***
Brak !
Tubuhku dibanting oleh pemilik tangan tadi ke arah tembok di depan WC yang berada tak jauh dari kelas ku. Aaw, rintih ku pelan. Punggung ku sakit sekali saat menghantam tembok tadi. Apa-apaan ini? Apa salah ku sampai dia memperlakukan ku sejahat ini?
“ lo apa-apaan sih Siv, gue ada salah sama lo?..” tanya ku masih merintih menahan punggung ku yang terasa nyeri.
Sivia menyeringai kecil, “ kesalahan lo banyak sama gue.. pertama, lo udah ngegagalin gue sekelompok sama Rio, yang ke dua, lo tadi pagi berangkat bareng sama dia, dan yang ke tiga yang paling fatal adalah ELO NGEREBUT RIO dari gue!” bentak Sivia sambil memegang kerah bajuku dan mendorong tubuhku dengan kencang ke tembok dan menahannya.
Aku mengernyitkan dahi, “ ngerebut? Haha, siapa yang ngerebut sih? Gue gak ngerebut Rio kok, lagian juga yang mau pacaran itu Rio! Bukan gue!” balas ku menampis cengkeraman tangannya di kerah ku.
Sivia mendelikkan matanya menatap ku kembali dengan tatapan pembunuh tadi pagi, “ Rio itu udah jadi milik gue! Gak usah deh deket-deket dia lagi! Atau hidup lo gak bakal selamat!” ancam Sivia.
“ oh ya? gak ah, kehidupan gue kan bukan di tangan lo, tapi di tangan yang di atas.” Tolak ku sambil menunjuk ke atap seolah menunjuk sang kuasa yang berada di atas sana.
Sivia menggeram kesal, “ elo itu anak baru ! gak usah cari masalah deh sama gue, elo belom tau siapa gue? Hah? “ tanya Sivia.
Aku menggeleng santai.. Stay Cool Shill. Trik pertama di dalam pertengkaran, kamu harus terlihat santai tetapi tidak boleh lengah dengan segala macam kemungkinan yang terjadi.
“ setau gue nih ya, elo itu Sivia Azizah, yang tadi udah dorong gue sampe nabrak tembok dan maki-maki gue tanpa henti.” Ucap ku santai.
“ gue SIVIA AZIZAH , putri dari keluarga AZIZAH yang kekayaan nya tidak beda jauh dengan keluarga HALING ! keluarga RIO !” ucap Sivia memberikan beberapa penekanan di dalam kata-katanya.
“ dan ELO!” ucapnya sambil menunjukku, “ GAK PANTES buat jadi pacar dari Mario Stevano Haling!” bentaknya sangat keras membuat ku sedikit terdiam merenungkan kata-katanya. “ ELO ITU CUMA SAMPAH YANG NANTINYA BAKAL DI BUANG SAMA RIO !” sambungnya lagi.
Oke ucapan setan di depannya dia ini memang benar, aku emang gak pantes jadi pacar Rio. Kedudukan kami tidak sebanding. Rio yang merupakan putra dari keluarga Haling yang tiga perempat perusahaannya di luar negeri itu mana pantas berpacaran dengan ku. Tapi saat ini kedudukan ku bukan sebagai pacar Rio, tetapi masih sebagai calon pacar Rio! Jadi aku tidak akan terima diriku dihina begitu saja oleh setan di depannya ini.
“ kenapa diem? Sadar? Bagus deh jadi sekarang lo gak usah deket-deket sama Rio! Rio milik gue dan CUMA MILIK GUE karena dia GAK AKAN MAU SAMA SAMPAH KAYA LO! “ bentak Sivia lagi.
Emosiku semakin menjadi-jadi saat dia kembali menghinaku dengan sebutan ‘sampah’. Namun aku tetap stay cool, agar ia tidak semakin menjadi-jadi. Baru saja aku ingin memberikannya pelajaran, terdengar suara yang membuat Sivia terlonjak.
“ sampah teriak sampah.. ckck..” decak seseorang itu yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Rio.
Rio berjalan menghampiri kami dan menarikku lalu menyuruhku berdiri di belakang punggungnya, “ heh Nona Sivia yang mengaku orang kaya.. gak usah ngatain Shilla sampah bisa? Kalau pun Shilla adalah sampah, dia itu sampah yang berguna, sampah yang bisa di daur ulang dan bermanfaat bagi banyak orang. “ jelas Rio menatap Sivia tajam, tapi kali ini bukan dengan menggunakan peleleh es yang biasanya ia gunakan saat berbicara denganku. Tatapan matanya kali ini lebih mirip bila di sebut dengan mata api, ya mata api. Kobaran api yang membara terlihat jelas di bola mata Rio yang tajam. Tanda bahwa kemarahannya sudah tersulut penuh.
“ kenapa sih lo lebih pilih cewek kaya dia di banding gue? Lo gak bakal nyesel apa udah milih dia? “
Rio berdecak pelan, “ masih nanya lagi, gue pilih Shilla karena gue itu suka sama dia !”
Deg.. ucapan Rio itu membuat detak jantungku bertalu-talu dengan cepat. Mungkin kalau digambarkan dengan alat pendeteksi detak jantung yang di rumah sakit itu, mungkin saat ini alat itu tidak bisa membaca detak jantungku dan sulit menggambarkannya di layar mesin itu karena jantungku yang berpacu sangat cepat, cepat dan cepat melebihi seekor kuda yang menjuarai pacuan kuda international.
“ JANGAN GANGGU SHILLA !” bentak Rio dengan keras membuat siswa-siswi yang berada di dalam kelas melongok sesaat keluar dan mencari-cari asal suara itu sesaat sebelum guru dikelas mereka menyuruh mereka kembali melanjutkan aktivitasnya.
Sivia menggeram pasrah, “ OKE ! gue gak bakal ganggu dia ! PUAS ?!” bentak Sivia tidak mau kalah di hadapan wajah Rio. Sivia pun melangkah meninggalkan ku dan Rio yang masih diam, baru satu langkah Sivia sudah memutar balik langkahnya dan mencariku yang tengah berdiam memegang baju Rio di belakang punggungnya.
Sivia tersenyum penuh dendam kepadaku, “ gue Cuma mau ngasih tau satu hal sama gadis lo ini kalo gue Sivia Azizah, adalah CALON TUNANGAN dari MARIO STEVANO HALING. Haha selamat bersenang-senang Mario dan….. Ashilla!” ucap Sivia yang membuatku merasa kalah telak kali ini dengannya.
Rio membelalak dan tangannya mengepal keras.
Ia kini membalikkan badannya menghadapku, dia kini tengah memegang erat-erat pundakku dengan menatap ku kembali dengan bola mata bening peleleh es nya, bukan dengan bola mata api tadi yang sempat dia luncurkan saat berhadapan dengan Sivia.
Aku mencoba tenang dan meredakan kembali emosi yang sempat meledak tadi saat berhadapan dengan Sivia. Melihat pemuda di hadapan ku ini entah kenapa emosi ku sedikit mereda dan aku menatapnya teduh. Mencoba menahan air yang akan terjun bebas dari sudut pelupuk mata ku.
“elo kenapa gak cerita sama gue yo?” tanya ku mencoba setenang mungkin.
“ sumpah Shil gue gak tau, gue gak tau kalo dia itu calon..tunangan..gue..“jawab Rio pelan.
Aku menunduk, untung aku belum menerima perasaannya kemarin.”harus kah gue percaya sama ucapan lo itu?” tanya ku dingin, sedikit kecewa.
Rio P.O.V
Brengsek. Cewek itu benar-benar cari masalah dengannya. Kenapa dia harus mneyebut-nyebut kalau dia adalah calon tunangan ku. Apa mulutnya tidak bisa dikunci sama sekali agar tidak membeberkan masalah itu. Kenapa dia harus mengucapkannya di depan Shilla! Bagaimana ini. Apakah Shilla marah padaku? Ya tuhan bantu aku aku mohon untuk kali ini saja.
Tiba-tiba sebuah rencana melintas di kepala ku. Cara itu. Ya harus cara itu yang gue lakuin supaya si nenek lampir itu gak gangguin gue dan Shilla lagi.
Sepertinya aku benar-benar telah kau buat jatuh Shil. Jatuh hati dengan mu.
Riko P.O.V
Huuh, bel istirahat lama banget sih. Tidak tahu apa perut ku sudah keroncongan begini? Aku pun mengarahkan kaki ku menuju perpustakaan, hanya untuk mengisi jam pelajaran yang kosong saja sembari menunggu bel istirahat tiba.
Saat memasuki pintu perpustakaan aku tak lupa mengisi daftar absen dari buku yang berada di meja masuk. Riko Anggara H, 9-A. ku tuliskan nama ku beserta kelas ku di daftar absen itu. Aku pun terdiam sesaat dan mencari-cari letak deretan buku fiksi.
Aku pun berjalan dengan pandangan mata yang terus menyisiri satu persatu buku fiksi di dalam lemari kaca itu. Sampai ketika pandangan ku terpancing ke arah sebuah buku berjudul “Physik” karya septimus heap.
Aku pun membuka lemari kaca itu dan mengambil buku berwarna coklat tebal itu. Tepat saat tanganku menyentuh badan buku tersebut, terdengar suara tangisan wanita terngiang di telinga ku. Bulu kudukku pun merinding seketika, apa lagi saat mengetahui perpustakaan itu sepi tanpa pengunjung satu pun. Saat aku ingin keluar dari perpustakaan itu mataku terarah ke sebuah kaki beralaskan sepatu yang terduduk manis di lantai di belakang lemari kaca.
Aku bergidik ngeri saat membayang kan bahwa yang ada di hadapan ku saat itu adalah sosok mayat wanita yang menangis sepi, meminta pertolongan siapa saja untuk menemukan pembunuhnya dan membantunya membalas dendamnya. Atau kalau dia tidak mau membantunya membalaskan dendamnya. Arwah itu akan balik mengincarku sebagai pelampiasannya.
Tapi aku ternganga heran saat melihat kaki panjang itu bergerak layaknya manusia biasa. Aku yang penasaran pun menghampiri sosok itu dan Hei dia menangis, kenapa gadis ini?
Aku hampiri dia dengan rasa was was, “ hei, kamu manusia kan? Bukan kuntilanak?” tanya ku dengan pertanyaan yang amat sangat bodoh.
Gadis itu mendongak ke arah ku dan menatap ku bingung. astaga gadis ini cantik sekali, kayanya dia bener manusia deh. Gak mungkin ada setan atau sejenisnya yang cantik seperti ini, batin ku dalam hati.
“ iya lah, aku manusia. Emang tampang aku kaya setan yah? Sampai kamu ngira aku kuntilanak?” tanya nya sambil melihat dirinya sendiri.
Aku tertawa kecil, “ enggak lah, muka cantik jelita kaya kamu masa aku bilang mirip setan sih. Kalo setannya kaya kamu aku mau deh jadi pendamping setannya. “ gombal ku yang sudah duduk di sampingnya, membuat tangisan itu kini sudah tergantikan dengan tawa nya yang renyah membuat siapapun berusaha untuk terus mendengar tawa renyah dari bibirnya yang mungil itu.
“ gombal banget sih, haha..” balasnya.
“ loh, aku gak gombal kok, itu emang kenyataan, kamu tuh emang cantik. Oh iya nama kamu siapa? Kenalin aku Riko.. kelas 12 ipa 1” tanya ku sambil menyodorkan tanganku mengajaknya berjabat tangan.
Gadis itu tersenyum manis sangat manis sekali, hatiku berdesir lembut, lembut sekali, seperti ada angin lembut yang secara tidak sengaja mengucapkan ‘permisi’ di dalam perasaan ku.
“ Shilla.. 11 ipa 3” jawab nya menerima jabatan tangan ku.
Aku membalas nya denan senyuman, “ nama yang bagus, sama kaya pemiliknya, bagus,dan cantik. Hmm, kamu tadi nangis ya? why? Kalo kamu butuh tempat cerita, cerita aja sama aku.” Saran ku sambil menggandeng tangannya duduk di bangku dan meja perpustakaan.
Aku duduk di seberangnya, yang terbataskan oleh sebuah meja panjang yang mampu menampung kira-kira 10 orang siswa dan siswi yang duduk berseberangan. Suasana saat itu seketika hening saat Shilla terdiam mendengar pertanyaan ku tadi. Hanya suara angin dan keramaian di kelas saja yang sayup-sayup terdengar di telinga ku.
Aku memandang gadis di hadapan ku ini, “ cerita aja sama aku, percaya sama aku, aku gak bakal nyebarin masalah kamu itu ke orang lain.” Saran ku lagi.
Gadis yang sedari tadi terdiam dan menunduk itu dalam sekejap merubah arah pandangannya ke arah ku, dan menatap ku kembali dengan senyumannya yang sempat membuat ku diam tadi.
“ kalau misalnya Kakak itu cewek, dan kakak ditembak sama cowok dalam waktu kenal sehari, apa yang kakak lakuin? Padahal cowok itu sudah punya tunangan..” tanya gadis di depan ku ini dengan tatapan yang miris.
“ kak, kenapa? Kok bengong sih?” ucap Shilla menyadarkan ku dari lamunan ku tadi.
Aku terkekeh pelan, “ hehe iya iya maaf, kalau kaya gitu sih aku mau-mau aja, tapi liat-liat dulu cowoknya kaya gimana.baik apa gak, setia apa enggak..” jawab ku. “eh kamu lagi galauin cowok itu ya? Daripada kamu galau sama dia, mending kamu sama aku aja.. dijamin jarang galau..” ucap ku mempromosikan diri.
“ apaan sih kak? Kayanya kakak tuh raja gombal ya? kerjaannya dari tadi ngegombaaal mulu, haha” ledek Shilla dengan tawa renyah nya yang membuat ku ingin terus-menerus menggodanya.
Senang juga menggoda dan meledekinya, pipinya semakin bersemu merah saja.
“ eeeiits jangan salah, aku itu Cuma ngegombalin cewek-cewek cantik doang tau.” Ucap ku membuat pipinya lagi-lagi bersemu merah.
Agaknya ucapan ku yang sedari tadi terus memuji dan menggodanya itu tadi sudah membuat pasokan darah nya naik ke bagian wajahnya dan berkumpul di bagian pipi nya. Menimbulkan semburat-semburat halus kemerahan yang menyerupai tomat yang tengah ranum.
“ aah Kakak bercanda mulu nih, aku kapan ceritanyaa.” Manyun gadis itu sambil berpura-pura ngambek.
Aku tertawa melihat tingkah laku gadis di hadapan ku itu, “ maaf maaf, oke lanjut ke cerita kamu. “ ucap ku meminta maaf padanya.
Dia tersenyum kembali, “ iya kak, dan kalau misalnya Kakak ditembak cowok yang tadi itu, dan ternyata dia ngebohongin kakak kalau dia sudah punya tunangan, kakak bakal nerima dia apa gak?” tanya gadis itu kembali menatap ku dengan serius.
Sepertinya pertanyaan ini adalah masalahnya, batin ku.
aku terlihat mencari-cari sesuatu di sekitar ku dan menemukan sebuah hewan yang menarik perhatian ku, aku pun membawa hewan tersebut ke depan gadis itu, dan menaruh benda itu di hadapannya.
“ kamu tau ini kan?” tanya ku sambil menunjuk benda yang teronggok diam di hadapannya.
Shilla mengangguk, “ tau lah Kak, itu kan daun.” Jawab gadis di hadapan ku dengan tatapan bingung.
“ daun ini sebelumnya indah bagus dan sempurna kan? Tanpa cacat sedikit pun, tapi ketika ini datang ke dalam kehidupan daun itu..” ucap ku sambil menaruh ulat dia atas daun tersebut, “ daun ini akan rusak dan memilik banyak lubang, hmm kalau di ibaratkan dengan manusia sih, lubang itu sama kaya luka yang ada disini.” Sambung ku lagi sambil menunjuk ke bagian hati ku saat kalimat luka.
“ satu-satunya cara untuk mencegah ulat ini membuat lubang yang amat besar adalah dengan cara seperti ini..” ucap ku lagi sambil mengambil ulat tersebut dan menaruh nya jauh-jauh dari daun tersebut. “ nah sekarang dia atas daun ini ada apa?” tanya ku mencoba agar dia mengerti dengan perumpamaan ku yang satu ini.
Dia menatap ku ragu, “ bulu-bulu yang tersisa dari si ulat bulu tadi.. nah apa yang harus kita lakuin buat ngilangin bulu-bulu itu?” tanya gadis itu lagi yang sepertinya masih belum dapat menemukan keputusannya.
“ kamu mas…” belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku, dia sudah memotong nya dengan jawaban yang membuatnya tersenyum pahit, namun nampak jelas kekecewaan tersirat di dalam mata beningnya.
“ aku bakal ngebiarin bulu-bulu itu sampai hilang sendiri tertipu angin yang bakal ngebawa dia terbang dan menghilang secara perlahan-lahan dari daun itu.”
***






0 komentar:
Posting Komentar