RSS

The Crucial Of Love -5


Rio P.O.V

Saat melewati kelas Alvin, tanpa disengaja Alvin juga keluar untuk membuang sampah dan kaget melihat ku berjalan beriringan dengan Shilla dan tak lupa menggandengnya.
           
    Kami pun terpaksa berhenti sejenak saat Alvin menahan ku dan berputar mengelilingi kami berdua dengan pandangan takjub, “ Ckck, kok gandengan? Jalan bareng pula? Kalian jadian?” Tanya Alvin selesai mengitari kami.
           
    Aku tersenyum kecil masih dengan sikap angkuh ku, “ menurut lo?” Tanya ku balik masih menggenggam tangan Shilla yang langsung melotot ke arah ku.
               
Alvin tercengang menatap ku, “ lo serius jadian sama dia? Kemaren lo bilang benci sama dia? Ngata-ngatain dia cewek gila, cewek aneh, cew..emmphh..”
           
    Aku langsung membekap mulut Alvin agar tidak meneruskan celotehannya yang membuat Shilla sudah melotot kesal ke arah ku.
           
    Aku hanya dapat nyengir melihat ekspresi Shilla saat itu, “ hehe, itu kan kemaren sayang.. beda sama sekarang..” ucap ku agak kencang.
           
    “ eh lo ngomongnya kenceng banget sih, noh liat. Tatapan para fans lo udah berasa mau nelen gue idup-idup tau gak.” Omel Shilla yang membuat ku tertawa.
           
    “ biarin, salah satu acting kita.” Bisikku pelan di telinganya.
           
    Aku pun mengajaknya kembali ke kelas dengan masih tetap mengenggam jemarinya diiringin pandangan heran, bingung, iri, takjub dan sinis dari teman-teman ku. Tanpa sadar ada sepasang mata yang melihat kejadian di pagi itu dengan tatapan sinis.
           
    Aku dan Shilla pun meninggalkan sosok Alvin yang masih terpana melihat berita heboh yang kami bawa pagi itu.
           
    ***
           
    Shilla P.O.V
           
    Saat memasuki pintu kelas, pandangan teman-teman ku langsung tertuju pada kami. Mata mereka bertumpu pada genggaman tangan kami yang sedari tadi tidak di lepas oleh Rio. Aku menatap Rio risih dengan pandangan lepasin-tangan-gue. Namun sepertinya Rio tidak bisa mengartikan pandangan ku itu. Dia malah menggeret ku ke arah tempat duduk dan menaruh tasnya di samping bangku ku.
           
    “ heh kok tas lo disitu?” tanya ku spontan tanpa ber-aku-kamu dengannya.
           
    Rio memegang kedua pundakku dari belakang dan melepaskan backpack ku lalu menaruh nya di bangku yang kosong tepat di samping bangku Rio tadi. 
           
    “ mulai sekarang gue duduk sama lo.” Bisiknya pelan di telingaku yang membuatku tercengang. “ selamanya..” sambungnya lagi membuatku kecengangan ku bertambah menjadi cengang kuadrat.
           
    Apa? Duduk sama cowok songong ini? Kalo untuk satu hari sih oke gak masalah, tapi coba kalian bayangkan ! ini untuk selamanya ! Selamanya ! Aku tegaskan sekali lagi SE-LA-MA-NYA !
           
    “ kok selamanya sih? Ify gimana ? gue gak  mau ah, udah sono-sono balik ke tempat lo.” Ucap ku sambil meraih tasnya dan melemparnya ke tempat duduknya.
           
    Suasana pun kembali ricuh saat melihat adegan aku mengambil tas Rio dan melemparnya kembali ke alam nya.
           
    “ Shilla malu-malu gitu.. ga usah malu Shill..” ucap Dayat dari pojok belakang kelas.
           
    Aku mendelikkan mataku ke arah nya, “ widiiih sangar, santai.. gue Cuma bercanda..” ucapnya bergidik ngeri.
           
    Sebegitu mengerikan kah tatapan mata ku sampai cowok berandal yang satu ini takut kepadaku?
           
    “ eh bro udah dong jangan ngeliatin gue kaya gitu, ntar penyakit gue kambuh lagi nih..” ucap Dayat kembali membuatku heran, aku kan sudah tidak memelototinya, kenapa dia masih ketakutan gitu sih?
           
    “ emang lo sakit apaan day?” tanya Bastian yang duduk di sampingnya.
           
    “ penyakit Mahoaides Aegpty” jawab Dayat asal lalu kembali duduk di bangkunya sambil mesam-mesem gak jelas ke arah Rio yang berada di belakangku.
           
    Ku tengokkan kepala ku menatap Rio. Astaga, bola bening peleleh  es itu tajam sekali menatap Dayat. Ternyata Rio yang dia takuti, bukan aku.
           
    “ lo kenapa Yo?” tanya ku kembali duduk di bangku ku. Mencari-cari sosok Ify yang tampaknya belum datang.
           
    Rio menoleh kepada ku, tiba-tiba tatapan tajam nya itu kini terganti kan dengan senyuman angkuh namun tetap terlihat rupawan. Senyuman yang –menurut teman teman cewek Shilla- membuat kaum Hawa menjerit-jerit melihatnya yang katanya –lagi- senyuman itu membuat Rio semakin keren dan terlihat cool seperti Pangeran Es yang sangat dingin dan kaku.
           
    Oke aku akuin semua itu memang benar, tapi kayanya gak usah lebay gitu juga deh, sampai Rio di anggap mirip Pangeran apa tadi ? Pangeran Es ? itu sih bener-bener berlebihan, batin ku.
           
    “ gue gak mau ada yang gangguin calon gadis gue. “ ucap Rio agak keras.
           
    Rio pun kembali ke tempat duduknya, seperti biasa mengeluarkan mp3 playernya, memasang headset nya di telinga, dan memejamkan mata nya saat lagu-lagu di play list mp3 nya Rio mulai terputar. Aku menatapnya heran, sifat nya berubah tidak karuan, seperti suhu udara, yang kadang-kadang dingin, kadang-kadang pula hangat.
           
    Aku pun tak memedulikannya dan mulai berkutat dengan PR matematika ku yang belum selesai. Tak lama kemudian Ify pun datang dan langsung duduk di sampingku.
           
    “ tugas kelompok kita mana?” tanya Ify sambil mengeluarkan kotak makannya, aku duga dia tidak sempat sarapan hari ini.
           
    Aku mengarahkan tangan ku menunjuk Rio yang masih terpejam mendengarkan lagu, “ tuh sama dia..” jawab ku.
           
    Ify menatap Rio, lalu menatap ku lagi, dan menatap Rio lagi, “ lo yakin dia yang ngerjain ?..” tanya Ify dengan nada ragu di ucapannya.
           
    Aku menatapnya dengan penuh cengiran ragu, “ hehe.. gak sih.. tapi kemaren tugas nya dibawa pulang loh sama dia!” ucap ku lagi memberi tahu keajaiban dunia yang satu lagi.
           
    Ify melongo, “ serius? Lo kasih pelet apaan ke Rio?” tanya Ify.
           
    Aku menoyor kepala Ify, “ mana gue tauuu, gue gak ngasih apa-apaan kok sama dia. Suer..” balas ku sambil memutar badanku 90 derajat menghadap Rio yang duduk di belakangku.
           
    Aku sentuh tangannya pelan, rasa hangat dari tubuh Rio itu kini mulai menjalar perlahan-lahan ke dalam tubuh ku. Menembus pertahanan ku, membuat pipiku bersemu merah saat aku menyentuh tangannya. Rasa hangat yang menjalar dari tangan Rio itu masih tertransfusikan ke tubuh ku. Masih tak percaya bahwa pemuda idaman di depan ku saat ini menyatakan perasaannya padaku.
                       
    “ rio..” panggil ku sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang tertumpu di meja.
           
    Ify yang melihat ku pun memandangku dengan pandangan lo-berani-banget-ganggu-dia. “ udah udah biarin aja, ntar lo malah kena omel sama dia, dia kan paling gak suka diganggu kalo lg denger lagu..” saran Ify yang tidak ku pedulikan.
           
    Aku tersenyum jahil, “ Rio kalo tidur pules kan Fy? “ tanyaku yang dijawab dengan anggukan Ify.
           
    Di otakku kini sudah menyatu rencana-rencana jahil yang akan membuat si pangeran sok ini malu. Aku berfikir kayanya kok aku jahat banget ya? tapi biarin aja lah, kapan lagi ngerjain cowok kaya gini, batin ku dalam hati.
           
    Aku mencari-cari sesuatu di dalam tempat pensilku, mengobrak-ngabriknya dan saat tidak ku temukan barang yang ku cari, aku berpaling ke tempat pensil Ify dan melakukan hal yang sama di sana. Lagi-lagi barang yang aku cari itu tidak ku temukan, aku pun mengedarkan pandangan ku ke seluruh penjuru kelas, dan mendapat sinyal-sinyal panggilan  berupa spidol hitam dan merah dari dalam tempat pensil milik Oik.
           
    Aku baru saja ingin berjalan menghampirinya saat Mrs. Uchie sudah masuk ke dalam kelas. Namun nampaknya kali ini dewi fortuna benar-benar betah berada di dekat ku. Mrs. Uchie hanya berada di kelas sesaat karena para guru SMP ini harus mengadakan rapat dadakan mengenai perlombaan menyanyi seprovinsi yang katanya akan di adakan 1 bulan lagi.
           
    Aku menoleh kepada Ify yang sedang mengetik karangannya di laptopnya. Teman ku yang satu ini memang ajaib. Di saat teman-temannya sedang serius dan berkonsentrasi belajar ia malah mengajak teman-temannya itu bercanda. Sedangkan saat teman-temannya sedang bercanda, dia malah serius belajar tidak mau di ganggu. Aku melirik sedikit ke arah layar laptopnya. Beberapa paragraph sudah tersusun dengan rapi di sana.
           
    “ ngelanjutin project Fy?” tanya ku.
           
    Ify mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari computer jinjing miliknya itu, “ iya, lusa harus udah di kirim ke penerbit.” Ucap Ify menyebutkan pekerjaan lainnya sebagai pelajar yaitu sebagai penulis novel remaja.
           
    Aku hanya manggut-manggut mendengar jawabannya, pandangan ku pun teralihkan ke arah Ray yang sibuk menggebuk-gebuk tempat makan, buku, tas, dan peralatan lainnya yang sedari tadi sudahh berubah wujud menjadi sepaket drum.
           
    “ lo ngapain ?..” tanya ku polos.
           
    Ray pun menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah ku, “ latihan drum.. kenapa ? mau ikutan ? bikin sendiri ya drumnya..  Haha“ tanyanya.

Aku kembali manggut-manggut dan menoleh ke arah lain setelah sebelumnya menyuruh Ray untuk melanjutkan aktifitas nya yang sempat terhenti tadi. Pandangan ku pun kini berubah ke arah sosok cowok yang masih memejamkan matanya di samping Ray.
           
    Gila, kebo banget.. kerjaan dia di rumah ngapain sih? Kok di sekolah kerjaannya tidur terus, batin ku dalam hati sambil memandangnya kecil.

                Tiba-tiba ide gila itu muncul lagi di otakku. Ide gila yang tadi belum sempat terlaksanakan oleh ku karena kedatangan si Mrs Uchie tadi. Aah daripada gak ada kerjaan aku lanjutin rencana tadi aja ah, gumamku pelan dan mulai berjalan ke meja Oik yang berada 2 meja di depan ku.

               “ Oik..Oik..” panggil ku dengan nada seperti anak bocah ingin mengajak bermain teman-temannya.

                Oik yang sedang memain kan hapenya itu pun menoleh ke arah ku, dan menaruh kembali hapenya di atas mejanya, “ eh Shilla.. aya naon teh Shil?” tanya Oik ramah. ( eh Shilla.. ada apa ya Shil? )

                 Wah ngajak ngomong sunda si Oik, udah tau aku paling gak bisa bahasa daerah. Aduh mana aku gak ngerti lagi dia ngomong apaan. minta translate sama siapa ya? ucap ku sambil mencari-cari orang yang bisa berbahasa sunda. Aha, si Ozy aja deh, batin ku dalam hati melihat Ozy yang duduk di seberang samping meja Oik.

                “ Ssh..ssh..” desis ku memanggil Ozy.

                Ozy pun menoleh ke arah ku, “ apa?” tanyanya.

                “ translatein omongannya Oik sini bantuin gue.” Ucap ku menarik tangan Ozy keluar dari bangkunya dan menggeretnya setengah paksa ke meja Oik.

                Aku pun menunjuk-nunjuk spidol Oik di depan Ozy menyuruh Ozy bilang kalau aku ingin meminjam spidol. Ozy memandangku bingung. Begitu juga dengan Oik, ia berusaha menebak-nebak apa yang ku inginkan.

                “ Ozy rek nginjem spidol ?..” tanya Oik dengan bahasa sundanya  yang membuat ku dan Ozy bengong karena sama-sama tidak mengerti bahasa Sunda.

                “ eh i..ini.. saye dan Shilla nak cakap kal.. aaaw..” ucapan Ozy terpotong saat aku menginjak kakinya.

                “ Oh, anjeun rek ngobrol sareung Ozy?” tanya Oik lagi membuat ku benar-benar bingung. ( oh, kamu  mau ngobrol sama Ozy? )

                “ lo ngomong bahasa mana tadi?” tanya ku.

                “melayu..” jawab Ozy asal.

                “ iuuuh, serius. Gue gak ngerti sama sekali nih si Oik ngomong apa..” balasku agak kencang karena ku fikir ah-bodo-amat Oik kurang paham ini gue ngomong apa.

                “ Shilla gak ngerti omongan Oik tadi ya?” tanya Oik menahan tawa.

                Aku dan  Ozy pun hanya dapat melongo melihat Oik berbicara lancar bukan dalam bahasa daerah. “ elo bisa bahasa kita?” tanya ku bodoh.

                Oik mengulum senyumnya, “ iya bisa lah Shilla, Oik ngomong bahasa sunda kan Cuma biar Oik enggak ngelupain bahasa daerah kita sendiri.. kita kan gak boleh melupakan bahasa daerah kita.. coba deh kamu liat perjuangan para pahlawan kita yang bla..bla..bla..” cerocos Oik panjang lebar ke segala jurusan pembicaraannya.

                Sementara Ozy sudah kembali ke tempatnya aku pun hanya dapat diam mencoba menulikan pendengaran ku agar tidak mendengar pembicaraan Oik yang mulai mengarah ke pelajaran IPS Sejarah. Hello, ini cewek kayanya terobsesi jadi guru sejarah ya? mau minjem spidol aja ribet banget deh.

                Tiba-tiba aku merasakan ada cengkeraman tangan yang sangat kasar di tanganku. Tangan itu pun menarikku ke luar kelas dengan kasar tanpa kasihan sedikitpun kepada ku. Meninggalkan Oik yang masih menjelaskan sejarah pejuang yang entah apa kabarnya itu padahal aku sudah tidak berada di sampingnya.


                ***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar