RSS

The Crucial Of Love -2


Rio dan Alvin menoleh ke arah pemilik suara tersebut, “ gila cakep banget.” Gumam Alvin saat melihat Shilla di hadapan mereka.
                Shilla nampak terengah-engah dengan keringat bercucuran di wajah putihnya, “ heh! Lo! Balik ke kelompok Ify, lo gak jadi dikeluarin.” Ucap Shilla dengan setengah terpaksa.
                Alvin tercengang mendengar Shilla yang sama sekali tidak merasa segan berbicara dengan Rio, beda dengan cewek-cewek lain di sekolah mereka, yang selalu bersikap dan berbicara sok-sok manis di depan Rio hanya untuk menarik perhatiannya. Gila, ini cewek siapa sih? Berani banget sama Rio. Gatau apa Rio itu siapa. Beda banget sama cewek lain. Tanya Alvin dalam hati.
                Wajah Rio nampak kesal melihat gadis ini lagi di depannya, “ gue gak mau.” Jawab Rio.
                Shilla nampak geram, “ elah, lo tuh manusia macam apa sih? Keras kepala banget, gak punya hati apa ya? gue udah capek-capek lari kesini ngejar lo dengan terpaksa kalo bukan karna perintah Ify sama Ray tapi lo malah gini. “ omel Shilla membuat Alvin tambah tercengang.
                Rio menatap wajah Shilla, “ gue gak peduli.” Sinis Rio.
                “ stress! Elo itu….. cowok tergila yang pernah gue temuin! Permisi.” Maki Shilla berlalu kembali ke kelasnya.
                Alvin menatap Rio yang masih memandangi  kepergian cewek itu, “Rio.. dan cewek itu..emm.cocok juga.. “ batin Alvin dalam hati.
                Rio menatap gadis itu dengan geram, “ cewek songong,” gumamnya.
                Alvin senyam-senyum sendiri mendengar gumaman temannya tersebut, Rio yang melihatnya pun menatap Alvin dengan tatapan mencibir, “ ngapain lo senyam-senyum? “ tanya Rio.
                “ enggak, lagi pengen senyum aja ngeliat ada cewek yang berani maki-maki Mario secara langsung.”
                Rio semakin menggeram mendengar ucapan Alvin,  ia pun segera pergi ke mobil nya tanpa sedikitpun pamit kepada Alvin. Alvin pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Rio itu.
                Braak! Rio membanting pintu mobilnya.
                “ gila semuanya gila! Itu cewek siapa sih berani ngebentak-bentak gue. “ umpat Rio.
                Drrrttt..drrrtt.. getar handphone Rio membuyarkan semua fikirannya. Rio mengambil handphonenya yang tadi ia taruh di dasbor mobilnya. Handphone keluaran terbaru berlayar sentuh itu kini berada tepat di telinga Rio.
                “ ya halo.. apa? Kerumah lo? Siapa lo nyuruh-nyuruh gue.. oya? Bodo amat, gue gak mau.. terserah lo, yang pasti Pak Duta lebih nurut sama gue dibandingkan sama lo! “ bentak Rio di telephonenya yang langsung ia tutup.
                Tiba-tiba tanpa sadar Rio tidak mengarahkan mobilnya ke arah Perumahan Airlangga. Perumahan tempatnya tinggal. Dia menepikan mobilnya dan mengambil ponselnya.
                “ cariin alamat rumah Shilla! Dan segera sms ke gue.” Perintah Rio tegas dan langsung mematikan ponselnyaya dan menaruhnya kembali di dasbor.
                Tak lama kemudian, hapenya berbunyi menandakan ada sms masuk, Rio pun membukanya dan tersenyum ketika membacanya, “ perumahan Kencana 29 B..” ucapnya pelan dan segera melajukan mobilnya ke alamat yang dituju.
                ***
                Kini Ify, Shilla dan Ray tengah duduk di halaman belakang rumah Shilla. Halaman belakang rumah Shilla memang luas, dengan tanaman bunga yang tertanam mengelilingi tembok di sekelilingnya, halaman itu terlihat sangat indah dan nyaman. Belum lagi kolam renang yang terletak tak jauh dari gazebo tempat Shilla,Ify dan Ray beristirahat, kolam renang berair biru itu membuat siapapun yang melihatnya ingin langsung menceburkan diri ke dalamnya.
                Dan kini dengan 3 buah gelas berisikan ice chappuccino dan 3 buah piring kecil berisikan cake tiramisu membuat mereka bertiga tambah nyaman di rumah itu. Ray bahkan minta tambah cakenya kepada Shilla.
                “ Shil, minta lagi dong? Laper nih, hehe” ucap Ray tanpa malu-malu sambil menyodorkan piringnya ke Shilla.
                Shilla dan Ify melongo ketika Ray minta tambah lagi, “ Ray elo kan udah makan sampe 3 kali, masa mau minta tambah lagi?” ucap Ify kaget.
                Shilla tertawa, “ haha gapapa kok Fy, lagian kuenya juga di rumah gak ada yang makan,” ucap Shilla sambil mengambil piring Ray dan kembali ke dapur.
                Ting Tong.. Ting Tong.. Ting Tong..
                Bel rumah Shilla berbunyi tiga kali tanpa henti, Shilla yang saat itu berada di dapur mendengus kesal mengetahui tamunya yang sepertinya tidak sabaran itu. Shilla pun menaruh piringnya kembali dan berjalan menuju ruang tamu.
                Ting Tong.. Ting Tong.. Ting Tong..
                “ iya iya bentar dong, sabar kenapa sih, gk bis…” ucapan Shilla terhenti ketika mengetahui siapa yang datang, “ ngapain lo kemari?” tanya Shilla sinis.
                Cowok yang ternyata Rio itu dengan seenaknya masuk ke dalam rumah Shilla dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah Shilla sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “ berantakan banget!” cibir Rio sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
                “ heh, elo ya, udah dateng seenaknya, maen masuk rumah orang tanpa izin, pake ngata-ngatain rumah gue segala lagi. Wajar lah rumah gue masi berantakan, namanya juga baru ditempatin.” Bela Shilla.
                Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, “ alasan klasik.” Sinis Rio.
                “ udah deh, lo ngapain kemari?”
                “ kan lo yang nyuruh tadi.”
                “ kan lo gak mau, jadi kayanya kedatengan lo udah gak dibutuhin lagi deh disini. Mending lo pulang. Rumah gue gak nerima orang sombong kaya lo!” usir Shilla telak membuat Rio menggeram marah.
                “ lo gak ngehargain gue banget sih? Gue udah muter balik mobil gue ke sini, lo malah ngusir gue.” Bentak Rio.
                Shilla nampak tidak takut dengan ucapan Rio, bahkan ia membentak Rio lebih kencang, “ lo bilang gue gak ngehargain? Gak nyadar banget ya, tadi juga lo kan gituin gue. Jadi impas ya!” bentak Shilla tak mau kalah.
                Ray dan Ify yang mendengar samar-samar keributan di ruang tamu pun segera menghampiri ruang tamu itu dan menemukan Rio dan Shilla tengah terlibat dalam pertengkaran yang seru. Ify dan Ray saling pandang melihat keberadaan Rio di rumah Shilla,
                “ Rio dateng?” tanya Ray sambil menatap Ify yang berada disampingnya tak kalah terkejut.
                “ itu beneran Rio?” tanya Ify balik.
                Rio yang terkenal dengan ke angkuhan dan kesombongannya benar-benar membuat Ray dan Ify terkejut dengan keberadaan Rio  di rumah ini. Pasalnya Rio dikenal paling tidak suka bahkan bisa dibilang anti-ingat anti- untuk main ke rumah orang, kini berada di rumah orang lain. Bahkan orang yang baru ia kenal sehari. Ada angin apa coba sosok cowok sombong itu ada di rumah ini?
                “ Rio lo dateng?” tanya Ify takjub.
                Rio menoleh ke arah Ify dan memandangnya sinis, “ iya. Apa ? gak suka ? mau ngusir gue juga kaya dia ?” tanya Rio sinis.
                Ray pun merangkul Rio dan mengajaknya ke halaman belakang rumah Shilla, “ selaw bro, mereka Cuma pada kaget aja ngeliat lo dateng. Kan jarang-jarang tuh seorang Mario Stevano Haling main ke rumah orang.”
                “ iya gue tau, udah deh buruan kerja kelompoknya, gue gak punya banyak waktu.” Sombong Rio sekali lagi.
                Ray pun segera memanggil Shilla dan Ify yang masih merengut kesal dengan kedatangan Rio yang amat sangat tidak diharapkan. Namun kalau bukan karena paksaan dari tugas kelompok yang diberikan Pak Duta, mungkin Rio saat ini sudah diusir-usir oleh Shilla dari rumahnya.
                Akhirnya mereka pun memulai mengerjakan tugasnya. Ify yang memang sudah menyelesaikan tugasnya untuk mencari bahan itu pun membantu Shilla yang sedang membereskan beberapa barang-barangnya yang masih tidak teratur. Ray pun sedang merangkum hasil bahan yang sudah Ify berikan padanya. Sedangkan Rio? Dia sedari tadi hanya mendengarkan lagu dari mp3 playernya sedangkan mulutnya terkadang-kadang menghina sosok Shilla yang terkadang melewatinya.
                “ nih udah selesai,” ucap Ray sambil merentangkan tangannya bertujuan untuk meregangkan otot-otot tangannya yang kelelahan.
                Shilla pun mengambil beberapa lembar kertas dari tangan Ray, “ tugas gue Cuma bikin kerangka makalah nya aja kan? Di kertas coret-coretan boleh? Biar nanti si dodol yang satu ini bisa langsung ngetik di rumahnya. “ tanya Shilla kepada Ify yang memang merupakan ketua kelompok.
                “ hmm, terserah, Shil kayanya gue mesti pulang duluan deh, soalnya gue belom siap-siap sama sekali buat pesta mami gue ntar. Gue duluan ya. gapapa kan?” pamit Ify yang sudah menggendong tasnya.
                Shilla mengangguk pasrah, “ gapapa kok.” Ucap Shilla melanjutkan tugasnya membuat kerangka makalah.
                Tak lama kemudian Ray menerima telephone dari  orang tuanya yang katanya harus segera pulang ke rumah karena Ozy merengek-rengek kesepian. Alhasil Shilla pun hanya dapat mengangguk pasrah lagi. Sangat amat pasrah karena kali ini ia hanya ditinggal berdua dengan Rio si cowok sombong yang dari tadi hanya duduk mendengarkan lagu.
                “ eh ambilin gue minum dong!” perintah Rio yang sudah menjadi kebiasaan di rumahnya.
                Shilla melongo, “ hah? Eh lo kira ini di rumah lo apa, ambil sendiri sono. Lo kira gue pembantu lo apa asal maen suruh-suruh aja.” Tolak Shilla.
                “ lo kan tuan rumahnya, gue tamunya. Harusnya tuan rumah ngelayanin tamunya dong.”
                “ kalo tamunya kaya elo sih mana mau gue .”
                “ lo kok nyolot sih! Gue kan tadi minta tolongnya baik-baik.”
                “ lo gak minta tolong tadi! Tapi lo nyuruh, di ucapan lo tadi itu gak ada kata TO-LONG!” bentak Shilla sangat kesal melihat sikap cowok di depannya ini.
                “ sejak kapan gue ngomong tolong sama orang.” Balas Rio sinis.
                Shilla menggeram, “err.. terserah lo deh, yang aus lo  ini bukan gue ..” ucap Shilla cuek.
                Rio P.O.V
Aku pun menyerah dan akhirnya pergi ke dapur mengambil air minum, namun aku tidak menemukan sama sekali gelas di sana. “ Shiiiil, gelasnya manaaa?” teriak ku.
                “ jangan minum pake gelaaas!! Pake gayung sono! Gue gak mau gelas gue dipake sama lo!” balas Shilla.
                “ sialan tuh cewek..” umpatku kesal.
                Aku pun mulai mengobrak-abrik lemari dapur rumah Shilla. Hanya untuk mencari sebuah gelas yang sedari tadi tidak Shilla sebutkan letaknya dimana. Pandangan ku tiba-tiba tertuju ke sebuah lemari yang berada di pojok dapur. Ku buka pintu lemari tersebut. Aha, ini dia gelasnya. Aku pun mengambil sebuah gelas kaca dari lemari tersebut dan berjalan menuju lemari es untuk mengambil minum.
                PRANG, tanpa sadar kaki ku tersandung tongkat pel yang berada tak jauh darinya. Gelas itu pecah berhamburan kemana-mana. Shilla  yang mendengar ada bunyi pecahan barang pun segera menghambur ke dapur, dan menemukan aku tengah terduduk memegangi tanganku yang berdarah terkena pecahan kaca dari gelas terebut.
                Shilla mengambil tanganku dan melihatnya, “ gila berdarah, lo ada-ada aja sih, ngambil gelas aja bisa ampe pecah kaya gini.” Omel Shilla sambil membereskan pecahan kaca yang berserakan di lantai dapur.
                Aku pun tersenyum kecil, “ maaf ya gue gak sengaja, gue gak tau kalo tadi ada tongkat pel disana.” Ucap ku sambil menunjuk tongkat pel tadi.
                Shilla tersenyum dan mengangguk, “ iya gapapa, udah lo sana dulu gih, gue mau beresin ini dulu.” Ucap Shilla mengambil sapu dan pengki lalu menyerok kaca tersebut ke dalamnya.
                “ bisa gue bantu?” tanya ku mencoba membantunya.
                Shilla mengernyitkan dahinya,” hei, sejak kapan lo berubah jadi baik gitu? Luka lo tadi gak bikin lo ilang ingatan kan?” tanya Shilla heran.
                Aku tergugup mendengar pertanyaannya, dan segera berlalu ke ruang tamu mengacuhkan pertanyaannya. Dia benar, kenapa aku jadi aneh seperti ini? Kenapa aku jadi berniat menolongnya tadi? Mario Stevano bukan orang tipe macam itu. Aaah wajahnya muncul lagi! Wajah Shilla yang tersenyum manis seperti tadi.
                Tiba-tiba aku senyum-senyum sendiri mengingat wajah manisnya tadi di dapur.
                “ heh, senyam-senyum sendiri. Lo gila ya?” tanya Shilla yang sudah datang membawa kotak P3K ditangannya yang hanya ku jawab dengan gelengan.
                “ mana tangan lo?” tanyanya.
                Aku menyodorkan tanganku yang masih bercucuran darah tadi, dia mengambil tanganku, mengelapnya secara perlahan dengan kain basah, dan menetes kan beberapa tetes obat membuatku merasa perih.
                “ aaw, pelan-pelan dong!” bentakku tak sengaja.
                “ iih, udah gue obatin bukannya bilang terimakasih kek apa kek, malah dibentak-bentak, mau sembuh gak sih?” omelnya balik.
                Aku hanya mengangguk pasrah menerima pertolongannya dia, “ kenapa lo gak takut sama gue?” tanya ku tiba-tiba.
                Shilla mendongakkan kepalanya menghadapku,” gue? Takut sama lo? Ngapain! Lo sama gue kan sama-sama manusia. Ngapain gue takut sama lo.” Jawabnya.
                “ tapi kenapa orang lain disekolah gak bisa kaya lo? Dan kenapa mereka gak mau temenan sama gue ? ” tanya ku lagi.
                Shilla terdiam sesaat seperti berfikir sesuatu, lalu melnjutkan pekerjaannya lagi, “ mereka takut sama lo karena kedudukan orang tua lo yang super duper kaya itu kali, mereka merasa diri mereka gak pantes buat temenan sama lo, mereka minder. Mereka takut lo Cuma nganggep mereka sampah. Makanya mereka gak ada yang berani temenan sama lo.” Jawab Shilla.
                Aku terdiam memikirkan sifatku yang memang ku rasa sombongnya sudah taraf internasional. Kesombongan itu sepertinya menurun dari Papa. Sosok Papa adalah orang yang selalu menyombongkan dirinya dengan kekayaan dan harta yang dimilikinya. Tapi kenapa Kak Riko gak sombong seperti aku dan Papa? Kenapa dia sangat ramah kepada orang lain? Kenapa aku tidak bisa seperti dia, batinku.
                “ lo punya sodara?” tanyaku.
                Shilla menggeleng, “ gue anak tunggal.” Jawabnya singkat.
                “ pantes rumahnya sepi dari tadi, kalau boleh tau, bokap nyokap lo kerja dimana?” tanyaku tidak sopan.
                Shilla tersenyum kecil,” bukan pejabat hebat kaya orang tua lo kok. Papa punya satu restoran dijakarta, dan mulai 1 bulan yang lalu, restorannya itu buka cabang disini. Sedangkan Mama, Mama buka butik baju di daerah Dago.” Jelasnya tanpa sedikitpun ada nada sombong di dalam ucapannya.
                Shilla pun selesai mengobati lukaku, dia membereskan kembali kotak P3K nya, dan menaruhnya kembali di dapur. Sekembalinya dari dapur dia mengambil kerangka makalahnya tadi dan menyerahkannya padaku.
                “ ini.” Sodornya, “ lo yang ngerjain kan? .. “ tanyanya.
                Aku mengangguk, “ iya gue yang ngerjain, “ jawab ku sambil membuka-buka lembaran kerangka makalah tersebut.
                Tiba-tiba pandanganku tertuju ke sebuah ruangan di samping pintu menuju ke halaman belakang. Ruangan itu sepertinya cukup lebar, dengan pintu geser ala jepang berwarna biru tua yang ditempeli poster bertuliskan “ Music Is My Life” aku menatapnya cukup lama.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar