“ itu kamar lo?” tanya ku pada Shilla sambil menunjuk ruangan itu.
Shilla melihat ke arah yang ku tunjuk dan menggeleng, “ bukan, itu studio musik punya Papa, kenapa? Mau liat?” tawarnya mengetahui mataku yang terus menatap penasaran ke ruangan itu.
Aku mengangguk, dan Shilla pun mengajakku masuk ke dalam ruangan itu. Shilla menggeser pintu tersebut secara perlahan, dan masuk kedalam ruangan itu. Saat aku masuk ke dalam ruangan itu, aku sudah di sambut oleh sepasang gitar coklat yang menarik pandanganku, bukan hanya gitar yang ada di dalam itu. Ada juga biola, sepaket drum, gitar elektrik, bass, keyboard, dan…. Grand Piano putih yang sangat cantik.
Shilla duduk di sebuah kasur yang berada di dalam ruangan itu, meraih sebuah gitar dan memainkannya secara asal, aku tertawa melihat permainannya yang hancur-hancuran. Aku pun menghampirinya dan tanganku melingkari tubuhnya untuk menggapai gitar tersebut. Aku arahkan jemari nya ke arah nada kunci yang benar, dan tanganku yang satu lagi memegang tangannya yang menggenggam gitar.
“ kalo main gitar tangannya harus kaya gini, “ ucapku tepat ditelinganya karena posisiku saat itu yang seperti ingin memeluknya.
Shilla menoleh ke arah ku, wajahnya kini berada sangat dekat denganku. Aroma parfum strawberry tercium olehku. Tanpa sadar aku memandangnya tanpa mengedipkan mata ku sekali pun. Wajah gadis ini sangat cantik, putih, dengan hidung yang mancung dan bola mata yang bening seperti air laut, aku dapat merasakan kesejukan saat menatap matanya.
Shilla P.O.V
Bau parfum itu mulai merasuk ke dalam fikiranku, wangi parfum itu seolah membuat ku berada di laut yang indah. Aku terdiam saat cowok itu mulai mengarahkan tanganku di atas gitar milikku, aku menoleh ke arahnya, dan pandangan ku langsung mengarah ke peleleh es miliknya, sepasang mata yang sangat dingin dan tajam, namun ku rasa mata itu mampu melelehkan es batu sekeras apapun jika terus menerus memandangnya.
Hatiku mulai berdesir lembut, jantung ku berdetak cepat tak karuan saat terus menerus menatap matanya. Peleleh es itu terus menerus menatapku tajam. Hentikan, hatiku bisa benar-benar mencair jika kau terus memandang ku seperti itu. Desiran lembut itu terus menerus menghantam perasaan ku sehingga membuat jantung ku memacu semakin cepat.
Aku menggerakkan tubuh ku dan menjauh darinya,” maaf.” Ucapku yang salah tingkah.
Rio tersadar dari tatapannya, “ eh i..iya maaf.. sorry,” ucapnya.
Keheningan pun mulai terjadi di dalam ruangan itu. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir ku maupun bibirnya. Dia kini duduk di depan Grand Piano milik Mama dan sedari tadi memainkan irama music klasik dari Mozart yang judulnya apa aku lupa.
Permainan pianonya benar-benar sangat hebat, membuatku terpaku dan terperangah melihatnya. Sekarang aku percaya dengan cerita Ify yang katanya dia selalu mendapatkan juara di dalam perlombaan musik, atau pun di dalam festival musik.
Debaran itu kembali datang menghampiriku. Apa ini? Apa maksud debaran ini? Apa aku jatuh cinta padanya? Apa ini yang dinamakan cinta? Cinta yang sering kuibaratkan dengan balon, karena jika ia terus menerus diberi udara, balon itu akan tumbuh membesar dan terbang melayang ke langit yang luas sama seperti perasaan ku kini yang tengah melayang tinggi ke dalam dunia cintaku.
Aku mulai yakin bahwa ini lah yang namanya cinta. Tapi aku takut, aku takut jika balon itu semakin melayang ke atas maka balon itu akan pecah dengan keras tanpa ampun. Sudah lah Shil, buang jauh-jauh perasaan mu kepada Rio, mana mungkin orang seperti dia dapat membalas perasaanmu, batinku dalam hati.
Rio kini tengah duduk gelisah disampingku setelah menerima telephone dari Papanya.
“ elo kenapa?” tanya ku.
“ gapapa.. “ jawab Rio.
Jaguar ku melaju membelah jalanan kota bandung yang lengang itu dengan kecepatan sedang. Pikiran ku terpecah belah kepada omongan Papa tadi dan pikiran ku yang satu lagi mengarah kepada gadis yang sedari tadi siang terus memenuhi kehidupanku.
Aah memikirkan gadis itu malah membuatku semakin gila.
Ternyata.. jatuh cinta itu indah ya, batinku dalam hati.
Tanpa sadar jaguarku sudah memasuki perumahan Airlangga dan kini sudah berhenti dan terparkir dengan rapi di halaman rumahku yang sangat luas itu.
Aku membuka pintu mobil dan menutupnya begitu aku sudah di luar. Ku langkahkan kakiku menaiki setiap anak tangga yang berada di depan rumahku. Gagang pintu itu sudah terbuka, dank u lihat Riko, kakak ku tengah duduk di sofa ruang tamu.
Ku lewati dia begitu saja, dan ku arahkan kakiku menuju tangga yang akan membawa ku ke istana kecilku di kamar.
Tok, Tok, Tok..
“ Rio..”
Tok, Tok, Tok..
Panggilan di luar pintu itu membuyarkan semua lamunan ku tentang Shilla. Aku beranjak dari istirahat ku dan beranjak membuka pintu saat ku lihat Riko sudah berada di depan pintu yang sudah terbuka lebar.
“ heh siapa suruh lo buka pintu tanpa izin gue?” sinisku.
Riko tertawa kecil, “ gak ada, abis lo kelamaan sih buka pintunya. Keburu lumutan gue nunggu di depan.” Ucapnya sedikit bercanda.
“ udah deh lo mau ngapain ke sini?” tanya ku sambil duduk di tepi tempat tidur king-size ku.
Riko ikut duduk di sampingku dan mengangkat kakinya lalu duduk dengan posisi bersila, “ udah dapet telfon dari Papa?” tanyanya sambil menatapku.
“ udah.” Jawab ku singkat.
“ trus lo mau?” tanya nya lagi.
“gak ngerti gue lo ngomong apaan,” Aku mengangkat bahu dan berjalan ke lemari bajuku, mengambil sebuah kaos biru laut bermerk spalding dan sebuah celana pendek putih, lalu berjalan ke kamar mandi dan menghentikan langkahku saat sudah di depan pintu kamar mandi.






0 komentar:
Posting Komentar