Sesuai dengan janji yang di ucapkan Agni, Agni pun memberitahu hadiah yang akan di berikan kepada siapa pun yang menang saat itu.
“ kalian tau kan ini kertas apa?” tanya Agni sambil mengacungkan dua lembar kertas yang berada di tangannya, “ ini kertas formulir pemilihan peserta perlombaan nasional yang di adakan sekolah kita. Kalian tau kan betapa berharganya perlombaan yang setiap tahun di adakan ini?” sambung Agni lagi membuatku bertanya-tanya sedikit hal yang tidak ku mengerti kepada Ify.
“ emang berharga gimana Fy?” tanya ku setengah berbisik kepada Ify.
“ berharga banget, nyesel kalo gak ikut. Setiap tahun sekolah kita itu pasti memenangkan perlombaan nasional itu. Dan pemenangnya, bakal ngedapetin hadiah yang sangaat banyak, satu di antara hadiah itu adalah pertukaran pelajar selama 4 bulan ke perancis, disana kita bakal di sekolahin di Conservatorium di Leipzig perancis, sekolah musik pertama yang dibangun oleh Felix Mendelssohn Bartholdy. Tau kan dia siapa? musisi kelas kakap dunia tahun 1800an dulu.” jelas Ify membuat ku berdecak kagum.
“ dan pemenangnya bakal ngedapetin lagi formulir mereka, sedangkan yang kalah? Formulir dia akan di bakar secara langsung di depan kita pulang sekolah nanti yang membuat kesempatan mereka buat ikut lomba itu MUSNAH ! “
Shilla P.O.V
“ dan pemenangnya bakal ngedapetin lagi formulir mereka, sedangkan yang kalah? Formulir dia akan di bakar secara langsung di depan kita pulang sekolah nanti yang membuat kesempatan mereka buat ikut lomba itu MUSNAH ! “
“ HAH ?”
“ GILA !”
“ PARAH KALO KALAH !”
“ KEREEENN..” ucap Cakka dengan kencang.
Semua anak spontan menoleh ke arah Cakka yang tengah terlihat takjub mendengar penjelasan Agni tadi. Berbagai macam pasang mata itu ada yang menyiratkan keanehan, kebingungan bahkan ada yang melihat dengan tatapan cakka-lo-gila-ya.
“ kok keren sih caaakk? Ada-ada aja lo.” Ucap Acha yang berada di sampingnya.
Cakka menganggguk, “ iya itu Agninya keren pas ngomong gitu.” Ucap Cakka yang mendapat berbagai respon yang sadis.
GUBRAK.. -,-
Kalau kehidupan ku ini adalah kehidupan kartun, mungkin kami semua yang berada di dalam gedung musik sudah di jatuhkan terbalik oleh authornya saat mendengar jawaban Kak Cakka.
Aku hanya dapat tertawa melihat ulah Kak Cakka yang konyol itu. Di sekolah yang hebat dan terkenal seperti ini ada ya orang yang konyol seperti Kak Cakka. Aku kira sekolah ini isinya hanya anak-anak yang serius saja. Ternyata, banyak juga murid-murid konyol dan unik di sekolah ini.
Agni kemudian melanjutkan pertandingan illegal itu setelah sebelumnya mengizinkan acara voting peserta lewat SMS dimulai. Teman-teman ku yang lain mulai mengeluarkan handphone nya dan mengikuti perintah yang di suruh Agni. Tak mau ketinggalan, Ify juga mengeluarkan handphonenya dan ikut memvoting acara tadi.
Sekilas aku melirik ke arah layar handphone Ify yang berada di dalam genggaman tangannya. Aku memicingkan mata mencoba melihat dengan jelas siapa yang di dukung oleh Ify. R-I-O , iya gak salah lagi! Ify dukung Rio.
“ Shil, lo dukung siapa?” tanya Ify kepada ku sambil memasukkan kembali benda elektronik mungilnya ke dalam saku bajunya.
Aku yang sedari tadi memang tidak berniat mendukung siapa-siapa pun bingung saat di tanya oleh Ify, “ gak tau emang wajib dukung ya? gue enggak deh. Gue bingung mau dukung siapa.” jawab ku sekenanya mengalihkan pandangan ku kembali ke atas panggung.
“ oke waktu buat kalian sms di segment satu ini masih 10 menit lagi, buruan yaa. Hasil polling di segment satu ini buat bayangan pemenang nanti. Jadi kalo di segmen pertama menang belum tentu di segmen kedua yang merupakan penentuan dia bakal menang lagi. Ayo makanya buruan sms, caranya ketik aja nama RIKO atau RIO di hape terus kirim ke nomer di belakang ya! buruan! 10 menit lagi.” Promosi Agni seperti pembawa acara ternama di sebuah acara televisi bernama Idola Cilik.
Selama menunggu waktu yang di berikan sekitar 10 menit oleh Agni dan panitia acara illegal yang lain. Kak Riko terlihat tengah berjalan ke arah ku. Meninggalkan gitarnya di samping panggung. Dengan kuluman senyumnya yang manis, dan tanpa basa-basi ba-bi-bu-be-bo dia langsung menempati tempat duduk Kak Dea di sampingku. Entah kemana Kak Dea tadi, dia bilang dia ingin ke WC sebentar. Tapi sampai sekarang belum juga kembali.
“ gimana penampilan aku tadi? Suka?” tanya Kak Riko dan menggantungkan tangannya di belakang bangkuku.
Ify yang melihat tingkah Kak Riko kepada ku itu hanya bisa menahan tawanya dan menatap ku dengan pandangan bener-kan-yang-gue-bilang-tadi. Aku menghela nafas panjang saat sosok tubuh di samping ku ini mulai mengeluarkan suara lagi dari gudang suaranya.
“ kalo aku kalah di segmen kedua nanti gimana ya ? kamu gak bisa liat penampilan aku pas lomba nanti dong.” Ucap Kak Riko pesimis.
Aku menoleh ke arah nya, “ yah Kak jangan pesimis gitu dong. Kalo kakak pesimis hasilnya gak akan baik. Kata Mama, usahakan dan lakukan yang terbaik kak , karena dengan usaha yang baik itu, kakak juga akan dapat yang terbaik.” Saran ku penuh perhatian.
Dia tersenyum manis bahkan sangat manis kepada ku, lalu membelai pelan rambutku dengan jemarinya, menyisipkan beberapa helai rambutku yang tidak tertata rapi ke bagian belakang telinga ku, “ makasih yaa, liat kejutan buat kamu ya nanti pas adegan pembakaran formulir itu.” Ucap Kak Riko penuh misteri dan beranjak kembali ke belakang panggung.
“ kejutan? Maksud Kak Riko apa ya Fy?”
***
Di ambang kehancuran..
Di ambang kepedihan..
Dan di ambang kejatuhan..
Siapa yang bisa menduga apa yang akan terjadi nanti? Tidak ada yang bisa menebak dan mengartikan semua dari kehidupan di dunia ini. seperti frasa dunia seperti roda, terkadang kita berada di puncak ke suksesan, dan ada saat nya pula saat kita berada di dasar keruntuhan.
Tapi ada hal yang sangat tidak bisa kita terka dengan akal sehat dan logika manusia.
Kapan kita akan berada di puncak kesuksesan itu? Dan kapan kita akan jatuh ke jurang reruntuhan itu? Dalam waktu yang terhitung lamakah? Atau dalam waktu singkatkah?
Jangan kan kita yang berotak normal dan datar, pakar telematika, psikolog bahkan cenayang pun tidak pernah bisa menduga kehidupan manusia itu. Ramalan mereka memang terkadang tepat, tapi apa bukan karena kebetulan?
Dan bagaimana dengan dua tokoh utama kita yang satu ini? apakah dia berada di puncak kejayaan? Atau di dasar kehancuran?
***
Riko P.O.V
Pengumpulan pasukan di tengah peperangan itu sudah cukup membuat ku berpuas diri. Kalau di lihat-lihat dari data polling sms yang di curi-curi penglihatan oleh Goldi, memang kemungkinan aku yang menang di segment pertama ini. dengan jarak yang ‘katanya’ cukup jauh, bahkan terlebih jauh, peluang ku memenangkan segment pertama ini adalah 80%. Sebuah angka yang sangat tinggi bukan?
Tapi seperti yang di ucapkan Agni, segment pertama bukan penentu segmen selanjutnya. Apa yang terjadi di awal belum tentu serupa dengan akhirnya. Tapi untuk kali ini, aku sangat berharap dewi fortuna menginjakkan kaki nya di bayangan ku. Memberikan sepercik kembang-kembang api keberuntungan untukku.
Sedikit lagi, sebentar lagi, dan sekarang lah penentuan segment pertama. Sang playboy Riko kah atau Si Pangeran Es Mario kah yang menguasai polling sms saat ini? kertas berwarna putih di tangan Agni itulah yang mencantumkan siapakah the winner segment pertama kita hari ini.
Agni berjalan menaiki undakan tangga menuju panggung. Berbasa-basi sebentar yang menurutku hanya membuang-buang waktu saja. Dan menggantungkan ucapan terakhirnya yang membuat para penonton menahan nafasnya menunggu puncak rantaian kalimat Agni yang belum tersambung itu.
“ RIKO ANGGARA HALING! Dia lah pemenang kita di segment pertama ini..”
Aku tersenyum senang mendengar puncak kalimat Agni tersebut. Ku sempatkan diri menoleh ke arah Rio yang sedang mengacungkan ibu jarinya ke arah ku yang ku balas dengan senyuman kemenangan –sesaat-.
***
Rio P.O.V
Kemenangan awal biasanya adalah kekalahan akhir. Dan itulah yang diharapkan oleh seorang Mario Stevano Haling. Putra bungsu si pangeran Es dari keluarga Haling.
“ gimana ? udah beres ? “ tanya ku kepada Alvin yang saat ini sudah berada di samping ku dengan segelas air mineral di tangannya.
Dia mengatur nafasnya yang sepertinya tidak teratur, “ beres sih beres, tapi capeknya itu Yo.. kurang normal banget tau gak ide lo. Nguras tenaga orang.” Keluh Alvin sambil meneguk airnya.
“ sorry Vin, gue Cuma gak mau kehilangan kesempatan ngedapetin beasiswa itu.”
Alvin mengangguk pasrah, “ iya iya, yang gue heran nih, elo kan kaya. Secara gitu keluarga Haling keluarga terkaya nomer satu di bandung. Ngapain lo susah payah dapetin itu beasiswa? Padahal tanpa beasiswa kan lo juga bisa sekolah di sana.” Tanya Alvin.
“ gue bukan Riko yang bisa ngelakuin segalanya pake uang.” Ucap ku tegas.
Lagi-lagi Alvin menghela nafas panjang saat mendengar jawaban ku, “ kenapa sih lo kayanya benci banget sama dia? Apa karena masalah yang satu itu?”
Aku hanya dapat mengangkat bahu mendengar pertanyaannya, “ gak tau, yang pasti gue gak rela kalo dia yang anak..”
“ RIKO ANGGARA HALING! Dia lah pemenang kita di segment pertama ini..”
Suara Agni menghentikan ucapan ku. Dan senyum ku mengembang saat mendengar nama Riko di sebut sebagai pemenang oleh Agni. Polling sms yang dikuasai oleh Riko pun tidak tanggung-tanggung. Sekitar 75,23 % menurut fakta yang disebutkan oleh Agni tadi.
Aku menoleh ke arah Riko yang tengah tersenyum penuh kemenangan. Ku acungkan ke dua ibu jari ku ke arahnya, sebagai ucapan selamat untuknya sebagai pemenang SEGMEN SATU ! catat SEGMEN PERTAMA ! PER-TA-MA !
“ itu orang seneng banget yo dapet juara sekarang.” Ucap Alvin.
“ haha, biarin aja. Kita liat siapa pemenang akhirnya.” Balas ku.
Segment ke dua pun dimulai. Riko membawakan lagu mellow dari d’masiv yang berjudul Jangan Pergi. Lagi-lagi dia menggunakan gitar nya sebagai pendamping penampilannya. Ko, Ko.. kesalahan strategi. Harusnya di segment pertama tadi lo pake tuh kemampuan drum lo, baru sekarang lo pake gitar lo, bukan malah dipake dua-duanya, malah memperbesar kesempatan gue menang karena pada bosen ngeliat penampilan lo, gumamku pelan.
Irama lagu itu sudah tidak terdengar lagi dan itu artinya giliran ku untuk tampil pun tiba. Grand piano itu sudah terpasang manis di atas panggung. Sempat terbersit rasa ragu di fikiran ku melihat benda berwarna hitam itu. Tapi segera ku tepis rasa ragu itu dengan meyakinkan perasaan ku kepada sosok gadis cantik yang tengah duduk manis di antara deretan bangku penonton.
Tangan ku mulai meraba susunan benda hitam-putih tersebut, menekan beberapa nada tuts awalnya sebagai percobaan ku. Lambat laun alunan piano yang merdu itu mulai terdengar dari benda berwarna hitam dengan pasukan hitam putih yang tengah ku mainkan itu.
Ajari aku tuk bisa..
Menjadi yang engkau cinta..
Agar ku bisa memiliki..
Rasa yang luar biasa untukku dan untukmu..
Ku harap engkau mengerti..
Akan semua yang ku pinta..
Karena kau cahaya hidupku..
Malam ku tuk terangi jalan ku yang berliku..
Huuuuu..
Hanya engkau yang bisaaa..
Hanya engkau yang tauuu..
Hanya engkau yang mengerti..
Semua ingin kuuuu..
Mungkin kah semua..
Akan terjadi pada diriku..
Hanya engkau yang tau…
Ajari aku tuk bisa.. Mencintaimu..
( Adrian M.- Ajari Aku.)
Tepuk tangan meriah dari teman-teman memenuhi suasana di dalam gedung musikal yang saat ini kami tempati. Berbagai macam sorak sorai pujian terdengar di telinga ku, standing applause pun aku terima dari teman-teman yang duduk di barisan depan, termasuk dari gadis pujaan ku itu. Bola mata beningnya memancarkan binar kekaguman saat ku tatap lekat-lekat dengan peleleh es ku.
Aku turun dari panggung dan segera menghampiri gadis itu, menepuk kecil puncak kepalanya dengan lembut dan berbisik di telinganya, “ thanks for your support. I Love you..Shilla.” ucap ku yang langsung membuat pipiku menimbulkan semburat merah menahan malu.
Bukan malu yang berkaitan dengan kesalahan atau pun keburukan yang ada padaku, tetapi melainkan malu karena tanpa sadar aku sudah mengucapkan kata-kata kramat itu padanya. Kalimat yang belum pernah sekali pun aku ucapkan kepada wanita lain selain mama.
Aku tersenyum mengingat reaksinya tadi saat kata-kata cinta itu terceplos tanpa sengaja dari gudang suara ku, mukanya memerah namun tetap memancarkan senyumnya. Saat aku berjalan menjauhi Shilla, sesuatu memaksa ku untuk melihat Shilla sekali lagi. Ku paksakan peleleh es milikku itu melihat sekali lagi ke barisan depan bangku penonton itu, “ sialan..” umpat ku.
Brengsek! maunya apa sih cowok itu! Tadi pagi baru saja dirinya di sebut curang oleh lelaki yang tadi mengecup jemari Shilla di depan umum yang spontan disambut reaksi heboh ala pasar oleh teman-temannya.
Langkah ku semakin cepat berjalan menaiki tangga. Emosi itu sudah sampai di ubun-ubun kepalaku. Bara-bara emosi dan gelora kecemburuan tengah berkibar dengan maha dahsyat di dalam tubuh ku. Paku-paku kecil itu mulai di tembaki secara sengaja oleh Riko, menancap cepat dan tepat di hati seorang Rio yang tidak pernah merasakan jatuh cinta ini.
Ku hentikan langkah ku di tangga menuju kelas ku, tangan ku mencengkeram pinggir tangga dengan kuat. Tubuh ku mengejang hebat mengingat pemandangan sok-romantis di dalam gedung musikal tadi. Ku balikkan badan ku dan ku dudukkan tubuh ku di salah satu anak tangga yang tersusun di situ. Membiarkan api cemburu itu naik ke kepala ku dan menyebar ke seluruh organ perasaan ku.
“ Yo.. liat ituan tadi ya?” tanya Ray yang tiba-tiba saja sudah berada di samping ku.
“ liat.” Jawab ku singkat, memfokuskan penglihatan ku mengikuti garis lurus arah pandang ku.
Ray menepuk-nepuk pundakku sebagai tanda sabar-ya-yo, “ seorang Mario yang gue kenal tuh bukan Mario yang kaya gini. Mario yang gue kenal tuh Mario yang dingin, cuek, dan bodo amat sama mahkluk yang namanya cewek. Tapi sekarang? Lo udah berubah, berubah dengan segala macem sifat baru lo. Ramah, nurut, murah senyum meskipun itu semua Cuma buat seorang Shilla. oke perubahan itu gue dukung karena itu baik Yo, tapi kenapa lo juga harus berubah jadi lemah kaya gini. Mana Mario kita yang kuat? Mana Mario kita yang gak pernah jatuh Cuma karena cewek? Mana Yo!” ungkap Ray dengan nada yang semakin lama semakin meninggi.
“ gue tau Yo, lo sama Riko sama-sama lagi bersaing buat ngedapetin hati Shilla. tapi yang namanya persaingan ada yang menang ada yang kalah bukan? Ada yang senang dan ada yang sakit bukan? Ini baru awal yo.. sama kaya di film-film, yang tersiksa biasanya berakhir bahagia.. dan gue harap itu juga terjadi sama lo..” ucap Ray bijak, “ tapi itu gak bakal terjadi kalo sikap lo kaya gini.. lemah di depan dia..” sambung Ray lagi.
Aku menatapnya bingung, “ why I must look to be strong in her eyes?” tanya ku lirih.
Ray dengan kesalnya menoyor kepalaku, “ bodoh banget sih lo. Otak lo kan jenius masa lo gak nyadar sih, kalo lo keliatan lemah di depan dia, dia bakal nganggep lo cowok pengecut! Meskipun yaa pendapat orang-orang berbeda sama pendapat dia. Oh iya, satu lagi yang sangat fatal, kalo lo masih bersikap kaya gitu, si Riko malah seneng karena dia ngerasa dia udah menang dan udah bikin..” ucap Ray sambil memegang dadanya, “ ini lo hancur.” Sambung Ray lagi.
Aku termenung mendengar penjelasan panjang lebar Ray tadi. Nasihat panjang yang dapat ku tarik kesimpulan berupa ‘lo harus kuat karena dengan itu lo bisa buktiin sama Shilla kalo lo lebih baik dari Riko’, fikir ku.
Emosi dan gelora cemburu yang sedari tadi mengumpul menjadi satu di kepala ku itu kini sudah turun kembali dan berpisah ke tempat mereka semula. Meskipun masih tersisa sedikit dari mereka di kepala ku, namun bayangan Shilla dengan lancar dapat menghapus sisa-sisa itu dari kepala ku.
Aku menoleh ke arah Ray, “ thank you. Gue gak tau bakal sehancur apa lagi kalo gue kalah nanti.” Ucap ku berandai-andai.
Ray bangkit dari duduknya, “ youre welcome, jangan sampe kalah ya, kalo lo kalah dari pertarungan itu, gue cukur abis mulut lo karena udah bikin otak gue berpikir kaya Einstein tadi pas nasehatin lo.” Ucap Ray –sedikit- bercanda pada ku.
Aku sedikit tertawa melihat si gondrong itu. Kata-kata yang di ucapkannya tadi cukup berasa pada ku. Membuat tekad ku semakin kuat mengingat kejadian sok romatis tadi. Riko baru bisa mengecup jemarinya bukan berarti dia sudah menang. Belum tahu dia siapa Rio? Bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar mengecup jemari! Umpat ku dalam hati.
Bel istirahat itu berbunyi nyaring di telinga ku. Memaksa tubuh ku bergerak menuju kelas, bukan ke kantin. Entah kenapa saat ini aku tidak bernafsu untuk jajan atau bahkan sekedar melihat-lihat suasana kantin. Bangku di depan ku itu masih diam membisu. Memberi tahu bahwa sang pemiliknya sedang tidak berada di sana. “ bodoh, kenapa gak lo iket aja dia sama lo disini. Biar dia gak bisa pergi sama Riko!” ucap ku berdialog kepada benda mati berwarna cokelat itu.
Ku sandarkan tubuh ku di bangku ku yang berada di baris ke 4 itu.
“ rioooo, kamu kenapaaaa? Sakit hati ya ngeliat Shilla tadi di CIUM sama Rikooo?” tanya seorang gadis –Sivia-yang sudah berada di samping ku.
“ ngapain lo kemari?” sinis ku membuang muka darinya.
“ diih jahat banget sih kamu, aku kan Cuma mau nanya. Eh pengumuman pemenang lomba tadi itu kan sekarang, kok kamu gak ke sana sih? Udah pada kumpul tuh di kantin..”
Mendengar ucapannya tanpa fikir panjang aku segera bangkit dari kursi ku dan pergi menuju kantin meninggalkan Sivia yang merengut kesal karena dia yang membawa berita penting itu namun dia juga yang aku tinggal di ruangan kelas ini.






0 komentar:
Posting Komentar