Shilla P.O.V
***
Ah bosan! Kenapa daritadi hanya keheningan sih yang ada. Pemuda di samping ku ini niat gak sih ngajak aku jalan-jalan? Lebih baik aku di rumah, melanjutkan membaca komikku yang belum selesai sejak kemarin.
“ ka..” panggil ku.
Diam. Pemuda itu mengacuhkan panggilannya. Tetap dengan posisi awalnya, mengaduk-ngaduk ice cream di dalam gelas nya dengan pandangan hampa. Ada apa dengan pemuda ini? Tak biasanya ia bertingkah laku aneh seperti ini.
Aku mengetuk punggung tangannya yang teronggok kaku di atas meja café, “kak.. kenapa sih?” tanya ku.
Dia hanya menoleh ke arah ku sesaat dan tersenyum hambar, senyuman terburuknya yang pernah ia berikan kepada ku, “ gapapa,” jawabnya singkat sambil menyuapkan sesendok ice cream ke mulutnya.
Aku menaikkan satu lengan ku ke atas meja, dan menopangkan dagu ku di atasnya, ditambah dengan pose ngambek –bibir-manyun- ku.
Sebuah pai anggur yang tertata rapi untuk siap di makan terdiam membisu di atas meja café itu. Kasihan pai itu, hanya menjadi korban kekesalan ku saja dari tadi. Entah sudah keberapa kalinya tusukan garpu itu menancap kasar di puncak pai berwarna ungu itu. Beberapa kali aku melirik sekilas ke arah Kak Riko, dan.. masih sama seperti tadi. Bernyawa tapi seperti tak bernyawa.
Drrtt..drrrtt..drrrtt..
Getar ponsel secara lembut itu menarik perhatian ku. Ku raih ponsel berwarna hitam metalik itu.
Aku melongo. Dan dengan cepat menengok ke seluruh penjuru café stream itu dengan raut wajah penasaran. Kak Riko yang melihat itu menatap ku dengan heran.
“nyari siapa Shil?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan, lalu bangkit dari kursi ku, “ aku izin ke luar dulu ya kak mau beli pulsa sebentar, habis nih.. hehe,” izin ku yang disetujuinya dengan anggukan lalu segera berjalan keluar café. Aku sempat menoleh sebelumnya ke arah Kak Riko. Hmm, beruntung. Dia tidak memperhatikan ku kali ini.
***
Aku menggeleng pelan, lalu bangkit dari kursi ku, “ aku izin ke luar dulu ya kak mau beli pulsa sebentar, habis nih.. hehe,” izin ku lalu segera berjalan keluar café. Aku sempat menoleh sebelumnya ke arah Kak Riko. Hmm, beruntung. Dia tidak memperhatikan ku kali ini.
Baru saja pintu café berwarna hijau itu ku buka ada seorang anak perempuan kecil menghampiriku dengan membawa selembar papan tulis kecil.
“ ini buat kakak..” ucapnya sambil menyerahkan benda yang kusebutkan tadi kepada ku.
Belum sempat aku mengucapkan apa-apa anak perempuan kecil itu sudah berlari menghampiri ku. Dan datang lah anak lain dengan selembar kertas bercetakkan satu buah huruf di tangannya. Dia memberikan kertas itu kepada ku.
“ ini buat apa?” tanya ku dengan posisi berjongkok. Menyejajarkan ku dengannya.
“kata kakak ganteng, kertasnya disuruh tempel disitu, “ jawab anak lelaki kecil berpakaian serba biru hitam, dan bertopi ala justin bieber. “oh iya kak, kakak ganteng itu juga pesen, katanya nempelnya sesuai urutan kak.. daah kaak.. shilla!” ucapnya setengah berteriak karena sudah menjauh.
Belum sempat anak itu menghilang dari pandangan ku, anak kecil lainnya pun mulai datang secara bergantian. Kalau tak salah sempat kuhitung tadi jumlahnya sekitar 8 anak. Dan anak yang terakhir ini, yang paling cantik menurutku. Dia datang membawa sesuatu yang beda dengan teman-temannya. Setangkai bunga lily putih.
“ ini dari siapa?” tanya ku, saat menerima lily putih itu.
Gadis kecil itu menggeleng sambil tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu.
Aku memandangnya lagi sambil tersenyum, kali ini sambil mengusap-ngusap puncak kepalanya, “ dari siapa? Ayo kasih tau kakak..” tanya ku lagi.
Gadis kecil itu menatap ku, lalu mengangkat salah satu jemarinya dan menunjuk ke sebuah pohon. Apa? Pohon?
“ pohon? “
Gadis itu celingak-celinguk ke sekelilingnya, mengedarkan pandangan mencari ke seluruh pandangan matanya, “tadi ada disitu.. di belakang pohon itu..” ucap nya lalu berlari meninggalkanku dengan sebuah papan tulis di tangan kanan dan setangkai bunga lily putih di tangan kanan ku.
Aku masih memandangi pohon yang tadi sempat ditunjuk gadis kecil itu. Sedikit berharap, pemberi semua barang-barang ini menampakkan sedikit saja wajahnya dari balik pohon itu.
Rio..
Hei, kenapa tiba-tiba muncul dia di fikiran ku. Pergi-pergi hush hush. Jangan berani lagi muncul di fikiran ku. Aku tengah bertengkar dengan fikiran ku saat tanpa sadar..
“ itu apa?”
Aku terdiam, terhenti sejenak pertengkaran ku dengan sekelebat fikiran tak berguna tadi. Sepasang kaki terpajang di hadapan ku, aku mendongak ke atas dan melihat siapa pemilik sepasang kaki berselimutkan jins hitam bermerk terkenal itu.
“kak Riko..” ucap ku pelan.
Dengan sedikit kasar Kak Riko merebut papan yang sejak tadi masih berada di genggaman ku itu, “ ini dari siapa?” tanyanya.
Aku menggeleng pelan. Jujur. Ya, karena aku memang tidak tahu kan siapa pemilik awal benda itu.
Pandangan mata Kak Riko beralih ke kanan tangan ku yang tergantung di samping tubuh ku, dan dengan kasar dia merebut bunga itu lalu membuangnya ke lantai dan menginjaknya. “itu bunga dari siapa Shil? Siapa yang kasih kamu papan dan bunga lily itu?” tanyanya tajam memandangku.
Sungguh, aku tak berani menatap matanya.
Lagi-lagi pertanyaan itu hanya dapat ku jawab dengan gelengan. Aku saja belum tahu tulisan apa di papan itu. Kau malah lebih dulu mengetahuinya Kak dibanding aku.
Seakan dapat membaca fikiran ku, Kak Riko lalu membuang papan itu ke hadapan ku. Lalu pergi meninggalkanku.
“ kamu pulang naik taksi sana, aku duluan..” ucap Kak Riko sebelum benar-benar pergi meninggalkanku.
Bukannya pergi menyusul Kak Riko dan membujuknya agar mengantarkan aku pulang, aku malah mengambil kembali papan yang tadi sempat lama berada di dalam genggaman ku. papan putih dengan beberapa tempelan kertas hitam membentuk beberapa huruf alphabet diatasnya. ku lihat susunan huruf itu membentuk sebuah kalimat berupa….
Aku menutup mulut ku. menyembunyikan keterkejutan ku. senyum itu mengembang. Senyum manis yang tercipta di sudut kanan dan kiri bibir mungil ku. Tanpa fikir panjang papan kecil itu ku masukkan ke dalam tas jinjing ku, dan…
“Ya Tuhan, bunga itu,” gumam ku saat melihat setangkai lily putih yang mahkota bunganya sudah hancur dan berwarna kusam di hadapan ku.
Aku mengambil bunga itu dan berjalan ke arah sebuah tong sampah berwarna biru di depan sudut cafe, “siapapun kamu.. aku percaya kau adalah orang yang sama pada malam itu..” ucap ku dalam hati sambil membuang bunga itu.
***
RIO P.O.V
Hah.. brengsek. Kenapa anak sialan itu muncul di saat kaya gini sih, Umpat ku dalam hati saat melihat dari jauh setangkai bunga putih yang tadi ku beli itu sudah hancur tak karuan teronggok di aspal trotoar depan Café.
Hei, mau apa dia? Tanya ku dalam hati saat melihat gadis tak berponi itu mengambil bunganya.
Apa? Dibuang? Ya bunga itu dibuang. Bunga kesayangannya yang setiap ke rumahnya ku lihat bunga itu selalu tertata rapi di sudut taman rumahnya. Tapi kali ini, bunga itu terlihat berbeda keadaannya. Bunga itu berada di tempat sampah. Haha. Miris ya. Kasihan sekali bunga itu. Sama seperti ku.
Eh iya, mana si brengsek itu? Mana Riko? Tadi dia pergi kan? Kenapa tidak balik-balik? “Hmm, kesempatan nih.. gue berharap lo gak balik-balik selamanya Ko..” sinis ku sambil berjalan menghampiri gadis yang tengah memegang sebuah papan putih.
“ehm..” dehem ku saat menyejajarkan langkah ku dengan langkahnya.
Dia berhenti dan menoleh ke arah ku, menatap ku agak lama, “lanjutkan Shillaaaa.. teruslah menatap ku seperti itu.. karena aku yakin, itu akan membuat mu jatuh cinta..” ucap ku dalam hati.
Dasar memang terlalu banyak dosa sepertinya aku. Doa dadakan itu tak sempat dikabulkan Tuhan. Baru ku hitung 5 detik dia menatap ku, langkah kaki jenjang itu kembali lagi berjalan, tanpa sedikitpun ada suara menyapa ku atau hanya sekedar menanyakan “ada apa?”
“ shillaaaa..” panggil ku menyamakan lagi langkah kami.
Masih diam. Tak ada jawaban. Tuhan, jangan bilang bahwa gadis ini menjadi bisu dadakan karena bertemu dengan ku.
“ ashilla zahrantiaraaa? Helloooo..” panggil ku lagi.
You won Rio! Dia berhenti.
“ jangan ikutin gue!” sinisnya tanpa melihat ke arah ku dan berjalan lagi lagi dan lagi.
Aku menatapnya bengong, dan langsung tersenyum jahil.
“gue tadi liat lo sendirian di jalan, pas gue lagi beli sesuatu. Apa itu ngikutin?” tanya ku.
Dia menoleh ke arah ku tetap dengan langkahnya yang sigap dan cepat, “ya what ever lah, its not my business.” Ucapnya sambil mengedepankan tas jinjingnya, dan mengeluarkan sebuah papan putih dari dalam tas itu, “dari lo?” tanyanya memperlihatkan benda itu.
Aku tertawa dalam hati, ternyata.. dia masih peduli.
Aku menggeleng sambil mengambil papan putih itu, “bukan.. ini apaan sih? Dari cowok ya?” tanyaku sok polos. Menyembunyikan wajah menahan tawa ku.
Shilla merebut kembali papan itu dan menaruhnya di tempat semula, “dari siapapun atau apapun itu gak ada urusannya sama lo. Karna lo bukan siapa-siapa gue..” jawabnya sambil memberhentikan sebuah taksi.
Aku mencegatnya masuk ke taksi itu saat pintunya sudah terbuka, “ inget hutang lo sama gue ya Shil..” ucap ku lalu melepas tangannya dan berbalik arah, berjalan meninggalkannya.
Oh iya ada yang ku lupakan.
Aku berbalik lagi dan menatap punggung gadis itu yang baru akan memasuki taksinya, “ SHILLA!” teriakku.
Dia menoleh dengan tatapan –ada-apa-lagi-sih.
“take care..” pesan ku bonus kedipan mata dan senyuman yang kalau ini di sekolah pasti sudah banyak perempuan yang menjerit-jerit ketika melihatnya.
***
“ hmm jadi yang ini dikaliin sama yang ini terus dipakai rumus persamaan kuadrat maka hasilnya…hmm… Gotcha!” teriakku di ujung kalimat itu saat berhasil menyelesaikan soal terakhir dari 50 soal yang di berikan oleh Miss Nindy sebagai tugas kelas ku di rumah.
Aku merentangkan tangan ku, mencoba meregangkan sel-sel saraf yang mulai kaku gara-gara terlalu lama berada dalam posisi yang sama di depan meja.
Buku latihan dan catatan matematika ku kini sudah tertutup dan tersimpan dengan rapi di dalam tas ransel hitam spalding ku. Aku meneliti setiap bagian meja belajar ku dengan santai. “ berantakan juga ya meja gue..” decak ku.
Entah kerasukan setan jenis mana malam ini dengan penuh kesadaran aku membereskan meja belajar yang semulanya penuh buku-buku tebal bertebaran dimana-mana, kini menjadi rapi dengan meja hampa, karena buku-buku itu sudah berada di rak buku di sudut kamar ku. Saat tengah mengambil sebuah buku di ujung meja belajar yang sempat tertinggal, tiba-tiba sebuah benda berwarna merah jambu jatuh dari bawah buku itu.
Sapu tangan.. Aku berlutut dan mengambil sapu tangan berwarna merah jambu itu lalu membawanya ke atas ranjang. Tangan ku memainkan sapu tangan itu hingga sapu tangan itu berputar-putar di ujung telunjukku.
Bagaimana bisa sih aku mengabaikan benda berharga seperti ini. Benda yang diberikan gadis itu, saat aku terluka di rumahnya. Tepat 2 minggu yang lalu.
“ Vano..”ucap sebuah suara dari arah pintu. Vano, itu nama panggilan ku yang diberikan Oma. Hanya Oma yang memanggil ku dengan nama itu. Entah apa alasannya, padahal aku lebih suka dipanggil dengan nama Rio daripada Vano yang ku anggap rada sedikit aneh.
Aku bangkit dari santai ku dan melihat Oma tengah berdiri dengan senyuman nya yang ramah, “ iya, kenapa Oma?” tanya ku.
Oma berjalan dengan anggun ala bangsawan jaman dulu ke arah ku, “ belum tidur Van?” tanyanya yang kini sudah duduk di sampingku.
Aku menggeleng. Lalu mengambil sapu tangan merah jambu tadi dan hendak memasukkannya ke dalam saku saat tangan Oma merebut benda itu dari ku.
“ sejak kapan Vano Oma suka sama warna pink?” tanya Oma jahil.
Aku mendesah kecil, mulai deh Oma mengintrogasi ku. Bakalan cerita panjang nih ke Oma. Yaa, seperti inilah Oma. Selalu saja ingin tahu urusan cucunya. Tapi sifatnya inilah yang terkadang menguntungkan ku. Karena seringkali dengan sifat Oma yang satu ini, beberapa masalahku dapat selesai dengan cepat berkat nasihatnya tentu saja.
“ Oma ayolah, jangan sekarang..” rajukku.
Oma menggeleng jahil, “ ceritakan atau Oma gak akan bantuin kamu gagalin pertunangan itu. Ayo pilih yang mana?” ucap Oma.
Sialan, pilihannya gak ada yang bagus. Ini sih bener-bener ngerugiin. Pilih yang manapun gak ada yang menguntungkan.
“ oke oke, Vano ceritain.. tapi Oma janji, Oma bakal tetep bantuin Vano gagalin pertunangan itu kan? Sumpah Oma, Vano anti banget sama Sivia!”
Oma mengangguk. Lalu mulailah aku bercerita tentang semuanya.
***
“ jadi namanya Shilla? Dia pacar Angga?” tanya Oma mengoreksi lagi keseluruhan dari cerita ku.
Aku mengangguk pasrah, “iya Omaaa,” jawab ku singkat.
“ kenapa kamu tidak mencegahnya Van saat Angga menembaknya?”
Aku menatap Oma geram. Enak banget ngomongnya. Cegah-cegah, dia kira akibatnya nanti gue gak bakal di benci sama Shilla apa.
“ Kalo dia benar-benar suka kamu, dia gak akan bisa membenci kamu.. Apapun yang kamu lakukan terhadapnya. “ jawab Oma bijak membuat ku melongo. Ucapannya seperti menjawab pertanyaan di otakku tadi.
Oma berdiri dan berjalan menuju pintu lalu bergerak hendak menutupnya.
“ Saat ini dia tidak membenci mu, dia hanya sedang mengobati luka yang pernah kamu kasih ke dia.. tunggu sampai lukanya sembuh, dan masuk lah lagi ke dalam hidupnya Van.” Ucap Oma tepat saat pintu kamar ku tertutup.
Aku tersenyum, “ makasih… Oma…” ucap ku pelan.








0 komentar:
Posting Komentar