“ kok kamu gak nanya sih ini siapa? Apa jangan-jangan kamu udah tau ya aku siapa? Aah Papa kamu emang gak salah milih aku. Ternyata kamu udah punya feeling ya kalo aku yang nelfon.” Balas suara di seberang sana dengan nada centil menggoda.
Aku mengernyitkan dahiku mendengar ucapannya, “ heh lo siapa sih? Maksud lo apaan bokap gue milih lo?” Ucap ku pedas.
“ iih, masa kamu gak tau aku sih, temen sekelas kamuu, emang kamu belum tau Yo kalo kamu itu dijodohin sama aku? Ah kamu pura-pura belum tau yaa? Pengen ngasih aku surprise kan? Ayo ngaku ayo.” Jawab suara itu membuat kupingku panas mendengarnya.
“ gak gue gak tau, dan gue gak mau tau urusan gak penting kaya gitu.” Ucap ku sambil mematikan telefon tersebut dan melemparnya ke belakang yang langsung di tangkap oleh pembantuku yang masih berdiri di sana.
“ sudah Tuan telefonnya? Ada yang bisa saya bantu lagi?” tanya pembantuku itu.
“ udah, pergi sono, gue lagi gak ngebutuhin lo, ntar aja kalo gue butuh baru gue panggil lo.” Jawab ku tak sopan membuat pembantuku itu hanya dapat mengurut dadanya.
Jadi ini maksud Papa tadi siang saat menelfon ku? Jadi ini kejutan yang dia bilang? Kejutan berupa perjodohan yang dia berikan kepadaku? Aaaah gak gak, ini gak boleh berlanjut. Ini harus distop. Jangan sampai perjodohan itu bener-bener terjadi.
Bagaimana dengan Shilla? Bagaimana aku memberi tahunya tentang perjodohan ini?
Ah Shilla Shilla Shilla.. nama itu terus berputar-putar di otakku, membuat ku melayang-layang seperti kupu-kupu yang bertebaran bebas saat mengingat peristiwa tadi siang di studio musik di rumahnya.
Desah nafas dan wangi parfum strawberry itu masih dapat ku rasakan oleh alam sadarku. Mata air laut yang membuat ku terpana itu pun masih dapat ku bayangkan di fikiranku
Apa aku telfon dia aja ya? sekalian ngasih tau berita itu.
Hei, hari ini ada apa sih? Aneh banget.
Aku menuruti wanita bodoh itu datang ke rumahnya. Berlawanan bukan dengan sifatku ?
1. Aku menatapnya lama sekali saat di ruang musiknya tadi. Padahal belum pernah aku menatap cewek lama-lama yaa kecuali dengan Mama tentu saja.
2. Seharian penuh otakku terisi oleh wajah gadis bodoh itu.
3. Kenapa dengan spontan aku langsung menembaknya? Padahal aku baru kenal sehari dengannya.
Bodoh bodoh bodoh! Terlalu cepat tindakan yang kau ambil yo..
Shilla P.O.V
Bintang-bintang itu tersusun dengan indah di langit sana. Menghasilkan cahaya bersinar yang membuat ku tersenyum dan merasa tenang melihatnya. Fikiran ku masih di penuhi oleh peristiwa tadi siang di studio musik Papa.
Eh eh eh, kok jadi kepikiran si cowok sombong itu sih?
~ You can't play on broken strings..You can't feel anything..~
Irama lagu berjudul Broken Strings dari James Morrison dan Nelly Furtado itu mengalun merdu dari handphone ku yang berada di atas kasur saat itu. Aku pun segera masuk ke dalam dan menghamburkan begitu saja tubuhku ke atas kasur dan meraih handphone ku. Jantungku hampir saja berhenti melihat nama yang tertera di layar handphone ku saat itu.
“ ngapain lagi sih nih orang nelfon gue, paling juga abis putus ama selingkuhan barunya.” keluh ku melihat nama Cakka’s Calling di handphone ku, aku pun tanpa fikir panjang langsung mereject nada panggilan tersebut.
Aku pun meraih buku matematika yang berada di kasur ku saat itu, ku lanjutkan mengerjakan pekerjaan rumah yang tadi siang belum terselesaikan olehku.
~ You can't play on broken strings..You can't feel anything..~
Lagu itu kembali mengalunkan melodinya tanpa henti, Ah paling Cakka lagi, aku pun segera mengambil handphone itu dan membentak si penelepon itu tanpa melihat siapa yang menelfon.
“ APA? GANGGUIN ORANG LAGI BELAJAR AJA SIH LU!” bentakku tanpa ampun saat menjawab telefon dari seberang sana.
“ woy kalo ada yang telfon jawabnya yang sopan kek, jangan maen asal bentak gitu!” bentak suara di seberang sana tidak mau kalah.
Hei, ini siapa sih? Malem-malem gini nyaari ribut di telfon, kalo didenger dari suara nya ini bukan suara Cakka deh kayanya. Trus suara siapa dong? Tanya ku dalam hati, lalu ku lepaskan telefon itu dari telingaku dan ku lihat siapa yang menelfon ku saat itu. Aku tertawa terbahak-bahak saat melihat nama Rio di sana, Haha berarti yang aku bentak tadi Rio dong.
“ heh, udah ngebentak-bentak orang, malah diem lagi bukannya minta maaf!” omel cowok di seberang sana yang sempat ku acuhkan sesaat.
“ eh maaf yo maaf, gue kira tadi lo Cakka, ya udah gue langsung bentak aja, maaf yah haha sumpah gue ngakak pas tau elo yang nelfon gue.” Ucap ku.
“ makanya lo liat-liat dulu dong siapa yang telfon biar gak salah orang.”
“ eh tapi lo tuh pantes tau gue bentak-bentak kaya gitu,cowok sombong tuh emang harus di bentak-bentak gitu biar tobat. Haha “ jawab ku tak tau bahwa seseorang di seberang sana sudah mengepalkan tangannya mendengar jawaban memancing emosi itu.
“ terserah lo deh mau ngomong apa, gue Cuma mau nagih jawaban tadi siang.” Ucapnya.
“ hah? Jawaban apaan? “ tanya ku polos, lupa dengan permintaannya tadi siang.
Terdengar desah nafas pelan dari seberang sana, “ BODOH! Pikun banget sih lo,gue tadi siang kan nembak lo masa lo gak inget sih! ” Ucapnya mengingatkanku dengan kejadian tadi siang.
Aku pun hanya manggut-manggut saat mengingat permintaannya tadi siang, “ oh iya iya gue lupa, eh kok lo jadi bentak-bentak gue sih? Nembak cewek kaya gitu, yang romantis dikit kek biar gue tersentuh gitu,“ cerocos ku.
“ iya iya gue ngomong romantis nih, Shillaa jawaban tadi siang apa? Kamu jawab iya apa gak? Aku harap kamu jawab iya, kan kamu cewek kece nan baik hati..” ucap Rio sok dilembut-lembutkan.
“ emm pengen banget diterima nih? Kan baru kenal yoo, lo gila aja deh ah ” jawabku bingung.
“eh iya hehe sorry, terus gimana dong? Lo nolak gue? “ tanyanya lagi.
“gue gak nolak lo, gue belom jawab pertanyaan lo, jadi kasih gue waktu buat kenal lo lebih deket lagi.. sampai gue bener-bener yakin lo baik buat gue.. masalah nya lo gak meyakinkan nih hahaha” Ucap ku.
“ sialan lo, ya udah thanks yah! Oh iya, besok lo gue jemput jam 6 ya, harus udah siap gue paling anti sama kata NUNG-GU.” Ucapnya lagi.
Aku mengernyit heran, “ ngapain lo jemput gue?” tanya ku.
“ lo bener-bener bodoh ya, kan gue pedekate sama lo ceritanya. Makanya lo harus berangkat bareng gue. Kan biasanya orang pacaran kaya gitu. Jadi biar nanti pas kita udah pacaran, udah biasa..” Jelas nya yang hanya ku jawab dengan manggut-manggut, jujur di dalam hati ini ada sedikit perasaan senang.
“ iya, iya gue ngerti.” Jawab ku singkat.
“ ya udah, ntar pulsa gue abis lagi Cuma buat nelfon lo. Udah ah,” ucapnya lalu mematikan telfonnya tanpa mengucapkan sedikit pun kata penutup atau kata pamit dari mulutnya.
Aku pun menaruh kembali handphone ku di kasur dan merebahkan tubuh ku. Memejamkan mataku untuk menyambut hari esok.
Rio P.O.V
05.56 Wib.
Cuaca bandung sangat dingin pagi itu. Dengan posisinya yang berada di puncak, aku merasa kedinginan dengan suhu dan udara yang dimiliki Bandung pagi itu. Sebuah jaket yang terpasang di tubuhku pun masih membuatku merasa dingin.
Pagi itu aku sudah bertengger dengan rapi di depan rumah di deretan perumahan Kencana yang berada tak jauh dari rumah ku. Dengan bersender di badan jaguar ku sambil mengarahkan jari-jari ku menyentuh layar yang berada di genggaman tangan ku itu ternyata tak juga dapat menghilangkan kebosanan ku menunggu Shilla keluar dari rumahnya.
Aku cari nama nya di dalam phonebook ku, dan ku sentuh tulisan “ Call “ di handphone ku itu.
Tuut.. tuut..
“ heh cepet, gue udah di luar rumah lo nih, lama banget sih!” omel ku saat Shilla mengangkat telefon dari ku.
“ iya udah buruan.. ampe 10 menit lo gak keluar gue tinggal ya..” ucap ku lagi.
Lalu ku masukkan kembali benda berlayar sentuh itu ke dalam saku celana ku. Dan membuka pintu mobil pengemudi agar Shilla langsung masuk tanpa harus membuka pintu itu.
Tiba-tiba pintu di rumah Shilla terbuka, seseorang keluar dari dalam sana. Namun bukan Shilla yang dapat ku lihat di sana, melainkan seorang lelaki muda berpakaian rapih keluar dari dalam rumah itu, dan masuk ke dalam mobilnya yang terparkir rapi di depannya.
Pintu gerbang pun terbuka dan mobil itu meluncur pelan keluar dari sana, namun mobil itu berhenti tepat saat pemilik mobil itu melihat ku. Kaca mobil itu pun terbuka.
“ nunggu Shilla?” tanya lelaki tersebut ramah.
“ eh iya,” jawab ku canggung.
“ Shilla masih di dalam, kamu siapanya? Pacarnya?” tanya lelaki itu yang ku duga adalah Ayah Shilla.
Aku tergagap menjawab pertanyaan lelaki itu, “ eh.. emm.. buk..eh ..i..”
“ sudah gak usah di jawab, Om udah tau kok jawaban nya. Pantas saja dari kemaren Shilla selalu ceria. Ya sudah, Om minta kamu jaga Shilla baik-baik ya, Om berangkat dulu ya. “ ucapnya dengan ramah dan bijaksana.
“ iya Om, hati-hati ya Om..” balasku kaku.
Mobil itu sudah menutup kacanya, namun terbuka lagi untuk kedua kalinya, “ oh iya nama kamu siapa?” tanyanya .
“ Mario Stevano Haling om, panggil saja Rio.” Jawabku mencoba tidak bersikap sombong saat menyebutkan nama terakhir ku. Nama keluarga ku.
Lelaki itu menatap ku dengan pandangan aneh, “ Haling? Kamu anak Tuan Haling? Pemilik Haling Cooperation yang terkenal itu?” tanyanya lagi kali ini menyebutkan nama Papa dan perusahaan milik Papa itu.
“ iya Om, saya anak nya.” Jawab ku singkat menahan niat ku untuk menjelas kan lagi tentang perusahaan Papa itu, lebih baik aku tahan saja niat ku itu. Dari pada nanti Ayah Shilla ini mengira aku sombong.
“ oh ya sudah, om duluan ya. hati-hati kamu sama Shilla nanti.” Pamit lelaki itu.
Perbincangan singkat di pagi hari itu membuat ku merasakan kecocokan saat mengobrol dengan Papa Shilla itu. Papa Shilla sangat ramah, tapi kenapa Shilla nya enggak yah? Batinku sambil senyam-senyum sendiri tidak menyadari kehadiran Shilla di hadapan ku.
“ waah bener-bener udah sakit nih cowok,” gumam Shilla melihat Rio senyum-senyum sendiri. “ heh, sadar woy, senyam-senyum mulu lo, ayo berangkat, udah hampir jam setengah tujuh nih!” ucap Shilla menyadarkan ku, Shilla pun melewati ku dan langsung masuk ke dalam mobil ku yang memang pintunya sudah terbuka.
Aku melirik ke arah penunjuk waktu berwarna hitam di pergelangan ku, “ gila, ngaret banget tuh cewek.” Keluh ku langsung masuk ke dalam mobil dan mengemudikan jaguar ku melewati jalan yang lengang menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, seperti biasa, para gadis penggemar ku itu sudah mengamati mobilku yang mulai memasuki pekarangan sekolah, tapi kali ini ada yang berbeda pasti. tatapan mereka kali ini seolah-olah ingin menelanjangi mobil ku dan melihat siapa gadis yang berada bersama ku saat itu.
Aku memarkirkan mobil ku di tempat yang memang khusus dibuat untukku, lalu menahan tangan Shilla yang ingin keluar dari mobil. “ biar gue yang bukain.” Ucap ku singkat.
Lalu aku pun ke luar dan berjalan ke arah pintu mobil tempat Shilla berada, membuka pintunya, membungkuk di depannya seperti seorang cowok yang bersikap romantis seperti di film-film, lalu menengadahkan tanganku menawari nya untuk ku gandeng.
Shilla hanya dapat melongo melihat perlakuan ku yang tak seperti biasanya itu, namun dia tidak menolak tawaran tangan ku yang sudah di hadapannya itu. Shilla pun menaruh tangannya di atas telapak tangan ku itu, dan keluar dari jaguar hitam ku bersamaan dengan keterkejutan yang dirasakan oleh para siswa lain saat melihat tangan ku menggandeng tangan Shilla.
Aku pun menutup pintu mobil dan memasukkan kunci mobil ku ke dalam saku celanaku, lalu menggandeng Shilla melewati lorong-lorong kelas masih dengan tatapan kaget teman-temanku dan juga tatapan sinis dan iri teman-teman cewek ku yang ku duga adalah penggemar ku.
Saat melewati kelas Alvin, tanpa disengaja Alvin juga keluar untuk membuang sampah dan kaget melihat ku berjalan beriringan dengan Shilla dan tak lupa menggandengnya.
Kami pun terpaksa berhenti sejenak saat Alvin menahan ku dan berputar mengelilingi kami berdua dengan tatapan takjub, “ ckck, kok gandengan? Jalan bareng pula? Kalian jadian?” tanya Alvin selesai mengitari kami.






0 komentar:
Posting Komentar