RSS

The Crucial Of Love -14


Saat di kantin, anak-anak sudah memenuhi ruangan yang cukup luas itu. Dan kali ini bukan Agni yang memimpin acara illegal tersebut. Melainkan Cakka, cowok yang terbilang cukup narsis itu kini tengah berdiri dengan gagah tepatnya sok-gagah- di atas meja kantin yang sudah di kumpulkan menjadi satu itu.
           
Aku memilih tempat di paling belakang kerumunan anak-anak melodi JHS. Semua kerumunan pasang mata itu mengarah ke satu titik di tengah ruangan. Ke arah Cakka yang masih berbasa-basi dan bernarsis ria di atas meja sana. Sedangkan mata ku dengan liar berkeliaran ke segala penjuru ruangan, menyisiri setiap pasang mata, mencari si pemilik bola mata bening yang menjadi puncak pertarungan ini.

Namun setelah beberapa kali mengedarkan mata ke semua pasang mata di dalam ruangan itu. Si bola bening itu tetap saja tidak terlihat di mataku. Aku melengoskan kepala lu ke sebuah counter makanan yang tepat berada di belakang ku. Tatapan ku mengarah tajam ke pemilik counter itu yang tengah menunduk ketika mendapati ku tengah memandanginya tajam.

“ tau Ashilla?” tanya ku dengan gaya angkuh ku seperti biasanya.

Dia menggeleng pelan, lalu melanjutkan lagi pekerjaan dadakannya selama aku masih berdiri di situ, menatap lantai.

Aku mendengus kesal dan melipat kedua tangan ku di depan dada ketika mendapati jawaban yang sama sekali tidak membuat hati ku lega itu. tiba-tiba tiga gadis yang kira-kira adik kelas lewat di depan ku. aku tahan langkahnya dengan kaki ku yang ku serongkan di depannya, membuatnya berhenti dan terkesiap melihat si pemilik kaki tersebut adalah seorang Mario Haling.

“ liat Shilla?” tanya ku dingin, kali ini tidak menanyakan apakah dia mengetahui Shilla atau tidak. Karena sudah di pastikan sejak peristiwa kecupan sok romantis tadi, Shilla pasti sudah menjadi tenar dalam waktu singkat.

“ li..liat kak..” jawab gadis berkuncir biru dengan gugup.

“ dimana?”

Gadis yang berbando putih menunjuk ke seberang ku, “ di sana kak..” jawabnya.

“ sama?”

“ sama Kak Riko kak..” kali ini gadis berponi rata yang menjawab pertanyaan ku.

“ thanks..” ucap ku setengah terpaksa dan menarik kembali kaki ku sehingga mereka bisa lewat dan pergi dariku.

Mata ku pun kini terarah ke sudut yang di tunjuk adik kelas tadi dan mendapati Shilla sedang berdiri di samping Riko. Bola bening itu terlihat ragu dan bingung, entah apa yang menyebabkannya seperti itu. Yang pasti saat ini aku akan menghampiri mereka dan merebut Shilla dari Riko.

Cakka menyobek amplop yang berada di tangannya. Amplop berwarna putih itu berisikan nama pemenang yang akan mendapatkan kembali formulir lomba senasionalnya itu. Wajah Cakka yang berbinar-binar itu membuat para murid yang berada di dalam ruangan itu semakin penasaran.

Ku tahan tubuh ku di situ, dan bertahan menunggu Cakka mengumumkan siapa pemenangnya. Pemenang yang sesungguhnya.

“ INI DIAAAA PEMENANGNYA ADALAAAAAAHHH….” Ucap Cakka menahan kalimatnya..

“ JENG JEEEEEENGGGG..” ucap nya lagi.

“ MARIO STEVANO HALIIIIINNNNGGG DENGAN POLLING 89,18 %!!!” sambung Cakka membuatku tersenyum menang.

Semua penonton bersorak-sorai gembira, terlebih lagi penonton yang sedari awal mendukung ku dan menjadikan ku sebagai jagoannya di pertandingan itu. Mereka mencari-cari sosokku yang tengah berdiri sendirian di belakang ruangan. Mata mereka pun akhirnya menemukan ku dan beberapa orang dengan beraninya mendorong-dorong ku untuk naik ke atas meja.

Dengan amat sangat terpaksa, aku menuruti permintaan mereka. Saat kaki ku menginjakkan kaki di atas meja kantin itu, Riko, rivalku sekaligus saudara ku sudah berada di atas sana. Mata kami saling beradu tajam. Memaksa lawannya untuk menyerah saja. Aku tersenyum sinis saat melihatnya menatap ku dengan tidak percaya bahwa aku yang memenangkan dan berhasil mendapatkan formulir itu lagi.

Ekor mata ku menangkap sebuah garis mata keriangan di bawah sana, aku pun menoleh mengikuti pandangan ekor mata ku itu. Dan menangkap Shilla yang tersenyum riang mengacungkan jempolnya ke arah ku yang ku balas dengan senyuman juga.

Cakka memberikan formulir milikku kepada ku, dan mengeluarkan sebuah geretan dari dalam kantongnya. Merentangkan kertas formulir milik Riko yang melambai-lambai tertiup oleh angin yang memaksa masuk melewati celah ventilasi udara di ruangan itu.

Riko tercengang melihat kertasnya berkibar dengan anggun menunggu si pemangsa api itu melalap habis kertasnya hingga menjadi debu.

“ Ko.. sorry yee ini terpaksa nih gue, tadinya sih gue gak mau bakar nih kertas.. tapi tuntutan pekerjaan Ko..” ucap Cakka meminta maaf pada Riko. 

Riko tersenyum masam dan memandangku yang tengah tersenyum penuh aura kemenangan, “ gapapa, bakar aja. Gue bakal ngedapetin yang lebih dari sekedar formulir itu kok.” Jawab Riko dengan tatapan sinis ke arah ku.

Lebih? Apa maksud si brengsek yang satu ini?

“ oke Ko.. Yo!” ucapnya melempar geretan yang sedari tadi di pegangnya ke arah ku.

“ ha? Apaan nih?” tanya ku bingung saat berhasil menangkap geretan itu.

“ lo yang bakar..”

“ Hah? Kok gue? “

Cakka menggeleng-gelengkan kepalanya menghela nafas, “ iyaa Mario Stevano Haling.. elo yang bakar itu formulir punya Rikoo.. elo emang gak ngeliatin rundingan anak-anak tadi apa? Kabur-kaburan mulu sih lo..” sungut Cakka.

“ trus gue harus bakar ini sekarang gitu?” tanya ku membuat anak-anak yang berada di situ mengeluh kesal karena kebingungan ku itu memperlambat acara puncak nya.

“ Riooo! Udah buruan bakar!” teriak seorang anak dari bawah meja.

“ tau yo kelamaan lo.. ini yang kita tunggu-tunggu..” sahut yang lainnya.

“ punya lo aja dah yang dibakar dari pada kelamaan..” ucap seorang cowok bertopi yang langsung di sambut oleh tatapan mautku yang membuatnya langsung ciut terdiam, “ hehehe.. peace Yo..”

Tanpa basa-basi aku langsung menyalakan api dari korek gas tersebut dengan menekan geretannya hingga terciptalah api panas dari benda berwarna biru tersebut. Geretan itu mulai ku dekatkan ke lembaran kertas yang kini sudah berada di tangan kiri ku.

BLASH!

Api dengan cepat menyambar harapan para siswa yang ingin mendapatkan beasiswa dari kertas formullir itu dengan cepat. Api itu melalap kertas harapan itu dengan kilat. Menyisakan abu dari kertas tersebut yang mulai beterbangan setelah ku remas kencang dan ku hamburkan ke depan wajah Riko.

Shilla memandangku dengan setengah tidak percaya. Mungkin dia kaget melihat ku berani membakar harapan kakak nya sendiri. Menghancurkan harapan yang di puja-puja berbagai siswa itu. Mungkin juga dia tidak percaya kalau aku melakukan itu seperti orang yang tidak punya hati dan perasaan.

Tapi itu benar Shil! Aku memang tidak punya hati dan perasaan tapi itu hanya untuk orang brengsek dan tidak tau diri seperti dia! Seperti Riko!

Riko tersenyum lalu menarik tangan Shilla dari atas. Shilla menatap Riko bingung dan menuruti Riko yang mengajaknya naik ke atas meja. Aku melirik sekilas ke penunjuk waktu berwarna hitam di pergelangan tangan ku. 10 menit lagi istirahat selesai.

Riko berdehem pelan, “ Ehm.. Guys gue mau ngadain suatu acara yang lebih penting dari pertandingan tadi. Gue mau ngomong sesuatu sama gadis ini. di depan kalian semua, terutama di depan..” ucapnya mengalihkan pandangan ke arah ku, “ Elo! Mario Stevano HALING!!

Masih dengan kebingungan ku dan keheranan ku, tiba-tiba saja Riko duduk berlutut di depan Shilla. tangan Riko mulain meraih tangan Shilla dan menggenggamnya dengan erat. Wajah Shilla sudah merah merona. Jantungku pun tak kalah berdebar cepat dan berdetak hebat melebihi suara genderang yang dibunyikan para malaikat langit.

Firasat ku mulai memberitahuku bahwa akan ada sesuatu yang membuat ku hancur tidak karuan. Membuat karang yang tercipta di dalam tubuhku hancur terhempas oleh ombak yang dengan kuasa menerjang ku.

“ Shil.. hmm.. liat kertas ini ya? gak ada apa-apa kan?” tanya Riko sambil merentangkan kertas putih yang tadi ia keluarkan dari dalam kantongnya. Setelah gelengan Shilla menjawab pertanyaannya, ia melipat kertas itu menjadi beberapa bagian. Lalu dengan teknik sulap yang sangat cepat tiba-tiba saja kertas itu dibakarnya dengan kilat dan keluarlah beberapa burung merpati berwarna putih dengan hamburan kertas berwarna-warni ikut keluar bersamanya.

Heei, kok dia bisa sulap? Belajar dimana dia?

Tiba-tiba sebuah kertas jatuh dari salah satu merpati yang terbang melewati Shilla. Riko menyuruh Shilla mengambilnya. Sementara aku? Aku bagaikan kambing bodoh super autis yang hanya dapat menyaksikan peristiwa penghancuran karang ku ini.

Shilla mengambil surat itu lalu menoleh kepada ku sekilas, lalu membuang mukanya lagi saat melihat ku. Tubuhku melemas melihatnya. Inilah saat kehancuran ku. Kemenangan sesaat yang sebenarnya adalah sebuah kehancuran dari rasa yang baru saat ini aku rasakan.

Gadis berkulit putih itu membuka surat itu secara perlahan, membacanya, lalu menatap Riko dengan pandangan kaget seperti orang yang baru saja mendapat hadiah undian milyaran rupiah. “ Aku mau kak..” jawab Shilla pelan namun terdengar sedikit keraguan di dalamnya.

Mau? Mau apa?


Riko lalu memeluk Shilla dengan erat diiringi tepuk tangan meriah dari seluruh siswa dan sisi yang berada di dalam ruangan itu. Riko lalu membungkuk layaknya seorang pemain pentas selesai bermain teater dan memberikan bungkukan hormat. Riko lalu menggandeng tangan Shilla menuruni meja dengan perlahan lalu berjalan meninggalkanku setelah sebelumnya Riko tersenyum sinis padaku.

Perih! Perih banget! Gue hancur! Gue kalah! Teriakku dalam hati.

Hatiku memanas, jantungku tak berhenti berpacu cepat, tanganku menggeram hebat. Aku turun dari meja itu dan duduk di bangku yang terdapat di sisinya. Ku topangkan wajah ku di atas kedua tangan ku.

Selesai semua.. perjuangan gue sia-sia.. gak ada hasil.. dia bukan milik gue lagi.. dia bukan punya gue! Racauku dalam hati.

Aaaaahhh Shil! Gue sayang sama loe. Kenapa gak nyadar sih! Ah elah si Riko juga brengsek, ngapain dia nembak Shilla!

Manik mata ku menangkap selembar kertas yang tadi di raih oleh Shilla. ku ambil kertas itu dan kubaca secara perlahan.

“Mau jadi bintang yang nyinarin hati aku gak?

Cuih, apaan nih surat. Norak banget. Lebay. Sok puitis. Sok romantis. Menjijikkan. Berbagai macam cacian terlempar dari otakku setelah membaca surat yang menurutku sangat amat menjijikkan ini.

“ nyesel kan?” ucap seseorang yang sudah berada di sampingku.

Ku angkat wajah ku dan menoleh kepadanya, Alvin, ya dia yang kini duduk di sampingku. “ tau ah, pusing gua.” Balas ku singkat, “ eh elo! Jus alpukat 1 cepet!” teriakku ke sebuah pelayan wanita.

“ Gue masih gak nyangka.. bisa gitu ya.” ucap Alvin lagi.

Aku menatap Alvin tajam, “ lo denger suaranya Shilla tadi gak? Ragu banget Vin, kaya gak ikhlas gitu jawabnya!” ingatku pada suara Shilla yang sedikit bergetar tadi.

Alvin menepuk-nepuk pundakku, “ sabar ya Yo. Jangan stress kebawa halusinasi gitu lah, gue ke kelas duluan ya, lo gak kekelas?” tanya Alvin sambil beranjak dari bangku di sampingku.

Aku menggeleng pelan, “ males gue liat Shilla. yang ada ntar gue malah bikin stres gurunya karna gue gak focus ke pelajaran. Makasih.” Tolakku sambil mengucapkan terimakasih kepada pelayan yang sudah membawakan pesananku.

Alvin pun akhirnya beranjak meninggalkanku. Tanganku mengaduk-aduk minuman dalam gelasku dengan tidak karuan. Fikiran ku masih meracau kepada kejadian tadi. Wajah gadis itu tadi tidak melambangkan kebahagiaan sama sekali setelah membaca surat itu. Nada suaranya pun menyiratkan keraguan, bukan kepastian! Dan bukan keriangan seperti nada bicaranya seperti biasa.

“ gue yakin Shilla juga ada rasa sama gue. Gue harus misahin mereka, gue yakin gue bisa dapetin Shilla. tapi.. siapa yang bisa bantu gue?”

***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar