Taukah kamu? Bahwa aku menyukai suaramu.
Suara lembutmu. Kasarmu. Merdumu. Bahkan sampai bisikan mu.
Karena hanya kau yang terindah.
***
Mata ku tengah terpejam ketika ku rasakan ada suatu gerakan lembut yang mencoba melepas earphone putih yang terpasang di telinga ku. Ini lah saat-saat yang ku suka. Saat-saat bersama mu. Ingin sekali rasanya mengabadikan saat-saat seperti ini. Tak pernah bosan aku mengalaminya, walaupun setiap hari hal ini terjadi pada ku.
Kau terindah..
Kan slalu terindah..
Aku bisa apa tuk memilikimu..
Armada-pemilik hati. Ya! Entah untuk yang keberapa kalinya aku mengalami kejadian ini dan mendengar alunan nada tersebut dari suara emas itu, Mata ku terus terpejam mendengar alunan nada dari mulutnya. Membawa ku melayang jauh tinggi mengalahkan tingginya awan yang tergantung indah di atas langit sana. Telinga ini semakin merasakan fungsi utamanya. Mendengar suara pemuda ini bernyanyi, memanggil, berteriak, berbisik, mengiba, atau pun tertawa.
“ Shill.. Shillaaaa! Banguuuun! “ teriakan pemuda itu memaksaku untuk mengakhiri saat-saat yang kusuka –lagi- kali ini.
Aku berpura-pura menguap dan menutup kedua mulut ku saat dengan perlahan membuka mataku. Tidak, aku tidak pernah tertidur. Aku hanya berpura-pura. Dan lagi-lagi hanya untuk mendengar suara emasnya itu, suara yang indah.
“ apa sih? Ganggu aja..” ucap ku sambil membereskan earphone yang sudah tidak terpasang lagi di telingaku.
Rio hanya cekikikan sembari mengacak-acak poni yang tersusun rapi di puncak kepalaku. “ tiap hari juga kaya gitu kan? Kamu aku gangguin.. kamu marah-marah..” ucapnya lembut.
Aku tersenyum masam, “ih rese banget sih kamu!” omel ku sedikit manja. Aku memang manja, dan suka sekali diperhatikan. Jadi wajar saja dengan itu. Karena itu membuatku nyaman bersama nya.
“ rese aja kamu suka.. gimana kalau aku gak rese? Cinta? hahaha..” ucapnya jahil dengan alisnya yang di naik turunkan.
Ah tawa itu.. semakin aku tak ingin untuk kehilangan dengan cepat suara yang sangat merindukan itu. Lebay? Ya aku akui. Biarlah, karena memang kenyataannya seperti itu bukan?
Belum sempat aku membalas ucapannya suara baritonenya kembali muncul, “ temenin aku makan siang yaa? Yayaya? Mau kan?” pintanya seperti anak kecil yang minta dibelikan sebuah mainan plastik kepada ibunya.
“ pengen banget aku temenin emang? Pengen banget banget banget apa pengen aja?” ledekku memancingnya. Hanya ingin mendengar suara manjanya atau lebih enak disebut ngambek.
Pemuda tampan yang digilai wanita di fakultas ku ini membuang mukanya dari pandangan ku. “ gamau nemenin ya udah.. aku bisa makan sendiri kok..” lagi-lagi pemuda itu mengambek hingga membuat ku geli.
Dengan gemas ku cubit hidungnya yang ehm.. rada pesek menurut ku. Haha. “ gitu aja ngambek.. becanda tau akunyaaa,yaudah yuk kekantin keburu penuh..” ajakku sambil menarik tangannya menjauhi library room yang mulai dipenuhi mahasiswa itu.
Tuhan.. tak boleh kah aku bertahan lebih lama lagi?
***
Taukah kamu? Bahwa aku menyukai wajah mu.
Meskipun sering kau menampilkan wajah dingin, wajah sok, atau bahkan wajah manja mu itu.
Karena hanya kau yang terindah.
***
Minggu pagi itu tidak ada jadwal mata kuliah untuk ku dan Rio. Namun si pemuda berotak cemerlang itu tetap saja mengajakku untuk belajar bersama. Tidak tahukah dia bahwa otakku sudah cukup penat di cekoki berbagai macam bab tentang hukum di modul kami? Dasar cowok penggila hukum!
Ah tapi tak apalah. Yang penting dia ada disini saat ini.
Baru saja aku selesai mengerjakan soal latihan nomer 2 saat tiba-tiba jemari mu bergerak menyisipkan helaian rambut ku ke belakang telingaku.
“ gitu aja.. kan jadi manis..” ucapnya pelan.
Haaaa pasokan darah kini berkumpul di pipi ku. memaksanya mengeluarkan semburat berwarna merah jambu. Yang membuat ku menunduk malu. Seiring dengan sekumpulan kupu-kupu yang berterbangan dengan liar di dalam perut ku. yang terus menerus memaksa ku untuk tersenyum.
Rio menyentuh dagu ku dengan salah satu jemarinya, lalu mengangkat wajah ku hingga memandang tepat di manik matanya.
“ thankyou.. Mario..” ucap ku sedikit gugup.
Ah lagi-lagi debaran halus itu muncul saat aku menatap manik mata itu. Manik mata itu seolah menatap ku tajam dan terus menerus menghipnotis ku agar tetap memandangnya.
Baru kusadari tubuh tegap Rio perlahan-perlahan mulai mendekat ke arah ku. Wangi mint dari tubuhnya sudah mulai terhirup indera pencium ku. Aku bergidik ngeri saat wajahnya semakin mendekat ke wajah ku dan hanya berjarak beberapa inci saja. Ya tuhan.. salah apa aku punya pacar seperti ini. Rutukku dalam hati. Sedikit demi sedikit aku mulai menggeser tubuh ku menjauhinya.
“ kok makin ngejauh sih? Aku kelilipan nih.. tiupin dong Shil..”
Gubrak!!
***
Taukah kamu? Bahwa aku menyukai sentuhan mu..
Sentuhan yang membuat ku merasa nyaman di saat apapun..
Karena kau yang terindah..
***
Dan kini. Aku terbaring lemah di sudut ruangan bercat putih itu. Dengan beberapa alat bantu pernafasan yang tergantung di setiap bagian tubuh ku. Tahap demi tahap penyembuhan telah ku lalui dengan tepat. Namun tetap saja kan? Yang menentukan bukan dokter, obat, bahkan cenayang. Tetap Tuhan lah yang berkuasa atas segala ini.
Entah sudah keberapa kalinya hari ini aku berteriak merintih kesakitan. Efek samping dari obat yang sudah beberapa hari ini rutin ku konsumsi. Aku lelah. Aku letih dengan semuanya. Aku tidak kuat lagi jika harus menjalani pengobatan seperti ini. Bisa remuk badan dan tulang ku kalau caranya seperti ini.
Kenapa kanker tulang ini harus jatuh kepada ku sih?
Kenapa harus kanker yang sampai sekarang belum ada penawarnya? Kenapa tidak penyakit lain saja yang hinggap di tubuh rapuh ini?
Ladang air mata ku pun sudah habis karena penyakit ini. Karena derita ini. Kalian tidak tau kan betapa sakitnya badan ini saat meminum obat sialan itu? Tulang-tulang ku terasa panas. Seperti ingin meleleh saja rasanya.
Andaikan saja tidak ada Mama, Papa dan juga Rio di sini. Mungkin aku lebih memilih mati saja dibanding kan bertahan dengan siksa seperti ini.
Ya tuhan.. apa yang baru saja ku fikirkan? Mengeluhkah aku tadi? Harusnya aku bersyukur masih di beri waktu untuk berkumpul bersama mereka. Bukannya malah mengeluh seperti ini. Maaf Tuhan.. maafkan aku.
“ udah minum obat nya?” suara baritone itu mengagetkan ku dari kepingan-kepingan lamunan yang sedang ku susun tadi.
Aku mengangguk pada nya yang kini sudah duduk di tepi ranjang ku. Mengusap-usap secara lembut lengan ku yang tadi berasa panas efek dari obat yang ku minum tadi. Haa, sentuhan itu. Lagi-lagi dengan sekejap membuat rasa sakit nya hilang.
“ Yo.. bisa tolong ambilin kertas sama pulpen gak di laci itu?”
***
Terimakasih untuk semuanya.
Semua senyum lagu tawa dan perhatian mu.
Terimakasih untuk cintamu.
Dan maaf..
Maaf karena aku tidak menepati janji ku.
Yang akan menemani mu selamanya.
***
Untuk Mama dan Papa:
Ma Pa.. terimakasih untuk semuanya. Untuk apa yang kalian ajarkan kepada ku selama ini. Kasih sayang yang kalian berikan kepada ku hingga saat ini. Maaf benar aku tidak bisa menjadi putri kebanggaan Mama dan Papa. Aku selalu membuat kalian marah.
Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin perhatian dari kalian. Perhatian dan nasihat saat kalian memarahiku. Maaf Ma.. Pa.. Aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Mama sama Papa.
Mungkin saat kalian membaca ini. Aku sudah pergi jauh, dan gak akan bisa kembali lagi. Sebelum aku pergi. Aku Cuma mau bilang.
Aku sayang Mama dan Papa. Melebihi apapun.
With Love.
( Ashilla Z. )
***
Untuk Mario:
Hai yo.. lagi apa kamu sekarang? Jangan bilang sama aku kalo kamu lagi nangis. Hapus air mata kamu Yo. Kasih aku senyum kamu yang manis itu. Hehe
Eh Yo, aku mau bilang makasih sama kamu. Makasih udah terima aku apa adanya, makasih kamu udah temenin aku sampai sekarang. Sampai aku benar-benar pergi bersama Tuhan. Makasih Yo kamu udah nepatin janji kamu yang bakal setia sama aku. Kamu yang terindah Yo..
Kamu tau? Aku suka senyum kamu.. aku suka suara kamu.. aku suka sentuhan yang kamu kasih ke aku, dan aku suka semua yang ada di dalam diri kamu. Dipastikan aku bakal merindukan itu semua yo.
Maaf ya aku sering ngecewain kamu. Bikin kamu emosi. Bikin kamu kesel dan bikin kamu cemburu. Hihi aku seneng aja gangguin kamu kaya gitu.
Kamu baik-baik yaa, jaga diri kamu. Lupain aku. Cari yang lebih baik dari aku. Inget ya! Jangan cari yang penyakitan kaya aku. Ditinggalinnya sakit tau Yo.. hehe
Aku mau bilang. Kalo aku sayaaang banget sama kamu. Love you Mario..
dengan cinta.
Shilla.
***
THE END






0 komentar:
Posting Komentar