Kenapa hati ini masih berharap disaat sudah ada penjaganya? Apa memang belum ada yang bisa terlupakan darinya?
***
Shilla P.O.V
“ Fy..” panggil ku.
Ify yang sedang menyalin catatan milik Zahra menoleh ke arah ku, “kenapa Shil?” tanyanya tanpa melepaskan pulpen dari tangannya.
Aku menopangkan kedua dagu ku di atas tangan yang ku letakkan di atas meja, “hari minggu besok jalan-jalan yuk Fy, bosen dirumaaah..” ajak ku.
“ayooook!! Gue lagi stress banget Shil! Eh gue ajak si Ray yaa, ngomong-ngomong kita mau jalan kemana?”
Dengan tampang polos aku menggeleng-tidak-tahu, “gak tau.. emm, ke kebun teh yuk? Gue belom pernah ke tempat kaya gitu..” ajakku yang langsung di sambut pelototan dari bola mata Ify.
“ gak mau!! Bosen gue, mending ke dufaaan, kali-kali gitu kita libur ke tempat yang jauh Shil..” usul Ify dengan mata berbinar ketika menyebut nama salah satu tempat rekreasi terpopuler di indonesia.
Aku menggeleng-geleng tidak percaya, “gila lo Fy, mau berangkat jam berapa kita dari sini? Lagian gue kalo gak ada cowok atau orang dewasanya gue gak bakal di bolehin Fy..” ucap ku teringat nasihat Mama dan Papa saat pertama kali berada di Bandung.
“ ajak Kak Riko aja Shil,” saran Ify.
Aku menoyor kepalanya, “bodoh, Kak Riko kan persiapan mau ujian nasional.. “ ucap ku mengingat Kak Riko yang saat ini sudah kelas 12.
Ify menggigit-gigit ujung pensil mekaniknya, terlihat sedang berfikir.
“ fy dari pada gigit pensil, mending gigit permen mint..” ucap ku menyodorkan sebuah permen berbungkus biru kepadanya.
Bukannya menerima permen dari ku, gadis berdagu panjang itu malah tertawa terbahak-bahak. Aku segera mengambil kaca dari kotak pensil Ify, dan melihat seluruh wajah ku. Nihil, gak ada yang salah kok, semuanya sama kaya biasa. Apa pakaian ku yang salah? Aku memeriksa keseluruhan pakaian ku. Sama aja, gak ada yang aneh kok. Trus apa yang ditertawakan bocah ini?
“ otak lo iklan banget sih Shil hahaha daripada gigit pensil mending gigit permen mint buahaha Shillaaaa gue gak ngebayangin lo bergaya kaya yang di iklan itu dengan tampang bloon hahaha “ ucap Ify.
Hah? Jadi.. Ify daritadi tertawa gara-gara membayangkan khayalan konyol itu? “IFYYYYY!!! Rese looo! Enak aja ngebayangin gue pake tampang bloon!” teriakku di depan wajah Ify yang hanya di sambut oleh cekikikan renyah dari mulutnya.
Selama beberapa saat akhirnya aku dan Ify bersenda gurau sebelum jam pelajaran di mulai. Dari mulai membicarakan planning weekend kami, sampai membicarakan adik kelas yang menurut kami huek abis. Sampai ketika ada empat buah tiket berlogo Dunia Fantasi tergantung di depan ku dan Ify.
“ WAAAA DUFAAAAN! YEAAAAY RIOOO AJAK GUE DONG YOO!” teriak Ify histeris yang sedang terobsesi dengan tempat wisata itu.
Lain dengan Ify, aku mengabaikan tiket yang sepertinya ditujukan untukku dan Ify itu. Karena aku tau, itu adalah salah satu cara dari si kolot ini meminta maaf dan meminta bayaran hutang nya.
“ buat lo berdua.” Ucap Rio singkat yang disambut histeris Ify dan kembali di sambut sikap dingin dari ku.
Ify menerima tiket itu dengan sigap, “thankyou yooo! Thankyou banget, tapi ini beneran buat kita?” tanya Ify ragu yang di jawab anggukan oleh Rio.
Aku berdiri dan merebut tiket itu dari tangan Ify, meraih tangan Rio dan menaruh tiket itu di dalam genggaman tangannya, “gak perlu, makasih.” ucap ku.
Bukannya kesal atau apa, pemuda itu malah menyerahkan empat buah tiket itu kepada Ify, “kalau dia gak mau, buat lo semuanya aja deh Fy..” serah Rio lalu pergi ke bangkunya yang tepat berada di depan ku. “oh iya, tiketnya ada empat ya Fy? Cuma mau usul aja, kayaknya bakal seru deh kalo lo, gue, ray sama temen lo itu pergi bareng-bareng kesana..” sambung nya lagi yang langsung di sambut tatapan tajam dari ku.
Aku menoleh ke arah Ify dengan tatapan please-jangan-ajak-dia-kalo-lo-sama-gue. Namun sepertinya Ify tidak menyadari arti tatapan ku itu, dengan santainya dia menyetujui permintaan Rio.
Ya Tuhaaaan, apa lagi ini. tidak taukah dia kalau berada di dekatnya selalu memancing emosi?
***
Author P.O.V
Jemari pemuda itu masih terus membuka-buka buku pelajarannya dengan sigap, tanpa tau penjelasan apa dari halaman yang telah di bukanya. Raganya memang masih bergerak, namun bergerak tanpa sadar. Karena pikirannya bertebaran di mana-mana. Di antara masalah keluarganya, masalahnya dengan Rio, dan gadis yang kini berstatus sebagai pendampingnya.
Kata-kata yang dilontarkan rivalnya beberapa hari yang lalu jujur sangat mengena di hatinya.
Orang luar kaya lo gak usah ikut campur urusan keluarga HALING!
Ya, memang seharusnya dia tidak ikut campur dalam masalah apapun yang terjadi di dalam keluarga Haling. Siapa dia? Anak? Hanya anak tiri, tak memiliki hak sepersekian persen pun untuk berada di dalam lingkup itu, pikirnya.
Gak boleh kaya gini terus, gak boleh ada ketergantungan, gue harus mandiri, gue harus bisa keluar dari sana. Gue harus cari keluarga gue sesungguhnya, tekadnya.
Dan bagaimana dengan gadis yang sedang di jadikannya mainan. Sejahat itukah dirinya? Mengorbankan seorang gadis yang tidak tahu apa-apa hanya karena dia adalah separuh bintang dari rivalnya yang tak lain adalah saudara tirinya?
Shilla, gadis itu terlalu baik. Tidak, dia tidak boleh terseret terlalu jauh ke dalam perselisihan ini. Permainan dengannya harus selesai. Tapi, bagaimana menghentikannya?
***
Walau ke ujung dunia..
Pasti akan ku nanti..
Meski ke tujuh samudera..
Pasti ku kan menunggu..
Karena ku yakin..
Shilla hanya untukku..
Alunan nada yang berbeda lirik itu terlantun pelan begitu saja akibat kerandoman Rio yang tengah berkhayal ketika Riko pergi ke-planet-lain, dan dia bertemu dengan Mamanya pasti akan tambah sempurna jika Shilla, gadis yang berada di belakang punggungnya, berstatuskan menjadi pacarnya. Ooh, indahnya dunia jika seperti itu..
PLUK!
Tiba-tiba sebuah buntalan kertas terlempar ke puncak kepala nya dan jatuh ke sisi kaki kiri nya. Dia menoleh ke sekeliling kelas, melihat gerak-gerik orang kurang ajar itu yang berani menimpuk seorang Mario Aditya Haling dengan buntalan kertas sampah.
Tidak ada, semua masih sama. Bastian masih sibuk mengerjakan soal latihan yang diberikan Miss Grace. Dayat masih sibuk mengotak-atik ipodnya, Si Nesir –nenek-sihir Sivia masih sibuk menguntal-nguntal ujung rambutnya yang ketika di lepas berubah menjadi bergelombang, dan gadis di belakangku ini yang masih sibuk menyoret-nyoret buku latihan fisikanya.
Rio menyerah dan lebih memilih mengambil buntalan kertas itu dan melihat isinya.
“ Shi..Shilla..” eja nya pelan saat melihat kertas itu dan langsung menoleh ke meja tepat di belakang nya.
Gadis itu. Dia menutup bukunya dan mengambil mp3 playernya yang berwarna merah muda. Memasang earphone di telinganya yang tertutup dengan rambut panjangnya, lalu memejamkan matanya dan mulai bersenandung kecil mengikuti irama musik yang terputar di telinganya. Tanpa mempedulikan sosok Rio yang mengikuti proses mendengarkan-lagu-dari-mp3 itu dari awal sampai klimaks.
Rio membalikkan lagi badannya menghadap ke depan. Pikiran normalnya melarangnya untuk mempercayai pesan yang tertulis di kertas itu. Namun kalian tau sendiri kan? Saat manusia jatuh cinta, pikiran seabnormal apapun tidak apa asalkan itu membuatnya senang.
Positive thinking aja Yo, itu bener-bener dari Shilla, batinnya menyemangati diri sendiri.
***
Sedikit perhatian.
Sebuah proses perebutan hati.
Perebutan cinta.
Dan perebutan kasih.
***
Bel istirahat telah berdering. Kantin Versace HS telah di penuhi oleh siswa dan siswi Versace yang mulai datang berduyun-duyun bersama teman-teman kelompoknya atau bahkan bersama pasangannya. Setiap bagian meja sudah ditempati oleh setiap siswa Versace yang beruntung mendapatkan tempat duduk, hingga tidak perlu repot-repot menunggu tempat atau bahkan membawa makanannya ke kelas.
Di sudut kantin terlihat Shilla dan Ify. Dua sahabat baru yang sulit dipisahkan. Pertemuan awal yang menyenangkan hingga terjalin ikatan persahabatan yang cukup kuat diantaranya. Sementara di deretan meja anak populer –di-tengah-ruangan- terlihat Rio bersama Ray dan Alvin tengah tertawa bersama dengan setiap lirikan mata Rio yang sesekali mengarah ke sudut kantin.
Shilla baru saja ingin menuangkan saus ke dalam mangkuk baksonya saat ada sebuah cairan berwarna merah sudah tumpah mendahuluinya masuk ke dalam mangkuk bakso itu. Shilla mendongak, dan melihat siapa pelaku penumpahan-saus-ke-dalam-mangkuk-baksonya.
“ lagi gak niat berantem, sorry.” Ucap Shilla sebelum perdebatan dengan orang itu dimulai lagi.
Sivia, gadis yang menumpahkan saus itu tertawa sinis ke arah Shilla yang tengah mengaduk-aduk ice blend cappuchinonya. “gue gak mau berantem kok, Cuma mau ngasih ini sama lo..” balas Sivia sambil menyerahkan sebuah kartu undangan berwarna ungu-merah muda bertuliskan Sivia-Mario.
Shilla membaca sekilas nama pemilik acara tersebut. Sedikit mengernyitkan dahi, membuang begitu saja kartu undangan itu ke belakang tubuhnya, dan meneruskan aktifitasnya kembali. Mengaduk-aduk ice blend cappucino miliknya.
“duh sakit hati ya ngeliat undangan itu.. maaf deh Shil, sengaja gue.. haha..” Sivia mengambil kembali undangan itu dan menaruhnya di depan Shilla.
“ gak ada sakit hati, karena dia.. udah lama pergi dari sini..” balas Shilla sambil menunjuk organ krusialnya yang tak tersentuh saat mengucapkan kata –Sini-.
“youre awesome Shilla, kalo lo gak sakit hati, lo bisa dong dateng ke pesta gue!”
“no thanks, gue punya urusan lebih penting dibanding harus dateng ke acara itu..”
“ Vi, ini anak kayanya harus di kasih pelajaran deh..” bisik Aren, satu dari dua dayang yang selalu berada di samping Sivia.
Ify yang dari tadi hanya diam kini menatap Shilla dengan pandangan Shil-pergi-yuk. Sepertinya Shilla dapat membaca sedikit tatapan Ify. Namun entah kenapa seperti ada yang bergelayut di kakinya. Menahannya agar tidak pergi dan tetap berada di situ.
Sivia hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Aren, “gak mau dateng ya? Kenapa sih? Takut nangis-nangis di sana nanti?” ejek Sivia dengan dua tangan yang masih berlipat di depan dadanya.
Shilla berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap Sivia. Dua pasang mata itu saling bertatapan dengan tajam. Mata yang salah satunya kini sedang di penuhi dengan kilatan benci dan yang satunya lagi dengan tatapan mata yang teduh.
“buat apa nangisin orang yang sama sekali gak berharga buat gue..” Ucap Shilla lalu menarik tangan Ify pergi menjauh dari tempat yang menurutnya baru saja kena kutukan itu.
Shilla benar-benar kesal kali ini. Belum cukup puas kah gadis sombong itu menyiksanya? Dulu dia memintanya menjauhi Rio. Sudah Shilla turuti walaupun sedikit terpaksa awalnya. Dan sekarang? Memaksanya mendatangi pesta pertunangannya dengan Rio. Untuk apa? Hah? Untuk pamer di depan nya nanti bahwa kalian sudah memiliki ikatan? Iya seperti itu? Norak banget cara si sombong itu.
Ify yang berada di sampingnya memahami kegelisahan dan kegeraman Shilla, “be patient Shil, dia emang kaya gitu. Gak bakal berenti nyiksa lawannya sampai dia bener-bener berlutut minta maaf di hadapannya..”
“ selalu. Gak ada kata takut buat ngadepin monster itu Fy..”
***
Rio menikmati pemandangan itu. Pemandangan dimana gadis impiannya melawan Sivia dengan santai, tanpa ada sedikitpun nada meninggi di setiap kalimat yang selalu menarik perhatiannya. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Shilla terlalu memiliki makna. Makna yang berharga. Walaupun tak sedikit kalimat itu yang menghancurkan alat krusial miliknya.
“ cool juga Shilla yo, belajar darimana tuh dia nahan emosi kaya gitu?” tanya Alvin iseng sambil menyuapkan seuntal spagghettinya ke dalam mulutnya.
Rio tertawa kecil. Sebuah tawa yang hanya ia perlihatkan kepada orang-orang yang dianggapnya sangat berharga. “yang pasti bukan dari gue Vin.. haha..” jawab Rio.
Ray melahap sebuah cupcakes milik Rio, “lo beneran tunangan sama nenek sihir itu Yo? Katanya mau di batalin..” tanya Ray membuat nafsu makan Rio menghilang seketika.
Rio menoleh ke arah Ray, dan mengambil cupcakes terakhirnya, “ kalaupun jadi juga gue yakin gak bakal sampe ke pernikahan.. Oma udah ngerancang rencana, yaa walaupun gue rada gak yakin sih haha..” jawab Rio lagi.
“ tapi sumpah gue masih bingung, kok Sivia bisa tergila-gila gitu sih sama lo Yo? Padahal kan jelas-jelas masih gantengan gue.” Ucap Alvin narsis.
“kharisma lo kurang Vin, makanya mata tuh dibuka jangan ditutup mulu. Gak kepancar kan tuh kharisma..” ledek Ray.
“ enak aja lo gondrong! Mata sipit gue tuh mata hoki! Cewek-cewek pada ngidolain gue tuh ya gara-gara ini, emang kaya lo.. rambut sama sapu ijuk gak bisa dibedain! Wee”
“ tapi sampe sekarang lo masih aja jomblo Vin haha berarti mata sipit lo gak hoki tuh!” ejek Rio.
“ padahal kan mata lo udah di kasih jampe-jampe ya Vin, kok belom ada cewek yang mau sih sama lo?”
TUING!
Sebuah sumpit melayang tepat ke puncak kepala Ray. Yang langsung di sambut elusan oleh si empunya kepala. “piiiin, kok nempong sih! Gak main aaah males gue sama lo maennya tempongan..” ambek Ray.
“ ah gondrong gitu aja ngambek lo, gimana mau ngedapetin si Ify.. ups Keceplosan” ucap Rio yang langsung menutup mulutnya dan cekikikan dengan tampang tak berdosa.
Ray ternganga, dan langsung membelalakkan matanya ke arah Rio. “ RIOOOOOO PESEEEEEK!!!”
***






0 komentar:
Posting Komentar