“ apaan maksud lo?”
Riko hanya dapat terkekeh dan beranjak dari duduknya, “ gue mau ngerebut gadis lo itu!” tegasnya.
Riko pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dan berhenti lagi, lalu membalikkan badannya ke arah ku, “ oiya salah, maksud gue itu gue mau ngerebut calon pacar lo!” ucapnya berjalan lagi menaiki tangga.
“ sialan! Kenapa dia bisa kenal sama Shilla sih! Kenapa dia tau Shilla?” gumam ku tanpa sadar dan mengetahui bahwa Zevana sudah berada di belakang ku.
“eh Mar.. semoga aja si Riko bisa jadian ya sama temen ceweknya itu, biar dia tobat. Haha” ucap Zeva.
Rahangku mengeras mendengar ucapannya. Jantungku seperti tertohok oleh logam besi yang sangat berat dan tajam. Belum pernah aku merasakan perasaan seperti ini. ini adalah jatuh cinta ku yang pertama kali Ko, pertama kali selama 15 tahun aku hidup. Dan seorang Mario Stevano Haling ini, gak akan pernah ngebiarin semua perasaan yang tumbuh dalam sekejap itu hancur gara-gara Riko Anggara Haling. Gak akan!
***
Pukul 04.45 wib. Kediaman keluarga Haling.
Aku terbangun di pagi buta ini. dan melihat jam weker berbentuk gitar di samping ku. Jarum panjang dan pendek berwarna merah itu masing-masing menunjukkan angka 4 dan 9. Aku mendengus kesal saat mengetahui waktu yang masih menunjukkan waktu pagi buta. Bahkan si pemanggil manusia pun belum memperdengarkan suara kokok ayamnya yang biasanya sudah berbunyi nyaring pagi ini.
Aku mengubah posisi tidur ku menghadap langit-langit kamar ku yang bercorak awan berwarna biru-putih yang membuat suasana kamar ku semakin megah jika lampu kamar ku dinyalakan. Aku membuka mataku dan melipat tangan ku di atas kepala. Mengubahnya menyerupai bantal.
Fikiran ku menerawang kemana-mana. Namun sepertinya hati dan fikiran ku sudah mengadakan perjanjian pagi ini. menghadirkan sosok gadis itu lagi yang hampir menguasai dan membuat ku gila di pagi ini. menciptakan memori saat aku pertama kali melihat Shilla, membentaknya, bertengkar dengannya, lalu menurutinya kerja kelompok di rumahnya, menghina rumahnya, memecahkan sebuah piring dirumahnya yang melukai tangan ku dan membuatnya harus mengobati ku. Sampai merasakan apa yang namanya jatuh cinta di dalam ruang musik nya.
Pertama kali nya aku merasakan jatuh cinta. Dan teringat sebuah kalimat yang dulu pernah ku dengar. ‘Cinta Tak Harus Memiliki’. Frasa macam apa itu? Setiap orang yang merasakan cinta pasti ingin memiliki orang yang dicintainya itu. Itu hanya kalimat munafik yang membuat si pejuang cinta itu menyerah sebelum berusaha. Kalimat itu tidak cocok untukku, kalimat itu hanya cocok untuk si penyerah. Dan itu bukan aku!
Aku harus memperjuangkan Shilla, dan membuktikan bahwa aku benar-benar menyayanginya. Walaupun itu baru ku rasakan dalam waktu yang bisa di hitung jari. Ku fikir-fikir, lebih baik berusaha dulu untuk mendapatkan hasil yang terbaik meskipun harus merasakan perih. Daripada menyerah terlebih dahulu dan tidak pernah menemukan hasil yang terbaik.
Ku raih benda layar sentuh ku dari sisi ranjang ku dan ku kirimkan sebuah pesan singkat kepada si pencuri hatiku.
To : Shilla :)
>> pagi :) berangkat sama siapa?
Sekitar 3 menit aku menunggu balasan dari gadis itu yang tak muncul-muncul. Akhirnya handphone ku itu membunyikan nada deringnya menandakan ada sebuah pesan masuk ke handphone ku.
From : Shilla :)
>> Rko
Aku membelalakkan mataku saat membaca balasan pesan singkat itu. 3 karakter tanpa tanda baca apa pun di akhir kalimatnya. Balasan yang teramat singkat itu membuat jantung ku nyaris terhenti terlebih lagi saat melihat isi dari pesan itu.
Terlambat, sudah mengambil start duluan sepertinya rival nya kali ini. tapi seperti apa yang terjadi pada pembalap hebat yang ada di dunia ini. meskipun mereka berada di posisi 3 , 4 atau bahkan hampir berada di akhir posisi, mereka tetap bisa membalap lawan lain yang berada di posisi yang lebih awal darinya. Bahkan si pembalap ‘terlambat’ itu banyak yang sampai di garis finish duluan. Mendahului si pembalap ‘awal’.
Terlambat bukan berarti harus menyerah. Dan terlambat bukan berarti kegagalan. Boleh saja rival ku kali ini mendapat kebanggaan dengan izin Shilla untuk menjemputnya. Tapi kita lihat, siapa yang duluan sampai di sana.
Aku bergegas turun dari kasur king size ku, membuka pintu kamar mandi dan tak lama terdengarlah suara percikan air dari dalam kamar mandi tersebut.
Tak sampai dua puluh menit aku sudah berada di depan kaca full size ku, menyemprotkan beberapa percik parfum ternama yang dibelikan Papa di paris dulu. parfum yang menurut si penciptanya hanya dibuat sebanyak 10 buah itu dapat menciptakan suasana laut saat siapa pun menghirupnya.
***
Rumah itu nampak sepi dari luar. Namun cahaya lampu dari dalam rumah itu tetap menandakan bahwa ada penghuni yang berdiam di dalam sana.
Kuurungkan niat ku saat ingin memencet bel yang berada di pagar rumah bertipe minimalis itu. Aku pun kembali mengeluarkan benda andalan ku, si handphone berlayar sentuh. Mengubah beberapa settingannya menjadi private number saat aku menelfon si pemilik rumah yang berada di dalam sana.
“ stay in front of your home..”
Tanpa menunggu jawabannya aku pun langsung mematikan handphone dan menunggunya di depan rumah. Selang beberapa lama kemudian keluarlah seorang lelaki yang kemarin juga ku temui di rumah ini. lelaku itu meregangkan beberapa alat gerak atasnya dan memandangku bingung. “ Rio! Ngapain kamu berdiri di situ? Ayo sini masuk..” ajak lelaki itu ramah.
Aku pun mengangguk dan membalas ucapannya dengan senyuman. Lalu berjalan menyusulnya yang sudah masuk ke dalam rumah. Lihat, keberuntungan itu benar-benar datang ke pada ku bukan.
“ duduk Yo.. mau jemput Shilla ya? Shillanya masih dandan di atas. Om panggilin dulu ya.” ucap Papa Shilla yang ku ketahui bernama Om Indra.
Aku menahan gerakannya dengan ucapan ku, “ eh enggak usah Om, biar Rio aja yang nunggu sampai Shilla siap. Gak enak ngerepotin Om.. hehe” ucap ku.
Tiba-tiba saja Shilla sudah turun dari tangga dan memberikan pandangan ngapain-lo-disini ke arah ku yang ku balas dengan senyuman termanis ku yang pernah ku punya. Om Indra segera menyuruh Shilla menghabiskan sarapannya cepat-cepat karena aku sudah menunggunya.
“ Pa, Shilla gak berangkat sama dia.. Shilla nungguin temen Shilla yang lain.. dan itu bukan dia Pa..” tolak Shilla selesai menghabiskan sarapannya.
Mama Shilla yang bernama Tante Ratih pun datang dengan segelas kopi yang ditaruhnya di depan Om Indra. “ Shilla.. Rio itu sudah dari pagi lho nungguin kamu disini, masa kamu tega.. sudah berangkat sana sama Rio.” Ucap Tante Ratih yang semakin meyakin kan ku bahwa dewi fortuna berpihak kepada ku hari ini.
“ Iya Shil, lagian Rio kan pacar kamu.. hargain dong usahanya dia pagi ini, iya gak mah? Jadi inget waktu Papa jemput Mama dulu waktu kuliah..” ujar Om Indra membuatnya teringat kembali masa-masa pe-de-ka-te nya dulu dengan Tante Ratih.
“ tapi pah..”
“ udah sana buruan, nanti telat!” tegas Om indra memotong ucapan Shilla.
Aku yang sedari tadi diam pun mulai angkat bicara saat melihat Shilla sudah mendengus kesal menyaksikan sikap Mama dan Papanya yang seolah mendukung dan membantu ku melancarkan serangan cinta itu di pagi ini.
“ ayo Shill.. mumpung belum ada gangguan lain.” Ucap ku mengedipkan sebelah mata ku padanya.
Shilla mengacuhkan ucapan ku dan berjalan keluar rumah dengan sungutannya. Dia pun menatap ku sinis memberi kode agar segera cepat menyalakan motorku.
Cagiva itu sudah siap untuk ku kendarai, aku melihat Shilla yang masih diam celingak-celinguk ke arah gerbang perumahan yang sepertinya menunggu kedatangan si kadal satu itu. Aku pun segera mengalihkan pandangan nya dengan menepuk-nepuk jok belakang ku.
“ motor siap..”
Dengan setengah terpaksa dia menghempaskan pantatnya di jok belakang cagiva hitam ku. Aku pun melepas jaket ku dan memberikannya ke gadis yang berada di boncengan ku itu. Dia melihat jaket itu dengan bingung. seperti mengerti kebingungannya aku turun dari motor ku dan memakaikan jaket itu ke badannya yang sepertinya cukup membuatnya speechless.
“ biar gak kedinginan.. udara pagi di sini dingin banget kalau elo belom tau.”
Shilla P.O.V
“ biar gak kedinginan.. udara pagi di sini dingin banget kalau elo belom tau.” Ucap Rio membuat ku sedikit speechless.
Dia pun kembali menaiki motornya dan mengendarai motor itu dengan cukup hati-hati. Aku sebenarnya bingung ada apa dengan cowok ini? tumben-tumbenan dia memakai motornya bukan mobil kebanggaan nya. Tapi sepertinya itu tidak cukup baik untukku.
Harum laut itu kembali tercium oleh indera penciuman ku. Membuat memori dua hari yang lalu itu kembali berkoar-koar di ingatan ku. Memori yang susah payah ku hapus namun belum membuahkan hasil apa-apa itu selalu saja dimunculkan oleh lelaki yang sedang membonceng ku ini.
“ nanti pulang sama gue ya?” ucap Rio sambil mengedarkan pandangannya ke arah ku lewat kaca spionnya.
Aku menggeleng tegas membuatnya semakin memaksa ku untuk pulang bersamanya yang akhirnya dengan setengah hati membuat ku mengangguk pasrah. Dan lagi-lagi tanpa sedikit pun suara yang keluar dari bibir ku itu.
Tak lama motor cagiva hitam milik Rio itu sudah berhenti di parkiran Versace SHS. Membuat ku harus turun dari motor itu, dan berjalan meninggalkannya yang masih sibuk memarkir motornya. Saat sudah menaiki tangga, ku sadari langkah nya sudah menyejajari langkah ku.
“ masih marah?” tanyanya yang lagi-lagi ku acuhkan entah untuk keberapa ribu kalinya.
Dia berdecak sendiri, “ kayanya gue harus usaha keras nih buat ngejaring air.” Ucap nya berlalu meninggalkan ku yang masih berdiam memikirkan ucapannya itu.
Menjaring air? Ada-ada saja, mana mungkin kita dapat menjaring air. Hal yang mustahil kecuali dia orang yang hebat dan ajaib. kalo sampai ada orang yang bisa menjaring air. Segala permintaan nya bakal aku kabulin deh, batin ku dalam hati. Tertawa melihat sikap konyol Rio yang baru pertama kali ini ku lihat lagi.
“ SHILLA !” teriak seseorang dari bawah tangga memanggil ku.
Aku pun membalikkan badan ku dan tersenyum dengan perasaan bersalah saat melihat siapa si pemilik suara itu. Riko, dia berlari menaiki tangga dan bergegas menghampiri ku.
“ kamu tadi berangkat sama siapa?” tanya nya dingin dengan raut wajah kecewa .
Sepertinya Kak Riko marah deh sama aku gara-gara aku berangkat duluan tadi. Ahh Shilla bodoh, lihat apa yang kamu lakukan pada Kak Rio yang baik ini, kamu sudah membuat dia kecewa.
“ berangkat sama siapa Shil?” tanyanya lagi dengan nada yang lebih tegas namun masih terdengar lembut.
“ sam..”
“ sama gue.” Potong suara yang sudah sangat umum di telinga ku, Rio. Dia kini sudah berada di samping ku bertatapan dengan sinis dengan Riko.
Kak Riko menatap Rio dengan sinis dan dingin. Seolah-olah akan terjadi pertarungan hebat diantara mereka. Aku yang merasakan suasana yang mulai memanas itu berusaha memisahkan keduanya agar tidak terjadi sesuatu di antara mereka.
“ Yo, ngapain disini.. masuk gih sana!” usirku yang diacuhkan oleh Rio.
“ menang ya pagi ini? tapi lo menang dengan curang Yo kayanya..” sinis Kak Riko dengan menatap tajam Rio yang kini sudah berada di depan ku. Menutupi ku dari Kak Riko yang sepertinya sudah tersulut amarah. Posisi ini membuat ku mengingat kejadian saat bertengkar dengan Sivia kemarin.
Rio melipat tangannya di depan dada, “ gak ada peraturan apa pun Ko di pertarungan kita. Jadi gak ada kata curang buat gue.” Ucap Rio.
“ buat lo gak ada tapi buat gue ada. “
“ so? Penting gitu? Ini bukan Cuma pertarungan yang biasa lo gunain pake uang Ko, pertarungan ini harus pake hati!”
Hati? Pertarungan? Apa maksudnya? Apa yang sedang mereka rebutkan?
“mendingan lo inget tuh sama calon tunangan lo.” Ucap Kak Riko membuat Rio mengeram hebat saat mendengar kata ‘tunangan’ keluar dari mulut Kak Riko, “ oiya sekali lagi, kayanya lo sopan banget yah manggil gue tanpa embel-embel Kak di depan nama gue.” Sinisnya lalu menuruni tangga berjalan menuju kelasnya.
“ pertunangan itu gak bakal ada! Dan gue berani ngejamin itu! “ teriak Rio dengan kesal.
Aku menatap punggung badannya dengan bingung, tidak tahu masalah apa yang sejak tadi mereka ributkan di depan ku. Kenapa Kak Riko bisa tahu mengenai masalah pertunangan Rio.






0 komentar:
Posting Komentar