“ berarti gue ada kesempatan dong?” ledek Alvin kecil sambil menepuk pundak ku.
Aku mengangkat alis ku, “ terserah, tapi gue ga tanggung jawab ya kalo mata sipit lo bakal ketutup selamanya.” Ucap ku berlalu meninggalkan Alvin.
Alvin berlari menyusul ku dan menyejajarkan langkahnya dengan langkah ku,
“ eh gue Cuma bercanda.. tenang aja, gue gak bakal ngerebut dia kok, tapi gak tau deh kalo Riko.” Ucap Alvin membuatku tersentak.
Aku berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi perjalanan ku ke arah jaguar ku yang bertengger dengan indah di parkiran sekolah yang luasnya hampir sama dengan kamar ku. Aku membuka pintu mobil si jaguar hitam ku dan terhenti saat mendengar ucapan Alvin.
“ jangan diem aja kalau memang sayang sama dia. Pertahanin dia kalau lo bukan pengecut yo!” teriak Alvin dari kejauhan.
Aku tersenyum miris. Menyadari bahwa kisah hidup ku benar-benar pilu. Kisah hidup seorang pangeran yang tidak pernah menikmati dan mengetahui apa yang namanya cinta. Tapi sepertinya semua itu berubah sejak dia muncul di kehidupan ku. Sosok gadis yang baru ia kenal selama dua hari itu mampu membuat perasaannya berubah-ubah layaknya bunglon yang terus berganti warna mengikuti keadaan ia saat itu.
Riko P.O.V
Gadis ini benar-benar menawan, menarik dan bisa membuat jantung ku berdegup cepat sedari tadi. Aku harus mendapat kannya. Harus ku akui, panah cinta itu benar-benar tertancap di hati ku. Bodoh kau cupit! Berani-beraninya manah aku di perjumpaan pertama kaya gini, kenapa enggak besok-besok aja sih, umpat ku dalam hati.
Gadis di samping ku ini terus membawa ku ke kelas nya, yang sepertinya kelas ini juga sudah ku kenali. Delapan A ? hei ini kan kelasnya Rio. Jadi gadis ini juga sekelas sama Rio?
“ kamu kelas delapan A? “ tanya ku spontan.
Gadis itu memandang ku, mengangguk dan berjalan pelan memasuki kelasnya yang sudah sepi.
“ sekelas sama Rio?” tanya ku lagi, entah kenapa pertanyaan ku kali ini sukses membuatnya terdiam,” kenapa diem? Kamu tau Rio kan?” tambah ku lagi sambil membantunya membereskan tas nya yang masih teronggok diam di dalam genggamannya.
“ i..iya kak.. sekelas..” jawab nya gugup.
Ada apa ini? kenapa sikap gadis ini langusng berubah saat aku menyebut nama Rio?
“ kita mau kemana kak?” tanya gadis di hadapan ku ini.
Aku tersenyum dan mencoba melupakan berbagai macam pertanyaan yang masih mendekam di dalam fikiran ku ini. membiarkan waktu dengan bijak menghapusnya. Menggantikan pertanyaan itu dengan bayangan sesosok gadis cantik di hadapan ku.
“ aku boleh ngajak kamu jalan sampe malem gak? Tenang aja, nanti pulangnya aku anter kok. “ tanya ku hati-hati, takut mendapat kan reaksi penolakan dari gadis ini.
Shilla memandang ku ragu, “ tenang aja, aku gak bakal ngapa-ngapain kamu kok.” Ucap ku lagi mematah kan keraguan di wajah gadis itu yang sudah terganti dengan senyuman kepercayaan.
“ tapi aku izin dulu ya kak sama Mama?” ucap Shilla.
Aku mengangguk dan berjalan keluar kelasnya menuju ke parkiran sekolah dimana mobil sport mewah ku terparkir rapi disana. “ aku tunggu di parkiran ya Shil.” Ucap ku lalu berlalu meninggalkannya yang masih sibuk dengan barang-barangnya.
Parkiran Versace High School…
“ loh belom pulang lo yo?” tanya ku saat melihat Rio masih mejeng di depan jaguar nya yang terparkir tak jauh dari mobil ku.
Rio mengeleng dan menatap ku tajam, “ lo kenal Shilla?” tanya Rio membuat pertanyaan yang tadi sempat berhenti berputar itu kini menari-nari lagi dengan anggun di fikiran ku.
Aku mengangguk, “ kenapa? “ tanya ku singkat sembari membuka pintu mobil ku.
Rio mendesah pelan, “ gak, gue Cuma mau tanya aja, langsung pulang lo?” tanya Rio lagi menatap ku curiga.
“ gak gue ada acara dulu, mungkin pulang rada malem, lo kalo mau makan duluan makan aja gak usah nungguin gue.” Ucap ku lalu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu itu secara lembut.
“ siapa juga yang mau nungguin lo.” Maki Rio di dalam hati.
Aku lihat Rio sudah masuk ke dalam mobilnya dan melaju cepat dengan pasangan yang selalu setia menemaninya itu kemana-mana. Kepergian jaguar itu kini hanya meninggalkan debu-debu yang beterbangan halus.
***
The Crucial Of Love -8
Label:
The Crucial Of Love
Tok.. tok..
Jendela kaca penumpang di samping ku itu di ketuk oleh seseorang dan aku tersenyum saat melihat siapa pelakunya. Aku pun membukakan pintu itu dari dalam. Dan menyuruhnya masuk.
“ ini mobil Kakak?” tanya gadis itu takjub saat mobil ku mulai melaju membelah kota dan menyali kendaraan-kendaraan yang melaju pelan di sekitar ku.
Aku mengangguk tanpa menatap nya, tangan kiri ku pun bergerak ke arah mp 3 mini yang terpasang di mobil ku. Memutar sebuah lagu romantis dari milik grup penyanyi barat bernama Westlife. Sejenak aku bingung melihat Shilla yang tampak seperti mengingat-ngingat sesuatu saat memasuki mobil ku.
“INI FERRARI 250GT YANG KELUARAN TAHUN 1961 KAN KAK?” tanya Shilla histeris.
Aku tertawa melihat tingkah lakunya yang polos dan lucu itu, “ iya cantikk..” jawab ku.
“ YANG HARGANYA MILYARAN?”
Aku mengangguk sekali lagi, “ Shill.. gak usah histeris yaa, takut orang-orang diluar sana ngira aku ngapa-ngapain kamu. Ntar jadi berabe lagi urusannya.” Ucap ku geli menahan tawa.
Shilla tersipu menahan malu saat mendengar ucapan Riko. “ hehe maaf Kak, aku norak ya.. ia emang kak aku tuh norak, padahal dari Jakarta, haduh bikin malu orang Jakarta ajaa.” Ucap Shilla ngelantur.
Aku semakin tertawa geli mendengarnya, “ kamu gak norak, Cuma…” ucap ku menggantung.
Shilla mendelik ke arah ku, “Cuma apa kak?”
“ cumaa..”
“ Cuma apa?” tanya Shilla penasaran.
“ Cuma kamu kampungan, hahahaha” ucap ku.
Shilla memasang tampang ngambeknya, yaitu melipat kedua tangannya di depan dada, dan memanyunkan mulutnya yang mungil itu, “ Kak Rikooooo..” ucapnya geram.
Aku hanya dapat tertawa lagi lagi dan lagi melihatnya. “ kamu suka otomotif ? “ tanya ku penasaran saat gadis ini menyebutkan tipe mobil ku secara lengkap.
Shilla mengangguk pelan, lalu menggelengkan kepalanya lagi. “ suka sih suka, tapi enggak suka juga.. hehe aku Cuma seneng aja baca-baca majalah otomotif punya Papa dirumah.” Jelas Shilla membuat ku ber-o- ria.
“ ooh, aku kira kamu suka otomotif. Kalo gak suka otomotif kamu sukanya apa?” tanya ku lagi mencoba masuk secara perlahan-lahan ke dalam kehidupan Shilla.
“ suka musik.. kalo Kakak?” tanya Shilla balik.
Jawaban Shilla membuat ku teringat lagi dengan Rio yang terkenal sebagai master musik di sekolah. Adikku itu, walaupun masih muda tapi kemampuan music nya tidak boleh dianggap remeh. Semua alat musik hampir bisa Rio mainkan dengan sempurna. Sedang kan aku? Aku hanya bisa bermain gitar dan drum. Itu juga masih kalah jauh dengan Rio. Aah kadang-kadang aku minder sendiri kalau ingat kemampuan ajaib adikku itu.
“ musik? Sama kaya adik Kakak dong, kakak suka apa yaa? Kakak suka kamu kayanya..” jawab ku kembali menggodanya.
Shilla P.O.V
“ musik? Sama kaya adik Kakak dong, kakak suka apa yaa? Kakak suka kamu kayanya..” jawab ku kembali menggodanya.
Adik? Siapa adiknya? Kenapa sedari tadi di sekolah Kak Riko selalu saja menyebut adiknya, bahkan memberitahu bahwa adik nya sekelass dengan ku. Rio? Aah tidak tidak, tidak mungkin Rio adalah adik Kak Riko. Sifat mereka bertolak belakang sama sekali. Tidak ada kemiripan, yaa walaupun wajah mereka lumayan mirip sih.
“ emang adik Kakak siapa sih? Kok aku gak tau yah?” tanya ku penasaran.
“ loh emang gak ada yang ngasih tau kamu? Masa adik aku terkenal gitu kamu gak kenal sih?” tanyanya.
Aku menggeleng untuk sekian kalinya, “ engga kak gak kenal, emang siapa?” tanya ku lagi.
“ mar..”
~ Now the party's over.. And everybody's gone.. I'm left here with myself and I wonder what went wrong.. And now my heart is broken..~ suara nada dering handphone milik Kak Riko itu lagi-lagi mengacaukan semua rasa penasaran di otakku. Sedikiiit saja handphone itu tidak berbunyi, pasti aku sudah tau siapa adik Kak Riko itu. Entah kenapa setiap Kak Riko menyebut kata ‘Adik’ debaran di jantungku selalu mulai seperti saat menatap bola mata peleleh es milik Rio. Lagi-lagi lelaki itu muncul di fikiran ku. Enyah kau dari otakku Yo!, makiku dalam hati.
“ maaf ya, tadi Papa sms, oiya gimana kalau sekarang kita makan dulu? itung-itung isi perut setelah tenaga kamu, kamu habisin buat tangisan kamu tadi.” Ajaknya sambil meledekku.
Aku tertawa pelan dan mengangguk, menyetujui tawarannya. Rio pulang dengan siapa ya? tiba-tiba pertanyaan itu melintas begitu saja di fikiran ku. Kenapa di saat yang aku harusnya bersenang-senang aku malah kefikiran dia?
Sekitar 15 menit kemudian kami sampai di restoran Internasional Chuisine, ketika kami tiba, aku mendapati Restoran itu dalam keadaan yang tampak lengang, hanya ada beberapa orang dengan buku di tangan atau hanya saling mengobrol. Kata Kak Riko, saat-saat ramai memang biasanya pada sore hari menjelang malam, terlebih jika esok harinya libur.
Kak Riko mengajaknya ke sudut favoritnya. Sebuah sofa berwarna hitam gelap dengan tirai air yang terus bergemericik di sampingnya. Di dalam meja di tempat kami itu pun terhias dengan pasir pantai yang di atas ya di taruhi beberapa hewan laut kering. Wangi harum laut pun mulai menyerbak saat kami duduk di sofa yang nyaman itu.
Dengan memesan ice cappuccino, jus alpukat dan dua buah nasi goreng seafood. Kami sudah dapat duduk tenang di restoran ini. entah kenapa gemericik air ini memaksaku terus menerus untuk menatapnya, seolah tidak mau kehilangan peristiwa saat air itu terjun bebas dari puncak tirai itu.
Alunan lagu romansa pun sedari tadi berputar halus, menambah kesan romantis di dalam restoran ini.
“ ini Tuan pesanannya.. 2 buah nasi goreng, segelas cappuccino dan satu buah jus alpukat.. selamat menikmati Tuan Riko..” ucap Pelayan itu yang sepertinya sudah kenal lama dengan Riko.
Riko mengangguk ramah, “ makasih ya Git..” balas Riko sambil meminum jus alpukatnya.
Aku memandangnya heran saat dia mulai menyuapkan sesuap nasi goreng itu ke dalam mulutnya, merasa di perhatikan. Dia balik menatapku, dan menaruh kembali sendok dan garpu yang sedari tadi berada di dalam genggamannya. Menemaninya dan membantunya makan dengan lahap.
“ kenapa? Makanannya gak enak?” tanya Riko saat melihat ku sama sekali belum menyentuh makanan yang sudah kami pesan, “ atau.. kamu gak doyan sama makanannya?” tanya nya lagi.
Aku menggeleng dan tersenyum manis sekali, “ enggak kok gapapa, aku Cuma heran aja, kok kayanya kakak kenal deket banget yah sama pelayan itu..” ucap ku sambil mencoba memakan nasi goreng itu, “ hmm, enak, enak banget..” gumamku pelan.
“ ya iya lah kenal, kalo mereka gak ngenalin aku, bisa-bisa mereka di pecat dari sini. Haha “ jawab Riko membuat ku tertegun.
“ jangan bilang kalo restoran ini punya kakak?” tanya ku curiga.
Riko menyentuh puncak kepala ku dan mengacak-ngacak rambut ku di sana, “ kalo iya kenapa? Kamu gak kurang nyaman ya? “ tanya Riko balik. “ kita bisa cari tempat lain kok, yuk!” sambungnya lagi sambil bangkit dari kursinya tepat saat aku menahan langkahnya dengan jemariku yang melingkar manis di pergelangan tangannya.
“ gak usah pergi, kita di sini aja. “ ucap ku membuat senyum nya kembali mengembang.
Kami pun menikmati makan siang itu dengan nyaman. Saling berbicara satu sama lain, dan bahkan kadang-kadang terdengar tawa ku yang amat keras saat mendengar lelucon yang di guraukan oleh Kak Riko. Sungguh nyaman aku berada di dekatnya.
***
Setelah ku pahami.. ku bukan yang terbaik yang ada di hatimu.. tak dapat ku sangsikan.. ternyata dirinyalah.. yang menegrti kamu.. bukan lah diriku...
***
Rio P.O.V
Tangan ku menggebuk-gebuk drum diruangan musik itu secara asal-asalan. Melampiaskan emosiku yang terkuras habis sejak pagi tadi. Entah ada angina pa, dewi fortuna hari ini seperti menjauhiku. Kesialan kesialan selalu saja datang bergantian kepada ku hari ini.
BUUK, pukulan terakhir yang ku lakukan terhadap drum di hadapan ku itu menimbulkan suara yang cukup keras dari dalam ruang musik keluarga ku. Riko, Shilla, Riko, Shilla.. nama dua orang itu secara bergantian keluar masuk dari pikiran ku. Seperti memaksaku untuk mencari tahu apa yang tengah terjadi di antara mereka.
“ Riooo…” tiba-tiba terdengar suara cewek dari lantai bawah.
Aku terhenyak saat menyadari siapa cewek itu. Sivia! Mau apa lagi dia datang kemari? Ah pasti dia mau mengejar-ngejar ku lagi karena aku sudah tidak ada apa-apa dengan Shilla. Pembantu-pembantu bodoh itu pada kerja apa sih? Kenapa mereka membiarkan cewek penganggu inimasuk ke rumah ku?
Pintu kamar ku pun terkuak lebar, dan cewek itu langsung menghambur memelukku yang spontan langsung ku dorong menjauh.
“ ngapain lo kemari?” sinis ku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar