RSS

The Crucial Of Love -3


                “ itu kamar lo?” tanya ku pada Shilla sambil menunjuk ruangan itu.

                Shilla melihat ke arah yang ku tunjuk dan menggeleng, “ bukan, itu studio musik punya Papa, kenapa? Mau liat?” tawarnya mengetahui mataku yang terus menatap penasaran ke ruangan itu.

                Aku mengangguk, dan Shilla pun mengajakku masuk ke dalam ruangan itu. Shilla menggeser pintu tersebut secara perlahan, dan masuk kedalam ruangan itu. Saat aku masuk  ke dalam ruangan itu, aku sudah di sambut oleh sepasang gitar coklat yang menarik pandanganku, bukan hanya gitar yang ada di dalam itu. Ada juga biola, sepaket drum, gitar elektrik, bass, keyboard, dan…. Grand Piano putih yang sangat cantik.

                Shilla duduk di sebuah kasur yang berada di dalam ruangan itu, meraih sebuah gitar dan memainkannya secara asal, aku tertawa melihat permainannya yang hancur-hancuran. Aku pun menghampirinya dan tanganku melingkari tubuhnya untuk menggapai gitar tersebut. Aku arahkan jemari nya ke arah nada kunci yang benar, dan tanganku yang satu lagi memegang tangannya yang menggenggam gitar.

                “ kalo main gitar tangannya harus kaya gini, “ ucapku tepat ditelinganya karena posisiku saat itu yang seperti ingin memeluknya.

                Shilla menoleh ke arah ku, wajahnya kini berada sangat dekat denganku. Aroma parfum strawberry tercium olehku. Tanpa sadar aku memandangnya tanpa mengedipkan mata ku sekali pun. Wajah gadis ini sangat cantik, putih, dengan hidung yang mancung dan bola mata yang bening seperti air laut, aku dapat merasakan kesejukan saat menatap matanya.

                Shilla P.O.V

                Bau parfum itu mulai merasuk ke dalam fikiranku, wangi parfum itu seolah membuat ku berada di laut yang indah. Aku terdiam saat cowok itu mulai mengarahkan tanganku di atas gitar milikku, aku menoleh ke arahnya, dan pandangan ku langsung mengarah ke peleleh es miliknya, sepasang mata yang sangat dingin dan tajam, namun ku rasa mata itu mampu melelehkan es batu sekeras apapun jika terus menerus memandangnya.

                Hatiku mulai berdesir lembut, jantung ku berdetak cepat tak karuan saat terus menerus menatap matanya. Peleleh es itu terus menerus menatapku tajam. Hentikan, hatiku bisa benar-benar mencair jika kau terus memandang ku seperti itu. Desiran lembut itu terus menerus menghantam perasaan ku sehingga membuat jantung ku memacu semakin cepat.

                Aku menggerakkan tubuh ku dan menjauh darinya,” maaf.” Ucapku yang salah tingkah.

                Rio tersadar dari tatapannya, “ eh i..iya maaf.. sorry,” ucapnya.

                Keheningan pun mulai terjadi di dalam ruangan itu. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir ku maupun bibirnya. Dia kini duduk di depan Grand Piano milik Mama dan sedari tadi memainkan irama music klasik dari Mozart yang judulnya apa aku lupa.

                Permainan pianonya benar-benar sangat hebat, membuatku terpaku dan terperangah melihatnya. Sekarang aku percaya dengan cerita Ify yang katanya dia selalu mendapatkan juara di dalam perlombaan musik, atau pun di dalam festival musik.

                Debaran itu kembali datang menghampiriku. Apa ini? Apa maksud debaran ini? Apa aku jatuh cinta padanya? Apa ini yang dinamakan cinta? Cinta yang sering kuibaratkan dengan balon, karena jika ia terus menerus diberi udara, balon itu akan tumbuh membesar dan terbang melayang ke langit yang luas sama seperti perasaan ku kini yang tengah melayang tinggi ke dalam dunia cintaku.

                Aku mulai yakin bahwa ini lah yang namanya cinta. Tapi aku takut, aku takut jika balon itu semakin melayang ke atas maka balon itu akan pecah dengan keras tanpa ampun. Sudah lah Shil, buang jauh-jauh perasaan mu kepada Rio, mana mungkin orang seperti dia dapat membalas perasaanmu, batinku dalam hati.

              Rio kini tengah duduk gelisah disampingku setelah menerima telephone dari Papanya.

              “ elo kenapa?” tanya ku.

              “ gapapa.. “ jawab Rio.

“ eh Shil..” panggil Rio.

Aku menoleh ke arahnya, “kenapa?” tanya ku.

“ lo percaya cinta pandangan pertama gak?” tanya nya.

Aku menatapnya heran, ada apa dengan pemuda ini? Pertanyaannya aneh sekali. Tunggu, kenapa perasaan ku jadi berdebar-debar seperti ini? “ hmm sedikit percaya sedikit enggak,kenapa?”

“ aduh gimana ya emm gue gak bisa romantis nih, emm itu emm elo mau jadi…jadi pacar gue gak?” tanyanya sambil menggaruk-garuk kepala dan menunduk menutupi wajahnya yang memerah.

                Rio P.O.V

                Jaguar ku melaju membelah jalanan kota bandung yang lengang itu dengan kecepatan sedang. Pikiran ku terpecah belah kepada omongan Papa tadi dan pikiran ku yang satu lagi mengarah kepada gadis yang sedari tadi siang terus memenuhi kehidupanku.

            Aah memikirkan gadis itu malah membuatku semakin gila.

             Ternyata.. jatuh  cinta itu indah ya, batinku dalam hati.

              Tanpa sadar jaguarku sudah memasuki perumahan Airlangga dan kini sudah berhenti dan terparkir dengan rapi di halaman rumahku yang sangat luas itu.

              Aku membuka pintu mobil dan menutupnya begitu aku sudah di luar. Ku langkahkan kakiku menaiki setiap anak tangga yang berada di depan rumahku. Gagang pintu itu sudah terbuka, dank u lihat Riko, kakak ku tengah duduk di sofa ruang tamu.

                Ku lewati dia begitu saja, dan ku arahkan kakiku menuju tangga yang akan membawa ku ke istana kecilku di kamar.

Haaah, ku rebahkan tubuhku di kasur. Tumben-tumbenan badan ku pegal sekali hari ini. Aku teringat tanganku yang terkena luka tadi. Aku usap lembut tangan yang tengah terselimuti kain perban itu. “ kenapa lo bisa bikin perasaan gue gak karuan gini sih?” tanya ku pada diri sendiri.

Wajah gadis itu terus membayang-bayangi alam fikiran ku. Matanya yang bening seperti air laut membuat teringat bagaimana indahnya kejadian tadi yang sempat membuat jantungku berpacu dengan cepat. Belum pernah aku mengalami kejadian seperti ini.
           
Sungguh, aku masih tidak menyangka kata-kata tadi tercetus keluar begitu saja dari mulutku. Terlalu cepat ya? Memang. Tapi biarlah, walaupun perasaan ini masih rasa suka. Aku percaya kalau nanti rasa ini akan berubah jadi rasa sayang.
          
    Tok, Tok, Tok..

                “ Rio..”

                Tok, Tok, Tok..

                Panggilan di luar pintu itu membuyarkan semua lamunan ku tentang Shilla. Aku beranjak dari istirahat ku dan beranjak membuka pintu saat ku lihat Riko sudah berada di depan pintu yang sudah terbuka lebar.

                “ heh siapa suruh lo buka pintu tanpa izin gue?” sinisku.

                Riko tertawa kecil, “ gak ada, abis lo kelamaan sih buka pintunya. Keburu lumutan gue nunggu di depan.” Ucapnya sedikit bercanda.

                “ udah deh lo mau ngapain ke sini?” tanya ku sambil duduk di tepi tempat tidur king-size ku.

                Riko ikut duduk di sampingku dan mengangkat kakinya lalu duduk dengan posisi bersila, “ udah dapet telfon dari Papa?” tanyanya sambil menatapku.

                “ udah.” Jawab ku singkat.

                “ trus lo mau?” tanya nya lagi.

                “gak ngerti gue lo ngomong apaan,” Aku mengangkat bahu dan berjalan ke lemari bajuku, mengambil sebuah kaos biru laut bermerk spalding dan sebuah celana pendek putih, lalu berjalan ke kamar mandi dan menghentikan langkahku saat sudah di depan pintu kamar mandi.
         
     “ keluar gih, gue gak mau ada makhluk sejenis yang ngintipin gue pas lagi mandi.” Usirku lalu menutup pintu kamar mandi dengan keras, dan mulai lah terdengar bunyi kucuran air dari dalam kamar mandi itu.
          
    Riko menggeleng-gelengkan kepalanya berdecak kecil, “ kapan lo bisa berubah Yo?” gumam Riko pelan.
          
    ***
          
    Saat ini aku tengah terduduk rapi di depan meja computer ku. Pandangan ku terus tertuju menghadap computer di depan ku ini. Tangan ku tak henti-hentinya mengetik makalah seperti contoh yang dibuat oleh Shilla tadi. Satu setengah jam, waktu yang ku habiskan di depan computer ini untuk mengerjakan 15 lembar tugas yang berisikan makalah dari Pak Duta.
          
    Selama satu setengah jam itu pula pandangan ku sesekali melihat ke arah benda berlayar sentuh yang sedari tadi teronggok diam di atas meja di samping meja komputerku. Entah apa yang ku nantikan dari tadi melihat benda mungil itu.

Apa mungkin telfon atau sms dari Shilla? Atau hal lainnya? Aah bodo. Biarkan saja, toh juga palingan tidak ada yang menghubungiku malam ini. Sama seperti malam-malam sebelumnya.

Lebih baik ku lanjutkan saja mengetik tugas ini yang masih tersisa lima lembar lagi.

Tangan ku pun mulai bergerak lincah di atas keyboar bersusunkan huruf-huruf dari A sampai Z, terkadang tanganku berpindah ke arah mouse untuk mengubah sedikit susunan yang menurutku kurang pantas dan kurang cocok dalam makalah itu. Sesekali pula mataku melirik ke arah benda berlayar sentuh yang masih diam membisu tanpa mengeluarkan suara apapun.


Tiba-tiba pintu kamar ku terkuak kecil, dan masuk lah seorang pembantu ku yang sudah lumayan lama mengabdi di keluarga ku ini. Aku tak peduli dengan keberadaannya, paling-paling juga cuma mau nanya malam ini aku ingin dibuatkan makanan apa.

“ Tuan Rio, ada telefon untuk tuan.” Ucapnya membuat ku spontan langsung menoleh ke arahnya.

“ hah telfon? Buat gue?” tanya ku tak percaya ada yang menelfon ku –ke rumah- padahal biasanya mereka kalau menelfon langsung ke handphone ku.

Pembantu yang kira-kira berumur 45 tahunan itu mengangguk, “ iya Tuan, tadi dari cewek, namanya Si..Si.. siapa gitu lupa Tuan pokoknya namanya ada Si-Si nya.” Jawab pembantu ku itu polos.

Aku hanya ber-o-ria dengan mulutku, paling Cuma cewek yang mengejar-ngejar ku saja di sekolah yang menelfon ku. Hei tapi tunggu! Tadi dia bilang apa? Cewek yang ada nama Si-nya? Si? Shilla kah? Apa Shilla yang menelfon ku?

“ Si? Si Siapa bi?” tanya ku.

Pembantu ku itu mendesah pelan, “ aduuh, bibi lupa Tuan.. maaf tadi soalnya suara nya kecil banget.” Jawab pembantuku itu dengan tampang yang amat bersalah.

“ iya udah gapapa, mana telfonnya? “ pintaku.

Pembantu itu menatap ku heran, “ telfonnya di bawah tuan. Kan biasanya Tuan Riko sama Papa Tuan kalo ngejawab telfon kan di bawah.” Jawab nya heran.

Aku menggeram kesal, bodoh banget sih pembantu yang satu ini, kenapa gak langsung dibawa ke atas aja, toh telfonnya kan tanpa kabel.

“ ah elah itu kan Riko sama Papa, beda sama gue. Udah gih ambilin sono telfonnya. Cepetan gak pake lama.” Perintah ku yang membuat pembantuku itu segera berlalu dengan cepat, takut kemarahan Tuan mudanya semakin menjadi-jadi.

Tak sampai 2 menit pembantu berseragam biru muda itu sudah kembali dengan segenggam telefon di tangannya, ia pun menyodorkan telefon itu ke arah ku. Tanpa menoleh ke arahnya aku langsung merebut telefon itu dari tangannya. Mataku yang sedari tadi berbinar-binar mengira itu telefon dari Shilla langsung berubah tajam mengetahui siapa penelfon tersebut.

“ Hai Yo..” sapa suara dari seberang sana.

Aku yang merasa ini bukan suara Shilla pun hanya menjawab nya dengan jawaban singkat,” ya.” sinis ku.

“ kok kamu gak nanya sih ini siapa? Apa jangan-jangan kamu udah tau ya aku siapa? Aah Papa kamu emang gak salah milih aku. Ternyata kamu udah punya feeling ya kalo aku yang nelfon.” Balas suara di seberang sana dengan nada centil menggoda.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar