***
Kejujuran. Sesuatu yang sulit terucap. Ketika terucap, hanya menimbulkan prahara. Namun ketika kejujuran itu tak terungkap, salah paham lah yang akan muncul.
***
Rio P.O.V
Suara panggilan itu terdengar nyaring dari si pemilik suara besi di tiap sudut kelas. Panggilan yang menyuruh ku untuk menemui Pak Joe, kepala sekolah Melodi Junior High School yang kira-kira berumur 60an tahun.
Aku yang baru saja memasang kan headset di telinga langsung membantingnya dengan keras ke dalam tas ku yang ada di meja. Benar-benar sialan sekolah ini, tidak tahu apa perasaan ku sedang kacau seperti ini. Mengganggu saja!
Aku pun beranjak dari bangkuku, keluar kelas dan menuruni anak tangga secara tergesa-gesa. Sama seperti biasanya. Aku melangkah dengan angkuh dan dingin, tidak ada senyuman sama sekali di wajah ku. Beberapa pasang mata anak perempuan terlihat di ekor mataku, menatap ku dengan pandangan terkagum-kagum. Tatapan kagum yang tak pernah sedikit pun ku temui saat melihat mata Shilla.
Pintu ruangan kepala sekolah itu tertutup rapat. Hanya jendelanya saja yang tersingkap sedikit. Namun tetap saja pemandangan dan suasana di dalam ruangan itu tidak dapat terlihat dari luar karena dinding nya yang dibangun sedemikian tinggi.
Aku mengetuk pintu kayu yang berkaca itu secara santai, tanpa ada rasa ketakutan sedikit pun di mataku. Pak Joe, dia adalah kakek dari gadis bermulut pedas yang tadi membuat ku harus rela mengeluarkan sedikit energi untuk membela gadis yang berlakon sebagai calon pacar ku.
“ masuk..” terdengar suara berat yang menyuruh ku untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Aku membuka pintu itu dan membantingnya agak keras. Aku pun berjalan dan duduk tanpa meminta izin di bangku di depan meja kepala sekolah tua itu. Pria tua itu tersenyum sinis saat melihat ku. Tatapan matanya memancarkan pandangan tidak suka dengan sikap ku yang terlihat tidak menghormatinya itu.
“ ada apa bapak manggil saya?” tanya ku santai.
Aku memang tidak takut dengan Pak Tua yang satu ini. Dengan keadaan ku yang merupakan anak pendonor terbesar bahkan merupakan andalan sekolah ini aku dengan gampang membuatnya menunduk di hadapan ku. Tinggal ancam dikit, skak mat lah Pak Tua ini.
“ Bapak mau ngomong sama kamu Mario.” Ucapnya membuat ku tertawa mencibir.
“ haha, ya elah Pak saya juga tau Bapak mau ngomong sama saya, udah jelas-jelas Bapak tadi manggil saya. Udah cepetan Pak mau ngomong apaan? “ ucap ku tak sabaran menghadapi kelakuan orang tua yang satu ini.
Pria tua itu menghela nafas, menarik tubuhnya ke depan dan menaruh kedua tangannya di atas meja. Menampilkan sikap wibawa yang menurutku gak-banget-deh.
“ kamu ada masalah apa dengan Sivia?” tanya kepala sekolah itu dengan nada yang sangat hati-hati dan terlihat terpaksa.
Aku berdecak sinis, “ gak ada pertanyaan lain apa Pak? Tolong bilangin yah ke cucu bapak yang satu itu. Saya tidak suka sama dia, jadi gak usah pake adu-aduan segala ke bapak atau pun ke salah seorang anggota keluarga saya.” Ucap ku tajam sambil bangkit dari tempat duduk ku dan beranjak keluar membuka pintu, namun aku menahan kembali pintu itu.
“ kalau sampai saya dengar ada pengaduan atau segala macam hal lain yang mengganggu kehidupan saya, saya gak akan segan-segan buat minta Papa…” aku meliriknya dengan tatapan tajam, “ memindahkan saya ke sekolah lain dan memutuskan pendonoran untuk sekolah ini!” ucap ku telak seperti biasa yang langsung membuatnya menelan ludah dan bergidik ngeri.
Aku membanting pintu kepala sekolah itu dengan kencang. Membuat seseorang di dalam nya kembali menyesali pertanyaannya tadi yang hampir membuat nya kehilangan salah satu gudang emas dari sekolah ini.
Ku langkah kan kembali kaki ku ke kelas, menaiki anak tangga yang berbaris rapi seperti susunan paduan suara yang siap mengikuti lomba. Saat memasuki kelas, pandangan mata ku langsung tertuju ke seorang gadis cantik yang sedang berperilaku seperti orang gila. Memainkan sehelai daun di atas mejanya.
“ kurang kerjaan banget maenan daun, gak punya mainan lain yah?” ejekku iseng.
Entah kenapa bibir ku ini seolah tidak pernah mau berhenti untuk menggodanya atau bahkan hanya sekedar melontarkan beberapa kalimat angkuh yang membuat kami bertarung mulut atau bahkan hanya menggeram kesal.
Shilla tidak menanggapiku, dia tetap saja bertahan memainkan daun di depannya itu. Daun apaan sih itu? Sampai bikin dia ngacuhin seorang Mario. Aku menyisipkan beberapa rambutnya ke belakang telinganya, bersambut dengan tatapan iri dari beberapa cewek yang mengagumi ku.
Namun apa yang dia balas lakukan padaku? Dia menepis kasar tangan ku dan kembali menjatuh kan rambut yang tadi ku sisipkan itu kembali ke depan, Membiarkannya menutupi telinga kecil di samping wajahnya itu. Kenapa dengan gadis ini? Apa dia masih marah dengan ku gara-gara kejadian kecil tadi pagi?
“ elo kenapa sih? Masih marah sama gue gara-gara kejadian tadi pagi?” tanya ku memandangnya penuh curiga.
Dia tetap tidak mau memandang ku, bahkan dia tidak menjawab pertanyaan ku dan malah mengeluarkan buku nya lalu memasukkan daun tadi ke dalam selipan bukunya.
“ maaf.. gue gak jujur sama lo.. tapi lo harus tau, gue sayang sama lo Shil..” ucap ku lagi yang hanya dibalasnya dengan lirikan sekilas.
Emosi ku sepertinya sudah bersepakat dengan kesabaran ku, mereka sudah mencapai di puncaknya. Emosiku yang sudah memuncak dan kesabaran ku yang sudah habis itu membuat ku mengambil secara paksa buku itu dan membantingnya dengan keras tanpa ampun ke lantai.
Mungkin kalau buku itu adalah manusia, ia sudah meminta pertanggung jawaban ku untuk membiayai luka-luka patah nya di tubuhnya. Atau mungkin yang lebih parah? Ia akan meminta ku menjadi pasangannya kalau buku itu adalah wanita.
“ kesabaran gue udah habis ya! gue gak terima lo nyuekin gue dengan gak jelas kaya gini. Kalo lo masih mempermasalahin yang tadi pagi lo bisa kan omongin baik-baik sama gue! Tapi kalo bukan gara-gara masalah tadi pagi, lo jangan ngehakimin gue seenaknya kaya gini dong Shil..” bentakku dengan tatapan mata kaget dari teman-teman ku.
Bukan hanya teman-teman di dalam kelas saja yang melihat pemandangan ini. Teman-teman yang berada di luar kelas pun langsung berkerumun memenuhi depan kelas untuk menyaksikan pertengkaran di waktu istirahat ini antara Mario si putra emas sekolah dengan Shilla si anak-biasa-saja.
Shilla tetap saja diam mengacuhkan ku, bahkan dengan wajah tanpa dosa, ia mengambil kembali buku yang tadi ku banting itu. Menghapus debu-debu yang berada di buku itu dengan cara meniupnya, “ huuuff.. yah kotor..” ucap Shilla membuat ku merasa bersalah.
Aku membanting kesal meja di hadapannya dengan kepalan tangan ku. Membuatnya sedikit terlonjak kaget. Namun tetap dengan sikap awalnya. Me-nga-cuh-kan-ku !
Aku benar-benar muak di permalukan seperti ini. Menunggunya yang belum memberikan jawaban kepadaku sedangkan sikapnya malah seperti ini. Hei Shil, kau punya hati tidak sih?
“ elo bisu, gagu apa tuli sih? Dengerin ucapan gue Shil!” bentakku sekali lagi memegang pundaknya dan membuatnya menatap mataku
“ tatap mata gue ! bilang apa kesalahan gue ! bilang apa masalah lo ! biar gue gak perlu ngomel-ngomel kaya gini, gue gak tahan lo nyuekin gue dan ngacuhin gue kaya gini. “ ucap ku jujur mengutarakan semua perasaan ku yang belum sampai ke puncaknya.
Shilla menatap mata ku dengan terpaksa, tatapan matanya sangat teduh. Bukan! Itu bukan teduh, tatapan mata itu lebih cocok disamakan dengan tatapan mata kekecewaan. Sebegitu kecewakah ia dengan kejadian tadi?
Aku sudah tidak tahan lagi dengan gadis ini. aku memeluknya dengan sangat erat di depan pandangan kaget, iri dan sinis teman-teman ku. Aku lihat ada Sivia di antara belasan atau bahkan puluhan pasang mata itu. ia menatap kami dengan sinis, dan berlari keluar diiringi beberapa teman-temannya yang lebih pantas di sebut dengan dayang.
Aku kembali memfokuskan kepada gadis yang tengah diam membisu di dalam pelukan ku itu.
Ke lepas kan pelukan ku dengan pelan-pelan dan secara hati-hati, dan ku tatap kembali gadis itu. Wajahnya sudah memerah. Bukan menahan malu, tapi seperti menahan beberapa kantong air di matanya yang siap untuk di pecahkan di hadapan ku saat ini.
“ Jau-hin-gu-e!!” ejanya secara telak dan berlalu meninggalkan ku, membuat hatiku mencelos seketika.
Shilla P.O.V
Lelaki di hadapannya ini masih saja membentak dan mengomeli ku dengan amarah yang meledak-ledak. Berusaha protes dengan cara memarahi ku yang membuat emosinya meningkat drastis.
Aku terlonjak saat pemuda yang sedari tadi mengeluarkan segala macam makiannya itu berhenti memaki dan berbalik memelukku yang masih berusaha menahan kantung air mata yang sedari tadi sudah melebihi kapasitas dan memaksanya untuk mengeluarkan semua air mata itu.
Aku membiarkannya memelukku di depan belasan pasang mata iri teman-temanku. Dan menunggu sampai ia melepaskan pelukannya.
Rio melepaskan pelukannya dan menatap ku, lagi dengan peleleh es nya yang membuat hati ku kali ini benar-benar meleleh cepat.
“ jauh-in-gu-e!!” ucap ku telak dan berlari keluar menabraki anak-anak yang berada di hadapan ku secara kasar.
Aku terus berlari, berlari dan kembali ke tempat itu. Tempat di mana aku menemukan keputusan yang membuat dunia khayalan ku runtuh. Tergantikan dengan dunia nyata. Dunia yang membawa pergi semua khayalan ku tentang seorang Mario. Dia pembohong!
Aku mendudukkan tubuh ku di bangku perpustakaan. Ku letakkan kepala ku di atas tangan ku yang berada di atas meja. Ku tutupi semua wajah ku saat aku melepaskan semua tangisan ku ini. membiarkan aku merasakan kehancuran dan kepedihan akibat kebodohan ku sendiri.
Butiran air mata itu terus menerus terjun bebas dari mata ku. Membuat air mata itu membasahi sebagian tangan ku. Aku pun mengangkat wajah ku dan mencari-cari sapu tangan di saku rompi seragam ku. Sial! Sapu tangan ku ketinggalan di tas. Bagaimana ini? tidak mungkin kan aku keluar dengan tampang berantakan seperti ini, batin ku saat menyadari keadaan ku yang tidak karuan.
Tiba-tiba sebuah sapu tangan tersodorkan ke arah kiri ku. Menawari agar aku memakai sapu tangan itu. Aku pun menoleh ke arah si pemilik sapu tangan itu.
Rio P.O.V
Bagus! Sekolah ini memang paling mengerti keadaan ku. Di saat kacau begini penyakit si Kakek tua itu kambuh sehingga harus di bawa ke rumah sakit. Aku melihat ke bangku kosong di depan ku. Kemana gadis itu? Kenapa dia tidak kembali juga.
Ify yang menyadari lamunan ku pun mencoba menghiburku, “ mungkin Shilla lagi ke wc atau perpus kali. Lo susul aja gih, jangan sampe bikin Shilla marah lagi ya. “ ucap nya sambil menutup laptopnya dan memasukkan nya ke dalam tas, tanya menoleh ke arah ku sedikit pun.
Aku terhenyak mendengar perintahnya. Rasanya tidak mungkin kalau saat ini aku harus menyusulnya. Bagaimana kalau nanti Shilla mengamuk lagi di depan ku? Bisa lebih menurun kan pamor ku lagi dia.
“ udah deh gak usah malu, sono gih. Kalo beneran suka ngapain di tutupin, yang ada malah bikin sakit hati. Buruan! Shilla cantik, jangan salahin dia kalo ada cowok yang berhasil ngerebut dia.” Ucap Ify membuat kening ku berkerut.
“ elo tau itu?” bantah ku berlawanan dengan perasaan ku saat ini.
Ify tersenyum memandangku, “semenjak ada dia.. lo berubah, walaupun dikit sih..” jawab Ify sambil bangkit dari tempat duduknya.
Aku putuskan untuk mengikuti saran Ify dan menyusul Shilla. firasat ku mengatakan bahwa saat ini dia berada di perpus. Ku langkah kan dengan berat kaki ku ke perpus. Menyusuri setiap lantai dengan derap langkah angkuhku.
Saat di depan perpus tiba-tiba aku terdiam, ragu apakah aku harus masuk atau tidak.
Ku dorong pintu kaca perpustakaan itu dan masuk ke dalam mencari sosok gadis yang sedari tadi membuat perasaan ku galau tidak karuan. Namun nihil, aku tidak menemukan sama sekali sesosok gadis itu di dalam sana. Ku beranikan diri bertanya kepada penjaga perpustakaan yang terkenal galak dan tidak takut dengan siapa saja.
Bahkan rumornya, Kak Riko pernah di bentak olehnya hanya karena mengembalikan buku pinjaman dalam keadaan tidak bersampul. Berani benar petugas ini, memarahi siapa saja tanpa pandang bulu dan pandang status.
Petugas itu ku temukan tengah tenggelam di balik pekerjaannya di dalam layar kaca computer flat tipis, “ tadi ada cewek kemari gak?” tanya ku tanpa basa-basi.
Petugas itu menoleh ke arah ku, “ perempuan banyak yang kemari.” Jawabnya lalu kembali ke dalam pekerjaannya.
Aku mendengus kesal, “ yang putih cantik, rambutnya panjang.” Detail ku lagi sambil bertopang tangan di meja yang kira-kira setinggi 1 meter, yang khusus dibuat untuk meja pengunjung.
Dia menoleh lagi ke arah ku dan membuka buku daftar hadir pengunjung perpustakaan. Buku bersampul cokelat itu di serah kannya pada ku, “ ini kamu cari saja sendiri. Saya sedang sibuk.” Ujar petugas itu dengan nada sinis tetapi masih terdapat ketegasan di dalam ucapannya.
Aku menatap tajam petugas itu, dan mengalihkan pandangan ku ke buku bersampul cokelat yang berada dalam genggaman ku ini. aku buka lembar-perlembar buku itu. Menyisiri setiap baris nama yang berderet rapi di dalam buku itu. Sampai ketika mataku tersenyum lega melihat sebuah nama itu di baris terakhir yang ku lihat waktunya menunjukkan hari ini.
Hei apa-apaan ini, kenapa ada nama Riko di atas nama Shilla. tulisan ke duanya terlihat sama. Sepertinya satu orang itu menulis dua nama tersebut secara bersamaan.
“ orang ini. mereka berdua udah keluar? Kapan keluarnya? Lalu siapa yang menulis nama mereka berdua?” tanya ku dengan selusin pertanyaan yang membuatnya heran.
“ mereka sudah keluar barusan, sesaat sebelum kamu masuk, yang menulis nama itu adalah si cowok tersebut.” Jawab petugas tersebut.
Aku pun melongo mendengar penuturan dari petugas tersebut. Berbagai macam pertanyaan kini berputar-putar dan menari-nari di otakku. Memaksaku untuk mencari jawabannya secara cepat. Karena mereka tak mau terlalu lama mendekam di dalam fikiran ku.
Aku menutup buku itu dan menaruhnya kembali ke meja pengunjung itu. Lalu keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada petugas itu yang membuat petugas itu mendengus kesal.
Ah bodo amat, aku gak perduli dengan petugas itu, yang aku fikirkan hanyalah Shilla. apa dia kenal dengan Riko? Bagaimana dia bisa kenal dengan Riko? Dimana Riko dengan Shilla sekarang? Bagaimana kalau Riko berusaha untuk merebut Shilla darinya?Riko kan playboy.. Aah serentetan pertanyaan itu bagaikan peluru yang terus menembaki ku membuat ku berfikir kacau dan tidak karuan.
Pandangan ku tiba-tiba beralih ke arah sepasang gadis cantik dan pemuda tampan yang tengah menenteng gitar cokelatnya. Gadis itu nampak sangat nyaman sekali berada di samping pemuda itu. Beda sekali saat berada di sampingnya. Yang selalu memancing emosi dan amarahnya.
Gejolak itu kembali muncul saat melihat pemandangan tidak enak itu. Gejolak aneh yang membuatnya tidak ingin terus-terusan menatap pemandangan itu. Pemandangan yang membuat ku menahan tubuh ku agar tidak menghampiri mereka dan menarik tubuh si gadis itu menjauhi tubuh si pemuda tampan di sampingnya.
“heh, elo putus?” tanya Alvin yang tiba-tiba sudah berada di dekat ku.
Saat itu kami tengah berada di lantai bawah yang strategis, membuat kami dapat melihat semua kegiatan murid-murid yang berada di depan kelas di lantai atas.
Aku menoleh ke arah pemilik suara baritone itu, “ putus apaan?” tanya ku membuat Alvin terkejut.
“ He? Lo sama Shilla kan?” tanya Alvin lagi sambil bersender di tembok di belakang ku, tetap dengan gaya coolnya.
Aku berjalan pelan dan bersender ke arah pilar sekolah yang menyampingi Alvin, “ pengennya.. tapi dia belum jawab gue tuh.” Jelas ku sambil memasukkan tangan ku ke saku celana.
“ berarti gue ada kesempatan dong?” ledek Alvin kecil sambil menepuk pundak ku.






0 komentar:
Posting Komentar