masuk yang berada di puncak tangga itu.
           
    Cklek..

                “ Rikoooooo, huaaa kangen deh sama loooo, “ cewek itu langsung menghambur ke dalam pelukan ku saat pintu rumah ku itu terkuak sedikit dan menampilkan sosok ku yang di rindukan oleh Zevana.

                Aku membalas pelukannya dan mengacak-acak rambutnya dengan halus, lalu merangkulnya duduk di ruang keluarga. Ternyata di sana sudah ada Rio yang menatap lurus ke arah TV dengan pandangan tajam. Kenapa dengannya? Biasanya dia tidak seperti itu kalau sudah bertemu Zevana.

                “ kapan sampai Zev? Kok gak bilang sih kalo mau dateng.” Tanya ku sambil melepas dasi sekolah yang masih melekat di leherku.

                “ baru tadi siang Ko, dan elo tau gak siapa yang pertama kali gue temuin pas nyampe di rumah ini?” tanya Zevana yang duduk di samping ku.

                Aku mengernyitkan dahi, “ siapa?” tanya ku melepas jam tangan ku dan menaruhnya di meja kecil di  sampingku.

                “ tuh si cecunguk gila itu. “ jawab nya sambil menggedikkan dahunya menunjuk kearah Rio yang langsung menatap nya lekat-lekat.

                “ apa lo liat-liat? Naksir sama gue? Sorry kita sodara,” sinis Zevana yang sontak membuat ku tertawa terbahak-bahak.

                Rio bergidik ngeri, “ gila.” Ucapnya sinis dan dingin beda dengan sikap biasanya kepada Zevana.

                Aku menatap Rio heran dan berpaling kepada Zevana yang juga menatap Rio dengan pandangan dia-kenapa-sih. Zevana menggelengkan kepalanya saat mengerti arti tatapan ku menatap dirinya. Aku pun juga menggelengkan kepala saat Zevana menatap ku dengan tatapan yang sama.

                “ oh iya, gimana kencan lo tadi Ko?” tanya Zevana mengalihkan kebingungan kami sambil meraih gelas diatas meja.

                “ gimana yaa, kayanya gue jatuh cinta beneran deh sama dia.” Jawab ku sambil mengangkat kedua kaki ku ke atas sofa.

                “ itu kata-kata yang lo ucap pas jadian sama Agni 2 minggu yang lalu.” Potong Rio sinis.

                “ tapi gue beneran suka sama dia Yo.”

                Giliran Zevana yang menyambar ucapan ku, “ kaya kata-kata lo pas curhat tentang Angel ke gue seminggu yang lalu.”

                “ ini gue serius, gue terpesona sama dia!” ucap ku mulai nyolot.

                “ kata-kata 5 hari yang lalu pas lo jadian sama Osa.” Sambar Rio.

                “ itu kan pas sama Osa, kali ini beda. Gue serius!”

                “ dua hari yang lalu pas jadian sama Zahra.” Sambung Zevana lagi membuat ku kesal.

                “ gue gak boong, gue cinta mati sama nih cewek, dan gue gak bakal ngebiarin orang lain ngerebut dia dari gue.” Ucap ku telak membuat Zevana dan Rio terdiam, mencoba mengingat-ingat kapan aku si playboy kelas kakap mengucapkan kata-kata itu.

                Zevana mengalihkan pandangannya ke arah Rio, “ kayanya pas jadian sama Dea ya Mar?” tanya Zevana membuat ku naik darah.

                “ ya elah lo pada gak percaya banget sih sama gue, gue beneran ngerasain hal yang beda nih sama dia.” Bela ku lagi mencoba meyakinkan mereka bahwa aku sudah dan ingin tobat menjadi playboy kelas kakap lagi.

                Rio menatap ku curiga, “ emang dia belom punya cowok?” tanya Rio.

                “ hehe dia bilang sih belom sama gue, tapi dia kayanya abis ditembak sama temen cowoknya, beruntung aja gue, dia belum jawab tuh cowok.” Jawab ku sambil merebut gelas Zevana dan meminum airnya, menghilangkan kemarau yang tengah bersemayam di tenggorokan ku.

                Pemuda bernama Mario itu semakin menatap ku curiga saat aku menyebutkan perjanjian di depannya, “ dia kelas berapa?” tanyanya lagi mengalihkan pandangannya dan arah duduknya menatap ku.

                “ sama kaya lo Yo, Zev lo gak bawa oleh-oleh apa gitu buat gue?” tanya ku beralih ke arah Zevana yang mukanya sudah merengut merasa terabaikan oleh ku dan Rio.

                Zevana mengangguk senang, “ bawa kok! Bentar ya Ko gue ambil dulu di kamar..” jawab Zevana berlalu pergi menaiki tangga menuju kamar barunya yang berada di lantai dua, tepatnya di samping kamar Rio.

                “ siapa namanya?” tanya Rio sesaat setelah Zevana menghilang dari pandangannya.

                Aku menatap Rio tajam, “ kenapa? Lo takut gue ngincer gadis lo?” tanya ku sinis saat menyadari teka-teki puzzle yang sedari tadi berserakan di otakku itu mulai saling menyatu menjadi satu.

                “ gue tanya siapa namanya?” tegasnya lagi.

                “ hmm, kayanya firasat gue dari tadi bener, lo yang nembak dia ya? Tenang yo, gue gak beneran suka sama dia kok, gue lagi nyari maenan baru aja” jawab ku santai membuatnya terlonjak kaget dan menatap ku sangat tajam seolah ingin mencakar-cakar wajah ku.

Rio P.O.V

                “ hmm, kayanya firasat gue dari tadi bener, lo yang nembak dia ya? Tenang yo, gue gak beneran suka sama dia kok, gue lagi nyari maenan baru aja” jawab dia santai membuat ku terlonjak kaget dan menatap nya  sangat tajam seolah ingin mencakar-cakar wajah nya.

                “ apaan maksud lo?”

                Riko hanya dapat terkekeh dan beranjak dari duduknya, “ gue mau ngerebut gadis lo itu!” tegasnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar