“ gue yakin Shilla juga ada rasa sama gue. Gue harus misahin mereka, gue yakin gue bisa dapetin Shilla. tapi.. siapa yang bisa bantu gue?”
***
SHILLA P.O.V
“ hari ini ku akan menyatakan cinta.. nyatakan cintaaa.. aku tak mau menunggu terlalu lama.. terlalu lama.. hououuuu..”
Bibirku sedari tadi terus menerus menyenandungkan berbagai macam lagu yang terputar menurut daftar playlist mp3 biru ku. Bergantian dengan message yang masuk dari handphone hitam kesayangan ku.
Pesan singkat itu terkirim tak kurang dari 1 menit. Tangan ku bergerak menaruh kembali benda mungil itu di atas bantal di sampingku. Setelah meyakinkan bahwa benda itu sudah terletak dengan rapi, aku kembali membuka lembar-perlembar halaman majalah yang ada di hadapan ku itu dengan lembut.
TOK .
“ suara apaan tuh?” ucap ku spontan.
Aku turun dari atas kasurku dan berjalan menuju balkon kamar ku yang menghadap langsung ke jalan kompleks. Tangan ku dengan cekatan membuka pintu kaca balkon ku dan celingak-celinguk ke segala arah mencari asal bunyi suara itu.
Aku mengangkat bahuku, “ gak ada apa-apa..” gumam ku pelan.
Tiba-tiba saat tengah berjalan, kakiku menginjak suatu batu kecil yang terbungkus oleh kertas dengan bunga kecil yang terselip di atasnya. Ku raih batu kecil itu. “kenapa jadi pada suka mainan surat sih.” Batin ku teringat saat Riko menyatakan perasaannya kemarin padaku.
Otakku kembali berputar otomatis mengingat kejadian seminggu lalu di kantin. Berbagai macam kejadian tak terduga datang bergantian mendatangiku. Dari mulai pertarungan Kak Riko dengan Rio, bisikan romantis Rio yang mengucapkan I Love U di telinga ku, kekalahan Kak Riko dari pertarungannya, sampai peristiwa Kak Riko yang menembakku di depan siswa-siswi sekolahku dan juga di depan…
Rio.. nama itu tercetak kembali di dalam memori ingatan ku. Mendatangkan kembali memoar kisah klasik ku bersamanya.
Ku buka secara perlahan bungkusan kertas itu. Ku dudukkan tubuh ku di kusen jendela balkon ku. Lalu ku angkat kaki ku duduk bersila setelah ku rasa ini adalah posisi yang pas untukku saat ini.
Aku tertegun membaca surat singkat berwarna putih itu. Sebuah pesan singkat di dalamnya yang menandakan bahwa si pengirim ini berada di dekatku. Tapi siapa? siapa yang mengirim ini?
***
kemunafikan cinta itu menampar perih sebuah susunan hati yang terbentuk sangat kokoh.
Tersusun dalam hari tak kurang lebih dari hitungan jari.
Kemunafikan cinta yang memaksa si penderitanya harus rela merasakan kepedihan cinta.
Kepedihan cinta yang berawal dari pertemuan dan perkenalan yang tidak di sengaja.
***
Author P.O.V
Gadis itu terduduk di kusen balkonnya sembari membaca surat singkat yang dikirim dari sepasang mata yang terus mengawasinya layaknya sang mata-mata perang sedang mengawasi gerak-gerik rivalnya.
Gadis itu tersenyum ketika melihat isi lembaran kertas putih tersebut. Tersirat jelas raut kebingungan tercetak dengan rapi di keningnya. Si pemilik mata pengawas itu tersenyum kecil saat melihat simpulan senyum indah sang gadis yang tercipta walau hanya tak lebih dari 1 menit.
Si pemilik mata pengawas itu lalu beranjak dari tempat persembunyiannya di balik pohon yang terletak tak jauh dari istana kecil milik sang gadis bersenyum simpul tadi. Ia beranjak menuju sebuah mobil jaguar hitamnya yang terparkir agak jauh dari istana mungil gadis itu.
Sesaat sebelum membuka pintu pengemudi jaguar itu, bola mata si pemilik mata pengawas itu kembali menoleh ke balkon yang menghadap ke jalanan lengang itu. Pintu kaca yang sudah tertutup dan terhalangkan oleh tirai berwarna biru muda menandakan bahwa si pemilik ruangan itu sudah berada di dalam kamarnya, dan lampu kamar yang sudah redup itu menambahkan tanda bahwa si gadis tadi, gadis yang sempat membuat si pemilik mata pengawas itu tertawa, sudah terbang dan melayang-layang di alam mimpinya.
Melihat keadaan yang sepertinya sudah tidak berguna itu, si pemilik mata bening masuk ke dalam mobilnya. Menyalakan mobilnya secara halus dan dengan kecepatan sedang, melajukan kendaraannya itu menuju perumahan mewah dimana ia tinggal sedari kecil.
Jalan masih lumayan ramai karena malam ini adalah malam minggu. Malam yang biasanya di gunakan oleh pasangan-pasangan yang sedang kasmaran untuk bertemu dan melepaskan kerinduan atau hanya sekedar bersenda gurau memperlihatkan bukti cinta kasihnya.
Si pemilik mata pengawas yang tak lain dan tak bukan adalah Rio itu mengarahkan tangannya ke sebuah media player yang cukup bisa dibilang mewah untuk ukuran anak muda sepertinya. Jemarinya memutar-mutar tombol pengarah saluran radio yang sedari tadi memutarkan beberapa siaran berita, perbincangan antara penyiar dengan bintang tamu, bahkan beberapa cerita curhatan si pendengar yang dengan sengaja menghubungi radio tersebut.
Sebuah lagu milik Gleen Fredly yang bertemakan akhir kisah cinta dari dua keturunan adam dan hawa itu mengalun dengan merdu di antara speaker hitam yang terpasang di tiap ujung mobil Rio.
Kini harus aku lewati..
Sepi hari ku tanpa dirimu lagi..
Biarkan kini ku berdiri..
Melawan waktu..
Tuk melupakan mu..
Walau pedih hati..
Namun aku bertahan..
Sebuah lagu yang lyricnya tidak terlalu berlebihan dan irama musik slow yang berpadu dengan indah itu sebenarnya sangat merdu jika kita mendengarkannya dengan seksama dan dengan sepenuh hati. Namun berbeda dengan tokoh utama kita yang hatinya sedang di landa badai, lagu yang melambangkan kerinduan ini seakan-akan menyindir habis-habisan Rio yang masih berusaha memfokuskan garis matanya kepada jalanan yang di laluinya sedari tadi.
Setir mobilnya ia belokkan ke dalam perumahan mewah Brawijaya. Sebuah rumah berpagarkan pagar berwarna hitam mengkilat itu terbuka otomotis saat mobil Rio berada tepat di depan pagar tersebut. Dengan hati-hati Rio memarkirkan kendaraannya itu di dalam garasi yang terisikan oleh beberapa mobil mewah miliknya, Papanya dan juga si manusia tidak tau diri itu –Riko-.
Kunci mobil itu ia masukkan ke dalam saku celananya. Langkahnya berhenti tepat di depan pintu rumah mewahnya saat sayup-sayup terdengar suara halus penuh keibuan dari seorang wanita yang jelas saja bukan Zevana.
Rio membuka pintu itu secara perlahan dan matanya langsung tertancap tepat pada satu titik pandang yang membuat senyumnya melebar saat itu juga. Tanpa fikir panjang dan melihat keadaan disekitarnya Rio berlari dengan cepat dan menghambur ke dalam pelukan seorang wanita tua berpakaian ala permaisuri jaman belanda dulu.
“ Oma!” teriak Rio saat menghambur ke dalam pelukan omanya itu.
Oma Rio pun membalas pelukan cucu kesayangannya dengan erat dan penuh kasih sayang. Enam buah butir bola mata menyaksikan panorama kerinduan itu dengan tenang. Tanpa sedikit pun suara yang berani mereka keluarkan yang pastinya akan mengganggu adegan kerinduan itu.
Rio melepaskan pelukannya, “ Oma kenapa gak bilang kalau mau kemari?” tanya Rio.
“ maaf sayang.. Oma kan mau kasih kejutan untuk kamu. Makanya Oma enggak bilang apa-apa sama kamu..” jawab Oma sambil menuntun Rio duduk di sampingnya di depan ruang TV.
Rio menarik bibirnya membentuk huruf O mendengar jawaban Omanya. Dia baru sadar kalau ada Papa, Zevana dan Riko yang juga berada dalam ruang yang sama dengan dirinya dan Omanya.
“ Oma.. kapan Oma sampai di bandara tadi?” tanya Zevana.
“ loh? Emang kalian juga gak tau kalau Oma main kemari?” ucap Rio yang masih dirangkul oleh Omanya.
“ tidak Mario. Tidak ada yang tahu kalau Oma main kemari hari ini. termasuk Papa.”jawab Papanya mewakili anggota keluarganya yang lain, “ kebetulan ada Oma.. Papa ingin membicarakan sesuatu kepada kalian.” Sambung Papanya lagi.
“ apa Pa?” tanya Riko yang mulai angkat bicara.
Papa Rio yang aslinya bernama Aditya Haling itu memancarkan senyum keraguan dari penutup alat pengecapnya, “ tentang masalah pertunangan kamu Mario..” ucap Aditya pelan tapi cukup membuat mood Rio yang sudah agak membaik itu kembali hancur dan berubah 180 derajat dari saat bertemu dengan Omanya tadi.
“ masalah itu lagi.. Pa, bisa gak sih berhenti milihin kehidupan Rio? Rio udah gede Pa. Rio bisa pilih pasangan Rio sendiri. “ ucap Rio di dalam rangkulan Omanya.
Riko tertawa puas melihat kesiksaan Rio saat ini.
“ gak usah lo ikutan ketawa! Anak tiri kaya lo bagusnya tuh di kamar! Orang luar kaya lo Gak usah ikut campur urusan keluarga HALING!” maki Rio yang sudah berdiri dan menunjuk Riko.
Riko terdiam dan terhenyak kaget. Aditya pun sama, tak menyangka bahwa anak bungsunya akan berbicara kasar dan tak bermoral seperti itu kepada Kakaknya. Zevana pun terperangah melihat itu. Zevana tau, meskipun Rio adalah orang yang dingin dan sok, dia tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang kemungkinan menyakitkan hati orang lain.
Oma mengelus-elus pundak Rio dengan sabar dan menuntun Rio yang dibawanya ke kamar. Oma menyuruh Rio duduk di tepi kasur king size berwarna putih hitamnya. Oma pergi sebentar ke pantry kecil di dalam kamar Rio. Menuang sedikit air putih dari sebuah pitcher kaca di sana. Dan kembali kepada Rio yang disuruhnya untuk minum sedikit air agar perasaannya dapat tenang dan mereda.
“ sudah tenang?” tanya Oma lembut, Oma janji Rio.. Oma akan bantu kamu menggagalkan pertunangan itu. Itulah tujuan Oma kemari, batin Oma Rio dalam hati.
Rio mengangguk pelan, ditutupnya wajah tampannya dengan kedua telapak tangan kokohnya, “ Papa berubah Oma.. berubah semenjak Mama pergi dan dia hadir di dalam kehidupan Papa. Aku kangen Papa yang dulu Oma..” ucap Rio manja.
Inilah Rio, Rio yang sebenarnya adalah Rio yang manja. Rio yang haus kasih sayang. Rio yang masih butuh perhatian kedua orang tuanya. Rio yang tidak hanya membutuhkan kelimpahan harta, tapi juga membutuhkan kasih sayang.
“ Oma akan bantu kamu agar pertunangan itu batal.. berapa sisa waktu yang kita punya?” Tanya Oma yang sedikit membuat simpulan senyum kecil terlukis di sudut bibir Rio.
“ 17 hari Oma.. apa itu cukup?”
Oma mengerutkan dahi keriputnya,”semoga saja..” jawab Oma.
***









0 komentar:
Posting Komentar